Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Kepala itu jatuh menggelinding didalam mobil Mafia. "Hahahaaa....tapi...tapi Vair pasti akan benci aku jika tahu adiknya aku bunuh."
Mafia menggigit kukunya, gelisah dan khawatir menyergap dirinya. Dengan cepat dia mengambil kepala Vari dan mencoba menyatukannya lagi dengan tubuhnya, tapi...tidak bisa. Sekali lagi mafia mencoba memasangnya. Lagi lagi...tidak bisa.
"Ah!"
Kedua tangannya yang berlumur darah menjambak rambutnya hingga darah Vari nampak menyeluruh mengotori rambut Mafia.
"Vair...aku harus cari Vair sekarang. Dia harus tahu ini. Vair maafkan aku,"
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan dikaca mobil membuat mafia terlonjak kaget. Dia panik, dia berusaha menyembunyikan mayat Vari dijok bagian belakang.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan itu terdengar lagi. Mafia kalang kabut dan terpaksa dia melempar kepala Vari ke jok mobil belakang.
Mafia mengatur napasnya agar terlihat setenang mungkin. Perlahan Mafia mengklik tombol buka kaca mobil dan orang diluar perlahan terlihat.
"Kenapa?" nada dingin dan raut datar seperti biasa seolah tidak terjadi apapun, padahal mafia baru saja melakukan tindak kriminal.
"Maaf tuan, disana, tepatnya dipertigaan jalan ada kecelakaan jadi anda tidak bisa lewat. Tuan bisa putar arah," ternyata yang mengetuk pintu adalah seorang police.
"Oh, baik. Terima kasih." Mafia kembali menutup pintu kaca mobil. Segera melaju kendaraannya pergi dari sana masih dengan mayat Vari didalamnya.
Setelah jauh dari pemukiman tadi Mafia menghela lega. Menoleh dimana Vari berada lebih tepatnya mayatnya.
"Dasar kamu nggak berguna!" menendang kaki mayat Vari. Dan mafia bergegas pulang ke huniannya untuk cepat cepat mengubur mayat Vari dibelakang rumah, tempat yang dikhususkan untuk penguburan musuh musuhnya selama ini.
Sementara digedung megah, Haru dan Kasim saling menatap. Dia sudah lama menunggu kedatangan tuannya dan para wanitanya, tapi hingga sekian lama sama sekali mereka belum kembali.
"Kasim, kenapa tuan Mafia lama banget? Kira kira mereka kembali kesini lagi apa enggak ya?" Haru, dia sudah lelah sejak tadi berdiri bak manekin didepan pintu ruangan yang dia sendiri juga tidak tahu itu ruangan apa.
Kasim menguap, dia juga merasa lelah sebenarnya, tapi lagi lagi dia tidak bisa berbuat apa apa, status mereka hanyalah seorang bawahan.
"Kita pulang saja."
Haru melotot. "Beneran?" Menatap Kasim tak percaya, bagaimana bisa dia mengucap kata pulang dengan seenteng itu? Kalau tuan Mafia menghukumnya karena sudah berani pulang duluan, bagaimana? Haru belum ingin mati dipenggal tuan Mafia. Haru masih ingin hidup.
"Percaya saja sama aku. Kalau tuan marah biar aku yang menghadapinya." Kasim menepuk dadanya pongah. Seolah dia punya power besar.
Haru menatap Kasim kagum. "Ck ck ck. Hebat kamu Sim. Tapi...aku orang pertama yang akan menendang pantat mu seratus kali jika kamu mendadak hilang nyali didepan tuan mafia.." Haru menatap Kasim remeh.
"Halah. Sudahlah. Ayo pulang."
...----------------...
1 tahun kemudian
Vair berjalan dengan sangat anggun didepan hunian barunya. Dia menatap bangga pada bangunan mewah yang menjulang tinggi hasil jerih payahnya selama satu tahun ini. Dengan senyum mengembang Vair berjalan masuk kedalam rumah itu.
"Wah! Ini menakjubkan." menatap langit langit rumah lalu pindah pada isian didalam rumah ini semuanya terlihat sangat mahal.
Vair berjalan menuju sofa empuk berwarna coklat muda warna kesukaannya. "Empuk banget. Andai aku dari dulu begini. Pasti..."
Tiba tiba dia teringat akan adiknya yang sudah setahun ini tidak bertemu dengannya. Tapi buru buru Vair menepis ingatan itu. Dia sudah tidak akan memikirkan Vari lagi. Toh dia sudah punya segalanya. Dia sudah tidak membutuhkannya.
"Biarkan saja, aku sudah nggak mau peduli lagi. Dia sudah bukan adik kandungku." mengedik kedua bahu lalu berjalan menuju lantai atas. Kedua mata berbinar ketika melihat kamarnya begitu indah dan Vair sangat menyukainya.
Warna merah muda semuanya disini menandakan pemilik kamar ini adalah seorang wanita.
"Wow! Dia benar benar memberikan apa yang aku minta. Luar biasa," Tak tahan jika hanya melihatnya Vair naik ke atas tempat tidur dia merebakan badannya disana. Empuk dan nyaman. Tapi lagi lagi wajah Vari terlintas di ingatan.
Vair men-ce-bik. "Dia mengganggu kesenanganku!" kesal, Vair menuju kamar mandi di dalam kamar ini. Dia tertegun ketika hatinya merasa resah dan gelisah. Entah mengapa dia tiba tiba merindukan Vari.
"Aku sudah memutuskan tali persaudaraan. Aku tidak perlu memikirkan dia. Vari sudah bisa hidup sendiri. Seperti waktu itu." menenangkan perasaannya sendiri. Setelah hatinya merasa jauh lebih tenang Vair kembali rebahan di atas tempat tidur dan terlelap.
...----------------...
"Haru Kasim, bagaimana pencariannya? Apa sudah membuahkan hasil?"
"Ada tuan. Kami menemukan ini."
"Apa ini?" menerima secarik kertas kotor yang Haru berikan padanya lalu mulai membacanya kata demi kata.
"Tuan, sepertinya nona Vair benar benar tidak kembali ke sini."
"Apa maksud mu?" Mafia menatap tajam Haru mencengkram leher hingga urat tangan mafia menonjol.
"Ah! Sa-sakit tu-tuan." wajah Haru sudah memerah benar benar merasa kesulitan bernapas.
"Jelaskan sama aku. Apa maksud kamu barusan hah?!" Mafia melepas cekikan di leher Haru kemudian menendangnya dengan kuat hingga Haru terpental ke lantai, menabrak pot bunga yang masih baru hingga pecah dan tanahnya berantakan di lantai.
Kasim yang hanya bisa terdiam dan menonton saja kini beranikan diri membantu Haru berdiri. Merasa kasihan pada teman seprofesinya itu yang sepertinya hampir mati.
"Tuan maaf, tapi nona Vair sudah berhasil sekarang, dia nggak miskin lagi. Kemungkinan besar dia sudah nggak peduli lagi sama adiknya yang sudah mati itu."
Mafia meremat kertas itu membuangnya sembarang arah. "Nggak mau tahu. Pokoknya bawa Vair pada ku. Dia harus jadi milik ku!"
Haru dan Kasim membuang napas lelah. "Siap laksanakan!" mereka berdua pun pergi dari sana untuk mencari info selanjutnya.
Sepeninggal dua anak buahnya, Mafia kembali memegang pedang yang sudah entah keberapa kalinya membunuh orang. Dia berlatih semakin keras agar kekuatannya bertambah. Semenjak tidak ada Vair Mafia kembali ke setelah bengis nan kejam lagi.
Bayangan Vair yang menciumnya kala itu tiba tiba terlintas, membuat Mafia mengerang dan melempar pedangnya ke lantai.
"Sejak dulu aku sudah menantikan pertemuan kita Vair. Aku sudah mengatur semuanya, tapi...kamu kembali pergi dari aku." kedua tangan Mafia mengepal. kesal karena lagi lagi dia kehilangan Vair sosok wanita yang sejak kecil dia cintai cinta pertamanya.
"Aku sengaja membunuh orangtuamu agar kamu mengalami kesusahan. Aku sengaja menculik Vari agar kamu semakin susah dan kamu mencariku, datang padaku. Semuanya berhasil tapi kenapa lagi lagi Vari membuat kamu pergi dariku?!"