Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14.Cahaya Yang Menyilaukan
Langkah kaki Ren bergema di atas lantai kayu yang dipoles mengkilap, menciptakan suara ketukan yang ritmis dan tenang di tengah kesunyian ruangan pertemuan. Ruangan ini jauh lebih luas daripada ruang kerja Sona yang ia datangi kemarin. Meja mahoni panjang berbentuk oval mendominasi bagian tengah, dengan kursi-kursi berukir tinggi yang memberikan kesan feodal yang kental.
Di ujung meja, dua sosok yang mewakili kekuatan tertinggi di Akademi Kuoh telah menunggu. Sona Sitri duduk dengan punggung tegak, jemarinya tertaut di atas meja dengan presisi seorang penguasa wilayah. Di sampingnya, Rias Gremory menyandarkan punggungnya dengan lebih santai namun tetap memancarkan aura kemegahan yang menekan. Kehadiran mereka berdua secara bersamaan menciptakan medan energi yang cukup untuk membuat manusia biasa pingsan hanya dengan melangkah masuk.
Ren tidak tampak terpengaruh. Ia menarik kursi di ujung meja yang berseberangan dengan mereka, menciptakan jarak yang cukup namun tetap intim untuk sebuah konfrontasi. Akeno dan Tsubaki berdiri di belakang pemimpin mereka masing-masing, seperti bayangan yang siap menerkam kapan saja.
"Teh lagi?" Ren memulai pembicaraan dengan nada santai, memecah ketegangan yang hampir bisa diraba. "Aku melihat set teh di sudut ruangan. Sepertinya kalian berdua sudah menyiapkan pembicaraan yang cukup panjang."
Sona membetulkan letak kacamatanya. Cahaya pagi yang masuk dari jendela samping terpantul di lensanya, menyembunyikan emosi di matanya. "Kita melampaui basa-basi hari ini, Saiba-kun. Kejadian di taman semalam... Kiba dan Koneko adalah bagian dari keluarga Rias. Menyerang mereka berarti menyatakan sikap terhadap kami semua."
"Menyerang?" Ren terkekeh pelan, sebuah suara bariton yang mengisi setiap sudut ruangan. Ia melepas kacamata hitamnya perlahan, meletakkannya di atas meja. Mata biru kristalnya kini menatap langsung ke arah Sona dan Rias, membuat kedua gadis itu tersentak diam-diam karena intensitas pendarannya. "Jika aku menyerang mereka, Ketua, kau tidak akan melihat mereka berdiri di sekolah hari ini. Aku hanya... mengoreksi postur bertarung mereka."
Rias memajukan tubuhnya, rambut merahnya terjatuh menutupi sebagian bahunya. "Kau mengambil sesuatu dari wilayah kami, Ren. Fragmen itu... energi sucinya terlalu murni untuk dibiarkan di tangan seseorang yang identitasnya masih menjadi kabut gelap bagi kami. Siapa kau sebenarnya? Pengusir setan dari Vatikan? Atau sesuatu yang lebih berbahaya?"
Ren menyandarkan kepalanya pada satu tangan, menatap Rias dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku bukan bagian dari gereja kalian yang membosankan itu, Rias-san. Dan fragmen itu... katakanlah itu adalah milik yang tertinggal dari masa lalu yang jauh, dan aku hanya datang untuk mengambilnya kembali."
[SISTEM: Deteksi upaya penyelidikan memori oleh Sona Sitri melalui media udara. Ia mencoba menangkap fragmen pikiran Anda.]
[REN: Alihkan dia ke dalam labirin tak terbatas. Biarkan dia melihat kehampaan semesta agar dia tahu betapa kecilnya pengetahuan yang dia banggakan.]
Sona tiba-tiba memegang dahinya, napasnya sedikit memburu selama sesaat sebelum ia kembali menguasai diri. Ia menatap Ren dengan rasa takut yang mulai bercampur dengan rasa hormat yang mendalam. Ia baru saja mencoba mengintip ke dalam pikiran pemuda ini dan merasa seolah-olah ia berdiri di tepi jurang yang tak berujung.
"Kau... kau bukan manusia biasa," bisik Sona, suaranya sedikit parau.
"Aku tidak pernah mengklaim diriku sebagai manusia biasa," jawab Ren tenang. "Tapi aku juga bukan musuh kalian. Setidaknya, selama kalian tidak menghalangi jalanku untuk menyatukan kembali apa yang telah terpisah."
Akeno, yang sedari tadi diam, melangkah maju satu langkah. Senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi serius yang dingin. "Menyatukan kembali? Itu terdengar seperti rencana yang melibatkan banyak gangguan bagi stabilitas kota ini. Sebagai pelindung wilayah ini, kami tidak bisa membiarkan variabel liar sepertimu bergerak tanpa pengawasan."
Ren menatap Akeno sejenak, lalu kembali ke Rias. "Lalu apa maumu? Menjadikanku pion? Memberiku perintah? Aku sudah katakan semalam, Rias... papan caturmu terlalu kecil untuk menampungku."
Rias menghela napas panjang, mencoba meredakan ketegangan di dadanya. "Kami tidak meminta ketaatanmu, Ren. Tapi kami meminta transparansi. Jika ada kekuatan besar lain yang mengincar fragmen itu atau keberadaanmu, kami perlu tahu agar sekolah ini tidak menjadi medan perang."
Ren terdiam sejenak. Ia memutar-mutar kacamata hitamnya di atas meja mahoni. Keheningan yang panjang ini terasa sangat berat bagi semua orang di ruangan itu, kecuali dirinya.
"Baiklah," ucap Ren akhirnya. "Aku akan memberikan kalian satu fakta. Dalam waktu dekat, seseorang yang sangat penting bagiku akan bangkit. Kehadirannya akan jauh lebih kuat dan lebih nyata daripada apa pun yang pernah kalian rasakan dari faksi manapun. Selama kalian tidak mencoba mengusiknya atau melabelinya sebagai ancaman, aku akan memastikan Akademi Kuoh tetap menjadi tempat yang tenang bagi kalian untuk bermain sekolah-sekolahan."
Sona dan Rias saling melirik. Pernyataan itu adalah pengakuan sekaligus ancaman yang sangat halus.
"Seseorang yang penting?" tanya Rias dengan nada ingin tahu. "Siapa?"
Ren mengambil kembali kacamata hitamnya dan memakainya dengan gerakan yang anggun. Ia berdiri dari kursinya, membuat semua orang di ruangan itu secara refleks menegang.
"Kalian akan segera mengenalnya," ucap Ren sambil berjalan menuju pintu. "Sekarang, jika tidak ada lagi yang ingin dibahas, aku harus pergi. Pelajaran pertama akan segera dimulai, dan aku adalah murid pindahan yang sangat menghargai absensi."
Saat Ren menyentuh gagang pintu, ia berhenti dan menoleh sedikit. "Oh, satu lagi. Sona, perbaiki sistem pengawasanmu. Malaikat Jatuh bukan satu-satunya hal yang mengintai di balik awan. Ada sesuatu yang lebih lapar mulai mendekat, tertarik oleh riak energi yang kalian buat sendiri."
Pintu tertutup rapat setelah Ren keluar, meninggalkan empat wanita paling kuat di sekolah itu dalam keheningan yang menyesakkan. Rias menatap cangkir tehnya yang kini sudah dingin, sementara Sona mulai mencatat sesuatu dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Dia tahu tentang ancaman luar yang bahkan belum terdeteksi oleh lingkaran sihirku," gumam Sona.
"Kita harus mengawasinya, Buchou," ucap Kiba yang tiba-tiba muncul dari balik bayangan di sudut ruangan. "Tapi bukan sebagai musuh... tapi sebagai badai yang belum kita ketahui arahnya."
Rias hanya mengangguk pelan. Di dalam pikirannya, ia mulai menyadari bahwa kehadiran Saiba Ren bukan hanya mengubah ritme sekolahnya, tapi mungkin akan mengubah seluruh tatanan dunia supranatural yang ia kenal.