Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selidik Sana Sini
Dua arwah gabut itu pun menuju RS Bhayangkara dan bertemu dengan seorang ( atau sesuatu? ) suster ngesot yang berada di depan ruang operasi. Suster itu menatap dingin ke Mbak Susi dan Tole.
"Kalian bukan arwah sini. Mau apa kalian kemari?" tanya Suster Ngesot itu. "Kalian mau ambil teritorial aku?"
"Eh bukan Sus. Kami dari Polda. Sebenarnya kami sedang membantu tim divisi kasus dingin soal kematian pasien-pasien dari dokter Westin. Kita tidak mau ambil teritorial kamu karena kita sudah punya teritorial sendiri," ucap Mbak Susi.
"Dokter Westin katamu? Apa masalahnya?" Suster Ngesot itu melihat Mbak Susi dan Tole bergantian.
"Lima pasiennya meninggal setahun lalu. Lima itu termasuk hal yang tidak wajar kan?" tanya Tole.
Suster Ngesot itu tersenyum smirk. "Dokter itu lagi. Kalian dapat informasi dari siapa?"
"Dokter Rahmat," jawab Mbak Susi.
"Orangnya polos dan memakai kacamata ... Itu?" Suster Ngesot itu menunjuk ke arah Dokter Rahmat yang sedang berdiskusi dengan seorang perawat.
"Benar!"
Suster Ngesot mengangguk. "Dia memang dokter yang lurus. Baru setahun disini tapi sudah membuat banyak orang suka. Dia masih residen tapi sudah merasa ada yang janggal."
"Jadi ... Memang Dokter Westin melakukan sesuatu?" tanya Mbak Susi dengan wajah kepo.
Suster Ngesot hanya tersenyum smirk.
***
Di sebuah rumah pasien bernama Anton
AKP Dean Thomas datang bersama dengan Iptu Rayyan ke sebuah rumah sederhana di daerah Klender. Berdasarkan catatan yang diberikan dokter Rahmat, mereka pun mendatangi pasien Anton yang meninggal awal tahun lalu.
"Operasi hernia," ucap Iptu Rayyan, "yang seharusnya tidak fatal kan?"
"Seharusnya." AKP Dean Thomas berjalan ke pagar lalu memencet bel.
Tak lama keluar seorang wanita paruh baya dan dia merasa bingung melihat dua polisi di depan pagar. Sedikit tergopoh, wanita itu membuka pintu pagarnya.
"Selamat pagi Bu Elok. Perkenalkan saya AKP Dean Thomas dan ini rekan saya Iptu Rayyan. Kami ingin berbincang dengan anda tentang saudara Anton," sapa AKP Dean Thomas.
Elok menatap bingung ke kedua polisi muda itu. "Tapi ... anak saya sudah meninggal pak. Apa dia melakukan kesalahan?" tanyanya dengan nada cemas.
"Tidak Bu. Kami hanya ingin memastikan sesuatu dan ini penting. Bolehkah kami masuk dan kita berbicara di dalam?" senyum AKP Dean Thomas.
Elok melihat dua polisi ganteng itu dan merasa bahwa mereka polisi yang baik. Jarang kan polisi mukanya bersih dan ganteng begini.
"Boleh pak ...." Elok membuka gembok pagar rumahnya dan mempersilahkan kedua polisi itu masuk. Elok juga melihat sebuah mobil Nissan Magnite tahun lama terparkir di depan rumah. Dia yakin itu adalah mobil dua polisi itu. "Mari, silakan masuk bapak-bapak."
"Terima kasih Bu Elok." AKP Dean Thomas dan Iptu Rayyan melepaskan sepatu mereka lalu masuk dengan mengenakan kaus kaki hitam. Mereka melihat rumah sederhana itu dengan seksama. Perabotan rumah Elok tampak simpel tapi semuanya pas di rumah yang luasnya sekitar 100m² diatas tanah 120m².
"Sebentar ya bapak-bapak." Elok masuk ke dalam dan AKP Dean Thomas melihat foto-foto Anton bersama Elok dan seorang pria yang lebih tua. Mereka menduga itu pasti ayah Anton.
"Rupanya dia anak Trisakti," bisik AKP Dean Thomas saat melihat foto wisuda Anton. "Lalu bekerja di dinas PU."
"Sepertinya dia anak tunggal bang ...." Iptu Rayyan melihat tidak ada anak lain. "Macam di rumahnya Oom Valentino karena anaknya cuma mas Kaivan ya fotonya cuma dia saja. Untung ganteng."
AKP Dean Thomas melirik tajam ke Iptu Rayyan. "Lu belok?"
"Belok kemana bang? Wong kita duduk disini, di rumah orang, nggak naik mobil," jawab Iptu Rayyan polos.
AKP Dean Thomas menggeleng sebal. "Lu tuh habis nikah, malah makin ngaco!"
"Jeng Nala mau nunda punya anak dulu, bang. Dia mau ambil magister ilmu kedokteran gigi. Jadi mau balik ke UNPAD lagi. Aku kan bingung ya. Satu sisi aku senang istriku sekolah tinggi tapi kok aku kalah sama peruntuan ( untu \= gigi bahasa Jawa )." Iptu Rayyan menghela napas panjang.
"Lho, dik Nala mau ambil bidang apa?"
"Apa itu ... Smart and Greenpeace eh ... Green dentistry. Aku nggak paham. Dia juga masih galau mau ambil forensik di Trisakti. Mbuh Wis, karepe Jeng Nala. Sing penting dia bahagia. Bukankah kalau istri bahagia, rejeki ngalir terus ya kan bang?" jawab Iptu Rayyan.
"Kalau dik Nala jadi ambil magister, nanti aku bilang kalau dia tenang saja. Suaminya dalam pengawasan ketat aku dan bang Jarot!" cengir AKP Dean Thomas usil.
"Ya kali aku mau nakal sama Jeng Nala. Masa nggak tahu Jakarta itu sempit bagi keluarga klan Pratomo. Nggolek molo kalau aku bikin ulah! Bisa-bisa aku dilempar dari gedung PRC sama pak Quinn. Bahaya, bisa saingan sama arwah di ruang kerja kita bang!" sungut Iptu Rayyan.
"Kan lumayan, kamu kalau jadi arwah gentayangan, bisa larang Tole buat nyolong terus," balas AKP Dean Thomas tanpa beban.
"Innalilahi, serius doain aku metong bang? Teganya ...."
Mereka pun berhenti mengobrol ketika Elok keluar bersama dengan seorang asisten rumah tangga yang membawa nampan berisikan tiga cangkir teh dan sepiring camilan.
"Duh, kok repot-repot Bu Elok," ucap AKP Dean Thomas basa basi.
"Nggak papa pak." Elok pun duduk dan asisten rumah tangga itu pun mengundurkan diri masuk ke dalam rumah. "Silakan diminum bapak-bapak."
"Terima kasih Bu." AKP Dean Thomas menyikut pelan tangan Iptu Rayyan. Kedua pria itu pun mengambil cangkir teh itu dan menyesapnya.
"Jadi, bapak-bapak kemari ada keperluan apa ya?" tanya Elok setelah AKP Dean Thomas dan Iptu Rayyan meletakkan cangkir nya diatas piring kecil.
"Begini Bu. Kami sedang menyelidiki beberapa kasus lama berdasarkan laporan anonymous atau anonim bahwa ada malpraktek yang terjadi. Dan ... kami membuat log atau catatan bahwa ada beberapa pasien yang meninggal tidak lama usai operasi padahal bisa dibilang, itu bukan operasi yang rumit. Seperti saudara Anton yang operasi hernia. Jarang terjadi komplikasi kan? Kami juga sudah berdiskusi dengan dokter ahli yang menyatakan ini operasi aman, resiko komplikasi kecil dan memang kemungkinan kambuh bisa terjadi ...."
Elok terkesiap. "Ya Tuhan ... Bapak-bapak mengira bahwa kematian anak saya itu termasuk kematian tidak wajar?"
"Apakah ibu merasakan sesuatu? Atau menemukan sesuatu?" tanya Iptu Rayyan.
"Saya ... hanya punya rasa curiga. Bagaimana bisa operasi hernia bisa ke serangan jantung? Anton tidak punya riwayat jantung dan rutin medical check up! Semua bagus! Saya masih ada datanya sebulan sebelum operasi!" jawab Elok emosi.
"Bisa kita lihat?" tanya AKP Dean Thomas.
"Sebentar pak!" Elok pun masuk ke dalam ruang tengah.
"Setahu aku, hernia memang operasi yang aman. Kecuali ...."
"Ada yang membuatnya tidak aman!" seru kedua pria itu.
***
Yuhuuuu up Siang yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
pntsn mbilnya smp ringsek,yg nmpel ada 10.....tp bgus sih,biar tu pnjht nrima akibtnya....abs ni siap2 bbo d sel pula.....