Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]
Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Kemampuan Tidak Masuk Akal
[Peluang terselesaikan. Akumulasi status awal diproses.]
Tulisan itu mengambang. Huruf putihnya menusuk kornea.
Fais memejamkan mata kuat-kuat. Ia membuka matanya lagi. Layar itu masih ada. Mengikuti arah pandangannya seperti lintah yang menempel di retinanya.
Dunia membuangnya. Dan sekarang dunia memberinya rongsokan cahaya ini.
Seketika, perutnya bergejolak. Rasa mual yang brutal menghantam ulu hatinya tanpa aba-aba.
Ia menunduk. Memuntahkan cairan lambung bercampur darah ke atas gundukan pasir. Perutnya kosong, tapi ia terus memuntahkan udara. Otot perutnya kram.
"Woi... Kau muntah darah." Mandor itu melangkah mundur. Takut. Jelas sekali ia takut Fais mati dan proyeknya ditutup polisi. "Jangan mati di sini, bangsat. Jangan mati di sini."
Fais mengabaikannya. Tentu saja. Orang miskin tidak boleh mati merepotkan orang kaya. Itu aturan mutlak kota ini.
Tapi muntah itu bukan karena benturan maut tadi. Ada sesuatu yang merayap di bawah kulitnya.
[Peringatan. Penolakan fisik terdeteksi.]
[Kalkulasi ulang probabilitas biologis...]
Suara mekanis itu merobek isi kepalanya. Dingin. Rata. Tanpa emosi. Suara itu tidak masuk lewat telinga, melainkan langsung bergema di sumsum tulang belakangnya.
Urat-urat di pelipis Fais menonjol. Kepalanya serasa mau pecah.
Sakit. Sangat sakit.
Sakitnya seperti seratus paku beton dipalu perlahan menembus ubun-ubunnya. Terus ditekan hingga menabrak saraf otaknya.
Ia mengerang. Menggigit bibir bawahnya sampai robek. Rasa anyir darah memenuhi mulutnya lagi. Tangannya mencengkeram kepalanya sendiri, meremas rambutnya yang kaku oleh debu semen.
Sistem ini tidak gratis. Tidak ada yang gratis di dunia yang rusak ini.
Sesuatu baru saja membengkokkan hukum alam untuknya. Membelit kawat sling baja seberat ratusan kilo hanya untuk menangkap tubuh kumalnya. Bayarannya sedang ditagih sekarang. Lunas.
Tubuhnya lemas total. Tenaganya menguap layaknya genangan bensin yang disulut api. Ia bahkan tidak kuat menahan berat lehernya sendiri.
Tubuhnya ambruk ke samping. Pipinya menempel di pasir basah. Pasir kotor bercampur ludah dan darahnya sendiri.
Mandor itu akhirnya berbalik. Berlari menjauh. Tersandung sepatu botnya sendiri, lalu bangun dan berlari lagi. Ia mengoceh tidak jelas ke arah bayangan alat berat. Kabur layaknya pecundang.
Biarkan. Biarkan saja babi tambun itu pergi.
Fais menatap kosong ke arah genangan air di dekatnya. Napasnya pendek-pendek.
Dunia sedang mempermainkannya. Tiga puluh lima juta rupiah. Utang rumah sakit. Bapaknya yang sekarat. Semuanya melintas acak di otaknya. Semuanya berputar seperti kaset rusak.
[Akumulasi selesai.]
Layar biru itu mendadak stabil. Kedipannya berhenti total.
Sebuah tab menu baru terbuka. Terbentang pasif di atas udara yang berdebu.
[Panel Utama]
[Status: Krisis Fisik]
[Fitur Tersedia: Analisis Peluang, Aktivasi Probabilitas, Misi Dasar]
Fais hanya diam. Matanya menelusuri teks itu dengan pandangan apatis.
Misi Dasar. Persetan dengan misi dasar. Ia kuli bangunan miskin, bukan karakter permainan gila.
Lalu, layar itu bergeser sendiri. Menampilkan baris kalimat baru dengan warna kuning terang yang menyakitkan mata.
[Misi Pertama Diaktifkan.]
[Objektif: Bertahan hidup selama 7 hari.]
Tujuh hari.
Hanya itu?
Fais ingin tertawa. Ia sungguh ingin tertawa keras-keras sampai pita suaranya putus. Bertahan hidup tujuh hari? Ia sudah melakukan itu setiap jam sejak dilahirkan miskin.
Setiap hari adalah usaha bertahan hidup dari kelaparan, dari cemoohan, dari sepatu-sepatu mahal yang menginjak punggungnya.
Tapi matanya menangkap sederet teks di bawahnya.
[Gagal: Kematian mutlak organ dalam.]
[Berhasil: Uang tunai Rp 10.000.000 dan Peningkatan Fisik Minor.]
Napas Fais tercekat di kerongkongan.
Sepuluh juta. Angka itu tercetak jelas. Tidak buram. Tidak berkedip.
Sepuluh juta bisa menutupi sepertiga utangnya. Bisa menebus ruang rawat bapaknya besok pagi. Bisa membungkam mulut Bagas yang selalu meludah di depannya setiap akhir bulan.
Dada Fais naik turun. Nyeri di punggungnya berteriak minta diobati. Tulang rusuknya serasa retak. Tubuhnya terlalu lemah untuk sekadar merangkak menembus malam.
Sistem sialan ini tahu kelemahannya. Tahu persis apa umpan yang paling menggiurkan.
Sistem ini memberinya nyawa, lalu menyanderanya kembali. Mengikatnya dengan seutas rantai tak kasat mata bernama probabilitas.
"Bangsat," Fais berbisik pelan ke arah pasir. Suaranya nyaris hilang. "Sistem bangsat."
Layar di depannya langsung merespon umpatan itu.
[Analisis Peluang aktif.]
[Peluang Anda bangkit berdiri saat ini: 12 persen.'
'Aktivasi Probabilitas ke 100 persen?]
Ia melihat kotak [YA] dan [TIDAK].
Tubuhnya hancur. Kepalanya seperti ditusuk bor listrik. Jika ia menggunakan fitur aktivasi itu lagi, efek sampingnya mungkin akan membunuhnya malam ini juga.
Hukum kesetaraan mutlak. Semakin besar angka takdir yang diubah, semakin mahal harga yang disedot dari tubuh aslinya.
Ia memejamkan mata. Merasakan denyut nadinya yang bergerak lambat.
Tidak. Tidak sekarang.
Jika ia terus bergantung pada tombol bantuan ini untuk setiap pergerakan sepele, ia akan menjadi budak seutuhnya. Ia tidak akan mati karena jatuh, tapi mati karena tubuhnya aus dikunyah komputasi mesin gaib ini.
Ia harus berdiri sendiri. Mengandalkan tubuh kumalnya sendiri.
Fais menggertakkan giginya keras-keras. Otot lehernya menegang tegang.
Ia menancapkan kuku-kukunya ke dalam aspal dan pasir. Mengumpulkan sisa-sisa kewarasan dari otot yang terkoyak. Dari sendi yang memar parah.
Napasnya mendesis seperti ular.
Ia memfokuskan pikirannya dan menekan tombol TIDAK. Kotak itu lenyap.
Satu sentimeter. Dua sentimeter. Ia menarik pinggulnya naik.
Lengannya gemetar hebat. Persendian bahunya berderak protes memecah sepi.
[Peluang Anda bangkit berdiri saat ini: 15 persen.]
[Peluang Anda bangkit berdiri saat ini: 18 persen.]
Angka pasif di layar itu berubah seiring dengan usahanya. Fais menyeringai sinis di sela-sela rasa sakit.
Sistem ini bukan tuhan. Sistem ini hanya tukang hitung. Hanya membaca apa yang sedang terjadi di depan mata.
Ia terus menekan telapak tangannya ke tanah basah. Keringat dingin mengucur deras membasahi kerahnya yang kotor. Pandangannya menggelap di bagian tepi. Sedikit lagi ia pingsan.
Ia mendorong tubuhnya. Mendorong. Mendorong lagi.
Memaksa lututnya menekuk ke bawah untuk menopang berat badannya yang terasa seperti satu ton. Urat di tangannya terlihat seperti cacing yang meronta di bawah kulit gelapnya.
Dua belas persen, persetan.
Ia memaksa punggungnya lurus. Berdiri dengan posisi setengah membungkuk seperti kakek tua yang cacat. Kaki kirinya terseret, tidak kuat menapak sempurna. Tapi ia berdiri.
Ia berdiri di atas kedua kakinya tanpa menekan tombol ajaib.
[Peluang Anda bangkit berdiri saat ini: 100 persen.]
[Selesai tanpa intervensi probabilitas aktif.]
Angka persentase itu menghilang seketika. Menyisakan sebuah panel kecil transparan dan waktu mundur misi yang berdetak konstan.
[167:59:58.]
Waktu terus berjalan mundur. Detik demi detik yang menghitung jarak menuju sepuluh juta. Atau jarak menuju ginjal dan jantungnya berhenti berdetak.
Angin malam berhembus lagi. Menampar wajahnya yang penuh darah setengah kering. Bau debu semen dan karat besi menyengat tajam di hidungnya.
Proyek mangkrak ini menjadi panggung sepi bagi kebangkitannya dari pasir beton. Tidak ada keajaiban puitis. Tidak ada takdir yang indah.
Hanya seorang kuli melarat yang keras kepala.
Fais menarik napas panjang. Udara malam terasa mengiris dinding paru-parunya.