NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 013

Pagi menyapa kediaman Winata dengan cahaya matahari yang menyelinap malu-malu di balik gorden abu-abu kamar Ziva. Suasananya begitu tenang, setidaknya sampai suara dentuman musik rock dari kamar sebelah—kamar Bang Abi—mulai menggetarkan dinding.

​Ziva mengerang, menarik bantal untuk menutupi telinganya. "Bang Abi beneran minta digebuk pakai raket tenis," gumamnya dengan suara parau khas bangun tidur.

​Dengan gerakan sangat pelan, Ziva bangkit. Ia duduk di pinggir tempat tidur selama lima menit hanya untuk mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.

Matanya melirik ponsel yang tergeletak di nakas. Masih mati. Ia sengaja tidak menyalakannya sejak semalam karena tidak siap menghadapi gempuran gosip atau pesan-pesan "sampah" lainnya.

​Setelah ritual mandi yang terasa lebih lama karena ia sempat melamun di bawah kucuran air hangat, Ziva keluar dengan penampilan yang sudah menjadi ciri khas barunya: seragam yang rapi, rambut panjang yang dikuncir kuda tinggi, dan wajah polos tanpa riasan berlebih. Ia merasa jauh lebih ringan tanpa beban foundation setebal satu inci.

"Pagi, Pa. Pagi, Manusia Berisik," sapa Ziva sambil menarik kursi di ruang berlebihan.

Baskara hanya tersenyum sambil melipat koran digitalnya. Sementara itu, Abian sedang sibuk mengoles selai kacang ke rotinya dengan semangat yang berlebihan.

​"Pagi, Adikku yang semalam pulang bareng Pangeran Es," ledek Abi dengan kerlingan mata nakal. "Gimana? Tidur nyenyak atau mimpiin knalpot motor sport?"

​"Nyenyak banget sampai suara musik lo tadi hampir bikin gue serangan jantung, Bang," sahut Ziva ketus sambil menyambar selembar roti.

"Eh, Ziv. Serius deh," Abi mencondongkan tubuhnya, suaranya mendadak rendah. "Cowok kemarin, tuh si Aksa itu... dia beneran anak Pak Erlangga kan? Gue baru inget kalau gue butuh lawan tanding basket di klub akhir pekan ini. Kayaknya dia tipe yang jago."

​Ziva tersedak rotinya. "Jangan macem-macem ya, Bang! Jangan bawa-bawa dia ke urusan aneh lo."

​"Lho, kan cuma ngajak basket. Siapa tau nanti dia sering main ke sini, Papa juga seneng kan dapet calon menantu yang bapaknya rekan bisnis?" Abi tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Ziva yang mendadak merah padam.

​"Abian, jangan ganggu adikmu pagi-pagi," tegur Baskara tenang, meski sorot matanya menunjukkan bahwa ia tidak keberatan dengan ide Abi.

​Ziva hanya bisa menghela napas pasrah. Hidup di tengah dua laki-laki ini memang ujian kesabaran paling nyata.

​Mobil Pak Jajang yang bannya sudah kembali mulus berhenti di depan gerbang SMA Pelita Bangsa tepat pukul 07:10. Ziva sengaja datang sedikit lebih awal agar bisa menyelinap ke kelas tanpa banyak perhatian. Namun, rencananya gagal total.

Begitu ia turun dari mobil, suasana parkiran yang baru mulai ramai itu mendadak hening sesaat sebelum bisikan-bisikan mulai menjalar seperti api.

"Tuh, orangnya dateng."

"Eh, beneran nggak pake bedak lagi ya dia sekarang? Malah cantik banget."

"Ssst, liat tuh... Reygan udah nungguin di depan mading."

Ziva menarik napas panjang, menguatkan mentalnya. Ia berjalan dengan langkah diseret—mode hemat energi aktif. Namun, baru saja ia melewati pos satpam, sesosok manusia dengan wajah frustrasi sudah menghadang jalannya.

...​Reygan....

​Matanya merah, seolah tidak tidur semalam. Dan benar saja, di sampingnya ada Liana yang tampak sangat tidak nyaman, terus-menerus memegang lengan baju Reygan seolah ingin menahannya.

"Ziva, lo blokir nomor gue?!" suara Reygan terdengar tertahan, penuh emosi yang meluap.

​Ziva berhenti, menatap Reygan dengan tatapan paling datar yang pernah ada dalam sejarah. "Iya. Kenapa? Masih kurang jelas pesan gue semalam?"

​"Lo nggak bisa gini, Ziv! Kita punya urusan kelompok! Dan soal Aksa... lo beneran mau serendah itu cuma buat bikin gue cemburu?" Reygan melangkah maju, memperpendek jarak.

​Ziva tidak mundur. Ia justru sedikit mencondongkan kepalanya, menatap Reygan tepat di matanya. "Cemburu? Rey, kalau lo merasa cemburu, itu masalah hati lo, bukan urusan gue. Dan soal tugas kelompok..." Ziva melirik Liana yang tertunduk. "Kirim aja bagian gue lewat Liana. Dia punya nomor gue dan dia nggak berisik kayak lo."

"Tapi, Kak Ziva—" Liana mencoba bicara, namun suaranya tenggelam oleh deru motor yang sangat familiar.

...​VROOOOM!...

​Motor sport hitam itu masuk ke area parkir dengan gaya yang sangat tenang namun mendominasi. Aksa turun dari motornya, melepas helm, dan seolah memiliki radar khusus, matanya langsung tertuju pada kerumunan kecil di depan koridor.

​Aksa berjalan mendekat. Ia tidak lari, ia tidak terburu-buru. Ia hanya berjalan dengan tangan di saku celana, tas punggungnya hanya disampirkan di satu bahu. Auranya begitu dingin sampai murid-murid di sekitarnya refleks mundur memberi jalan.

​Aksa berhenti tepat di samping Ziva. Ia tidak menatap Reygan. Ia hanya menatap Ziva yang wajahnya tampak sangat lelah menghadapi pagi yang berisik ini.

​"Udah sarapan?" tanya Aksa datar. Pertanyaan yang sangat tidak nyambung dengan ketegangan yang ada, namun sukses membungkam semua orang.

​Ziva mengerjapkan mata. "Udah. Roti selai kacang. Kenapa?"

​"Bagus," sahut Aksa. Ia kemudian melirik Reygan sekilas, hanya satu detik, tapi tatapannya seolah mengatakan bahwa Reygan hanyalah debu yang tidak sengaja menempel di sepatu mahalnya.

​Aksa mengulurkan tangan, menarik tudung hoodie Ziva agar menutupi kepala gadis itu. "Ayo masuk. Di sini terlalu berisik."

​Tanpa menunggu balasan, Aksa mulai berjalan mendahului, dan entah kenapa, kaki Ziva bergerak mengikuti langkah lebar cowok itu, meninggalkan Reygan yang mematung dengan kepalan tangan yang gemetar hebat di bawah tatapan kasihan dari murid-murid lain.

Ziva berjalan mengekor di belakang Aksa, merasakan tatapan ratusan pasang mata yang menusuk punggungnya. Tudung hoodie yang ditarik Aksa tadi memang membantu menyembunyikan wajahnya yang memerah, tapi tidak bisa meredam suara bisikan yang menjalar di sepanjang koridor.

​Di lantai dua, tepat di depan balkon kelas XII, empat sekawan Black Eagle sedang berdiri berjejer layaknya juri ajang pencarian bakat. Kenan, Vino, Daren, dan Bram memperhatikan pemandangan di bawah dengan ekspresi yang beragam.

​"Gila, itu si Bos beneran narik tudung hoodie cewek?" Vino menggosok matanya, tidak percaya. "Aksa Erlangga yang bahkan ogah nyentuh benda yang jatuh ke lantai, sekarang malah 'nyeret' Ziva ke kelas?"

Bram terkekeh sambil mengunyah permen karetnya. "Bukan diseret, Vin. Itu namanya dilindungi. Liat tuh si Reygan, mukanya udah kayak kepiting rebus kena air aki. Mateng!"

Daren, yang merupakan sepupu Reygan, hanya bisa menghela napas sambil menyandarkan punggungnya ke pilar. "Gue kasihan sama Reygan, tapi jujur, Ziva yang sekarang emang beda. Biasanya jam segini dia udah jerit-jerit manggil nama sepupu gue itu. Sekarang? Dia malah kayak pengen ngilang ditelan bumi."

​"Baguslah," sahut Kenan sambil melipat tangan di dada. "Ziva yang dulu itu berisik. Ziva yang sekarang... setidaknya dia nggak bikin kuping kita pengen copot setiap istirahat."

Sementara itu, di lantai bawah, Manda dan Tika masih mematung di dekat mading, menatap punggung Ziva yang menghilang di balik belokan tangga menuju kelas bersama Aksa.

"Tik, cubit gue sekarang," pinta Manda dengan wajah linglung.

​Nyut!

​"Aduh! Sakit, bego!" seru Manda sambil mengusap lengannya.

​"Lo yang minta. Jadi, itu beneran Ziva sahabat kita?" Tika bertanya dengan nada horor. "Dia cuek banget sama Reygan. Padahal biasanya kalau liat Reygan berdiri sama Liana, dia udah jambak-jambakan minimal adu mulut sampai satpam dateng."

Manda mengangguk setuju. "Gue rasa Ziva kena amnesia parsial yang bikin dia jadi pinter dan mager secara bersamaan. Tapi jujur, gue lebih suka Ziva yang ini. Lebih berwibawa. Liat tuh, Aksa Erlangga aja sampe turun tangan buat jadi tameng."

Di sisi lain koridor yang mulai sepi, Liana masih berdiri di samping Reygan yang masih emosi. Namun, ada yang berbeda dari tatapan Liana. Jika di dalam novel yang Zura baca, Liana digambarkan sebagai gadis lemah lembut yang selalu merasa tertindas dan butuh perlindungan Reygan, kenyataannya jauh dari itu.

Liana menarik napas panjang, menatap Reygan dengan tatapan yang tidak lagi penuh kekaguman, melainkan... kelelahan.

​"Rey, cukup," ucap Liana dingin. Suaranya tidak lagi gemetar. "Lo malu-maluin gue. Semua orang liatin kita seolah-olah gue ini perusak hubungan lo sama Kak Ziva, padahal dari awal lo yang bilang lo nggak punya perasaan apa-apa sama dia."

Reygan menoleh, kaget mendengar nada bicara Liana. "Li, gue cuma mau dia tanggung jawab sama tugas kelompok—"

"Bohong," potong Liana telak. "Lo cuma nggak terima karena ego lo terluka. Lo nggak tahan liat Kak Ziva nggak lagi liat lo sebagai pusat dunianya. Gue capek, Rey. Kalau lo masih mau bahas tugas kelompok cuma buat cari gara-gara sama dia, gue keluar dari kelompok ini."

Liana berbalik dan berjalan pergi dengan langkah tegas, meninggalkan Reygan yang kini benar-benar sendirian di tengah koridor. Di balik wajah "protagonis" yang manis itu, Liana sebenarnya adalah gadis yang cukup rasional dan mulai muak dengan drama cinta segitiga yang dipaksakan oleh keadaan.

Aksa mengantar Ziva tepat sampai di depan pintu kelas. Ia berhenti, melepaskan pegangannya pada tudung hoodie Ziva.

​"Masuk. Jangan tidur pas jam pertama, gurunya galak," ucap Aksa datar.

​Ziva mendongak, memperbaiki tudung kepalanya yang berantakan. "Tahu dari mana guru jam pertama gue galak?"

​"Jadwal kelas XI gue hafal," sahut Aksa pendek. Sebelum Ziva sempat bertanya kenapa dia bisa hafal, Aksa sudah berbalik dan berjalan menuju tangga lantai dua, tempat teman-temannya sudah menunggu dengan senyum-senyum penuh arti.

Ziva masuk ke kelas, langsung disambut oleh tatapan seisi ruangan yang seolah sedang menonton film horor di pagi hari. Ia mengabaikan mereka semua, berjalan menuju meja paling belakang, dan langsung menelungkupkan kepalanya di atas meja.

​"Dunia ini... beneran berisik," gumam Ziva pelan.

Beberapa menit kemudian, Liana masuk ke kelas. Ia tidak menuju bangku depannya, melainkan berjalan lurus ke arah meja Ziva di belakang. Ia mengetuk meja kayu itu pelan.

​Ziva mendongak, matanya yang sedikit mengantuk menatap Liana. "Apa lagi, Li? Gue udah bilang drafnya kirim aja, entar gue baca."

Liana menggeleng. Ia menarik kursi di sebelah Ziva yang kosong. "Kak, maaf soal Reygan tadi. Aku cuma mau bilang... kalau Kakak mau ngerjain tugasnya di perpustakaan nanti istirahat, kita berdua aja nggak apa-apa. Nggak usah ajak Reygan. Aku juga males liat dia emosi terus."

​Ziva tertegun. Ia menatap Liana lekat-lekat. Lho, kok beda sama di novel? Bukannya Liana seharusnya nempel terus sama Reygan dan nangis kalau disinisin dikit?

Ziva tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang jarang ia berikan. "Oke. Ide bagus. Jam istirahat di perpustakaan pojok kanan ya. Di situ adem buat... eh, maksud gue tenang buat diskusi."

​Liana mengangguk mantap, lalu kembali ke bangkunya. Ziva kembali menelungkupkan kepalanya, tapi kali ini dengan sedikit rasa penasaran. Sepertinya, transmigrasi ini tidak hanya mengubah nasibnya, tapi juga mulai menggeser kepribadian orang-orang di sekitarnya.

​"Ternyata si protagonis aslinya asyik juga," batin Ziva sebelum akhirnya benar-benar terlelap saat guru pertama masuk.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!