NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31: Detak Jantung di Tengah Badai

Lorong Rumah Sakit Medika Jakarta biasanya terasa dingin dan steril, namun bagi Danu Setiawan, suasana malam itu terasa seperti ruang hampa udara. Suara langkah sepatunya yang biasanya mantap dan penuh otoritas, kini terdengar gontai.

Di balik pintu kaca ruang instalasi gawat darurat, istrinya napasnya, dunianya sedang berjuang melawan rasa sakit yang tak terlihat.

Danu berdiri mematung di depan jendela besar, menatap rintik hujan yang mulai membasahi Jakarta. Tangannya yang masih gemetar merogoh saku jas, mengeluarkan ponsel yang layarnya masih menyala menampilkan pesan singkat dari laboratorium: Positif 6 Minggu.

Kegembiraan yang seharusnya meledak seperti kembang api justru terasa seperti hantaman palu godam. Ia baru saja menemukan keajaiban itu, tepat di saat ia hampir kehilangan ibunya.

"Tuan Danu?"

Suara lembut Dokter Sarah, spesialis kandungan kepercayaan keluarga, memecah lamunan Danu. Danu berbalik dengan cepat, matanya yang memerah menatap sang dokter dengan tatapan haus akan kepastian.

"Bagaimana, Dok? Nara... dan anak saya?"

Dokter Sarah menghela napas pendek, sebuah isyarat yang membuat jantung Danu seolah berhenti berdetak.

"Nyonya Nara sudah sadar. Kondisinya stabil, tapi..." Dokter itu menjeda,

"Terjadi perdarahan kecil. Ini yang kami sebut sebagai Abortus Imminens ancaman keguguran. Tekanan mental yang luar biasa dalam beberapa hari terakhir, ditambah kelelahan fisik setelah perjalanan jauh, membuat rahimnya sangat lemah."

Danu mencengkeram pinggiran kursi tunggu hingga buku jarinya memutih.

"Apa yang harus saya lakukan? Apa pun, Dok. Berapa pun biayanya."

"Ini bukan soal biaya, Tuan Danu," Dokter Sarah tersenyum tipis. "Ini soal ketenangan. Nyonya Nara butuh istirahat total bed rest. Tidak boleh ada stres, tidak boleh ada berita buruk, bahkan tidak boleh ada guncangan emosional sekecil apa pun. Janin ini sangat rapuh. Jika dalam dua minggu ke depan kondisinya tidak membaik, kita berisiko kehilangan calon bayi ini."

Kalimat terakhir itu menghantam ulu hati Danu. Kehilangan. Kata itu tidak pernah ada dalam kamus seorang Danu Setiawan, namun malam ini, ia menyadari bahwa kekuasaannya tidak bisa membeli satu detik pun nyawa manusia.

Danu melangkah masuk ke kamar rawat inap VIP dengan sangat pelan, seolah takut langkah kakinya akan menggetarkan udara di sekitar Nara. Di sana, di atas ranjang putih yang luas, Nara terbaring lemah. Wajahnya yang biasanya berseri kini pucat pasi, namun matanya terbuka sayu saat merasakan kehadiran suaminya.

"Mas..." bisik Nara parau.

Danu segera menghampirinya, berlutut di samping ranjang, dan menggenggam tangan Nara dengan penuh keridhaan. Ia mencium punggung tangan itu berkali-kali, membasahinya dengan air mata yang tak lagi bisa ia bendung.

"Mas... kenapa menangis?" Nara mencoba tersenyum, meski tangannya terasa begitu berat untuk diangkat.

"Apa yayasannya... apa fitnah itu belum selesai?"

"Lupakan soal yayasan, Nara. Lupakan soal Reza. Lupakan soal dunia di luar sana," Danu memotong dengan suara yang bergetar karena emosi. Ia menempelkan tangan Nara ke pipinya.

"Ada sesuatu yang jauh lebih penting dari semua itu. Di sini..." Danu meletakkan telapak tangannya di atas perut Nara yang masih rata dengan sangat lembut, seolah menyentuh kelopak bunga yang paling rapuh.

"Ada kehidupan baru, Sayang. Kamu sedang mengandung anak kita."

Mata Nara membelalak. Sedetik kemudian, air mata mengalir deras dari sudut matanya.

"Hamil? Mas... aku..."

"Sssttt... jangan banyak bicara dulu. Dokter bilang kamu harus tenang," sela Danu. Tatapan matanya yang tadi penuh kesedihan kini berubah menjadi sesuatu yang sangat intens, sebuah tekad yang membara.

"Mulai detik ini, duniaku berhenti berputar untuk bisnis. Duniaku hanya berputar untukmu dan anak kita. Aku tidak akan membiarkan sehelai rambutmu pun jatuh karena kesedihan lagi."

Keesokan harinya, perubahan sikap Danu mengejutkan seluruh penghuni Mansion Setiawan. Jika sebelumnya Danu dikenal sebagai pria yang dingin dan gila kerja, kini ia berubah menjadi "sipir pribadi" bagi Nara.

Danu memerintahkan Andra untuk memindahkan seluruh ruang kerjanya ke kamar sebelah tempat Nara beristirahat. Ia membatalkan semua pertemuan tatap muka dan hanya melakukan koordinasi lewat video call dengan suara yang sangat pelan agar tidak mengganggu tidur Nara.

Namun, "keposesifan" Danu melampaui batas kewajaran.

"Andra! Kenapa makanan ini terlalu banyak bumbunya?" bentak Danu di dapur, menatap piring bubur yang disiapkan koki pribadi.

"Tuan, itu sudah sesuai standar gizi untuk ibu hamil..."

"Standar gizi bukan berarti boleh memicu mual! Ganti dengan yang lebih lembut, tanpa aroma yang menyengat. Dan pastikan semua sayurannya dicuci dengan air alkali. Aku sendiri yang akan mengecek kebersihannya!"

Tak hanya itu, Danu menyita ponsel Nara. Ia melarang Nara menonton TV atau mengakses media sosial. Ia bahkan memasang alat kedap suara tambahan di dinding kamar agar suara bising dari luar tidak masuk.

"Mas... aku bosan kalau hanya melihat langit-langit," protes Nara saat Danu sedang menyuapinya sesendok bubur gandum.

"Kamu boleh melihatku, Nara. Itu cukup," jawab Danu tanpa ekspresi, namun matanya tak lepas dari wajah istrinya.

"Aku sudah membelikanmu seratus buku audio dan pemutar musik klasik. Tapi tidak ada berita, tidak ada ponsel, dan tidak ada kabar soal yayasan sampai dokter bilang kamu aman."

"Tapi Mas, bagaimana dengan Bapak? Bapak pasti khawatir," tanya Nara teringat Bapak Rahardi.

"Bapak menginap di paviliun sebelah. Aku sudah menyiapkan dua perawat khusus untuknya. Dia boleh menjengukmu, tapi hanya sepuluh menit sehari. Aku tidak ingin kalian berdua saling menangis dan membuat detak jantungmu tidak stabil," ucap Danu tegas.

Nara hanya bisa menghela napas. Ia tahu, di balik sikap posesif yang nyaris mencekik ini, ada ketakutan luar biasa yang sedang disembunyikan Danu. Danu sedang mencoba "membeli" keselamatan janin mereka dengan cara mengontrol setiap inci kehidupan Nara.

Di sisi lain, Reza dan sisa-sisa anak buahnya sedang menunggu serangan balasan dari Danu. Mereka mengira Danu akan mengerahkan seluruh kekuatan finansialnya untuk menghancurkan mereka setelah fitnah di yayasan terbongkar.

Namun, yang mereka dapati adalah kesunyian. Danu seolah menghilang dari peredaran bisnis. Ia tidak melakukan serangan balik, tidak melakukan konferensi pers tambahan, dan tidak muncul di kantor.

"Dia takut," ejek salah satu anak buah Reza di markas rahasia mereka. "Danu Setiawan ternyata hanya gertak sambal. Istrinya pingsan saja dia sudah sembunyi di ketiak perempuan itu."

Reza, yang sedang menyesap cerutunya, justru mengerutkan kening. "Kau salah. Danu tidak takut. Dia sedang menjaga sesuatu yang berharga. Pria seperti dia, jika sudah diam seperti ini, artinya dia sedang membangun benteng. Dan jika benteng itu tersentuh sedikit saja... dia tidak akan hanya menghancurkan kita, dia akan melenyapkan kita dari peta."

Namun, obsesi Reza untuk membalas dendam atas penangkapan Tio dan kehancuran Vanya tak bisa dibendung.

"Cari tahu di rumah sakit mana Nara dirawat. Kita beri mereka 'hadiah' kecil agar Danu tahu bahwa tidak ada tempat yang aman bagi keluarganya."

Malam itu, Bapak Rahardi masuk ke kamar Nara, dipandu oleh Danu yang terus melihat jam tangannya memastikan kunjungan itu tidak lebih dari sepuluh menit.

Pak Rahardi duduk di samping Nara, membelai tangan putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Nara... bagaimana perasaanmu, Nak?"

"Jauh lebih baik, Pak. Hanya saja... Mas Danu membuatku merasa seperti tawanan di istana sendiri," keluh Nara pelan sambil melirik Danu yang berdiri tegak di pojok ruangan seperti patung penjaga.

Pak Rahardi tersenyum, lalu menoleh ke arah menantunya. "Danu, kemarilah."

Danu mendekat, wajahnya yang kaku melunak di depan mertuanya.

"Nak Danu," ucap Pak Rahardi lembut. "Bapak tahu kamu sangat mencintai Nara dan cucu Bapak. Bapak tahu kamu ingin menjadi pelindung yang sempurna. Tapi ingatlah, anak yang ada di rahim Nara ini adalah titipan Allah. Kamu bisa mengunci pintu, kamu bisa menyaring udara, tapi kamu tidak bisa menggenggam takdir dengan tanganmu sendiri."

Danu menunduk, bahunya yang tegap tampak sedikit merosot.

"Lepaskan sedikit bebanmu, Nak. Biarkan Nara menghirup udara kebebasan meski hanya di dalam kamar ini. Jangan biarkan dia merasa tertekan karena perlindunganmu yang berlebihan. Karena stres yang paling berbahaya bagi ibu hamil bukan hanya dari musuh di luar, tapi juga dari rasa sesak karena kehilangan kemandiriannya."

Kata-kata Pak Rahardi menghujam tepat ke jantung Danu. Selama ini ia mengira ia sedang menyelamatkan Nara, namun ia tidak sadar bahwa ia sedang menciptakan penjara baru bagi mental istrinya.

Setelah Bapak Rahardi keluar, Danu duduk di pinggir ranjang. Ia menatap Nara lama sekali. "Apa aku terlalu berlebihan, Nara?"

Nara tersenyum, tangannya meraih jemari Danu. "Mas, aku tahu Mas takut kehilangan kami. Aku juga takut. Tapi aku butuh suamiku yang hangat, bukan pengawal yang dingin. Aku butuh Mas untuk tersenyum padaku, bukan terus-menerus berteriak pada pelayan soal menu makanku."

Danu terdiam, lalu ia mengangguk pelan. "Maafkan aku. Aku hanya... aku tidak tahu harus berbuat apa jika terjadi sesuatu padamu lagi."

Tiba-tiba, Andra masuk dengan tergesa-gesa tanpa mengetuk pintu. Wajahnya sangat pucat.

"Tuan Danu... maaf mengganggu. Tapi ada paket misterius di meja resepsionis rumah sakit bawah. Ditujukan untuk Nyonya Nara."

Danu langsung berdiri, aura "macan" di dalam dirinya kembali bangkit. "Bawa tim gegana ke sana sekarang. Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya!"

Danu menoleh ke arah Nara, matanya kembali menajam. "Tetap di sini. Jangan turun dari ranjang. Aku akan kembali."

Danu turun ke lobi rumah sakit dengan langkah yang menggetarkan lantai. Di sana, sebuah kotak kayu kecil tergeletak. Tim keamanan Danu sudah mensterilkan area. Setelah dipastikan bukan bom, Danu membukanya sendiri.

Di dalamnya terdapat sepasang sepatu bayi berwarna putih bersih, namun sepatu itu berlumuran cairan merah yang menyerupai darah. Di bawahnya, ada sebuah nota kecil bertuliskan:

"Sepatu ini tidak akan pernah terpakai. Darah dibayar darah. - R"

Danu meremas nota itu hingga hancur di tangannya. Ia tidak marah secara meledak-ledak. Ia justru terdiam dalam keheningan yang mematikan. Ia berbalik dan menatap Andra.

"Andra, batalkan semua rencana perdamaian. Hubungi seluruh jaringan kita di luar negeri. Aku ingin Reza ditemukan dalam waktu 24 jam. Hidup atau mati. Tapi sebelum itu..." Danu menjeda, suaranya sedingin es, "Bawa Nara pulang ke mansion malam ini juga. Kita ubah mansion menjadi benteng militer.

Tidak ada yang boleh masuk atau keluar tanpa izin tertulis dariku. Dan pastikan Nara tidak melihat sepatu ini."

Danu kembali ke kamar, mencoba mengatur napasnya agar tampak tenang di depan Nara. Ia membungkus Nara dengan selimut tebal dan menggendongnya keluar menuju ambulans pribadi yang sudah ia siapkan untuk membawa Nara pulang ke mansion agar lebih aman.

Di dalam perjalanan yang dikawal oleh lima mobil hitam, Nara menyandarkan kepalanya di dada Danu. Ia bisa merasakan detak jantung Danu yang kencang, sebuah irama kegelisahan yang coba disembunyikan.

"Mas... ada apa? Kenapa kita tiba-tiba pulang?"

Danu mengecup kening Nara dengan sangat lama. "Hanya ingin kamu lebih nyaman di rumah, Sayang. Di mansion, kita punya taman yang lebih luas untukmu melihat bunga."

"Mas janji tidak akan pergi ke mana-mana?"

Danu mendekap Nara lebih erat. "Aku tidak akan sedetik pun meninggalkanmu. Jika dunia ingin menyerangmu, mereka harus melangkahi mayatku terlebih dahulu."

Nara memejamkan matanya, merasakan perlindungan Danu yang posesif namun penuh cinta. Di balik kegelapan malam Jakarta, Danu Setiawan bersumpah dalam hati: Ia akan menjadi malaikat maut bagi siapa pun yang berani mengancam malaikat kecil di rahim istrinya.

Perang belum usai, namun bagi Danu, prioritasnya telah berubah. Jika dulu ia bertarung untuk takhta, kini ia bertarung untuk sebuah detak jantung yang masih sangat kecil, namun telah menjadi pusat semestanya.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!