Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 - Undangan Jebakan
Undangan itu datang tiga hari sebelum acara, dibawa langsung oleh pelayan yang mengetuk pintu kamar dengan sopan lalu menyerahkannya tanpa banyak bicara. Amplop berwarna krem dengan segel emas itu terlihat sederhana, namun kualitas kertas dan cetakannya menunjukkan bahwa acara ini bukan pertemuan biasa, melainkan sesuatu yang memang disiapkan untuk menarik perhatian banyak orang.
Alyssa menerimanya dengan tenang, membuka segelnya tanpa tergesa, lalu mengeluarkan kartu undangan yang tersusun rapi di dalamnya. Tulisan elegan menyebutkan jam, tempat, dan daftar tamu penting yang akan hadir, termasuk keluarga besar Wijaya dan beberapa rekan bisnis lama yang dikenal memiliki pengaruh besar.
Ia membaca sampai selesai, lalu menutup kartu itu kembali tanpa perubahan ekspresi yang berarti, seolah apa yang ia lihat hanyalah informasi biasa yang tidak memicu reaksi apa pun. Namun matanya sempat berhenti sepersekian detik lebih lama pada nama tempat acara, seakan memastikan sesuatu dalam pikirannya.
Langkah kaki terdengar dari arah pintu, diikuti suara yang tidak asing.
“Sudah terima undangannya?”
Alyssa menoleh.
“Iya.”
ibu Daren masuk tanpa menunggu izin, langkahnya tenang namun jelas menunjukkan bahwa ia merasa memiliki kendali atas ruang itu. Senyum tipisnya tidak pernah benar-benar sampai ke mata, dan tatapannya langsung jatuh pada kartu undangan yang masih berada di tangan Alyssa.
“Bagus. Jangan sampai kamu tidak datang,” katanya sambil berdiri tidak jauh, memperhatikan dengan teliti setiap reaksi kecil yang mungkin muncul.
Alyssa berdiri dengan sikap yang tetap sama, tidak menunjukkan rasa tertekan ataupun penolakan, seolah kehadiran Ibu Daren hanyalah bagian dari rutinitas yang sudah ia pahami dengan baik.
“Saya akan datang.”
Ibu Daren mengangguk kecil, lalu melangkah lebih dekat, cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa lebih sempit dari yang seharusnya.
“Ingat satu hal.”
Alyssa menatapnya tanpa menghindar.
“Jangan membuat keluarga terlihat buruk di depan orang lain.”
Nada suaranya rendah, namun maknanya jelas dan tidak perlu dijelaskan ulang, karena apa yang ia maksud bukan sekadar penampilan, melainkan posisi Alyssa dalam keluarga itu.
“Saya mengerti.”
Jawaban itu singkat, tidak berlebihan, dan tidak memberi ruang untuk percakapan lebih jauh.
Ibu Daren tersenyum kecil, lalu berbalik dan pergi, meninggalkan ruangan dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat ia masuk. Pintu tertutup perlahan, dan suasana kembali hening tanpa gangguan.
Alyssa menatap undangan itu sekali lagi, lalu meletakkannya di meja dengan rapi. Ia tidak menghela napas panjang atau menunjukkan kegelisahan, namun sorot matanya sedikit berubah, bukan karena ragu, melainkan karena ia sudah memahami apa yang menunggunya di sana.
Ia tahu ini bukan sekadar makan malam.
Dan ia juga tahu bahwa dirinya tidak diundang untuk disambut.
---
Hari acara tiba dengan suasana yang terasa lebih ramai dari biasanya, bahkan sejak sore hari para pelayan sudah sibuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Mobil-mobil mewah mulai berdatangan satu per satu, berhenti di depan pintu utama hotel yang dihiasi lampu kristal dan dekorasi elegan yang memantulkan cahaya ke segala arah.
Di dalam aula, percakapan mengalir dengan ringan di antara para tamu yang berpakaian rapi, gelas-gelas berisi minuman berkilau di tangan mereka, sementara musik lembut mengisi ruang tanpa mengganggu obrolan yang berlangsung.
Keluarga Wijaya sudah berada di sana lebih dulu, berdiri dalam kelompok kecil yang menarik perhatian tanpa perlu berusaha. Ibu Daren berbicara dengan beberapa wanita yang tampak sekelas dengannya, tertawa kecil di waktu yang tepat, menjaga citra yang sudah lama ia bangun.
Di sampingnya, Cassandra berdiri dengan sikap percaya diri yang tidak disembunyikan, gaunnya menarik perhatian tanpa terlihat berlebihan, dan setiap gerakannya menunjukkan bahwa ia terbiasa berada di tempat seperti ini.
“Dia pasti datang?” tanya Cassandra sambil menyesap minumannya.
Ibu Daren tidak langsung menjawab, ia hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya berkata dengan nada santai.
“Tentu saja. Dia tidak punya alasan untuk menolak.”
Cassandra mengangguk pelan, matanya mengarah ke pintu masuk seolah menunggu sesuatu yang menarik untuk dilihat.
Daren datang beberapa saat kemudian, kehadirannya langsung mengubah dinamika di sekitarnya meskipun ia tidak melakukan apa pun secara khusus. Ia berdiri di dekat mereka, menyapa singkat, lalu pandangannya bergerak menyapu ruangan tanpa terlihat terburu-buru.
“Kamu datang lebih cepat,” kata Ibunya.
Daren mengangguk.
“Ya.”
Jawaban singkat itu tidak mengundang percakapan panjang, namun jelas bahwa pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Matanya kembali bergerak ke arah pintu masuk, seolah menunggu sesuatu yang belum muncul.
Cassandra memperhatikan itu dengan senyum kecil.
“Kamu mencari seseorang?”
Daren menoleh sekilas.
“Tidak.”
Namun beberapa detik kemudian, pandangannya kembali ke arah yang sama.
---
Di luar hotel, suasana jauh lebih tenang dibandingkan dengan hiruk pikuk di dalam. Sebuah mobil berhenti perlahan, dan pintunya terbuka tanpa menarik perhatian berlebihan dari orang-orang di sekitar.
Alyssa turun dengan langkah yang teratur, gaun putih tulangnya jatuh rapi tanpa tambahan yang mencolok, dan penampilannya terlihat kontras dengan kemewahan yang mendominasi tempat itu. Tidak ada perhiasan besar atau riasan mencolok, namun justru karena itu, keberadaannya terasa berbeda.
Ia berdiri sejenak sebelum melangkah masuk, bukan karena ragu, melainkan memastikan bahwa dirinya siap menghadapi apa pun yang ada di dalam.
Langkahnya tetap sama saat ia memasuki aula, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, dengan sikap yang menunjukkan bahwa ia tidak datang untuk menyesuaikan diri, melainkan hanya untuk hadir.
Beberapa tamu di dekat pintu langsung memperhatikan, tatapan mereka bergerak menilai tanpa perlu diucapkan dengan kata-kata. Bisikan kecil mulai terdengar, mengalir dari satu orang ke orang lain, menciptakan gelombang penilaian yang sulit diabaikan.
“Siapa dia?”
“Bagian dari keluarga Wijaya?”
“Kenapa terlihat seperti itu?”
Alyssa mendengar semuanya, namun tidak satu pun dari itu mengubah langkahnya, karena sejak awal ia tidak datang untuk mendapatkan pengakuan dari mereka.
Di dalam, Cassandra melihatnya lebih dulu, matanya menyipit sedikit sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Itu dia.”
Ibu Daren mengikuti arah pandangannya, lalu mengangguk tanpa terlihat terkejut.
“Ya.”
Daren yang berdiri tidak jauh dari mereka akhirnya menangkap sosok itu, dan tanpa disadari, langkahnya berhenti sejenak. Ia memperhatikan lebih lama dari yang seharusnya, bukan karena penampilan Alyssa yang mencolok, melainkan karena cara ia membawa dirinya di tengah semua tatapan itu.
Alyssa berjalan menuju meja minuman, mengambil segelas air tanpa terlihat canggung, lalu berdiri dengan posisi yang tidak menutup diri namun juga tidak membuka ruang terlalu lebar untuk orang lain mendekat.
Seorang wanita mendekatinya dengan senyum yang terlihat ramah di permukaan.
“Kamu Alyssa, kan?”
Alyssa menoleh.
“Iya.”
Wanita itu mengangguk kecil, matanya tetap menilai meskipun senyumnya tidak berubah.
“Aku pernah dengar tentang kamu.”
Alyssa tidak memberikan reaksi berlebihan, hanya menjawab seperlunya sebelum percakapan itu selesai dengan sendirinya.
Cassandra kemudian mendekat, langkahnya mantap dan penuh perhitungan, berhenti tepat di depan Alyssa tanpa menjaga jarak yang terlalu jauh.
"Kita bertemu lagi,” katanya dengan nada ringan.
Alyssa menatapnya.
“Sepertinya begitu.”
Cassandra tersenyum, matanya bergerak dari ujung kepala hingga kaki, tidak berusaha menyembunyikan penilaiannya.
“Kamu terlihat sederhana.”
Alyssa menjawab tanpa perubahan ekspresi.
“Terima kasih.”
Jawaban itu membuat Cassandra berhenti sejenak, karena reaksi yang ia harapkan tidak muncul seperti yang direncanakan.
Ibu Daren bergabung tidak lama kemudian, membawa suasana menjadi lebih terarah, karena beberapa tamu mulai memperhatikan interaksi mereka.
“Kamu harus lebih berhati-hati di tempat seperti ini,” katanya pelan, cukup untuk didengar orang-orang terdekat.
Alyssa tidak menjawab, ia hanya berdiri dengan sikap yang sama, dan justru itu membuat suasana menjadi tidak nyaman bagi orang-orang yang menunggu reaksi tertentu.
Di kejauhan, Daren masih memperhatikan semuanya tanpa ikut masuk ke dalam lingkaran itu, mencoba memahami sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika sederhana.
Alyssa tidak terlihat tertekan.
Tidak juga terlihat berusaha melawan.
Namun ia juga tidak bisa diabaikan begitu saja.
Dan di tengah semua bisikan yang semakin banyak, ia tetap berdiri dengan cara yang sama, seolah penilaian orang lain tidak memiliki tempat dalam pikirannya.
Bagi sebagian orang, itu terlihat seperti kelemahan.
Namun bagi yang memperhatikan lebih lama, itu terasa seperti sesuatu yang tidak mudah digoyahkan.
Daren menyadari hal itu, meskipun ia belum benar-benar mengerti apa artinya.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔