Dikhianati oleh sektenya sendiri dan dibuang dengan meridian yang hancur total, Ye Chen mengira takdirnya telah berakhir di dasar Lembah Kabut Beracun. Namun, di titik nadir kematiannya, sebuah pedang hitam misterius yang telah terkubur selama ribuan tahun bangkit dan memilihnya sebagai pewaris tunggal.Di dalam pedang hitam itu, bersemayam jiwa pendekar legendaris, Yue-Jian, yang siap membimbingnya. Berbekal kekuatan mengerikan Es Yin dan bilah pedang hitam yang mampu menebas takdir, Ye Chen bangkit dari kegelapan untuk menuntut balas. Dari seorang pemuda yang dianggap sampah, ia merangkak naik menembus batas kultivasi, menghancurkan setiap klan yang pernah menghinanya, dan merebut kembali kehormatannya."Saat pedang hitam ini terhunus, maka langit pun harus tunduk di bawah kakiku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Panggung Semut dan Tatapan Elang
Sorak-sorai dari ribuan murid luar masih menggema, menciptakan atmosfer yang bergetar di sepanjang lantai batu Lapangan Altar Azure Cloud. Di bagian pendaftaran, antrean murid luar mengular panjang. Masing-masing dari mereka memegang plakat kayu pendaftaran dengan tangan yang gemetar antara gugup dan penuh ambisi.
Ye Chen berdiri dengan tenang di tengah antrean tersebut. Jubah abu-abu usang yang dikenakannya membuatnya tampak tenggelam di antara lautan manusia. Ketika tiba gilirannya, dia menyodorkan sebuah plakat kayu pendaftaran milik murid luar yang sengaja tidak hadir karena sakit—sebuah identitas yang telah dia atur secara matang selama tiga hari penyamarannya.
Tetua pendaftaran yang bertugas bahkan tidak mendongak saat menerima plakat tersebut. Dia hanya memberikan cap stempel energi dengan malas. "Nomor 427. Area Panggung Tiga. Masuk sekarang."
Ye Chen mengambil kembali plakatnya tanpa sepatah kata pun. Langkah kakinya bergerak santai menuju ke Panggung Tiga, salah satu dari sepuluh arena pertarungan batu yang telah dilapisi formasi pertahanan pelindung transparan.
"Panggung Tiga," suara Yue-Jian terngiang di benaknya, diiringi helaan napas tipis yang dingin. "Kultivator pengawas di panggungmu adalah seorang di ranah Qi Condensation tingkat keenam. Ingat, gunakan hanya kekuatan fisik mentah sekeras perunggu milikmu. Jika kamu memicu seperseribu saja dari Energi Es Yin, Formasi Pemantau Roh di atas kepalamu akan langsung berbunyi."
Saya mengerti, Senior, jawab Ye Chen dalam hati. Untuk menghadapi semut-semut ini, tulang dan otot saya sudah lebih dari cukup.
Pertarungan eliminasi sekte luar menggunakan sistem gugur yang cepat. Tidak butuh waktu lama bagi tetua pengawas untuk meneriakkan nomor plakatnya.
"Pertarungan selanjutnya! Nomor 112 melawan Nomor 427! Naik ke panggung!"
Seorang pemuda bertubuh kekar dengan kapak besar di punggungnya melompat naik ke panggung dengan penuh percaya diri. Riak energinya berada di ranah Qi Condensation tingkat ketiga awal. Dia menatap Ye Chen yang berjalan naik dengan langkah lambat dan pakaian usang, lalu tertawa mengejek.
"Hei, Bocah Lemah! Lebih baik kamu menyerah sekarang sebelum kapakku ini mematahkan kaki kurusmu itu!" seru sang lawan sambil mengacungkan kapaknya yang berkilau tajam.
Ye Chen tidak menanggapi. Dia hanya berdiri dengan posisi santai, kedua tangannya disembunyikan di balik lengan jubah abu-abunya. Pedang Hitam di punggungnya yang terbungkus kain usang tampak seperti sebatang besi rongsokan.
"Mulai!" teriak tetua pengawas.
Wuuush!
Pemuda bertubuh kekar itu langsung melesat maju, mengayunkan kapak besarnya membentuk tebasan horizontal yang kuat. Angin tebasan kapaknya menderu keras, mengincar pinggang Ye Chen.
Ye Chen tetap bergeming sampai mata kapak itu tinggal beberapa inci dari pakaiannya. Di detik terakhir, tanpa menggunakan riak energi spiritual sedikit pun, tubuhnya bergeser setengah langkah ke belakang. Gerakan refleks fisiknya yang murni begitu cepat hingga kapak besar itu hanya memotong udara kosong di depannya.
"Apa?!" Pemuda kekar itu terkejut melihat serangannya melesat. Karena momentum ayunannya terlalu besar, tubuhnya condong ke depan dan terekspos tanpa pertahanan.
Ye Chen tidak membuang peluang. Tangan kanannya melesat keluar dari balik jubah, membentuk sebuah pukulan lurus yang sederhana namun secepat kilat. Pukulan itu murni mengandalkan kekuatan daging fisik perunggunya yang telah ditempa berulang kali di dasar Lembah Ratapan.
BANG!
Pukulan mentah Ye Chen menghantam telak tepat di dada pemuda kekar itu. Suara benturan keras terdengar, diikuti oleh bunyi gemertak pelindung dada kulit sang lawan yang pecah. Tubuh kekar itu seketika terlempar ke udara, melewati batas ring pertarungan, dan jatuh berdentum keras di atas tanah luar panggung. Pemuda itu langsung pingsan dengan mulut mengeluarkan busa.
Seluruh penonton di sekitar Panggung Tiga mendadak sunyi sejenak. Tetua pengawas yang memegang gulungan kertas mencatat hasil kompetisi melotot tidak percaya. Dia tidak merasakan fluktuasi energi spiritual sama sekali dari pemuda berjubah abu-abu itu. Itu berarti, kemenangan diraih murni karena kekuatan fisik mentah yang brutal!
"Pemenang... Nomor 427!" teriak tetua pengawas dengan nada sedikit ragu.
Ye Chen menurunkan tangannya, kembali menyembunyikannya di balik jubah abu-abu, lalu berjalan turun dari panggung dengan tenang tanpa memedulikan tatapan takjub dari murid-murid di sekitarnya.
Selama satu jam berikutnya, skenario yang sama terus berulang. Ye Chen memenangkan pertarungan kedua, ketiga, dan keempatnya hanya dengan menggunakan satu pukulan atau satu tendangan fisik mentah. Di mata orang lain, dia tampak seperti seorang ahli bela diri fisik (body-tempering) misterius yang memiliki kekuatan monster di balik tubuh kurusnya.
Rentetan kemenangan bersih yang tidak biasa ini perlahan-lahan mulai menciptakan riak desas-desus di area sekte luar. Nama "Nomor 427" mulai dibisikkan oleh kerumunan murid hingga gaungnya merambat naik menuju ke area tribun utama di sisi utara.
Di atas tribun mewah, Bai Long yang semula duduk bersandar dengan sikap malas sambil memutar-mutar cangkir giok berisi teh spiritual di tangannya, tiba-tiba menghentikan gerakannya. Sepasang matanya yang tajam dan angkuh menyipit, menatap ke arah Panggung Tiga di mana kerumunan murid tampak paling riuh.
"Siapa murid luar berpakaian abu-abu di Panggung Tiga itu?" tanya Bai Long dengan nada suara yang datar namun penuh tekanan intonasi yang tinggi. "Mengapa gerakannya terasa sedikit... tidak asing?"
Seorang murid dalam yang berdiri di belakang kursi Bai Long segera membungkuk hormat, memberikan laporan dengan cepat. "Melapor kepada Kakak Senior Bai. Menurut catatan, dia adalah seorang murid luar baru yang mendaftar menggunakan nama samaran. Dia memenangkan semua pertarungannya hanya dengan kekuatan fisik mentah tanpa menggunakan energi Qi sedikit pun."
Bai Long tidak menjawab. Pandangannya mengunci lurus pada sosok Ye Chen yang sedang berdiri di bawah pilar batu, membelakangi tribun. Meskipun wajah Ye Chen belum terlihat jelas dari posisinya, aura ketenangan mutlak yang dipancarkan punggung pemuda itu perlahan-mailan mulai memicu rasa tidak nyaman di dalam dada Bai Long.
Di samping kursi Bai Long, Tetua Mo Feng yang sedang menutup mata untuk bermeditasi, perlahan membuka kelopak matanya yang keriput. Sepasang mata tetua Core Formation itu berkilat tajam seperti elang yang sedang mengincar mangsa dari atas langit.
"Ada riak energi kehidupan yang sangat padat di dalam tulang dan daging bocah itu," gumam Tetua Mo Feng dengan suara seraknya yang berat. "Fisik seperti itu tidak mungkin bisa dibentuk oleh murid luar biasa tanpa mengonsumsi pil obat tingkat tinggi yang langka. Menarik... tampaknya ada tikus kecil yang menyembunyikan rahasia besar di kompetisi hari ini."
Bai Long mengepalkan tangan kanannya hingga cangkir giok di genggamannya retak rambut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang penuh kekejaman.
"Rahasia atau bukan, di hadapan kekuatan absolut, semuanya hanyalah lelucon," desis Bai Long penuh percaya diri. "Biarkan dia terus mendaki panggung. Aku ingin melihat sejauh mana kekuatan fisik sampahnya itu bisa bertahan sebelum aku sendiri yang akan menghancurkannya di babak final nanti."
Di bawah pilar batu yang jauh, Ye Chen perlahan memalingkan kepalanya sedikit ke belakang. Pandangan matanya yang sewarna biru es melesat tajam menembus jarak ratusan meter, mengunci langsung pada sosok Bai Long di atas tribun.
Pertempuran eliminasi telah usai, dan umpan yang dia tebar di panggung pertarungan telah berhasil memancing perhatian sang elang raksasa. Altar balas dendamnya kini telah siap untuk dialiri darah.