"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai tahu
Berita tentang temuan seorang perempuan yang meninggal di dalam hutan sudah menyebar ke semua kampung, kejadian itu ada di kampung Sukun dan yang meninggal adalah anak dari seorang tetua di sana, orang tuanya mengirim seseorang ke kampung mahoni untuk meminta bantuan Karna juga Panca supaya memeriksa jasad anaknya yang sejak di bawa seperti tidak memiliki darah sama sekali.
"Jasadnya begitu pucat bahkan di temukan luka gigitan di kakinya" ucap tetua bernama Sadikin
"Kami memang melihat sisa sisa energi gelap di tubuh putrimu, tapi ada yang hilang, sepertinya putrimu sengaja ke hutan itu untuk menggugurkan kandungan, lihat gigitan di lehernya ini, ini ulah kuyang dan ada sisa tali pusar di bagian dalam jalan lahirnya, belum keluar sempurna dan di perkirakan anak kamu mungkin hamil empat bulan" ungkap Rumi yang ikut bersama Karna dan Panca.
"Menggugurkan kandungan!" kaget Sadikin
"Aku hanya menjelaskan apa yang aku lihat karena kamu menolak pemeriksaan medis yang akan di lakukan putraku, aku akan tutup mulut" jawab Rumi
"Kuyang ini sudah menjadi teror di kampung kami karena di sini banyak ibu hamil, tapi aku selalu memastikan mereka tetap aman, tidak keluar setelah sore dan selalu menyimpan senjata tajam di depan pintu lengkap dengan batang pohon ketan hitam, tapi putriku ternyata...."
Sadikin tidak mampu berkata kata lagi, dia begitu menyayangi putrinya yang tadinya akan dia jodohkan dengan putra dari tetua kampung cadas yang bernama Tirta, tapi semuanya kacau dan sepertinya adiknya lah yang nanti akan di nikahkan dengan Tirta.
"Tolong jangan beritahu siapapun" mohon Sadikin
"Insya Allah kami tidak akan mengatakan pada siapapun, Mbah tenang saja" ucap Karna
"Tolong periksa hutan sekitar sini, aku takut kuyang itu akan kembali" ucap Sadikin
"Kuyang biasanya akan bersembunyi selama tiga sampai enam bulan sampai dia membutuhkan tumbal baru, dan dia sudah mendapatkan tumbal, dia tidak akan keluar dalam waktu itu" jawab Panca
"Tapi kami akan tetap memeriksa karena sepertinya karena ada korban yang meninggal akibat kuyang, jadi banyak makhluk lain yang ikut ke arah kampung ini untuk mengincar para ibu hamil dan bayi lain" ucap Panca lagi
"Iya, tolong lakukan sesuatu" jawab Sadikin merasa bersyukur karena ada yang membantunya.
"Ini bisa kita jadikan alasan untuk mengirimkan beberapa jin taklukanku untuk mencari ari ari Kalingga, hutan Sukun bersebelahan dengan hutan cadas jadi kita punya harapan untuk menemukan ari ari Kalingga lebih cepat" bisik Karna
"Iya, yang kita sebar untuk mencari di hutan cadas masih belum membuahkan hasil dan dengan begini kita juga bisa mencari sosok kuyang itu yang pastinya sudah pindah ke kampung lain supaya tidak di curigai" jawab Panca dan Karna mengangguk.
"Mbah, apa ada warga yang pindah karena takut dengan teror ini?" tanya Karna
"Ada beberapa orang, tapi mereka adalah warga yang menikah dengan orang kampung lain, mereka pindah ke kampung istrinya dan satu janda yang pindah ke kampung cadas karena dulu dia warga kampung cadas" jawab Sadikin
"Siapa Mbah?" tanya Panca
"Salbiah, dia sudah lima tahun tinggal di sini dan seorang janda dari tetua lama yang meninggal" jawab Sadikin membuat Rumi, Panca dan Karna curiga.
"Baiklah, mereka akan mulai berkeliling sebaiknya segera makamkan putrimu" ucap Rumi
"Baiklah, terima sudah membantu"
Panca dan Karna pergi tapi tidak dengan Rumi, dia membantu memandikan kembali putri dari Sadikin yang tidak di ijinkan di mandikan orang lain selain Rumi dan istrinya karena dia khawatir warga akan ketakutan kalau tahu alasan sebenarnya kematian putrinya itu.
Di dalam hutan, Karna dan Panca sudah mulai masuk ke hutan dalam, dia melihat tempat meninggalnya putri Sadikin karena terlihat ada obor yang sudah mati di sana, tapi bukan itu yang jadi perhatian mereka, tapi ada beberapa helai rambut di ranting yang di gunakan Putri Sadikin untuk mengusir kuyang Salbiah dan itu segera di ambil Karna.
"Kenapa kak Karna ambil? mungkin dia akan mencium bau rambut itu dan meneror warga Mahoni" tanya Panca
"Aku akan membawa rambut ini ke kampung cadas, aku harus melindungi cucuku karena pasti kuyang itu mengincar Kalingga, lihat sisa sisa kepulan asap hitam itu, itu adalah energi milik Malak, pasti jin sekutu Malak juga ada di sini menjaga sesuatu" jawab Karna
"Baiklah, ayo kita bersihkan tempat ini" jawab Panca
Mereka bersila di tempat itu, Karna memanggil Kalana dan Panca memanggil Ireng, sosok gagak hitam saudara dari Uyung yang merupakan sekutu Rukmini.
"Tuan" jawab keduanya
"Bersihkan tempat ini dari bau Malak dan sekutunya, jika kalian melihat jin yang mencoba mengganggu atau menguasai hutan ini, langsung lenyapkan" perintah Karna
"Ireng, pergi ke arah depan sana dan cari pemilik rambut ini, jika kamu sudah menemukannya, berikan rambut ini pada pasukan tanpa nama katakan kalau itu adalah kuyang yang mengincar Kalingga supaya mereka bisa waspada" ucap Panca
"Baiklah" jawab keduanya
Ireng pergi ke arah barat yang tak lain adalah kampung cadas, Kalana merubah dirinya jadi Buto ijo setinggi lima belas meter dan berkeliling sambil meniupkan angin dingin miliknya untuk membersihkan sisa sisa energi Malak yang ada di hutan kampung Sukun.
Cukup lama mereka berada di sana bahkan hampir tiga jam karena hutan itu begitu luas dan Kalana melakukan itu sendirian, setelah selesai, tak lama Ireng juga muncul tapi dia membawa kembali rambut Salbiah karena ternyata hutan kampung cadas di pagari energi yang entah milik siapa.
"Tidak ada pilihan lain, aku harus ke kampung cadas untuk membawa rambut ini" ucap Karna
"Ayo kita ke sana, aku juga ingin melihat Kalingga karena sudah empat hari mereka tinggal di sana" jawab Panca
"Kita tunggu Mbah Rumi selesai, atau mungkin sudah selesai karena kita cukup lama di sini" jawab Karna
"Tuan, kalau hutan itu di pagari, mungkin jin yang kita kirim sudah di habisi Malak dan Jayandanu" ucap Kalana
"Kamu benar, kita tidak bisa mengirim jin lemah ke sana, nanti aku minta Panglima Arsana dan NYI Kalia saja" jawab Karna
"Kakek Gatra lebih pantas, dia bisa menyelinap ke sana karena dia siluman harimau yang bisa merubah diri menjadi harimau kapan saja" ucap Panca
"Apa kakek Gatra mau?" tanya Karna
"Kakek Gatra itu masih leluhur Mbah Abidin, minta Mbah Abidin saja dan NYI Kalia kan istrinya" jawab Panca
"Iya juga, ayo kalau begitu, nanti setelah kita pulang dari kampung cadas kita langsung ke tempat Mbah Abidin" jawab Karna merangkul Panca.