Wen Yu sedang berpetualangan dengan mendaki bukit seorang diri di sebuah tempat wisata alam. Lalu sebuah kebetulan, ia bertemu seekor kucing yang memiliki sepasang sayap. Tanpa rasa takut dan hanya memiliki rasa penasaran yang tinggi, Wen Yu mengikuti kucing itu dan berusaha menangkapnya. Alih-alih berhasil, ia malah terperosok pada sebuah goa di dalam tanah yang ternyata sedang mengalami peristiwa aneh. Cahaya kebiruan bersinar melingkar seperti sebuah pintu lorong waktu yang sering ia tonton di film-film fantasi. Tak lagi bisa mengelak, Wen Yu jatuh ke dalam lingkaran biru itu dan menghilang seketika. Dan tiba-tiba terbangun di dunia antah berantah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Jurang
Di Bawah Jurang
"ZE KAI!" teriak Genesis dengan suara penuh kesedihan, matanya membanjiri air mata yang menyatu dengan cahaya kebiruan tubuhnya. Gadis bersayap itu berusaha meraih tangan Ze Kai yang terulur ke udara, meski tahu itu tak mungkin. Tanpa pilihan lain, tubuhnya menyatu kembali dengan cincin di jari Ze Kai dan hilang bersama sang pemilik yang jatuh ke jurang.
Sementara itu, Xiao Bai dengan cepat melompat ke tepi jurang, mengeluarkan suara menangis yang menyayat hati. Auman penuh kesedihan yang membuat pepohonan di sekitarnya seolah merespons dengan getaran lembut. Tanpa ragu, kucing kecil itu melompat ke dalam jurang dalam kecepatan tinggi, mengejar tubuh Ze Kai yang semakin jauh jatuh ke dasarnya.
Tubuh Ze Kai tergeletak tanpa gerakan di atas hamparan rerumputan tinggi yang tumbuh lebat seperti karpet alami di dasar jurang. Jatuhannya yang keras telah membuat rerumputan itu membungkuk dan lembap dengan darahnya yang hangat, sementara batu-batu kecil di sekitarnya tertutup lapisan darah yang semakin mengental dan berwarna gelap seperti lumpur hitam. Darah mengering membentuk noda gelap di pakaiannya yang sudah lusuh dan penuh sobekan, sementara beberapa potongan kain yang terlepas dari tubuhnya terbawa jauh oleh angin yang berhembus kencang di antara celah-celah batu besar di sekeliling jurang.
"Ze Kai... bangunlah..." bisik Genesis dengan suara penuh kepanikan dari dalam cincin, cahaya kebiruan mulai muncul perlahan dari perhiasan itu seolah ingin menyentuh tubuh Ze Kai namun tidak bisa. Gadis bersayap itu muncul dalam bentuk cahaya yang samar di atas tubuh Ze Kai, matanya penuh dengan rasa takut dan kesedihan yang mendalam. "Tolong... jangan tinggalkan aku sendirian. Kau masih punya banyak hal yang harus kau lakukan, banyak orang yang harus kau lindungi..."
Ia bergerak panik di atas tubuh Ze Kai, mencoba mengeluarkan energi dari cincin untuk membantu menyembuhkan luka-lukanya. Namun tanpa kesadaran Ze Kai yang mengendalikannya, energi yang keluar hanya sedikit dan tidak cukup untuk memberikan bantuan yang pasti.
Nafas Ze Kai sangat lemah. Setiap hembusan napasnya seperti hendak terhenti sama sekali. Dadanya hanya sedikit mengangkat dengan gerakan yang hampir tidak terlihat seperti nafas seorang yang tidur. Udara di dasar jurang begitu lembab dan dingin, membuat kulitnya yang terbuka semakin mengeras dan membuat luka-lukanya semakin menyakitkan. Darah yang mengalir dari sayatan di dahi, pipi, dan lengan kirinya menetes perlahan ke tanah basah, membentuk kolam kecil yang berdarah di antara rerumputan yang mulai membeku akibat dinginnya suhu.
"Aku tidak bisa kehilanganmu..." gumam Genesis dengan suara bergetar, cahaya tubuhnya semakin redup seolah ia juga merasa lemah bersama Ze Kai. "Kau adalah satu-satunya yang bisa melihatku, satu-satunya yang memperlakukanku seperti teman bukan hanya sebuah sistem. Tolong... bangunlah..."
Tidak lama kemudian, suara binatang mulai terdengar dari balik semak-semak yang tumbuh lebat di sekeliling dasar jurang. Suara yang dalam dan penuh hasrat memburu yang membuat kulit kepala menjadi berdiri merinding karenanya. Seekor serigala dengan tubuh besar seperti singa dan mata merah menyala seperti bara api muncul. Badannya yang berotot kuat bergerak dengan gesit di antara rerumputan tinggi, mengeluarkan suara menggeram yang membuat tanah sedikit bergoyang. Tanduk kecil seperti tanduk rusa tumbuh di kepalanya, dan kumisnya yang panjang bergerak mengikuti setiap angin yang membawa bau darah Ze Kai yang sangat kuat.
Di belakangnya muncul lagi dua ekor rubah hitam dengan bulu mengkilap seperti logam hitam dan ekor panjang yang bergelombang seperti ular. Keduanya bergerak dengan lincah di antara rerumputan tinggi, mengeluarkan suara mengeong lembut yang terdengar menusuk di kejauhan. Ketiga makhluk itu bergerak perlahan, hidung mereka terus mengendus udara untuk memastikan bahwa Ze Kai benar-benar tidak berdaya dan siap menjadi mangsa mereka. Serigala itu mulai menggeram lebih keras saat mendekat lebih jauh, sudah siap untuk menerkam.
"Jangan datang mendekat!" teriak Genesis dengan suara penuh kemarahan dan kekhawatiran, cahaya kebiruannya kembali menyala terang seolah siap menyerang meskipun tahu bahwa ia tidak bisa menyentuh makhluk dunia nyata. "Jika kau berani menyentuhnya, aku akan membuatmu menyesalinya!"
Xiao Bai yang sudah berada di dekat mereka tiba-tiba melompat ke tanah dengan cepat. Matanya yang biasanya lembut kini menjadi sangat tajam. Warna kebiruannya menyala seperti nyala listrik yang kuat. Bahkan lebih terang dari biasanya. Tubuhnya mulai mengeluarkan cahaya kebiruan yang semakin terang, membuat rerumputan di sekitarnya bersinar dengan cahaya yang menyilaukan dan membuat binatang pemangsa itu berhenti sejenak dengan telinga yang terangkat dan mata yang melotot penuh ketakutan.
"Xiao Bai..." bisik Genesis dengan suara penuh kagum dan lega, hanya bisa menyaksikan kejadian itu karena hanya Ze Kai dan Xiao Bai yang mampu melihat dan mendengarnya.
Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, tubuh Xiao Bai mulai membesar dengan cepat. Dari bentuk kucing kecil dengan berat beberapa kilogram menjadi makhluk besar dengan tubuh panjang hampir tiga meter seperti singa raksasa. Bulu putihnya berubah menjadi warna keperakan yang bersinar dengan cahaya kebiruan yang mempesona. Dan sayap besar seperti burung elang mulai tumbuh dari punggungnya dengan bulu tipis seperti sutra yang mengkilap. Tanduk kecil berbentuk bulan sabit muncul di kedua sisinya, dan matanya menyala dengan cahaya kebiruan yang mampu menerangi seluruh dasar jurang yang dulunya gelap gulita.
Singa besar itu mengeluarkan suara deru yang dalam dan menggema ke seluruh jurang, membuat tanah di sekitarnya bergoyang dan pepohonan kecil bergetar hebat. Udara di sekitarnya menjadi semakin hangat, dan batu-batu kecil mulai melayang di udara akibat getaran yang luar biasa. Serigala itu langsung mundur dengan cepat, ekornya menyundul ke antara kaki dan telinga yang terkulai penuh rasa takut. Sementara dua rubah hitam itu berlari menyelinap ke balik semak-semak tanpa melihat ke belakang lagi. Bahkan tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Tidak ada satu makhluk pun yang berani menghadapi kekuatan luar biasa yang terpancar dari Xiao Bai.
Setelah memastikan ancaman sudah hilang, singa besar itu mengeluarkan suara mendengus lembut sebelum mendekat perlahan ke sisi Ze Kai dengan langkah yang hati-hati agar tidak menyakitinya. Lidahnya yang besar dan hangat menjilati dahi Ze Kai dengan lembut, dan cahaya kebiruan dari tubuhnya menyebar perlahan ke seluruh tubuh Ze Kai seperti aliran energi hangat. Luka-luka yang terbuka mulai mengering dan menutup dengan cepat, darah yang mengalir pun berhenti total, memberikan efek penyembuhan sementara yang cukup untuk menjaga nyawa sang majikannya.
"Terima kasih, Xiao Bai..." bisik Genesis dengan suara penuh rasa syukur, matanya masih penuh dengan air mata namun kini ada sedikit harapan yang muncul. "Kau benar-benar teman terbaik bagi Ze Kai."
Setelah itu, tubuh singa besar itu mulai menyusut perlahan-lahan kembali ke bentuk kucing kecil semula. Prosesnya terlihat menyakitkan, membuat Xiao Bai mengeluarkan suara mendengus lembut sebelum akhirnya kembali ke bentuk aslinya. Kucing kecil itu terjatuh lemah di tanah, bulunya yang biasanya bersih dan mengkilap kini tampak kusam dan lepek, dan tubuhnya terlihat sangat lelah hingga sulit untuk berdiri. Ia merangkak dengan susah payah ke pangkuan Ze Kai yang tidak sadarkan diri, kemudian menutup matanya dengan letih sambil meringkuk di tubuh Ze Kai yang lusuh. Kekuatan untuk berubah bentuk memang hanya sementara, dan telah menghabiskan seluruh energi yang ada di dalam tubuhnya.
Di sekitar mereka, keheningan kembali menyelimuti dasar jurang. Hanya suara angin yang berhembus lembut melalui celah batu dan napas Ze Kai yang mulai menjadi lebih teratur yang terdengar di udara dingin. Genesis tetap berada di sisi Ze Kai dalam bentuk cahaya samar, memantau setiap pernapasannya dengan cermat dan berdoa dalam hati agar sang majikan segera sadarkan diri.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊