Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.
Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.
Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.
Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
006
Roseo turun dari mobilnya dan langsung disambut oleh Pak Sumarto, ayah Mary yang mengundangnya untuk mampir ke rumah sebelum Roseo pergi ke kota.
Pak Dadang menjadi pihak yang meneruskan pesan dari Pak Sumarto pada Roseo mengingat bahwa Roseo tidak memberikan nomor telepon pribadinya kepada warga kampung.
“Ayo, silahkan masuk, Ros,” ajak Pak Sumarto.
Roseo masuk ke ruang tamu bersama Pak Sumarto, Bu Marni pun langsung menyambut.
“Ros, sudah makan? Kalau belum, mau makan dulu?” Tanya Bu Marni.
“Terima kasih Bu, saya sudah makan,” jawab Roseo.
Di kampung ini mengajak tamu untuk makan sudah menjadi tradisi.
“Pak, ngomong-ngomong, mengapa bapak mengundang saya datang?” Tanya Roseo.
“Oh, itu. Bapak hanya memastikan saja, apakah benar, Mawary anakku, memintamu mencarikan barang untuknya?” Tanya Pak Sumarto.
Roseo tertegun, tadi pagi, wanita itu memang datang untuk meminta tolong padanya.
“Oh, sepertinya memang ada. Tapi, saya tidak yakin beliau jadi, karena belum ada menghubungi saya lagi,” jawab Roseo.
“Oh begitu,” kata Pak Sumarto.
Pak Sumarto memberi kode pada istrinya untuk menyerahkan sebuah amplop untuk Roseo.
“Ros, bapak minta tolong, cari dan dapatkan apapun yang diminta Mawary,” kata Pak Sumarto.
Roseo lagi-lagi tertegun, menatap lurus Pak Sumarto.
“Tadi Mawary bilang dia mau pergi ke kota karena minta tolong padamu bayarnya mahal, jadi bapak bilang, semahal apapun pasti bapak bayar, asal dia tidak pergi ke kota,” kata Pak Sumarto.
Roseo merasa Mary benar-benar keterlaluan. Ia tidak bermaksud memberi harga mahal saat dimintai tolong, ia hanya tidak mau dimintai tolong oleh wanita itu, makanya ia sengaja memberi harga mahal untuk jasanya.
Wanita itu sudah cukup merepotkan saat meminta tolong untuk di antar ke rumahnya. Sehingga Roseo merasa kapok untuk menolongnya lagi.
“Pak Sumarto, mohon maaf sebelumnya, saya sungguh tak bermaksud untuk mematok harga tinggi atas jasa saya. Saya hanya tidak yakin, apa saya sempat untuk mencari barang-barang yang diminta anak bapak karena urusan saya di kota, saya hanya tidak ingin mengecewakan beliau,” Roseo menjelaskan.
Pak Sumarto tersenyum sumringah, ia sungguh memaklumi alasan Roseo mengingat watak anaknya memang cukup keras.
“Begini saja Ros, cari dan beli saja yang bisa kau dapatkan,” usul Pak Sumarto.
“Iya Ros, Ibu ini pusing mendengar Mawary meributkan sabun mandi dan pasta gigi spesialmya yang tidak dijual di sini,” kata Bu Marni.
“Pak, saya tidak berjanji, tapi akan saya usahakan,” kata Roseo mengembalikan amplop tersebut pada Pak Sumarto.
“Lho, Ros, jangan begitu, bawa saja uangnya,” kata Pak Sumarto.
“Tidak apa-apa Pak, saya malah merasa terbebani membawa uang sebanyak ini hanya untuk membeli sabun mandi dan pasta gigi,” kata Roseo.
“Kalau begitu, saya pamit undur diri, saya harus ke kota,” Roseo berpamitan.
“Terima kasih ya, Ros, hati-hati di jalan,” kata Pak Sumarto.
“Ros, sebentar, jangan pergi dulu, Ibu bungkuskan makanan ya,” kata Bu Marni.
***
Jono Bejonegoro, biasa dipanggil Jono. Dia adalah pria bujangan berusia tiga puluh tujuh tahun yang rela membujang demi menunggu gadis pujaannya kembali ke kampung halaman.
Jono sungguh bahagia karena penantiannya selama dua puluh tahun itu akhirnya terbayar saat Mawary, gadis pujaannya pulang dari kota.
Tak ingin membuang waktu lama, ia pun meminta sang ayah, Pak Bejo untuk melamar Mawary.
Ia tak mau gadis pujaannya itu sampai jatuh ke pelukan laki-laki lain. Sebelum Mawary dipinang laki-laki lain, Jono langsung mencuri start.
Jono bahkan mengancam semua pria yang turut menunggu kepulangan Mawary sehingga mereka semua mundur teratur daripada berurusan dengan Jono.
Meski Mawary selalu bersikap dingin dan ketus padanya, namun hal tersebut justru membuat Jono makin ingin membuat wanita cantik itu menjadi miliknya seutuhnya.
Setiap hari, sepulang bekerja, Jono pasti akan datang ke rumah Mawary untuk bertemu dengan pujaan hatinya itu.
Cinta ada karena terbiasa, itulah motto Jono dalam memburu cinta Mawary.
Hanya saja, hari ini Jono terkejut saat melihat sosok laki-laki lain yang keluar dari rumah Mawary ketika ia datang sore ini.
Pria itu berpamitan pada kedua orang tua Mawary.
“Sialan! Kenapa laki-laki jelek itu ada di rumah Mawary?!” Geram Jono.
Jono langsung keluar dari mobilnya, berlari menghampiri Roseo.
“Hai, sobat! Apa kabar? Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Tanya Jono sambil menyikut rusuk pria itu.
Ugh!
Roseo mengaduh dalam diam, tiba-tiba saja diseruduk jelas membuatnya kaget.
“Awas ya, jangan coba-coba mengganggu calon istriku!” Ancam Jono.
Roseo melayangkan tatapan sinis pada Jono.
Ia pun segera pergi memasuki mobilnya.
“Jono, kau sudah datang,” sapa Bu Marni.
Jono langsung beralih pada Bu Marni dan Pak Sumarto.
“Iya Pak, Bu, kerjaan sudah selesai,” kata Jono.
“Jono sungguh berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan,” puji Pak Sumarto.
“Tentu saja Pak, demi masyarakat saja, saya bisa begini, apalagi demi Mawary,” kata Jono.
“Oh ya, ngomong-ngomong, dimana Mawary?” Tanya Jono.
“Lagi main ke rumah Jijah,” jawab Bu Marni.
“Iya, tunggu saja di dalam, Jono,” kata Pak Sumarto.
***
“Aku benar-benar kesal pada ayahku! Kenapa orang tua itu benar-benar tidak peduli dengan keinginanku?!”
“Aku cuma mau ke kota untuk membeli sabun mandi, pasta gigi, losion kulitku, sampo, bahkan aku butuh membeli pakaian dalam! Sekarang aku hanya punya satu pakaian dalam yang harus dicuci, kering, dan dipakai lagi!”
“Aku benar-benar bisa gila jika terus terkurung di tempat ini, Jijah!”
Jijah menguap lebar-lebar mendengar keluhan yang keluar dari mulut Mary sambil memetik sayuran untuk menyiapkan makan malam di dapur.
Sudah lebih dari dua jam, wanita cantik itu mengomel sambil meratapi nasib.
“Aku tidak mau pulang sebelum ayah dan ibuku memberiku izin untuk pergi ke kota!”
“Mary, sudahlah, lebih baik, kau pakai saja jasa Tuti! Biar mahal yang penting barangnya ada,” kata Jijah.
“Ya, kau benar Jah, biar mahal yang penting barangnya ada, tapi yang lebih penting lagi itu, uangnya! Uangnya!” Tandas Mary.
“Jujur saja, aku tidak punya uang sebanyak itu direkeningku!” Kata Mary.
“Lho, kok bisa?! Bukannya kau bekerja keras di kota?” tanya Jijah.
“Ya, tapi di kota semuanya serba mahal! Apa-apa serba uang!” Sahut Mary.
“Aku bahkan terpaksa pulang karena sudah kehabisan uang dan belum juga mendapatkan pekerjaan lagi,” keluh Mary.
“Ya sudah, kalau begitu, segeralah kau menikah dengan Jono, jadi kau bisa meminta pria itu untuk membawamu tinggal di kota!” Usul Jijah.
“Dari semua ide yang pernah kau usulkan, idemu yang itu sungguh ide terburuk yang pernah kau usulkan!” Cibir Mary.
“Haha, tapi menurutku, itulah satu-satunya cara agar kau bisa pergi dari kampung ini. Demi cinta, apapun pasti akan dilakukan oleh Jono,” sahut Jijah.
Mary merasa mual membayangkan dirinya harus menikahi Jono.
“Ibu! Ibu! Ada Pak Jono datang,” anak tertua Jijah, Reza datang memanggil Jijah.
“Jono?!” Jijah terkejut.
“Mau apa laki-laki jahanam itu ke sini?” Tanya Mary.
“Tentu saja menjemputmu,” sahut Jijah.