Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungu Atau Biru?
Tepat pukul sebelas kurang seperempat, acara lamaran itu akhirnya sepakat dinyatakan tuntas.
Yang artinya, sudah tiba waktunya juga bagi Dena untuk segera pamit pulang, setidaknya sebelum malam semakin larut.
Tapi, kalau Dena saja sudah berniat untuk pulang. Apa keputusan tentang kapan akad nikah mereka akan dilangsungkan, sudah berhasil diputuskan?
Jawabannya ... ya sudah. Dan hebatnya, keputusan itu diambil dengan sangat cepat. Bahkan, tanpa harus melalui diskusi berat, apalagi harus melalui perdebatan panjang.
Dena juga menerima hasil keputusan itu tanpa adanya protes, atau lebih ke arah canggung. Sebab, setelah mendengar hasil keputusan itu, wajah cantik calon mama mertuanya langsung terlihat berseri-seri.
Tipe yang kalau bisa, besok pagi langsung akad juga ayo.
Sementara Alvaro? Sebenarnya ya sama saja anehnya. Memberi Dena pilihan, tapi pilihannya cuma beda sehari, mau didebatin juga percuma.
Sempat sih Dena cemberut. Terus kaget juga gara-gara mendengar pilihan itu.
Tapi setelah Dena pikir-pikir lagi, mendebat Alvaro memang bukan solusi. Yang ada justru malah bikin dirinya capek sendiri.
Alhasil, Dena pun nurut. Dan pernikahan mereka akan dilangsungkan sesuai dengan keputusan Alvaro.
Oalah...Kalau gitu ngapain pake ngasih pilihan segala!
"Kamu yakin nggak mau nginep aja, ini udah malem banget loh?" tanya Mama Nita sudah kesekian kalinya.
Ketika sedari tadi Mama Nita terus memaksa Dena untuk menginap di rumah Alvaro, tapi Dena tetap kekeh menolaknya, dengan beralasan jika ia masih memiliki PR yang belum dikerjakan.
Maklum, masih anak sekolah.
Sementara Alvaro juga turut membantu Dena agar tidak lagi dipaksa-paksa. Dengan berkata, jika Dena menginap nanti takutnya gadis itu malah nggak bisa tidur gara-gara kepikiran soal matematika.
Kalau cuma kepikiran sih nggak apa-apa, tapi kalau Dena sampai mengigau membaca soal cerita, kan jadinya Alvaro juga yang repot.
Akhirnya Mama Nita pun mengalah, lalu melirik ke arah Alvaro yang sedang meneguk secangkir kopi.
"Varo!"
Alvaro langsung peka, bahkan ketika Mama Nita baru menyebut namanya—ia yakin, Mamanya pasti akan memberi kode agar ia sendiri yang mengantar Dena pulang.
Mama Nita memang terkenal baiknya. Ia pun tak rela jika calon menantunya malah diantar pulang oleh pria lain. Katanya takut Alvaro jadi cemburu, padahal ... Alvaro tidak peduli.
Tapi Alvaro tetep berdiri, tepat ketika Dena hendak pamit ke Mama Nita dan hampir menyalimi tangannya.
"Gue anter aja!" kata Alvaro.
Dena langsung mematung dengan posisi agak menungging, saat kurang dari satu inci—telapak tangannya akan bertemu langsung dengan telapak tangan sang calon mama mertua.
"Hah?" Dena reflek menoleh, masih di posisi yang sama, tidak bergerak sama sekali.
"Lo pulangnya gue anter," ulang Alvaro.
Dena terdiam—sejenak, lalu begitu nyambung ia kontan menggeleng-geleng.
"Eh, nggak usah, Om. Saya pulang sendiri aja," tolak Dena merasa takut akan merepotkan Alvaro.
"Sekarang lo udah resmi jadi calon istri gue, yang artinya, udah jadi tanggung jawab gue juga buat nganterin lo pulang," kata Alvaro.
"Tapi tempat tinggal saya jauh loh, Om. Emang beneran nggak apa-apa?"
"Sejauh-jauhnya juga nggak mungkin keluar dari bumi! Udah ayo," ajak Alvaro, lagi.
Dena masih terdiam di tempat. Rasanya seperti agak kurang percaya kalau Alvaro benar-benar ingin mengantarnya. Alisnya pun mendadak nungging sebelah.
"Dianterin pulang Om Alvaro? Seriusan?" batinnya.
"Kenapa? Lo nggak mau? Atau lo mau dianterin mereka aja?" tanya Alvaro sembari menunjuk ke arah dua anak buahnya yang sudah berdiri di ambang pintu.
Romannya, tanpa harus menunggu diperintah pun, mereka sudah peka jika ini waktunya untuk bertugas.
Tapi, Dena yang baru sekilas melirik ke arah wajah mereka, langsung menggeleng-geleng cepat di detik yang sama.
"Enggak deh, mereka serem. Takut, nanti kalau saya dibuang di pinggir jalan gimana?" tolaknya halus.
"Yaudah, gue anter aja!" Alvaro menggenggam lengan Dena lembut. Dena mengangguk saja dan langsung menurut ketika Alvaro mengajaknya keluar.
"Lagian siapa juga yang bakal berani buang calon istri gue di pinggir jalan. Kalau ada, mereka cari mati namanya!" sambung Alvaro sembari melenggang pelan sambil tetap menggandeng Dena.
Mama Nita mengikuti mereka di belakang sambil tersenyum bahagia. Ia bahkan masih tidak menyangka, anak sulungnya itu sebentar lagi akan menikah.
Setibanya di depan rumah. Alvaro lantas memanggil salah satu anak buahnya.
"Tolong keluarkan mobil saya dari garasi!" pinta Alvaro, dingin.
Sedangkan Dena yang melihat hal itu lantas terheran-heran. Mereka, para anak buah Alvaro, bahkan langsung menurut, kayak tiba-tiba takut. Memangnya Alvaro seseram itu? Perasaan enggak ah, malah lebih ke arah ganteng.
"Mobil yang mana, Bos?" tanya pria itu memastikan, takut salah menyiapkan mobil.
"Yang paling dekat pintu garasi. Biar nggak lama!" jawab Alvaro.
Pria itu lantas mengangguk.
Dan tak butuh waktu lama, satu mobil mewah yang cuma bisa ditumpangi dua orang, sudah terparkir tepat di depan mereka.
Dena pun langsung berbalik badan menatap sang calon ibu mertuanya, "Dena pamit dulu, Tante ... Asalamualaikum," pamitnya sambil cium tangan.
"Iya sayang, waalaikumsalam," sahut Mama Nita tak lupa mencium kedua pipi sang calon menantu.
Dena jadi canggung, tapi tak lama dari itu ia langsung tersenyum.
"Da—dah, Tante..."
"Dah... Kalian hati-hati ya, kalau Varo nakal, jewer aja kupingnya," balas Mama Nita cekikikan.
Alvaro sempat mendengus, lalu ia mempersilahkan Dena untuk masuk terlebih dahulu.
Sementara Mama Nita kembali berpesan pada Alvaro. Sebab, ia tau betul bagaimana kebiasaan Alvaro ketika sedang berkendara di jalan. Pokoknya agak kurang tertib.
"Jangan ugal-ugalan, dan jangan merokok sambil nyetir!" kata Mama Nita.
"Nanti kamu dimarahin orang!" imbuhnya.
Alvaro mencebik, tapi mengangguk. Lalu memberi jawaban yang justru terdengar mengesalkan."Dimarahin? Memangnya ada yang berani marah sama Varo di jalan?" sahutnya.
"Kamu kalau dibilangin orang tua, jawab mulu sih!" gemas Mama Nita pengen banget nyentil-in kuping Alvaro.
"Kan bisa aja ada yang marah!" omel Mama Nita.
"Kalau ada, berarti orang itu kurang pergaulan, Ma," ujar Alvaro pe—de tingkat tinggi, yang karena hal itu lengannya langsung mendapat cubitan manja dari sang mama tercinta.
"Kalau dibilang jangan ngeyel! Mungkin kamu emang punya nama besar di jalanan, tapi mengganggu kenyamanan orang lain. Tetap saja bukan hal yang harus mama wajarkan!" tegasnya, kali ini serius dan jika Alvaro membalas, itu akan berpotensi bakal kena cubit lagi.
Alhasil, Alvaro mengangguk saja, yang dari pada tambah kena cubit—selain perih, Alvaro juga malu dilihat calon istri yang malah ikut-ikutan tertawa.
Sementara dari dalam rumah, lagi-lagi terdengar suara derap langkah terbirit-birit menuruni tangga.
Dan dengan penampilannya yang sudah teramat cantik selayaknya tuan putri. Mika kembali muncul dengan langkah tergesa-gesa.
Mama Nita refleks menoleh. Menatap Mika yang suka banget lari-larian di dalam rumah. Padahal kalau di ajak lari pagi keliling komplek, sukanya malas-malasan.
"Sayang, kamu kenapa lari-larian terus sih? Nanti kalau kamu jatuh gimana?" ujar Mama Nita begitu Mika berhenti tepat di sebelahnya.
Mika ya cuma nyengir-nyengir, lalu kembali teringat akan kenapa ia sampai lari-larian.
"Aduh, Mika kelamaan ya. Ma. Dena kok udah mau pulang sih?" tanya Mika sambil memanggil-manggil Dena yang sudah nangkring di dalam mobil.
Kacanya lalu terbuka.
"Kenapa, Mik?" sahut Dena menatap bingung.
Mika maju satu langkah. Belum begitu dekat karena masih terpisahkan oleh tangga, "Udah mau pulang?"
Dena hendak mengiyakan, tapi manusia itu sudah lebih dulu menyambar.
"Kalau udah, kenapa?" Alvaro menyembulkan kepalanya di depan Dena.
Mika langsung mendengus. Bola matanya melotot menatap Alvaro. "Gue nanya Dena, bukan nanya ke kakak!"
"Gue calon suaminya! Kenapa nanya-nanya? Mau ikut?" balas Alvaro.
Mika menggeleng-geleng, bibirnya mengerucut kesal, "Hih bukan, tapi pulangnya nanti aja ya! Kan belum foto-foto?" ujarnya sambil mengangkat kamera.
"Foto?"
Semua orang sejenak terdiam. Sunyi terjadi beberapa detik.
"Iyaa, ayo foto dulu. Momen penting masak iya nggak diabadikan! Nanti nyesel loh," kata Mika.
"Nggak perlu!" tolak Alvaro sudah jelas tidak tertarik.
"Kenapa?"
"Masih nanya juga?" tanya balik Alvaro.
Mika mengangkat sebelah alisnya, "Lah emangnya kenapa? Foto doang emang nggak boleh?"
Alvaro mendengus, kemudian acuh, sudah terlanjur malas untuk memperjelas.
Mika refleks menatap Dena. Ingin tanya ke dia.
"Gimana sih, Den?"
Dena tersenyum tipis, "Ya nggak gimana-gimana, Mik. Udah ya, sampai nanti," sahutnya sembari melambaikan tangan.
Mama Nita yang berdiri di belakang Mika membalas lambaian tangan Dena sambil tersenyum manis seperti biasanya.
Tak lama mobil Alvaro lantas melaju perlahan meninggalkan area depan rumah. Sementara Mika yang masih terheran-heran sontak garuk-garuk kepala.
"Ma?" cicit Mika.
Mama Nita menoleh setelah memastikan mobil Alvaro keluar dari gerbang, "Apa, sayang?"
"Jelasin dong! Kenapa nggak ada sesi foto?" pinta Mika, kesal.
"Karena apapun yang menyangkut tentang pernikahan kakak kamu semuanya harus dirahasiakan," jawab Mama Nita.
Mika melemas, kedua bahunya turun, sedikit kecewa, "Jadi nggak boleh foto sama sekali, Ma?"
"Ya nggak boleh dong, nanti kalau fotonya tersebar gimana? Kamu mau di acara pernikahan kakak kamu, banyak tamu tidak diundang yang malah ikutan datang?" balas Mama Nita dan sebelum putrinya itu bertanya lagi. Ia sudah lebih dulu merangkul pinggangnya untuk ia ajak pulang.
"Ya nggak mau sih, Ma. Nanti berisik."
"Makanya. Udah ah, ayo pulang! Kamu harus tidur, besok sekolah!" kata Mama Nita sambil melangkahkan.
Mika menghela napas, panjang. Lalu berjalan mengikuti mamanya, "Yah, kok buru-buru pulang sih, Ma? Kayak yang rumahnya jauh aja!" sahutnya.
Mama Nita berhenti melangkah, "Lah terus kita nggak pulang, gitu?"
"Ya pulang, tapi nanti aja! Sekarang nge-mall dulu aja yuk, Ma! Biar nggak rugi udah dandan rapih-rapih," ajaknya sambil bergelendot ria di lengan mamanya.
"Ini udah jam berapa, Mika." Mama Nita melirik ke arah jam tangan di pergelangan tangan kanannya. "Udah jam sebelas lebih tuh! Mall-nya juga udah tutup!" tolaknya sembari melangkah meninggalkan Mika.
"Mama suruh buka lagi lah! Kan Mall-nya punya mama," balas Mika nyengir-nyengir sambil tak lupa naik-naikin alis, ngintil di belakang mamanya. Agaknya lagi mencoba membujuk-bujuk.
"Mama udah ngantuk, Sayang. Mama pengen tidur!" sahut Mama Nita.
"Bentar aja, Ma. Janji Mika nggak boros," ucap Mika meringis.
"Mama capek, tapi kalau kamu mau ke mall ya sana, palingan nanti juga dimakan hantu, dikunyah-kunyah, diemut-emut... Mau?"
Mika langsung cemberut. "Di mall mana ada hantu, Ma! Lagian kalau pergi sendiri juga nggak asik."
"Ya memang. Kalau kamu mau yang asik-asik ya pergi ke diskotik," balas Mama Nita.
"Mama mau?" tanya Mika kedua bola matanya berbinar cerah.
"Mau."
"Mau ke diskotik?" Mika berharap-harap.
"Mau tidur."
Mika kembali cemberut, kirain bakal direspon bagus, ternyata harapannya yang justru hangus, "Ye! Kirain!"
...***...
Semenjak mobil itu pergi menjauh meninggalkan rumah.
Antara Alvaro dan Dena masih saja terlihat saling diam, dan karena diam, alhasil tidak ada untaian kalimat yang saling ditukar.
Hal itu tentunya membuat Dena jadi merasa canggung. Kayak, tiba-tiba pengen ngajak Alvaro ngobrol, tapi takut malah nggak nyambung.
Awalnya Dena tahan saja, tapi lama kelamaan...
"Om!" panggil Dena yang sudah tidak tahan terus-terusan diam.
Alvaro melirik sekilas, tidak sampai benar-benar menatap wajah Dena.
"Hm?"
Dena menggenggam erat jari-jemarinya di atas pangkuan. Ia lalu menatap dalam-dalam wajah Alvaro, "Soal akad nikahnya, Kenapa harus lusa sih, Om?" tanyanya. Sudah sejak tadi ia memang gatel pengen tau alasannya.
"Mau besok aja?" sahut Alvaro yang membuat Dena langsung cepat-cepat menggelengkan kepala.
"Hih! Enggak!" katanya, "Tapi kenapa harus lusa, kenapa nggak minggu atau bulan depan aja?" cicit Dena, bahkan hingga di detik sekarang pun ia masih tidak bisa membayangkan. Bagaimana nanti ketika ia sudah menikah dengan Alvaro.
"Biar nggak lama," jawab Alvaro, singkat.
Dena juga langsung mencebik. Melirik Alvaro. "Memangnya kenapa kalau lama?"
"Nanti lo kabur!"
"Ye! Emangnya siapa yang mau kabur. Enggak kok, saya kan udah dilamar. Masak mau kabur," ujar Dena tersenyum sambil menggerak-gerakkan jari manisnya.
"Seneng?"
"Enggak juga sih." Dena refleks berhenti tersenyum, "Cuma ya gimana? Udah terlanjur diterima," kata Dena melirik ke arah luar. Kebetulan hujan juga tiba-tiba runtuh, padahal sebelumnya enggak ada mendung tuh.
Alvaro tertawa pelan, "Lo ngerasa terpaksa?"
Dena menggeleng, "Enggak kok."
"Lalu?"
"Ya gitulah, intinya saya masih nggak ngerti aja sih, Om," kata Dena.
Alvaro menautkan sebelah alisnya. "Soal?"
"Soal kenapa Om Varo mau nikahin saya? Ibarat bumi dan langit kita ini nggak setara tau, Om," ujarnya.
Alvaro melirik Dena cukup lama, tapi tak berbicara sepatah kata pun, sebelum akhirnya pandangan mata Alvaro kembali menatap jalan.
"Om nggak mau jawab apa-apa?"
"Perlu gue jawab?"
"Hih! Om, jawab dong! Saya beneran penasaran tauk. Dan Om sendiri tau kan kalau saya ini masih punya pacar?" tanyanya ketika tak lama sebelum itu ia teringat Dyo.
Ya, walaupun yang kali ini membuatnya teringat pada Dyo, adalah soal ia yang sempat memberi janji bersedia meminjamkan uang satu juta. Dan sialnya, sampai sekarang uang itu belum tersedia.
Alvaro mengangguk, "Tau."
"Terus, Om juga tau kan saya bukan siapa-siapa, dan lagi saya ini juga cuma murid nakal di sekolah punya, Om?"
Alvaro mengangguk lagi, "Iya, gue tau."
"Nah, kan! Sekarang pertanyaan saya adalah, kenapa Om tetep mau nikahin saya, kalau Om sudah tau tentang semua itu?" tanya Dena yang semakin terlihat tambah serius.
"Karena gue suka tantangan," jawab Alvaro lebih cepat dari yang Dena kira.
Dena berkedip pelan, "Tantangan apa?"
Sebelum memperjelas perkataannya. Alvaro sejenak menghela napas, lalu entah kenapa Alvaro tiba-tiba memperlambat laju mobilnya.
"Ya tantangan ...menikahi gadis nakal, tukang bikin onar, sok jagoan, dan berani mengambil resiko terhadap apapun. Terlebih lagi menikahi gadis yang punya pacar kayak lo..." Alvaro sejenak menjeda perkataannya sambil mencari-cari tempat untuk berhenti.
"Buat gue itu jadi tantangan tersendiri, dan karena itu gue mau nikahin lo," lanjutnya lalu tak lama begitu mobilnya terparkir di pinggir jalan.
Dena menatap Alvaro cukup lama, saat jawaban tak terduga Alvaro, entah kenapa terdengar sangat tidak masuk akal baginya.
Nih orang ngomong apa sih?
Namun, belum sempat Dena membalas perkataan Alvaro. Laki-laki itu tiba-tiba memberinya sejumlah uang.
Dena langsung tegang. Kenapa mendadak diberi uang—buat apa?
Dena berkedip pelan. Pandangan matanya turun sejengkal.
"Ini maksudnya apa, Om?" Dena menatap uang itu, jumlahnya tidak terlalu jelas berapa. Tapi Dena yakin itu lebih dari satu juta.
"Lo liat bapak-bapak yang jualan balon di sana?" tunjuk Alvaro ke arah seberang jalan.
Dena menyipitkan mata, karena di luar sedang hujan, pengelihatannya jadi agak buram.
Di sana seorang pria paruh baya memang terlihat sedang berjualan balon di emperan toko yang telah tutup.
"Iya saya liat. Om pengen beli balon bapak itu?" tanyanya.
Alvaro mengangguk, "Beli satu aja, tapi uang ini tolong kamu kasih semua," jawabnya seraya meletakkan sejumlah uang itu ke telapak tangan Dena.
"Semuanya?"
Alvaro kembali menatap ke arah seberang jalan, "Bapak itu kasihan. Udah jam segini masih berjualan. Apalagi dalam konsisi hujan deras. Kita harus membantu," kata Alvaro.
Dena paham, dan ia pun merasa kasihan.
Tapi?
"Om serius, pengen beli balon?"
"Memangnya lo pikir bapak itu jualan apa?"
"Ya balon."
"Terus, kenapa masih nanya?"
"Ya enggak, maksud saya biar lebih gampang, kenapa uangnya nggak langsung dikasih ke bapaknya aja sih, Om?Nggak harus beli balonnya, kita kan nggak butuh balon juga," ujar Dena.
"Kita memang nggak butuh, tapi bapak itu pedagang. Dan pedagang pasti lebih senang kalau apa yang dia jual kita beli, daripada cuma kita kasih uang secara cuma-cuma," sahut Alvaro.
Dena mengerti itu, tapi ia masih sedikit menaruh bingung.
"Iya, tapi balonnya mau buat apa, Om?"
"Buat lo!" Alvaro menoleh tajam ke arah Dena yang malah banyak bertanya.
"Daripada lo ngoceh mulu bikin kuping gue pegel!"
"Mending lo beli satu, terus ngobrol aja sama balon!" dengusnya.
Dena tertohok, hingga langsung memutar kedua bola matanya, jengah, saat jawaban Alvaro justru membuatnya semakin gelisah, "Ih, saya serius, Om!"
"Lo pikir gue bercanda? Sana cepet! Payungnya ada di pintu, pencet aja tombolnya!" paksa Alvaro.
Sejenak kala Dena masih saja terdiam, atau mungkin lebih ke arah tidak menyangka. Alvaro, pria menyebalkan, suka mengancam? Mau membantu bapak-bapak yang jualan balon?
"Jangan cuma bengong! Sana cepet!" sergah Alvaro.
Dena mengangguk, lalu segera keluar sambil membawa payung berwarna hitam.
Dena kemudian berlari-lari kecil membelah jalan raya, ke arah bapak si penjual balon itu untuk sedikit memberi santunan.
Alvaro memandang dari dalam, bibirnya tersenyum tipis. Apalagi ketika melihat sang calon istri lagi sibuk milih-milih balon sambil ngajak ngobrol bapak penjualnya. Di mata Alvaro Dena jadi terlihat lucu kayak anak TK.
Tak berselang lama Dena akhirnya kembali, dengan membawa satu balon berwarna ungu—satu warna yang menurut Dena ya lucu aja.
"Udah kamu kasih semua kan?"
Dena tersenyum, ia bahkan cukup tersentuh dengan apa yang baru saja dilakukan Alvaro.
"Udah ... nih, balonnya lucu banget kan, Om?" kikik Dena sambil gemas sendiri mememeluk balon itu erat-erat.
Alvaro jadi ikut gemas, tapi lebih ke arah gemas pada tingkah kekanak-kanakan Dena.
"Iya lucu," sahut Alvaro.
"Tapi, Kenapa kamu pilih warna biru? Kamu suka warna itu?" tanya Alvaro. Dan ...Ya, nggak pake lama Dena langsung mengernyit.
"Apanya yang biru?"
"Ya balonnya." Alvaro menatap balon itu, dan menurutnya itu berwarna biru.
Sementara Dena malah jadi yang bingung sendiri. Ia lalu mengamati kembali balon di pelukannya. Tapi, ia tau itu berwana ungu.
"Di mata Om ini warnanya biru?" Dena tidak habis pikir.
"Biru tua?"
"Astaghfirullahaladzim! Ini ungu, Om. Gimana ceritanya sih bisa jadi biru tua," dengus Dena.
"Bukannya memang biru?"
"Ini ungu astaga! Kok bisa-bisanya kelihatan biru di mata, Om!"
"Atau jangan-jangan... Om buta warna ya?" Dena jadi curiga.
Tapi, Alvaro tidak mau menjawab apa-apa. Dan di detik yang sama ia juga menyesal telah bertanya.
Alvaro lalu kembali melanjutkan perjalanan sambil pura-pura tidak pernah bertanya.
Dena jadi keki.
"Om!" panggilnya sambil menepuk-nepuk paha Alvaro.
"Apa?"
"Serius di mata Om ini warnanya biru?"
Alvaro menghela napas panjang, "Ya di mata gue itu kelihatan kayak warna biru!" dengusnya.
"Kalau lo nganggep itu ungu, ya terserah."
Dena kembali melirik balon itu, "Jelas-jelas ini ungu! Wah, kayaknya Om beneran buta warna deh!" serunya.
"Iya kan, Om. Ayo ngaku!" paksa Dena.
Alvaro tidak langsung menjawab, baru setelah mobilnya kembali melaju setelah sempat berhenti di lampu merah. Alvaro menoleh lalu melirik Dena setajam belati.
"Kalau iya ... memangnya kenapa?"