Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.
Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.
Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.
Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.
Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...
Maka pertanyaannya kini adalah...
Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Bukan Apa-Apa Bagiku, Dan Aku Bukan Adikmu
Di sisi lain, suasana di markas semakin mencekam.
“Kenapa Judika belum pulang juga? Kemana dia pergi?” tanya Arjuna dengan nada panik. Dia sudah berjalan mondar-mandir tak karuan.
“Ponselnya mati, kak. Tidak bisa dihubungi,” jawab Jericko dengan wajahnya sudah memucat.
“Semoga dia baik-baik saja di luar sana,” gumam Nathan. Dia berusaha menenangkan diri padahal hatinya sendiri gelisah tak karuan.
“Judika, kau ada di mana? Masih marah sama kakak ya? Maafkan kakak. Kenapa kau belum pulang juga,” batin Tamma. Rasa bersalah menyelimuti seluruh hatinya.
“Judika di mana kau?” batin Yongki, genggamannya semakin erat.
“Kita tidak bisa diam saja begini! Kenapa kita tidak cari dia sekarang juga?” tanya Hendy tak sabar.
“Baiklah, begini saja. Aku, Yongki, dan Nathan akan pergi mencarinya. Kalian yang lain tetap di sini. Siapa tahu dia pulang duluan,” putus Arjuna.
Mereka semua mengangguk setuju. Arjuna, Yongki, dan Nathan segera keluar. Mereka menyusuri setiap jalan dan tempat yang biasa dikunjungi oleh Judika.
Namun berjam-jam berlalu, mereka tak menemukan jejak Judika sedikit pun.
“Kita sudah ke semua tempat, tapi Judika tidak ada di mana-mana,” ucap Arjuna dengan suara parau. Lelah secara fisik maupun batin. “Di mana kau, Judika?”
***
“Kau tidak apa-apa, Judika?” tanya Yohan.
Yohan yang tadi menarik Judika menjauh dari maut. Ya, dialah orang yang menyelamatkan nyawa Judika.
“Aku… aku baik-baik saja, kak.” Judika menjawab pelan. Dia masih sedikit linglung.
Yohan membantunya berdiri. Namun detik berikutnya matanya membelalak kaget. Di belakang kepala dan leher Judika, darah perlahan mengalir keluar.
“Astaga, Judika! Kepalamu berdarah parah!” seru Yohan panik.
Judika menyentuh bagian belakang kepalanya, dan memang jari-jarinya kini basah dan merah.
Saat Yohan memapahnya berjalan menjauh dari lokasi kejadian, tiba-tiba rasa pusing hebat menyerang. Pandangannya perlahan kabur. Suara di telinganya berisik.
Bruk..
Judika jatuh lemas tak sadarkan diri, dan dengan sigap Yohan menangkap tubuhnya.
“Judika!”
Dari kejauhan, Chandra, Bima dan Kevin menyaksikan semuanya.
“Bima, Kevin, aku harus mendekat. Bantu aku,” ucap Chandra dengan suara bergetar.
“Baik, kita bantu kamu,” jawab mereka berdua.
***
Saat Yohan hendak menggendong tubuh Judika menuju mobil, tiba-tiba tiga orang pria datang menghampirinya.
Yohan langsung menegang, menatap tajam ke arah mereka.
“Siapa kalian? Mau apa?” tanya Yohan waspada.
“Tenang saja, kami datang bukan untuk menyakiti siapapun,” jawab Bima tenang.
“Dia… dia adikku,” ucap Chandra, suaranya terdengar berat dan penuh kesedihan.
“Baiklah. Tapi kita harus segera bawa dia ke rumah sakit. Kepalanya terbentur keras saat aku menariknya tadi. Kemungkinan dia geger otak ringan,” jelas Yohan.
“Apa?!” Chandra terkejut sampai hampir terjatuh lagi.
“Kevin… boleh minta tolong?” panggil Chandra.
“Ya, kak, ada apa?”
“Sebelumnya terima kasih sudah menemaniku. Tolong pergi temui Arjuna dan yang lainnya. Kabari mereka keadaan Judika. Aku yakin mereka sedang panik mencarinya kemana-mana,” pesan Chandra.
“Baik, aku langsung pergi sekarang.”
“Kami akan membawanya ke Rumah Sakit Severance,” tambah Yohan.
Kevin mengangguk, lalu segera berlari pergi.
***
Tak lama kemudian, mereka semua sudah berada di rumah sakit. Kecuali Hendy, Jericko dan Tamma yang tetap menunggu di markas. yang lain berkumpul di depan ruang UGD dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Bagaimana keadaan Judika, Dokter?” tanya Chandra dan Arjuna bersamaan. Suara mereka sama-sama cemas.
“Tenang saja. Kondisinya aman. Hanya ada luka robek kecil di kepala. Tidak ada kerusakan serius. Dia bisa pulang hari ini juga. Tidak perlu dirawat inap,” jelas dokter itu.
Mereka semua menghela napas lega bersamaan.
“Syukurlah…”
Setelah dokter pergi, Arjuna langsung mendekat dan menggenggam erat tangan Judika.
“Dika,” panggil Arjuna pelan.
Perlahan, kelopak mata Judika terbuka. “Di mana aku?” bisik Judika lemah.
“Kau di rumah sakit,” jawab Yongki yang duduk di sisi lain tempat tidur.
Pandangan Judika menyapu seluruh ruangan. Sampai akhirnya berhenti pada satu sosok yang membuat darahnya seketika mendidih.
Chandra Wiguna.
Orang yang paling Judika benci di dunia, kakak kandungnya sendiri. Tanpa berkata apa-apa, Judika langsung membuang muka dan menatap Arjuba.
“Apa aku boleh pulang sekarang, kak Juna?” tanyanya datar.
“Ya, dokter bilang kau sudah boleh pulang.”
“Kalau begitu aku mau pergi sekarang juga!” ucap Judika tegas.
Arjuna dan Yongki membantunya berdiri. Sebelum melangkah, Judika menoleh ke arah Yohan.
“Terima kasih sudah menyelamatkan aku, kak Yohan. Tapi jujur saja, seharusnya kau tidak usah melakukannya. Saat itu hatiku sudah mati. Satu-satunya obat yang tersisa hanyalah kematian,” ucap Judika dengan nada datar. Tak ada ekspresi sedikit pun di wajahnya.
DEG..
Semua orang yang mendengarnya terpaku di tempat, napas mereka tertahan. Tak ada yang menyangka kalimat seberat itu akan keluar dari mulut Judik.
Dan Chandra! Hatinya terasa dihancurkan ribuan palu sekaligus. Sakit yang dia rasakan saat ini, berkali-kali lipat lebih parah dari pada luka fisik yang dideritanya tadi.
“Hei, Judika! Jangan bicara begitu! Apa kau tidak sayang sama keluarga dan orang-orang yang menyayangimu? Ibu dan ayahmu pasti akan hancur kalau sesuatu terjadi padamu!” tegur Yohan, matanya berkaca-kaca.
“Ibu dan kakakku? Bagi aku, mereka sudah mati lama sekali. Kalau aku mati nanti, satu-satunya orang yang mungkin akan menangis hanyalah ayahku. Selain itu, tidak ada siapa-siapa,” jawab Judika dingin, tak sekalipun dia menatap Chandra yang berdiri tak jauh dari situ.
“Segitu dalam dan besar kah kebencianmu pada kakak, Judika!” batin Chandra. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya menetes juga.
“Ayo pergi! Aku tidak mau berlama-lama di tempat ini,” ucap Judika, lalu mulai melangkah keluar, seolah Chandra sama sekali tak ada di sana.
“Judika,” panggil Chandra lirih.
Langkah kaki Judika terhenti. Tapi dia tak berbalik. “Ada apa?” nada suaranya terdengar tajam dan ketus.
“Maafkan kakak,” ucap Chandra. Suaranya nyaris tak terdengar.
Judika langsung memutar badan. Dia menatap Chandra dengan pandangan yang penuh kebencian dan kemarahan.
“Maaf? Segampang itu kau ucapkan kata itu? Kau pikir hanya dengan satu kata maaf, semua luka dan rasa sakit yang aku rasakan selama ini bisa hilang begitu saja, Chandra Wiguna?!” teriak Judika. Amarah Judika seketika meledak.
“Belum lagi kau seenaknya mengganti nama belakangmu. Melepaskan marga Pratama milik ayah. Apa menurutmu kau masih pantas disebut sebagai kakakku? Mulai hari ini, kau bukan apa-apa bagiku. Dan bagiku, aku juga bukan adikmu. Di dunia ini, aku hanya punya ayah. Tidak ada orang lain!”
Setelah melontarkan semua kalimat itu, Judika langsung berbalik dan pergi, diikuti oleh Arjuna, Yongki, Nathan dan Yohan.
Meninggalkan Chandra, Bima dan Kevin yang hanya bisa memandang kepergian mereka dalam diam.
Hati Chandra seketika hancur berkeping-keping, dan dia sadar, jalan untuk kembali ke sisi adiknya mungkin sudah tertutup rapat selamanya.