Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.
Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Tawaran
Collins kemudian mengantarkan Aida sampai ke depan pagar rumahnya. Saat wanita itu turun, Collins merasa bersalah. "Eh, maaf ya, Mbak, tadi aku agak lancang." Padahal sepanjang jalan Collins masih menahan kesal.
Aida merapikan kerudung segitiganya sebelum akhirnya menjawab. "Bang ... jangan seperti itu. Di sekolah, Bang. Kami sebagai guru menghindari pertikaian agar murid tidak meniru." Ia menasehati dengan tenang, walau wajahnya tampak khawatir.
"Eh, iya. Maaf." Seketika Collins menyesal. Amarahnya pun reda.
"Lain kali, jaga emosi."
"Iya, maaf."
Aida mengeluarkan dompetnya. "Segini cukup gak?" Ia menyodorkan dua lembar uang berwarna ungu.
"Eh, sebenarnya tadi Saya lagi cari Mbak, bukan niat ngojek." Collins mendorong pemberian Aida padanya.
"Apa?" Wajah cantik itu tertegun. Bola matanya yang berwarna abu-abu tua, tampak indah. Entah kenapa, kini Collins bisa memperhatikan ekspresi wajah cantik Aida dari dekat. Begitu sangat menenangkan.
"Eh, Saya mau kasih nomor telepon ponsel Saya yang baru, Mbak, sebenarnya."
"Oh, begitu? Tapi tetap saja, Saya sudah menumpang motor Abang. Berarti Saya sudah pakai jasa Abang." Aida berkeras sambil menyodorkan tangannya ke depan.
"Tapi Saya memang hanya mencari Mbak untuk memberi tahu nomor telepon Saya, kok. Setelah itu mau balik ke toko. Searah, 'kan?" Collins kembali mendorong tangan Aida menolak pemberian.
Wanita itu terlihat bingung. "Ya udah."
Namun ketika Aida menarik tangannya, Collins malah meraih tangan sang wanita dengan cepat hingga Aida terkejut.
"Eh, bagaimana kalau Mbak naik motor Saya saja untuk pulang-pergi ke sekolah?"
"Mmh?" Aida bingung antara pertanyaan dan tangan Collins yang tengah menggenggam tangannya. Ia lebih mendahulukan tangannya yang ia tarik kembali hingga pria itu sadar apa yang terjadi.
"Eh, maaf." Collins melepaskan.
"Maksudnya, Abang ngojek?"
"Iya. Nanti aku kasih diskon bila jadi pelanggan penuh sebulan." Tawar Collins. Gara-gara kejadian tadi, ia merasa melihat peluang ini agar bisa membuatnya bersama dengan Aida, walau tidak menjanjikan untuk bisa dekat. Collins tersenyum dengan ide briliannya yang baru saja datang.
"Mmh ...." Aida tampak ragu. "Apa tidak mengganggu pekerjaan Abang yang lain?"
"Aku hanya menemani Babe nungguin toko. Selebihnya, gak ada kerjaan."
"Berarti bayarnya nanti perbulan?" Mata indah itu bergerak ingin tahu.
"Ya nanti disesuaikan dengan hari gajian Mbak aja, gak papa."
"Oh ... mmh." Wanita itu menundukkan kepala, berpikir sejenak.
"Bagaimana? Daripada nanti digangguin lagi sama murid-murid? 'Kan katanya berusaha menghindari pertikaian?" Collins kembali membujuk.
"Ya udah. Uang ini Saya simpan dulu. Nanti pas gajian Saya hitung lagi."
Collins terlihat senang. Senyum terukir di wajah. Sebuah kesempatan datang untuk bisa menemani hari-hari wanita itu walau hanya sebatas menjadi tukang ojek. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Mereka kemudian bertukar nomor telepon.
****
"Be!" Collins turun dari motor dan melepas helm. Ia mendatangi babe yang sendirian berada di toko. "Aku boleh pinjam motornya gak, Be, buat ngojek?"
"Apa?" Pria paruh baya itu menatap Collins. Namun kemudian ia tersenyum sambil menepuk cepat bahu pria muda yang mulai akrab dengannya itu. "Lu, mau nganterin ustadzah Aida lagi? Iya pan?"
Collins tersenyum di kulum. "Beneran ngojek, Be."
"Sama ustadzah Aida?"
Collins tak menjawab dengan senyum yang mulai lebar.
"Ah, Babe tau akal bulus, lu!" Babe ikut tersenyum. "Pin-ter, lu!"
Keduanya tertawa.
"Asal jaga nama baik babe ya. Inget, jaga harga diri perempuan. Terus, jangan lupa lu anter jemput Mpok lu juga." Babe mengingatkan.
"Iya, Be ... siap!"
***
Pagi itu Collins sudah mandi dan berpakaian. Ia memakai jaket jeans dan melewati meja makan. Babe hanya melihat Collins menghampiri lalu mencium punggung tangannya.
"Assalamualaikum, Be," sahut Collins.
"Waalaikumsalam."
"Bara! Tumben pagi-pagi. Mau ke mane lu?" Enyak yang tengah menyiapkan sarapan, heran melihat kemunculan Collins yang bangun pagi sekali hendak berangkat. "Kamu ngak nyarap dulu?"
"Ntar, Nyak. Nganter orang dulu pagi-pagi, karena hari ini Bara ngojek, Nyak." Collins menerangkan.
"Oh ... ngojek lu?"
"Iya, Nyak. Ntar pulang, Bara sarapan." Collins meraih tangan enyak dan menciumnya. "Berangkat, Nyak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ipah yang keluar dari kamar mandi melihat heran pada Collins yang sudah rapi. "Tumben pagi-pagi. Mau ke mane lu?"
"Ngojek!" Babe dan enyak menyahut bersamaan.
Ipah terkejut melihat kekompakan kedua orang tuanya.
****
Motor Collins telah sampai. Ternyata Aida tengah menunggu di beranda. Sebelum pria itu membunyikan klakson, sang wanita berdiri dan melangkah menghampiri.
"Mbak hapal motor Saya?" tanya Collins heran ketika Aida membuka pagar.
"Iya. Satu-satunya suara motor yang mendekat, dan Saya hafal suara mesinnya." Wanita itu menutup pagar.
"Oh."
Terlihat di depan rumah, Aning keluar dari pintu depan. Ia mengunci pintu seraya terkejut melihat kedatangan Collins. Ia tidak menyangka Aida dijemput pria ganteng itu.
Aida bergerak maju sampai tongkatnya menyentuh motor. Ia mencari dudukan di belakang dengan meraba-raba dan kemudian naik.
"Mbak, itu saudaranya ya," tanya Collins setengah berbisik.
"Siapa? Oh, Aning. Dia sepupuku. Dia kerja di pabrik. Dia juga berangkat kerja pagi."
"Oh." Collins mengangguk. "Sudah, Mbak?"
"Sudah." Aida berpegang pada jaket Collins dan motor bergerak ke jalan.
Dengan motor, jarak tempuh ke sekolah jadi lebih cepat dibanding dengan angkot karena sebentar saja Aida sudah sampai. "Terima kasih ya."
"Apa harus berterima kasih? Saya kan hanya tukang ojek, Mbak," sahut Collins memperhatikan Aida turun.
"Kalau yang Saya rasakan. Ke sekolah jadi lebih cepat, jadi Saya gak terburu-buru untuk mengajar. Jadi Saya berterima kasih untuk itu." Senyum di kulum Aida terlihat manis.
"Oh." Collins menatap Aida yang sudah turun. "Tapi, Mbak apa akan berterima kasih pada Saya setiap hari?"
"Eh?"
"Rasanya gak mungkin 'kan? Saya 'kan dibayar."
Aida terkejut mendengar pernyataan Collins. Sebelum ia sempat menjawab, motor pria itu telah pergi menjauh.
****
"Haahh ..!!" Pria bule paruh baya itu berteriak karena begitu emosi, hingga mengobrak-abrik barang-barang yang berada di atas meja dengan kasar. Kertas melayang dan beberapa benda jatuh, lalu pecah di lantai. Matanya memerah penuh dengan amarah. Urat-urat di lehernya menonjol karena teriakannya yang begitu keras.
Dua orang pria berjas hitam yang berdiri di hadapan menunduk takut. "Ma-af ... Tuan," ucap salah satu dari mereka hampir menahan napas.
Seorang pria yang memakai jaket hitam duduk di depan Hardyn. Ia juga menundukkan kepala, tak berani bersuara.
"Tak bisakah kalian menemukan satu orang ini saja, hah!? Betapa boddohnya kalian itu, ya!" Ayah Collins memaki.
"Seperti yang sudah Saya perkirakan, Tuan. Anak Anda pasti pergi ke luar kota, tapi Saya tidak tahu tepatnya di mana. Namun Saya rasa tidak jauh, Tuan," sahut pria yang tengah duduk di kursi.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Amarah Hardyn mulai mereda. Ia menatap dengan mata elangnya, pada pria di hadapan.
"Begini. Bukankah dia belum pernah keluar kota selain keluar negeri, Tuan? Kalau masih tinggal di dalam kota, pasti ketemu. Anak Anda tahu itu. Kalau naik pesawat, pasti ketahuan tapi ponselnya dimatikan tak lama setelah dia kabur. Ini menandakan ia mungkin kabur ke pinggir kota, Tuan."
"Tapi Collins tak mengenal siapa pun di sana. Temannya kebanyakan tinggal di luar negeri. Teman yang di Jakarta, apa mungkin salah satu dari mereka menyembunyikannya?" tanya pria bule itu masih frustasi.
Bersambung ....