NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 : TINGKAT TIGA DAN PEKERJAAN RUMAH

Ruangan paling terpencil di kapal itu ada di bagian bawah buritan, ukurannya tidak lebih besar dari lemari besar, dan biasanya digunakan untuk menyimpan alat-alat navigasi cadangan yang tidak muat di tempat lain.

Malam itu, Haifeng duduk di lantai ruangan itu dengan lutut ditekuk dan botol kecil biru kehijauan di antara kedua telapak tangannya.

Entah sudah berapa lama dia di sini, tidak perlu dihitung. Yang terpenting adalah dia sudah memastikan pintu terkunci dua kali, sudah memeriksa celah di bawah pintu dan menutupnya dengan lipatan kain, dan sudah memastikan bahwa suara apa pun yang keluar dari ruangan ini tidak akan cukup keras untuk menembus kayu tebal di sekelilingnya.

Kemudian dia melihat lagi ke botol itu.

Ekspresi orang-orang Kerajaan Tengkorak Hitam masih ada di kepalanya, cara mereka menatap ke arah Qinghan setelah naga es itu selesai dengan pekerjaan yang sudah ditugaskan kepadanya. Campuran antara ngeri dan pasrah yang hanya ada di wajah orang-orang yang sudah tidak punya pilihan lain. Tak lama kemudian, di atas wajah-wajah itu, sebuah wajah lain mengambang, lebih familiar, lebih dekat.

Siapa lagi kalau bukan wajah kakaknya.

Wajah itu sangat mirip dengan wajah ayah dan ibunya ketika mereka memandangi sesuatu yang tidak mau mereka munduri. Garis yang sama di sekitar mata. Keteguhan yang sama di rahang, dan Haifeng tahu bahwa semua yang dilakukan Qinghan adalah bentuk paling nyata dari kasih sayang yang pernah ada di hidupnya. Dia tahu itu sampai ke tulangnya.

Tapi tetap saja.

Haifeng memeluk dirinya sendiri dengan satu tangan, mengucek matanya dengan telapak tangan lainnya, lalu menggosok wajahnya dari dahi ke dagu layaknya seseorang yang mencoba membangunkan sesuatu yang sudah terlalu lelah untuk tidur tapi terlalu gelisah untuk terjaga. Intinya dia tidak bisa terus seperti ini. Tidak bisa terus berdiri di balik kakaknya dan membiarkan semua ancaman diselesaikan oleh tangan orang lain. Tidak karena dia tidak bersyukur. Tapi karena setiap kali dia membiarkan itu terjadi, ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa semakin memudar.

“Cukup.”

Haifeng pun menenggak seluruh isi botol itu dalam satu kali tegukan.

Rasanya seperti menelan air laut yang sudah kehilangan rasa asinnya dan mendapatkan sesuatu yang lain sebagai gantinya, bukan pahit, bukan manis, tapi rasa yang tidak punya nama yang tepat dalam bahasa yang pernah dipelajarinya.

Setelah itu dia menunggu.

Satu. Dua. Tiga. Sampai sepuluh. Tidak ada yang berubah. Seharusnya ada panas yang menjalar, cahaya yang muncul, atau bunyi apa pun dari dalam tubuhnya yang mengonfirmasi bahwa sesuatu sedang terjadi, tapi mana?

"Apakah ini palsu?" kata Haifeng kepada ruangan kosong di depannya.

Sampai tawa terdengar dari pojok ruangan.

Haifeng sampai terjungkal ke belakang, punggungnya membentur dinding kapal, satu tangan terangkat secara otomatis, jantungnya memompa dua kali lebih cepat dari biasanya karena kaget. Di pojok ruangan itulah, melayang dengan kaki disilangkan dan bahu masih bergoyang karena masih tertawa, Samudera menutup mulutnya dengan kedua tangan dalam upaya yang tidak terlalu berhasil.

"Hmm... kau ini," kata Haifeng.

Samudera masih tertawa.

"Sejak kapan kau ada di sini?"

"Sejak tadi." Samudera menurunkan tangannya, senyumannya selebar bulan sabit. "Sejak kau memeriksa pintu untuk kedua kali."

"Kau bisa masuk tanpa membuka pintu?"

"Tentu saja. Aku tidak sepenuhnya fisik, ingat?"

Haifeng pun duduk kembali dengan ekspresi yang tidak memutuskan mau marah atau tidak. "Kau tahu apa yang sedang aku permasalahkan?"

"Aku tahu." Samudera berhenti melayang dan duduk di udara di depannya, lebih serius dari tadi meskipun senyumnya tidak sepenuhnya hilang. "Dan kau sudah mengambil langkah yang benar malam ini." Dia menoleh ke botol kosong di lantai. "Selamat, Haifeng. Mulai sekarang, tidak ada lagi yang bisa mengejekmu sebagai pendekar tingkat nol."

Haifeng mengerutkan dahinya. "Aku tidak merasakan apa-apa tuh."

"Kau tidak akan merasakannya di dalam ruangan ini." Samudera mengangkat dagunya ke arah langit-langit. "Pergilah ke dek dan rasakan sendiri."

Dek kapal pada malam itu hanya dihuni oleh kru yang mendapat giliran jaga dan dua orang kru yang sedang memperbaiki tali di sisi kiri, dan semuanya cukup sibuk dengan urusan masing-masing untuk langsung memperhatikan Haifeng yang muncul dari tangga bawah dengan Pedang Samudera di punggungnya.

Adapun Samudera melayang di sampingnya dengan santai karena tidak terlihat oleh siapa pun selain Haifeng. "Pegang railing. Tutup matamu... lalu dengarkan."

Haifeng memegang railing di haluan kapal sebelum menutup matanya.

Angin laut malam itu tidak dingin dan tidak hangat. Suara ombak di bawah lunas kapal bergerak dalam ritme yang sudah sangat familiar setelah berminggu-minggu di laut. Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam cara dia mendengarnya sekarang, seperti seseorang yang selama ini mendengar musik dari balik pintu dan tiba-tiba pintunya terbuka.

Qi ada di mana-mana, di dalam angin, di dalam air, di dalam kayu di bawah telapak tangannya. Ini jelas bukan konsep yang dia baca di buku, ataupun teori yang dia hafal dari gulungan. Ini sesuatu yang nyata.

"Hei lihat itu!" Salah satu kru di dek memanggil kawannya. "Lihat ke bawah!"

Yang lain pun segera berlari ke railing.

Haifeng juga membuka matanya dan melihat ke bawah, di mana ratusan lumba-lumba bergerak di sisi kanan-kiri kapal, melompat dan turun dan melompat lagi dalam ritme yang tidak teratur tapi terasa seperti satu gerakan, berkilau putih dan abu di bawah cahaya bulan, mengikuti laju kapal. Mereka bergerak sejajar, dalam jarak yang konsisten, seperti sebuah arak-arakan yang sudah tahu ke mana tujuannya.

Oleh sebab itu Haifeng yang terkagum-kagum segera menaiki kayu haluan kapal, berdiri di ujungnya dengan satu tangan di tali, menatap ke bawah ke ratusan lumba-lumba yang terus melompat di bawahnya.

Samudera melayang di sisinya. "Selamat datang, Pendekar Pedang Samudera yang baru." Senyumannya kali ini lebih sungguh-sungguh. "Mulai sekarang, perjalananmu akan berbeda."

Haifeng menatap kedua telapak tangannya. Ada sesuatu di sana yang tidak ada kemarin, sesuatu yang sangat tipis dan sangat nyata, layaknya permulaan dari sesuatu yang baru saja memutuskan untuk ada.

Siang hari, di dek yang sama, suasananya sangat berbeda.

Chen Mo berdiri di tengah area latihan yang dikosongkan dengan tangan terlipat di depan dada, sementara Haifeng bangkit dari posisi jatuhnya untuk kesekian kalinya dengan cara yang sudah sangat terlatih karena dilakukan terlalu banyak kali dalam waktu yang terlalu singkat.

Adapun Qinghan duduk di bangku di pinggir area latihan dengan tangan terlipat, menatap adiknya dengan ekspresi yang tidak memberikan informasi apa pun tentang apa yang ada di baliknya.

Hua Ling berdiri di dekat tiang layar, menutup wajahnya dengan kedua tangan setiap kali Haifeng kena lagi, tapi celah di antara jarinya cukup lebar untuk menunjukkan bahwa dia tetap melihat.

Sementara Tianbao berdiri di sisi lain dengan tangan di pinggir mulutnya seperti corong. "Ayo, Haifeng! Kau bisa!" Kemudian menggigit bibirnya sendiri karena benturan yang baru saja terjadi terdengar cukup keras untuk membuat siapa pun yang mendengarnya sedikit merasakan simpati fisik.

Haifeng duduk di dek, mengambil napas, dan memandangi Chen Mo yang berdiri di depannya dengan postur yang tidak berubah sejak tiga puluh menit lalu.

"Chen Mo memang masih terlalu kuat untuk dilawan tangan kosong," gumamnya. "Ini karena aku tidak memiliki teknik apa pun."

Tingkat tiga ternyata tidak berarti banyak dalam duel tangan kosong melawan tingkat enam. Pedang Samudera adalah satu hal, tapi tubuhnya sendiri adalah hal lain yang masih sangat jauh dari kata memadai. Kenaikan tingkat memberi qi, tapi teknik bela diri adalah sesuatu yang harus dipelajari secara terpisah, dan Haifeng sadar bahwa di bidang itu, dia hampir mulai dari nol.

Tidak mungkin meminta kakaknya melatih. Chen Mo saja harus meladeninya dengan puluhan batasan yang tidak boleh dilanggar agar Haifeng tidak sampai terluka serius, dan hasilnya masih seperti ini. Kalau Qinghan yang melatih, entah batasan apa yang harus dibuat.

"Cukup untuk hari ini," kata Qinghan.

Wang Bi yang duduk menunggu giliran yang tidak pernah datang langsung berdiri. "Hei, kapan giliran kami?"

"Kalian sudah bilang itu sejak tadi pagi," kata Liu Mao di sampingnya.

"Karena memang sejak tadi pagi giliran kami tidak datang."

Mereka saling menatap sebentar, lalu secara diam-diam dan bersamaan memutuskan bahwa makanan adalah alternatif yang lebih pasti, dan bergerak ke arah ruang makan dengan kecepatan yang sangat konsisten dengan prioritas mereka.

Sementara Haifeng bangkit dan menghampiri Chen Mo yang sudah berbalik menyiapkan perlengkapan pribadinya. "Chen Mo."

Pria itu menoleh.

"Kau menguasai bela diri apa?"

Chen Mo meletakkan kain di tangannya. "Delapan Langkah Naga Long Yuan. Teknik dasar kelas satu istana. Kenapa?"

"Aku sudah menduga itu." Haifeng mengangguk paham. “Tapi—“

"Hmm?"

"Maukah kau mengajari aku?" Haifeng mempertahankan kontak mata. "Di luar sepengetahuan Kakakku."

Chen Mo menatapnya selama waktu yang cukup panjang untuk membuat siapa pun yang tidak mengenal pria itu merasa tidak nyaman. Wajahnya tidak berubah. Matanya tidak berkedip.

"Makan dulu yang banyak," katanya dengan santai. "Kau terlalu kurus untuk dilatih. Tulangmu nanti retak sebelum tekniknya masuk."

Kemudian dia berbalik dan berjalan pergi.

"Tunggu, itu artinya iya atau—"

Chen Mo mengangkat satu tangan ke belakang, dilambaikan dengan malas, tanpa menoleh. "Kalau kita sampai di tujuan dan ada waktu, aku akan melatihmu, jadi siapkan dirimu mulai sekarang."

Haifeng menatap punggung Chen Mo yang sudah hampir menghilang di balik tangga dek bawah, lalu menatap tangannya sendiri yang sedikit merah dari latihan tadi, lalu menatap ke depan ke arah laut yang masih membentang tanpa batas di hadapan kapal.

"Baiklah," katanya seperti seseorang yang sudah mencatat sesuatu dalam daftar yang akan diselesaikannya. “Aku sudah lebih, dari siap.”

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!