NovelToon NovelToon
Menikah Karena Tekanan Keluarga

Menikah Karena Tekanan Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 13 : MELEBUR DI BAWAH LANGIT MALDIVES

Malam terakhir di Maldives datang dengan keanggunan yang menyesakkan. Angin laut bertiup lebih tenang, membawa aroma garam dan bunga sedap malam yang ditanam di sekitar jalur kayu resor. Langit di atas vila panggung Arkatama bersih tanpa awan, menampilkan jutaan bintang yang seolah-olah tumpah dari botol tinta biru tua.

Setelah insiden dengan Raka siang tadi, suasana di antara Devan dan Anya berubah secara fundamental. Ada sebuah pengertian bisu bahwa mereka bukan lagi dua orang asing yang terjebak dalam dokumen hukum. Mereka adalah suami dan istri dalam arti yang paling primitif: pelindung dan yang dilindungi.

"Kamu masih memikirkan ancamannya?" suara Devan memecah keheningan.

Ia baru saja keluar ke dek luar, hanya mengenakan celana linen longgar dan kemeja yang kancingnya dibiarkan terbuka. Di tangannya, ia membawa dua gelas kristal berisi cairan amber yang berkilau di bawah lampu temaram.

Anya, yang sedang duduk di kursi malas sambil menatap cakrawala, menoleh. "Tidak. Aku hanya sedang berpikir... bagaimana bisa dunia ini begitu cepat berubah. Beberapa minggu lalu aku masih berdebat dengan mandor tentang semen, dan sekarang aku duduk di sini, bersamamu, setelah kamu hampir memukul mantan kekasihku."

Devan memberikan satu gelas pada Anya, lalu duduk di sampingnya. Jemari mereka bersentuhan saat perpindahan gelas, dan sengatan listrik kecil itu masih ada di sana, lebih kuat dari sebelumnya.

"Aku akan melakukan lebih dari sekadar memukulnya jika dia berani muncul lagi," gumam Devan. Ia menyesap minumannya, matanya menatap laut yang gelap. "Anya, aku ingin kamu tahu satu hal. Apa pun yang tertulis di kertas itu... itu tidak mengubah fakta bahwa aku menghargaimu lebih dari siapa pun yang pernah kukenal."

Anya tersenyum tipis, menyesap minumannya yang hangat dan sedikit membakar tenggorokan. "Hargai? Atau suka?"

Devan menoleh, menatap Anya dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tertahan. "Jangan memancingku, Anya. Kamu tahu jawabannya."

Untuk mencairkan suasana yang mulai terlalu panas, Anya tiba-tiba teringat satu hal yang ia baca di brosur resor. "Eh, Devan! Katanya malam ini adalah puncak kemunculan kepiting hantu di pantai. Mereka bilang kepiting itu bisa bercahaya dalam gelap kalau terkena sinar bulan tertentu. Mau coba cari?"

Devan mengerutkan kening. "Berburu kepiting? Anya, kita di sini untuk bersantai, bukan untuk menjadi nelayan."

"Ayolah, Tuan CEO! Mana jiwa petualangmu?" Anya bangkit dan menarik tangan Devan.

Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di tepi pantai yang sunyi, jauh dari lampu-lampu vila. Anya membawa senter kecil dan sebuah ember plastik yang ia pinjam dari petugas kebersihan. Devan mengikuti di belakang dengan wajah yang tampak sangat tertekan, namun ia tetap memegang pinggang Anya agar wanita itu tidak terpeleset di pasir yang basah.

"Tuh! Tuh ada satu!" teriak Anya sambil menunjuk seekor kepiting kecil yang bergerak sangat cepat.

Anya berlari mengejarnya, namun kakinya tersangkut di akar pohon bakau kecil. Ia limbung dan—seperti skenario komedi yang sudah bisa ditebak—ia menarik baju Devan agar tidak jatuh. Hasilnya, mereka berdua jatuh berguling di atas pasir yang basah terkena air laut.

"Anya! Lihat apa yang kamu lakukan pada kemeja mahalku!" Devan menggerutu sambil berusaha duduk, rambutnya kini penuh dengan butiran pasir.

Anya justru tertawa terpingkal-pingkal. "Hahaha! Kamu harus lihat wajahmu, Devan! Kamu terlihat seperti pengungsi yang baru selamat dari kapal karam, bukan CEO Arkatama!"

"Oh, kamu pikir ini lucu?" Devan menyeringai nakal. Ia mengambil segenggam pasir basah dan melemparkannya ke arah lengan Anya.

"Heh! Beraninya kamu!"

Perang pasir pun pecah. Dua orang dewasa yang biasanya sangat serius dengan pekerjaan mereka kini saling kejar-kejaran di tepi pantai seperti anak kecil. Devan akhirnya berhasil menangkap Anya, memeluknya dari belakang, dan mereka berdua jatuh kembali ke pasir.

Tawa mereka perlahan mereda saat mereka menyadari betapa dekat posisi mereka. Napas mereka yang memburu bertemu di udara malam. Devan menatap wajah Anya yang terkena cahaya bulan; ada pasir di pipinya, namun ia belum pernah terlihat secantik ini.

"Kamu punya pasir di sini," bisik Devan, ibu jarinya mengusap pipi Anya dengan sangat lembut.

Anya terdiam, matanya terkunci pada mata Devan. "Terima kasih, Devan."

Canda tawa itu berubah menjadi kerinduan yang mendalam. Devan perlahan menundukkan wajahnya, mencium kening Anya, lalu turun ke hidungnya, dan berakhir di bibirnya. Ciuman di pantai itu terasa asin karena air laut, namun sangat manis karena perasaan yang meluap.

Devan mengangkat tubuh Anya dengan gaya bridal style, membawanya kembali menuju vila mereka. Tidak ada kata-kata yang diucapkan; semua sudah terwakili oleh cara mereka saling menatap.

Begitu sampai di dalam kamar yang hanya diterangi oleh lampu redup dan suara ombak di bawah lantai kaca, Devan menurunkan Anya di atas ranjang yang empuk. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang seolah ingin memuja setiap jengkal keberadaan Anya.

"Anya... aku ingin kamu tahu," Devan berbisik sambil membuka kancing kemejanya yang kotor oleh pasir. "Malam ini, tidak ada kontrak. Tidak ada sandiwara untuk Papa atau Mama. Hanya aku dan kamu. Jika kamu ingin aku berhenti, aku akan berhenti sekarang."

Anya menarik napas panjang, mengulurkan tangannya untuk menyentuh rahang tegas Devan. "Jangan berhenti, Devan. Aku ingin menjadi istrimu... yang sesungguhnya. Malam ini."

Devan mendekat, mendaratkan ciuman yang dalam dan penuh gairah di bibir Anya. Tangannya yang besar bergerak perlahan, membuka tali piyama satin Anya, membiarkan kain halus itu jatuh di atas tempat tidur. Setiap sentuhan Devan terasa seperti api yang merambat di kulit Anya, membakar semua keraguan dan ketakutan yang tersisa.

Ia mencium leher jenjang Anya, berpindah ke bahunya, memberikan sensasi kenikmatan yang membuat Anya mendesah pelan. Devan memperlakukan Anya seolah ia adalah karya seni yang paling berharga dan rapuh. Di bawah bimbingan Devan, Anya menemukan sisi dirinya yang lebih berani. Ia membalas setiap sentuhan dengan rasa haus yang sama.

Malam itu menjadi saksi bisu bagaimana dua jiwa yang awalnya saling menolak kini melebur menjadi satu. Di tengah gemuruh ombak Maldives, mereka menemukan irama yang sama. Devan memberikan dirinya sepenuhnya kepada Anya, bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai pria yang sangat mencintai wanita di pelukannya. Dan Anya memberikan hatinya, menyerahkan seluruh pertahanannya kepada pria yang dulu ia anggap sebagai monster.

Setiap desah napas, setiap sentuhan kulit yang bertemu, dan setiap bisikan cinta yang terucap menjadi materai yang lebih sah daripada tanda tangan apa pun di atas kertas kontrak. Mereka tidak lagi hanya menikah karena tekanan keluarga. Mereka menikah karena takdir yang telah memaksa mereka untuk saling melihat ke dalam jiwa masing-masing.

Saat semuanya usai, Devan memeluk Anya erat di bawah selimut sutra. Anya menyandarkan kepalanya di dada Devan, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini sudah kembali tenang.

"Aku mencintaimu, Anya," bisik Devan di tengah kesunyian malam. Itu adalah pertama kalinya ia mengucapkan kata-kata itu.

Anya mendongak, tersenyum dengan air mata kebahagiaan yang menggenang. "Aku juga mencintaimu, Devan. Si Beruang Kutubku yang sombong."

Pagi akan datang membawa mereka kembali ke realita Jakarta yang keras, menghadapi orang tua mereka dan rahasia yang masih mengancam. Namun malam ini, di surga yang mereka temukan sendiri, mereka tahu bahwa selama mereka bersama, tidak ada tekanan keluarga atau ancaman masa lalu yang bisa memisahkan mereka.

1
Emily
ada ada aja orang jahat
Emily
😂😂😂jus pare satu ember ...ada aja mama sarah
Emily
Valerie otak kriminal
Emily
memang kampret si valerie
Emily
Valerie Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!