NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 010

Suasana di dalam UKS masih sedingin es, namun bukan karena AC yang menyala di suhu 18°C, melainkan karena dua manusia di dalamnya sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Ziva yang tadinya berniat tidur, malah merasa otaknya mendadak jernih setelah mendengar kalimat aneh dari Aksa tadi.

Adem? Bikin orang pengen ikut istirahat?

​"Dasar tiang listrik nggak jelas," gumam Ziva sangat pelan, hampir menyerupai bisikan angin.

​Aksa tidak menyahut, tapi Ziva bisa mendengar suara gesekan kain saat Aksa mengubah posisi tidurnya. Keheningan kembali merayap, meresap ke dalam pori-pori dinding UKS yang catnya mulai mengelupas di beberapa sudut. Di luar, suara samar-samar langkah kaki siswa-siswi yang berlarian menuju kantin.

...TOK! TOK! TOK!...

Pintu UKS digedor dengan kasar. Ziva tersentak, hampir saja ia terguling dari brankar yang sempit itu.

​"Ziva! Gue tahu lo di dalam! Manda bilang lo ke sini!" suara Reygan terdengar dari balik pintu, penuh nada menuntut.

Ziva mematung, menahan napas. Ia melirik ke arah brankar Aksa. Cowok itu masih bergeming, namun matanya yang tajam kini tertuju pada pintu yang bergetar karena gedoran Reygan.

​"Ziv! Kita harus bahas tugas Biologi! Jangan kekanak-kanakan dengan cara sembunyi begini!" seru Reygan lagi.

​Ziva mendengus pelan. Kekanak-kanakan katanya? Dia nggak tahu apa rasanya jadi orang yang cuma pengen hibernasi tanpa gangguan plot novel.

​Baru saja Ziva hendak turun untuk mengunci pintu (yang sebenarnya lupa ia kunci), Aksa sudah lebih dulu bangkit. Dengan gerakan yang sangat efisien dan tenang, Aksa berdiri dari brankarnya. Kaos seragamnya sedikit kusut, tapi auranya tetap terlihat seperti model papan atas yang baru bangun tidur.

​Aksa melangkah menuju pintu.

​"Eh, Aks, lo mau—" kalimat Ziva terputus saat Aksa membuka pintu UKS dengan satu sentakan kuat.

...Clekk! ​BRAK!...

Reygan yang sedang bersiap untuk menggedor lagi, hampir saja meninju dada Aksa jika ia tidak segera menarik tangannya. Di belakang Reygan, Liana berdiri dengan wajah pucat, tangannya memegang buku cetak Biologi yang tebal.

​"Berisik," ucap Aksa dingin. Matanya menatap Reygan dengan sorot yang sangat tidak ramah.

Reygan tertegun, nafasnya memburu. "Aksa? Lo... ngapain di sini?"

​"Tidur," sahut Aksa singkat. Ia bersandar di bingkai pintu, menutup sebagian besar jalan masuk dengan tubuh tegapnya.

​"Gue mau cari Ziva. Dia ada di dalam kan?" Reygan mencoba mengintip ke balik pundak Aksa, namun Aksa justru menggeser posisinya, menghalangi pandangan Reygan sepenuhnya.

​"Orangnya lagi pingsan. Lo mau tanggung jawab kalau dia bangun gara-gara lo teriak-teriak?" bohong Aksa dengan wajah paling datar sedunia.

Ziva yang mendengarkan dari balik tirai hampir saja tersedak liurnya sendiri. Pingsan? Kreatif juga lo, Tiang Listrik.

​"Pingsan? Tadi dia sehat-sehat aja pas lari dari kelas," sahut Reygan tidak percaya. "Aksa, minggir. Gue cuma mau bicara soal tugas."

​"Besok," potong Aksa. "Sekarang dia butuh tenang. Pergi."

​Aura intimidasi Aksa menguar kuat. Reygan mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Ia merasa harga dirinya diinjak-halangi oleh orang yang sama untuk kedua kalinya hari ini. Namun, ia juga tahu, berurusan dengan Aksa di area sekolah bukanlah pilihan yang bijak, apalagi Arka adalah anak dari pemilik yayasan.

​"Ayo, Rey... mungkin Kak Ziva beneran lagi nggak enak badan," bisik Liana sambil menarik pelan ujung seragam Reygan. "Kita bisa bahas di grup chat dulu."

​Reygan menghela napas kasar, menatap pintu UKS sekali lagi dengan benci sebelum akhirnya berbalik pergi. Liana memberikan tatapan meminta maaf yang sekilas pada Aksa—yang diabaikan oleh cowok itu—sebelum menyusul Reygan.

​Setelah suara langkah kaki mereka menghilang di koridor, Aksa menutup kembali pintu UKS dan menguncinya. KLIK.

Ia berbalik dan mendapati Ziva sudah duduk di pinggir brankar dengan rambut yang benar-benar berantakan dan ekspresi wajah yang... sulit dijelaskan.

​"Pingsan, ya?" Ziva menaikkan sebelah alisnya.

Aksa berjalan kembali menuju brankarnya, duduk di sana sambil menatap Ziva. "Daripada lo diseret keluar buat bahas anatomi tumbuhan."

Ziva menghela napas panjang, bahunya merosot. "Makasih, Aks. Gue beneran males banget liat muka Reygan yang sok paling tersakiti itu. Padahal dulu Ziva asli yang dia sakitin terus."

​Aksa mengamati wajah Ziva. "Lo ngomong seolah lo bukan Ziva."

Ziva tersentak. Ia lupa kalau dia harus tetap berakting. "Maksud gue... gue yang dulu! Ziva yang dulu kan bego, ngejar dia mulu. Sekarang gue udah tobat."

​Aksa tidak menanggapi lebih jauh, namun tatapannya seolah bisa menembus kebohongan Ziva. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah bungkus cokelat kecil, lalu melemparnya ke arah Ziva.

HUP! Ziva menangkapnya dengan refleks.

​"Makan. Biar nggak pingsan beneran," ucap Aksa.

Ziva menatap cokelat di tangannya, lalu menatap Aksa. Cowok ini benar-benar misterius. Di satu sisi dia dingin dan irit bicara, tapi di sisi lain, dia memberikan perlindungan dan... cokelat?

​"Aks, lo sebenernya baik ya?" tanya Ziva polos.

Aksa kembali merebahkan dirinya, menarik selimut sampai ke pinggang. "Gue cuma nggak suka suara berisik. Makan cokelatnya, terus diem. Gue mau lanjut tidur."

​Ziva tersenyum tipis. Ia membuka bungkus cokelat itu, lalu menggigit ujung cokelatnya, membiarkan rasa manis yang sedikit pahit itu meleleh perlahan di mulutnya. Matanya yang sayu menatap punggung Aksa yang kini menghadap ke arah tembok. Suara napas cowok itu mulai terdengar teratur, sangat tenang, seolah gedoran pintu Reygan tadi hanyalah suara lalat lewat.

Ziva ikut merebahkan kepalanya ke bantal. Tapi, bukannya memejamkan mata, ia malah berakhir menatap langit-langit UKS yang memiliki satu noda air kecil berbentuk menyerupai pulau.

"Aksa..." panggil Ziva sangat lirih.

"Hmm." Suara Aksa terdengar berat, teredam bantal.

"Kenapa lo nggak di kantin aja sama yang lain? Meja Black Eagle kan biasanya paling rame."

Hening sejenak. Aksa membalikkan tubuhnya sedikit, hanya cukup untuk memperlihatkan matanya yang tajam menembus tirai tipis yang membatasi mereka. "Rame itu capek."

Ziva tersenyum kecil. Ternyata sang penguasa sekolah ini memiliki kesamaan dengannya: kelelahan sosial. "Iya sih. Gue juga baru sadar, selama ini Ziva—maksud gue gue yang dulu—terlalu maksa buat ada di keramaian cuma buat diperhatiin. Ternyata rebahan di tempat sepi kayak gini jauh lebih berharga daripada dengerin gosip Manda atau teriakan Reygan."

"Bagus kalau lo sadar," sahut Aksa. Ia kembali memejamkan matanya. "Sekarang diem. Jangan rusak ademnya."

Ziva mendengus pelan, tapi ia menuruti perintah itu. Ia menarik selimut tipisnya sampai ke hidung, menghirup aroma minyak telon dan kain bersih yang khas dari UKS sekolah. Perlahan, kantuk yang sebenarnya mulai menyerang. Di kehidupan sebelumnya sebagai Zura, ia jarang sekali bisa tidur siang dengan tenang karena tumpukan tugas kuliah atau panggilan kerja paruh waktu.

Sekarang, di dalam raga Ziva, di tengah kekacauan dunia novel yang belum ia pahami sepenuhnya, ia justru merasa aman di samping cowok yang paling ditakuti satu sekolah.

Di luar ruangan, sayup-sayup terdengar suara percakapan murid di koridor, tawa yang menjauh, dan bunyi sepatu yang beradu dengan lantai. Tapi di balik tirai putih itu, dunianya terasa berhenti.

Setengah jam berlalu. Ziva sudah benar-benar terlelap, napasnya halus dan teratur.

Aksa, yang sebenarnya tidak benar-benar tertidur, perlahan membuka matanya. Ia bangkit duduk tanpa menimbulkan suara, menoleh ke arah brankar di sebelahnya. Dari balik tirai yang sedikit tersingkap, ia bisa melihat wajah Ziva yang tampak sangat tenang. Tanpa riasan tebal dan tanpa ekspresi angkuh, gadis itu terlihat sangat rapuh.

Aksa melirik bungkus cokelat kosong yang diletakkan Ziva di meja nakas. Ia kemudian meraih ponselnya yang bergetar di atas kasur. Sebuah pesan dari Kenan.

[Kenan]: Aks, lo dimana? Bu Lastri nanyain, katanya lo nggak balik ke kelas XII habis nganter absen tadi. Jangan bilang lo pingsan bareng Ratu Mager.

Aksa hanya melirik pesan itu tanpa membalas. Ia memasukkan ponselnya ke saku, lalu kembali merebahkan diri. Namun kali ini, ia tidak menghadap tembok. Ia memposisikan dirinya menghadap ke arah brankar Ziva, ikut menutup matanya dalam ketenangan yang jarang ia dapatkan.

Bel masuk jam pelajaran terakhir berbunyi nyaring, mengguncang lorong-lorong sekolah. Namun, kedua manusia di UKS itu seolah memiliki kesepakatan tak tertulis untuk mengabaikannya. Mereka memilih untuk tetap berada di balik tirai putih itu, bersembunyi dari hiruk pikuk realita yang terkadang terlalu berisik untuk dihadapi.

Ziva sedikit menggeliat dalam tidurnya, bergumam kecil tentang "martabak",

membuat Aksa yang mendengarnya tanpa sadar menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang tulus.

Mungkin benar, pikir Aksa sebelum akhirnya benar-benar terlelap. Ziva yang sekarang memang jauh lebih adem.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!