NovelToon NovelToon
Jebakan Hati Gadis Cupu

Jebakan Hati Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.

Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Kehidupan sekolah bagi Lulu kini terasa seperti sebuah labirin yang hanya memiliki satu jalan keluar: Arlan. Setelah hasutan Arlan tentang Sisil sebagai "mata-mata" Shinta, Lulu benar-benar menjaga jarak. Di kelas, Lulu kini lebih banyak diam. Jika ada tugas mandiri, ia akan mengerjakannya dengan terburu-buru agar punya waktu untuk melayani setiap panggilan Arlan. Sisil berkali-kali mencoba menyapa, namun Lulu hanya membalas dengan anggukan dingin sebelum kembali menatap layar ponselnya—menunggu instruksi dari "Penyelamatnya".

Pukul sepuluh pagi, saat bel istirahat berbunyi, Arlan sudah berdiri di depan pintu kelas XI-IPA 2. Ia tidak masuk, hanya bersandar dengan tangan di saku celana, namun auranya sudah cukup untuk membuat suasana kelas menjadi tegang.

"Sini, Sayang," panggil Arlan dengan suara rendah yang mutlak.

Lulu segera merapikan bukunya dan berlari kecil menghampiri Arlan. Ia masih memakai kacamata tebalnya, namun hari ini penampilannya terlihat kontras dengan tas mahal pemberian Arlan yang tersampir di bahunya. Tas itu cantik, tapi terlalu kecil untuk menampung ensiklopedia atau buku-bukunya sendiri.

"Kenapa bukunya masih dibawa, Lu? Kan aku udah bilang, fokus ke aku aja," ucap Arlan sambil mengambil buku catatan biologi Lulu dan menyimpannya di atas loker tinggi di koridor—tempat yang tak bisa dicapai oleh tangan Lulu yang mungil.

"Tapi Arlan, itu buat ulangan harian nanti siang..."

"Nanti aku yang urus. Kamu pikir buat apa Papa aku nyumbang banyak ke sekolah ini kalau bukan buat bikin pacar anaknya tenang?" Arlan merangkul bahu Lulu, membimbingnya menuju meja panjang di pojok kantin yang sudah dikuasai oleh Reno dan Gani.

Di meja itu, tumpukan buku LKS Matematika dan Fisika berserakan. Reno tampak sedang frustrasi mencorat-coret kertas, sementara Shinta asyik memoles kukunya sambil memperhatikan Lulu dengan pandangan merendahkan.

"Nah, ini dia 'kalkulator jalan' kita datang," cetus Reno sambil menyeringai. Ia melemparkan tiga buku LKS miliknya dan milik Gani ke depan Lulu. "Lu, kerjain ya. Gue sama Gani mau latihan basket habis ini. Gue denger lo kalau ngerjain ginian cuma butuh waktu sepuluh menit, kan?"

Lulu menatap tumpukan tugas itu dengan bingung. "Tapi ini tugas kelas dua belas, Kak Reno. Aku kelas sebelas, materinya beda..."

Arlan yang duduk di samping Lulu langsung merangkul pinggangnya dengan posesif. "Beda dikit doang, Lu. Kamu kan jenius, lompat kelas aja bisa. Masa ngerjain tugas anak IPS kayak gini nggak sanggup? Malu-maluin aku aja kalau kamu nggak bisa bantu temen aku."

Lulu menelan ludah. Ia merasa sangat tertekan. "Aku... aku coba ya, Arlan."

"Bukan coba, tapi harus selesai sebelum bel masuk," Arlan berbisik di dekat telinganya, suaranya terdengar manis tapi penuh penekanan. "Ingat kan? Aku udah belain kamu dari Shinta kemarin. Aku udah kasih kamu tas ini. Masa hal kecil kayak gini kamu perhitungan sama aku?"

Lulu terdiam. Rasa bersalah yang ditanamkan Arlan kembali bekerja. Ia segera membuka kacamata tebalnya sebentar untuk mengusap mata yang perih, lalu memakainya lagi dengan kencang. Dengan tangan gemetar, ia mulai menghitung rumus-rumus kelas dua belas yang sebenarnya belum ia pelajari sepenuhnya.

Selama hampir empat puluh menit, Lulu berkutat dengan angka-angka di tengah suara tawa geng Arlan yang membahas rencana pesta akhir pekan. Tak ada satu pun dari mereka yang menawarinya minum atau bertanya apakah dia lelah. Arlan sendiri malah sibuk bermain game di ponselnya, sesekali mengelus rambut Lulu seolah Lulu adalah hewan peliharaan yang sedang melakukan trik.

"Udah selesai, Arlan..." bisik Lulu akhirnya.

Arlan mengambil buku-buku itu dan menyerahkannya pada Reno. "Tuh, beres kan? Makanya, punya pacar itu yang pinter, bukan yang cuma modal gaya doang," ucap Arlan bangga, seolah dia yang baru saja menyelesaikan tugas itu.

"Gila, beneran kelar! Makasih ya, Cupu," sahut Reno tanpa rasa bersalah.

Saat mereka berjalan kembali ke kelas, Lulu merasa kepalanya sangat pusing. Beban pikiran dan penglihatan yang dipaksa bekerja keras membuatnya goyah. Di koridor, mereka berpapasan dengan Sisil.

Sisil melihat Lulu membawa sisa kertas coretan milik Reno dan wajah sahabatnya itu tampak sangat pucat.

"Lu! Lo nggak apa-apa? Muka lo pucat banget!" Sisil mencoba mendekat, namun Arlan segera melangkah maju, menghalangi jalan Sisil.

"Minggir, Sil. Lulu cuma lagi capek habis 'berbakti' sama pacarnya. Mending lo urus aja nilai lo sendiri yang pas-pasan itu," usir Arlan dengan dingin.

Lulu hanya bisa menunduk saat melewati Sisil. Ia ingin berhenti, ingin bilang pada Sisil kalau ia butuh istirahat, tapi ia merasa jika ia bicara pada Sisil, Arlan akan menganggapnya sebagai pengkhianatan terhadap "cinta" mereka.

Malam itu, di kamarnya, Lulu menangis sambil menatap buku biologinya yang masih tertinggal di atas loker sekolah. Ia tidak bisa belajar untuk ulangannya sendiri karena tenaganya habis untuk mengerjakan tugas Reno. Ia menatap cermin, melihat dirinya yang tampak sangat kecil dan rapuh dengan kacamata tebalnya.

Ia teringat kata-kata Arlan: "Kamu itu istimewa bagi aku, Lu. Cuma aku yang tahu cara manfaatin otak kamu buat hal yang berguna."

Dulu, Lulu pikir "istimewa" berarti berharga. Sekarang, ia mulai merasa "istimewa" berarti bisa diperalat. Namun, setiap kali keraguan itu muncul, Arlan akan mengiriminya pesan manis yang membuatnya kembali buta. Lulu benar-benar terjebak dalam sangkar yang pintunya dikunci sendiri oleh rasa cintanya yang salah.

1
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Valent Theashef
bgus,liat coba end ny apakh mreka brsma ???
Siska Dores
😍
Valent Theashef
penuh tantangan suka deh film novel kyk gni,
Dewi Yanti
ko ada cowo ky reno yg jahat bgt
Siska Dores
next kak
Siska Dores
lanjutt kak
Siska Dores
next kak
Siska Dores
greget bngt
Siska Dores
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!