NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Dunia

Nyonya Mahendra memang benar-benar wanita yang berkemauan keras. Terbukti tiga hari setelah mengutarakan niatnya untuk menjodohkan Nia dan Angkasa pada kedua anak itu, Nyonya Mahendra dan keluarga mendatangi rumah kediaman Nyonya Lestari untuk membicarakan hal tersebut lebih jauh.

"Maaf kalau kedatangan kami terkesan mendadak," kata Tuan Mahendra saat kedua keluarga sudah duduk di ruang makan.

"Suatu kehormatan bagi kami dapat menjamu Tuan Mahendra sekeluarga di kediaman kami," kata Nyonya Lestari.

"Langsung pada intinya saja," kata Tuan Mahendra, menoleh ke arah isterinya yang sudah tersenyum dan mengangguk.

"Kami berniat menjodohkan Angkasa dengan puteri Tuan Laksono dan Nyonya Lestari, Nia. Semoga niat baik kami disambut baik," kata Tuan Mahendra tanpa basa-basi.

Angkasa terlihat datar. Nia terlihat gugup. Bayu terlihat tenang, meski jauh di dalam hatinya ada sesuatu yang menusuk perih.

"Untuk hal seperti ini," kata Tuan Laksono, lalu menatap ke arah Nia.

"Saya serahkan pada Nia," lanjutnya. Nia menoleh ke arah Tuan Laksono yang tersenyum padanya. Sedetik kemudian, Nia menatap Nyonya Lestari.

"Bagaimana, Nia?" tanya Nyonya Lestari.

Nia menatap satu per satu semua yang ada dalam ruangan itu yang juga menatap ke arahnya, menunggu. Hanya Angkasa yang sepertinya tidak tertarik dengan apa yang akan Nia katakan.

"Saya rasa... bukan hanya tentang saya," kata Nia sambil menatap Angkasa. Kini Angkasa menatapnya.

"Tuan Muda sebaiknya ikut memberi tanggapan soal rencana ini," lanjut Nia. Angkasa menatapnya datar. Kini semua tatapan tertuju pada Angkasa.

"Papa cuma minta, tolong turuti kemauan Mama, agar dia tidak teringat tragedi itu lagi,"

Ucapan Tuan Mahendra melekat erat di pikiran Angkasa. Menikahi Nia bukanlah sesuatu yang tak diinginkannya. Hanya saja, menikahi Nia sama dengan menyeretnya ke dalam hidupnya yang terikat.

Angkasa menatap mamanya, lalu menatap Nia.

"Dua syarat," kata Angkasa. Mata Nyonya Mahendra berbinar.

"Apa, Sayang?" tanya Nyonya Mahendra cepat.

"Pertama. Aang akan menerima ini jika Nia memang tidak merasa terpaksa," kata Angkasa sambil melirik Nia. Nia tertunduk. Entah mengapa pipinya terasa panas.

"Kedua. Tidak ada pesta pertunangan atau pernikahan, sebelum kami lulus kuliah," lanjut Angkasa sambil menoleh ke arah kedua orangtuanya. Nyonya Mahendra terlihat lemas mendengar syarat kedua Angkasa.

"Mama nggak bisa pamer calon mantu mama yang cantik dong," celetuk Nyonya Mahendra kecewa.

"Jadi..." kata Angkasa sambil menatap Nia yang duduk di hadapannya.

"Semua tergantung kamu," lanjut Angkasa sambil menatap Nia dengan tatapan dinginnya.

Nia menahan napas sesaat, lalu menghembuskannya perlahan. Ini adalah keputusan tersulit dalam hidupnya.

'Dia tidak memaksa. Tapi, tatapannya seolah menyerahkan seluruh dunia pada ku. Curang!'

***

"Mama rasa, mama bisa tenang kalau Nia nikah sama Tuan Muda Angkasa," kata Nyonya Lestari pada Bayu setelah acara makan malam dua keluarga usai. Bayu menelan ludah, membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba kering.

"Mama yakin keputusan ini tepat?" tanya Bayu akhirnya. Nyonya Lestari mengerutkan alisnya.

"Maksud kamu?" tanya Nyonya Lestari sambil menatap Bayu, bingung. Bayu mengalihkan pandangannya.

"Sepertinya Tuan Muda Angkasa tidak menyukai Nia," kata Bayu datar. Nyonya Lestari tersenyum.

"Kamu jangan jadi kakak yang posesif. Perasaan bisa berubah seiring waktu," kata Nyonya Lestari. Bayu menghela napas panjang, lalu duduk di sofa ruang kerja mamanya.

"Kamu buruan cari pacar. Mama nggak mau repot-repot jodohin kamu macem Nyonya Mahendra," kata Nyonya Lestari sambil tersenyum.

"Bayu belum kepikiran buat nikah, Ma. Masih banyak yang mau Bayu lakuin," kata Bayu, memberi alasan klise pada mamanya. Nyonya Lestari tersenyum.

"Dulu mama juga gitu. Saking fokusnya sama yang pengen dilakuin jadi nggak kepikiran nikah," kata Nyonya Lestari.

"Tapi, papa kamu dateng, ngasih pandangan yang berbeda tentang pernikahan, tentang melakukan hal-hal bersama. Dan sekarang? Jadilah kami seperti ini," kata Nyonya Lestari. Ada nada kebanggaan dalam suaranya. Bayu tersenyum tipis.

"Ngomong-ngomong, kenapa Nyonya Mahendra mau menikahkan puteranya dengan Nia? Semua orang tau, Nia bukan puteri kandung mama," tanya Nyonya Lestari heran. Bayu tersenyum lalu berdiri dari duduknya.

"Itu karena... Nia punya daya tariknya tersendiri," kata Bayu lalu keluar dari ruang kerja mamanya. Nyonya Lestari menaikkan kedua alisnya, tak percaya dengan jawaban puteranya.

Bayu masih berdiri diam sesaat di depan pintu ruang kerja mamanya setelah menutupnya. Meski berat menerima keputusan Nia soal perjodohan dengan Angkasa, Bayu berusaha bersikap selayaknya kakak yang baik.

'Aku ini... cuma seorang kakak. Apa yang ku harapkan?'

***

Nia meringkuk di atas tempat tidurnya. Dirinya masih tak percaya menerima perjodohan dengan Angkasa. Entah mengapa dia tak bisa menolak. Sorot mata Angkasa yang menghujamnya membuat dirinya tak bisa mengatakan apapun. Hanya mengangguk pelan dan semua orang terlihat lega, kecuali satu. Papanya.

Tatapan Tuan Laksono saat Nia mengangguk sungguh tak bisa Nia jelaskan dengan kata-kata. Meski ada senyum di wajahnya, namun tatapan Tuan Laksono pada Nia membuatnya teringat kejadian empat tahun yang lalu.

Saat itu, sepulang sekolah, Nia langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Penat menyelimuti dirinya. Dia bahkan tak sanggup untuk mengganti baju seragamnya dengan baju rumahan.

Nia memejamkan matanya, membiarkan seluruh penat menguap di atas tempat tidurnya. Separo badannya seakan sudah melayang ke awan saat dia merasakan sesuatu bergerak seperti membuka kancing baju seragamnya.

Nia terbangun seketika. Matanya membulat melihat siapa yang coba membuka kancing baju seragamnya.

"Papa?!"

"Nia sayang... Papa bantu ganti baju. Sini," kata Tuan Laksono dengan tatapan penuh nafsu.

"Nggak! Nia bisa ganti baju sendiri, Pa. Nia mohon, Papa keluar dari kamar Nia," kata Nia dengan suara bergetar dan tangan yang menyilang di depan menutupi dadanya.

"Ayolah, Nia. Nggak usah malu. Ini Papa," kata Tuan Laksono sambil terus mendekat ke arah Nia.

Nia terus mundur, mencoba berjalan perlahan meski kakinya lemas karena takut dan terkejut.

"Nggak akan ada yang tau, Nia. Nggak ada orang di rumah kecuali kita. Papa nggak akan bilang Mama. Ini akan jadi rahasia indah kita berdua," kata Tuan Laksono.

Tatapannya pada Nia dipenuhi nafsu yang sudah tak tertahan. Nia menggelengkan kepala, sambil terus berjalan mundur. Airmatanya jatuh. Nia benar-benar takut.

"Kemari, Sayang. Peluk Papa," kata Tuan Laksono sambil berjalan cepat ke arah Nia.

Nia dengan segera menuju pintu. Terkunci! Dengan panik Nia memutar kunci dan berhasil keluar. Nia berlari. Tuan Laksono berhasil mengejar dan menangkapnya di koridor depan kamar Bayu.

"Tenang. Papa sudah bilang, hanya ada kita di rumah," kata Tuan Laksono sambil mengunci posisi Nia di dinding dan mulai mencium ceruk leher Nia. Nia menangis. Tak sanggup melakukan apapun.

"Apa yang Papa lakukan?!" sebuah suara menghentikan aksi Tuan Laksono. Bayu berdiri di ujung koridor. Terkejut. Nia terduduk lemas.

"Eh. Bayu. Kamu pulang?"

"Apa yang Papa lakukan?!" tanya Bayu pada Tuan Laksono. Suaranya meninggi.

"Ehem... Papa cuma..."

"CUMA APA?! HAH?!"

Nia menatap Bayu. Wajahnya dipenuhi kemarahan yang membara. Bayu menatap Nia lalu bergegas menggendong Nia masuk ke kamarnya. Bayu dapat merasakan seluruh tubuh Nia bergetar hebat.

Bayu menurunkan Nia di atas tempat tidurnya perlahan. Sangat hati-hati, memperlakukan Nia seolah gerakan yang tiba-tiba dapat melukai Nia.

"Kamu udah aman, Nia," kata Bayu menenangkan Nia.

Nia masih menangis. Bergetar. Bayu ragu-ragu. Namun akhirnya dia memeluk Nia.

"Aku akan menjaga mu, melindungi mu. Aku janji," kata Bayu di sela-sela isak tangis Nia yang pecah.

Nia masih mengingatnya hingga kini. Bagaimana dia selalu takut di rumah sendiri. Bagaimana dia selalu memastikan pintu kamarnya terkunci.

'Kalau kamu tau tentang itu... apa yang akan kamu lakukan, Ang?'

***

1
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!