NovelToon NovelToon
Ning Moza

Ning Moza

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:517
Nilai: 5
Nama Author: blue_era

Ning Moza yang mendapatkan biasiswa sampai ke jenjang atas dan semuanya terasa tiba tiba ketika Gus Alvaro hadir mengkhitbahnya dan menghalalkan dalam ikatan sakral. Dan masalah seketika menjadi ombak dalam iktan sakral, dengan hadir nya masa lalu keduanya. Gus Alvaro dan Ning Moza.
Bagaimanakah kisah tentang Ning Moza dan Gus Alvaro?!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17 dan 18

"Assalamu'alaikum, Ning." Ucap mbak Sari

"Waalaikumsalam, mbak." balas ku "Ada apa mbak? "Tanyaku

"Di aturi Umik teng ndalem, Ning. "kata mbak Sari

"Memangnya wonten nopo, mbak?" tanyaku pada mbak Sari

"Duko njih, Ning. Mboten ngertos kulo." jawabnya mba Sari

"Ya sudah kali gitu, aku ke Umik dulu mbak. "Pamit ku, lalu ku langkahkan kakiku keluar dari taman pondok putri

*****

Sampainya di ruang keluarga, dengan cepat ku hampiri Umik. Tunggu! Kena ada Gus Alvaro?

"Assalamu'alaikum." Ucapku dengan sopan

"Waalaikumsalam." jawab Abah, Umik, dan Gus Alvaro serentak

"Sini, Nduk. " kata Umik dengan menepuk sofa di samping beliau, agar aku duduk di samping beliau.

"Wonten nopo, mik?"tanyaku setelah aku duduk di samping Umik

"Nanti kamu ikut, Nak Alvaro. Untuk beli cincin buat kamu. " kata Umik dengan tersenyum

"Ngampuntene, Umik. Apa nggak Gus Alvaro sendiri saja? Kan bisa sendiri mik" tolak ku "Kenapa harus Moza ikut?iya kan Gus? "kataku dengan meminta persetujuan Gus Alvaro

"Sebenarnya bisa, Ning.khawatirnya kalo nanti tidak sesuai atau tidak cocok buat njenengan. "Jawabnya

"Bener itu, nak Alvaro. Nanti kan malah susah kalo tidak pas. "Setuju nya Abah

"Umik sama Abah yang bener saja? Kan belum muhrim. "Kata ku dengan menelak

"Bukan hanya berdua, nanti kamu ditemani sama mbak Sari"kata Umik

"Kenapa tidak di beli jauh-jauh hari?" tanyaku dengan sedikit kesal

"Rencanannya dulu juga badhe beli jauh-jauh hari Ning, tapi takutnya nanti nggak muat atau kebesaran di jarinya njenengan. " jelas nya Gus Alvaro. Aku hanya diam menatapnya dengan tajam

"Ya sudah sekarang kamu siap-siap. Nak Alvaro sudah siap. " kata Umik.

Lagi-lagi aku hanya diam

"Ya sudah ayo cepet" suruh nya Umik

"Iya,mik."

Lalu ku langkah kan kakiku menuju kamar ku untuk siap-siap.

*****

Sekitar setengah jam akhirnya aku turun menuju ruang keluarga. Umik menatap ku dengan tersenyum

"MasyaAllah.lama banget kamu kalo siap-siap ya? "godanya Umik

"Ya kan mandi dulu, "kataku dengan menatap Gus Alvaro yang juga tengah menatap ku

"Ya sudah. Mari, Ning." katanya

"Ya wes. Ati-ati" kata Umik

"Assalamu'alaikum." ucap kami bersamaan setelah mencium punggung tangan Umik

"Waalaikumsalam, Hati-hati, "Kata Umik

Akhirnya aku dan mbak Sari masuk ke dalam mobil milik Gus Alvaro terbelih dulu.

Saat di perjalanan aku hanya diam tidak menggubris apapun yang ditanyakn Gus Alvaro, walaupun itu sekedar basa basi. Hanya mbak Sari yang menjawab dengan sekedar nya.

"Ning. Njenengan tahu toko emas yang dekat dari sini? "Tanya Gus Alvaro dengan melirik ku sebentar

"Kulo ngertos Gus, "jawab mbak Sari karena akju tak kunjung menjawab

"Disebelah mana mbak? "Tanya nya Gus Alvaro pada Mbak Sari

"Nanti ini langsung lurus Gus. Nanti ada pertigaan belok kanan, tempatnya di pinggir kanan jalan. "Jelasnya Mbak Sari

"Iya mbak. Maturnuwun" ucapnya Gus Alvaro

"Ning Moza kenapa hanya diam?" tanya Gus Alvaro dengan melihatmu dari balik kaca depan

Aku tetap diam dengan menatap padatnya jalanan dengan kendaraan yang berlalu lalang.

"Mungkin Ning Moza sedang capek Gus, makanya tidak menjawab" kata mbak Sari

"Mungkin Mbak. Ini tokonya Mbak?"

"Njihh leres Gus" Setelah Gus Alvaro memarkirkan mobilnya, dengan cepat ku tarik Mbak Sari untuk cepat masuk tanpa harus menunggu Gus Alvaro.

*****

Sampainya di toko mas, Gus Alvaro menyuruhku untuk memilih cincin yang aku ingin kan. Bagus, sebuah ide yang cerdik teintas di pikiran ku saat ini.

"Monggo, Ning. Pilih mawon yang Ning suka" katanya dengan tersenyum kearahku

"Njenengan serius?" tanyaku meyakinkan

"Njih leres. " jawabnya dengan senang

"Ok" akhirnya ku mulai aksi ide ku "Mbak cincin yang keluaran terbaru sekaligus yang mahal harganya"kataku pada mbak-mbak nya.

" ini silahkan di pilih ka, ini keluaran terbaru dan sekaligus harganya sesuai yang kaka ingin kan" kata mbak nya dengan menunjukkan cincin sesuai request ku.

"Ini mbak" pilih ku asal, aku tidak peduli semahal apa cincin itu, intinya agar Gus Alvaro membatalkan pernikahan ini. Biarkan saja kalau dia menganggap ku cewek matre, aku tetap tidak pedull.

"Sudah?" kataku dengan tersenyum kearahnya. Bagalmana reaksinya Gus Alvaro? Pasti rencanaku ini berhasil.

"Jadi kaka nya milih yang ini?"tanya mbak nya

"Iya mbak"jawabku

"Jadi totalnya 100 juta ka " kata mbaknya memberitahu

"Ya mbak. Langsung di kemas saja"kata Gus Alvaro

"Hahhh?! Apa?!segampang itu?!"Tak percaya ku dalam hati

"Ning masih ada yang mau dipilih lagi?" tanya Gus Alvaro membuat ku tersadar dari lamunan ku

Aku hanya diam menatapnya dengan tajam.

Seakan-akan dia merasa menang dalam jebakan ku ini.

"Ini ka " kata mbaknya dengan menyodorkan kepadaku, tapi aku tidak mengambilnya. Tanpa berpikir panjang aku tarik lengan mbak Sari untuk keluar toko mas itu. Ku tinggalkan Gus Alvaro yang sedang membayar cincinnya.

"Maaf mbak kalau sudah tidak sopan"kata Gus Alvaro masih bisa aku dengar sebelum sepenuhnya aku dan mbak Sari keluar dari toko.

" iya tidak apa-apa. Terimakasih karena telah berkenan mampir ke toko kami"kata mbaknya sangat ramah

"Iya mbak sama-sama. Permisi dulu mbak." pamitnya Gus Alvaro

*****

Sampainya di mobil aku pura-pura fokus dengan ponsel ku. Sekitar 5 menit Gus Alvaro sudah selesai membayar. Gus Alvaro segera masuk mobil dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.

Kami bertiga sama-sama diam tidak ada yang mengalah untuk mencairkan suasana.

"Mampir makan dulu apa gimana ini?" tanya Gus Alvaro. Tapi aku masih tetap diam.

"Gimana mbak Sari?" tanya Gus Alvaro pada mbak Sari

"Kalo kulo njih manut kalehan Ning Moza, Gus. " jawabnya Mbak Sari

"Ning Moza gimana?" tanyanya Gus Alvaro

"Pulang" kataku tetap menatap jalanan yang penuh dengan lalu lalang manusia dan kendaraan umum.

"Ya sudah pulang saja Gus" kata mbak Sari

"Ya sudah pulang mawon" kata Gus Alvaro Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke rumah.

*****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!