Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Kejutan di Balik Pintu Kamar Mandi
Setelah Dewa berangkat ke kantor dan kedua remaja itu pergi ke sekolah, Gisel langsung beraksi. Ia tidak membiarkan satu sudut pun di rumah ini tetap terasa seperti kulkas. Sepanjang hari, ia bermain dengan
Digo (4 thn) yang sangat ramah. Mereka berdua tertawa lepas sambil menempelkan stiker bintang yang menyala di langit-langit kamar dan mengganti sprei abu-abu yang membosankan dengan warna krem yang hangat.
Gisel bahkan memesan beberapa tanaman hijau indoor dan pengharum ruangan otomatis dengan aroma white tea andalannya. "Nah, Digo, sekarang kamar Papa kamu nggak bau kertas lagi, tapi bau masa depan!" seru Gisel yang disambut tawa polos Digo.
Sore harinya, matahari belum juga terbenam sepenuhnya saat mobil mewah Dewa memasuki halaman. Di dapur, para ART mulai bergosip pelan. "Tumben sekali Pak Dewa sudah pulang jam segini? Biasanya kan lembur sampai malam," bisik salah satu pelayan dengan heran.
Dewa (35 thn) melangkah masuk dengan wajah lelah. Rambut hitamnya sedikit berantakan dan kacamata bacanya tersampir di kantong kemeja. Ia langsung menuju lantai atas, berniat melepas penat di kamarnya.
Begitu pintu kamar terbuka, Dewa terpaku di ambang pintu.
"Apa-apaan ini?" gumamnya. Kamarnya yang dulu kaku dan gelap, kini terasa sangat hidup, terang, dan... sangat wangi. Aroma white tea dan jeruk yang segar langsung menyergapnya, membuatnya merasa rileks secara paksa. Ada bunga segar di atas nakas dan beberapa dekorasi kecil yang membuat kamar itu terasa "hangat".
Saat sedang mencoba memproses perubahan drastis di kamarnya, Dewa mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi. Ia melangkah mendekat, berniat menegur Gisel yang pasti sedang di dalam sana.
Ceklek
Dewa membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuk, mengira Gisel hanya sedang mencuci muka. Namun, pemandangan di depannya membuat jantung Dewa serasa berhenti berdetak.
Di sana, di balik uap air yang hangat, Gisel (23 thn) sedang berdiri di bawah shower. Rambut panjangnya basah kuyup menempel di punggung, dan karena pintunya tidak terkunci, Dewa bisa melihat lekuk tubuh Gisel yang seksi secara jelas sebelum Gisel sempat meraih handuknya.
"Astaga!" Dewa tersentak kaget, matanya membelalak lebar di balik kacamata yang buru-buru ia pakai kembali. Ia langsung berbalik badan dengan sangat cepat, wajahnya yang biasanya dingin kini memerah padam sampai ke telinga.
Gisel yang juga kaget bukannya menjerit ketakutan, malah terkekeh nakal setelah menutup tubuhnya dengan handuk seadanya. "Aduh, Mas Dewa... kangen banget ya sampai nggak sabar nunggu aku keluar?"
Gisel berjalan mendekat ke arah punggung lebar Dewa yang masih mematung membelakanginya. "Gimana, Mas? Dekorasi kamarnya bagus, atau... 'pemandangan' di kamar mandi tadi yang lebih bagus?" bisik Gisel tepat di belakang telinga Dewa.
Dewa mengepalkan tangannya, mencoba mengatur napasnya yang mendadak kacau. "Pakai pakaianmu, Gisel! Sekarang!"
"Siap, Mas CEO! Jangan lari ya, aku bentar lagi keluar kok pakai baju yang... 'minimalis' khusus buat kamu," goda Gisel dengan suara renyahnya yang bikin Dewa langsung melangkah seribu keluar dari kamar dengan jantung yang berdegup kencang.
Suasana di meja makan biasanya sunyi senyap, tapi malam ini, ada badai yang sedang berkecamuk di dalam diri Dewa. Ia duduk di kepala meja dengan kemeja putih yang kancing atasnya sengaja dibuka, mencoba mencari udara segar yang entah kenapa terasa menipis di rumahnya sendiri.
Gisel keluar dari dapur dengan riang, membawa mangkuk besar berisi sayur. Ia sudah berganti pakaian menjadi daster satin tipis berwarna pastel yang pas di tubuhnya. Rambutnya yang masih agak lembap mengeluarkan aroma white tea yang sangat kuat, memenuhi seisi ruangan.
Dewa langsung menunduk, pura-pura sangat tertarik dengan butiran nasi di piringnya. Pikirannya masih terpaku pada bayangan di kamar mandi tadi.
"Mas Dewa, kok nasinya cuma diaduk-aduk? Apa perlu aku suapin?" tanya Gisel dengan nada ceplas-ceplos yang membuat Dewa tersedak air putih yang baru saja diminumnya.
Uhuk! Uhuk!
Raka (17 thn) yang sedang makan dengan tenang langsung menatap ayahnya dengan dahi berkerut. "Papa kenapa? Kok mukanya merah banget? Sakit?"
"Nggak. Papa cuma... kepedesan," jawab Dewa singkat, suaranya parau. Ia bahkan tidak berani menatap Gisel.
Alya (16 thn) mendengus, matanya yang jutek melirik Gisel yang sedang tersenyum penuh kemenangan. "Pedes apanya? Nasi gorengnya aja nggak ada cabenya."
Gisel tertawa renyah, suara tawanya terdengar seperti melodi yang menggoda di telinga Dewa. "Mungkin Mas Dewa kepedesan liat aku yang terlalu hot ya, Mas?"
Dewa merasa tangannya gemetar saat memegang sendok. Ia mencoba bersikap sedingin mungkin, tapi tiap kali Gisel bergerak mendekat untuk menambah lauk di piringnya, Dewa secara otomatis memundurkan kursinya. Perbedaan tinggi badan mereka membuat Gisel harus sedikit membungkuk, dan wangi segar dari leher Gisel benar-benar membuat fokus Dewa hancur berantakan.
"Gisel, duduk dan makan dengan tenang," perintah Dewa, berusaha mengembalikan otoritasnya sebagai kepala rumah tangga, meski suaranya sedikit gemetar.
"Iya, iya, Mas Sayang. Galak banget sih, padahal tadi di kamar mandi kayaknya nggak segalak ini deh..." bisik Gisel, tapi cukup keras untuk didengar oleh Raka dan Alya.
Raka langsung meletakkan sendoknya dengan kasar. Matanya yang dingin menatap Dewa dan Gisel bergantian. "Tadi di kamar mandi ada apa?"
Dewa merasa jantungnya mau copot. Ia menatap Gisel dengan tatapan "diam-atau-kamu-saya-pecat", tapi Gisel malah mengedipkan mata padanya.
"Oh, itu... Tadi Mas Dewa bantuin benerin kran yang rusak. Iya kan, Mas?" Gisel menendang pelan kaki Dewa di bawah meja.
Dewa tersentak, hampir saja menjatuhkan gelasnya. "I-iya. Kran."
Dewa langsung berdiri, tidak sanggup lagi berada di sana. "Papa sudah kenyang. Papa ke ruang kerja dulu."
Ia melangkah pergi dengan sangat cepat, nyaris berlari. Raka menatap punggung ayahnya dengan curiga. "Papa aneh banget hari ini."
Gisel hanya tersenyum manis sambil menyuapi Digo (4 thn). "Papa kamu lagi belajar cara 'mencair', Raka. Sabar ya, bentar lagi juga jadi es krim."
Di ruang kerja, Dewa menyandarkan punggungnya di pintu yang sudah ia kunci rapat. Ia melepas kacamata bacanya dan menutup wajah dengan kedua tangan.
"Sial... aku benar-benar bisa gila kalau begini terus," gumamnya frustrasi, sementara bayangan Gisel di bawah shower kembali menari-nari di kepalanya.