NovelToon NovelToon
Love Unscripted

Love Unscripted

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: CieMey

Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.

Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka

Vanya membuat perjanjian dengan Nana. Vanya akan memberikan nomor Desya besok pagi dan Nana akan membelikan lima buku baru yang Vanya inginkan. 

Pagi harinya Nana menjemput Vanya dengan wajah yang gembira. Vanya yang melihat senyum Nana itu bukannya senang ia malah tidak suka. 

Dibalik senyum Nana yang sumringah ada hati yang sedang terluka saat ini. Tapi tak bisa di pungkiri Vanya juga ikut bahagia melihat Nana bahagia, apalagi Vanya tau kalau Desya juga Pasti akan sangat bahagia jika bersama Nana. 

Vanya berjalan menghampiri Nana yang sudah menyalahkan motornya. 

"Van, gak lupakan?" Kata Nana ketika Vanya sudah berada di depan nya.

"Iya ntar aja di sekolah, kalo sekarang nanti telat" jawab Vanya dengan lesu.

"Oke deh" sangat berbeda dengan Vanya, Nana begitu bersemangat hari ini, sampai sampai ia tidak bisa merasakan suasana hati Vanya yang sedang tidak baik.

Selama perjalanan tak ada yang mengeluarkan suara. Sampai mereka tiba di parkiran sekolah, Nana langsung meminta Vanya menepati janjinya. Vanya yang sudah kesal, dengan sangat berat hati memberikan nomor Desya, yang sebelumnya sudah Vanya tanyakan dulu kepada Desya.

Berbanding terbalik dengan Vanya, Nana menerimanya dengan sangat senang. Nana berjalan menuju kelas dengan senyum yang merekah di wajah nya yang dingin, tanpa ia sadari ia sudah berjalan mendahului Vanya. Vanya yang kesal dengan sikap Nana memilih untuk pergi ke kantin terlebih dahulu.

Sesampainya di kantin Vanya melihat Irgi yang sedang makan sendirian. Dengan wajah yang di tekuk Vanya menghampiri Irgi dan langsung mengoceh tidak jelas. Irgi yang terkejut dengan kedatangan Vanya hampir saja tersedak. 

"Kenapa sih Lo Van, dateng dateng marah marah bikin kaget orang aja. Kalo gw keselek trus gw mati gimana?" Oceh Irgi.

Vanya mengerucutkan bibirnya, ia tahu ia salah tapi seharusnya Irgi menyalahkan Nana bukan menyalahkannya.

"Iya maaf" kata Vanya dengan sangat Pelan sambil menggoyang goyangkan kakinya. 

Saat ini tingkah laku Vanya sangat mirip dengan Farida dan sejujurnya itu membuat Irgi kesal melihatnya.

"Lo kenapa sih dateng dateng kaya orang kesetanan gitu"

"Kesel gue sam-" Vanya menghentikan ucapannya. Hampir saja ia keceplosan, jika Vanya bilang ke Irgi saat ini ia sedang kesal dengan Nana, bisa bisa Irgi tau tentang perasaannya untuk Nana dan Vanya tak ingin itu terjadi.

"Sama siapa?" Kata Irgi sambil melanjutkan makannya.

"Sama orang rumah gue" jawab Vanya yang sepenuhnya berbohong.

"Oalah... Yaudah Sono makan dari pada Lo marah marah, dikit lagi masuk" 

Vanya berjalan membeli beberapa gorengan tempe dan memesan es teh manis. 

Bel masuk berbunyi. Vanya dan Irgi bergegas menuju kelas, Vanya yang baru saja aja masuk langsung di sambut tatapan sinis dari Nana dan Farida. Vanya mengerti mengapa Farida memandangnya sinis tapi untuk Nana, Vanya tidak terima dengan tatapan sinis Nana. Seharusnya ia lah yang memandang sinis Nana, Nana yang telah meninggalkan nya.

"APA?" Kata Vanya melihat tatapan sinis dari Nana. Ia sama sekali tidak peduli  dengan tatapan sinis dari Farida dan Nana.

"Nggak" jawab Nana sambil membuang muka. 

Vanya diam tidak peduli dengan Nana. Selama jam pelajaran berlangsung, tak ada satupun yang mengeluarkan suara. 

Bel istirahat berbunyi. Farida keluar kelas lebih dulu, Vanya tau Farida sedang kesal dengannya tapi ia tidak berniat sedikitpun untuk meminta maaf, sama hal nya dengan Nana yang keluar kelas tanpa mengajak Vanya. 

Vanya terlihat seolah olah ia tidak peduli dengan Nana dan Farida, tapi sejujurnya Vanya merasa sangat bersalah. ia ingin sekali meminta maaf tapi entah mengapa hati dan pikirannya tidak sejalan. 

Vanya memilih diam di kelas. Ia tidak tahu harus berbuat seperti apa. Vanya memilih untuk memejamkan mata dan mencoba menenangkan pikirannya, sampai sesuatu yang tak pernah ingin Vanya dengar pun terdengar di telinganya.

Sesuatu yang membuat Vanya merubah pikiran nya tentang Farida dan Nana. Sesuatu yang benar benar menyakitkan bagi Vanya. Mungkin orang lain yang mendengarnya menganggap itu adalah hal yang sepele, tapi entah mengapa itu sangat menyakitkan bagi Vanya.

"Eh tadi gue ngeliat Nana lagi jalan bareng sama Farida, gue kira Nana lagi gebet Vanya ternyata die nge gebet Farida dengan cara deketin Vanya" kata Tiara teman satu kelas Vanya yang sangat sangat menyebalkan bagi Vanya. 

"Masa sih, tapi kalo beneran keren juga Nana" kata Rania teman sebangku Tiara, yang tak kalah menyebalkan. 

"Iya" Jawab Tiara dengan sangat antusias. 

Sedetik kemudian Vanya menegakkan kepalanya, menatap tajam kearah dua orang centil di sebelah nya. 

"Lo berdua kalo ga tau apa apa mending diem aja bisa kan!!" Vanya yang tak mampu lagi menahan emosinya akhirnya memilih untuk melupakan nya. 

"Ga jel-" Tiara ingin menjawab perkataan Vanya tadi, namun sayangnya Vanya lebih cepat memotong perkataannya. 

"Gue sama Nana ga ada hubungan apa apa, kalo die mau pacaran sama cewek lain pun gue ga peduli" kata Vanya dan langsung meninggalkan kelas.

Vanya ingin menangis saat ini, tapi ia mencoba menahan tangisnya. Vanya berjalan menuju perpustakaan, hanya disanalah Vanya bisa merasakan ketenangan. 

Vanya menghubungi Irgi, ia meminta Irgi untuk memberitahu nya jika ada guru yang masuk kekelas. Tak butuh waktu lama bagi Vanya untuk mendapatkan jawaban dari Irgi, kabar gembira yang Irgi sampaikan cukup membuat Vanya sedikit lebih tenang.

...☘️☘️☘️...

"Gi... Kalo ada guru bilang gue ya" Irgi membaca pesan dari Vanya tepat saat ia melihat Nana dan Farida berjalan kearah bangku sambil membawa mangkuk bakso dan segelas es teh. 

Irgi yang sudah merasakan sesuatu yang tidak beres dengan teman temannya sejak tadi pagi, sudah tidak kaget dengan hal ini. 

"Iya Van, tenang aja guru mau rapat kok tadi gue dikasih tau pak Yana kita bakal pulang cepet hari ini" kata Irgi yang mencoba menenangkan Vanya. 

"Thanks Gi"

"Lo dimana? Udah makan blom?" Kata Irgi yang penasaran dengan keadaan Vanya, karena ia tidak melihat Vanya sedari tadi. 

Tak ada balasan dari Vanya. Sebenarnya tak perlu Vanya memberitahu keberadaan nya pun Irgi sudah mengetahui keberadaan Vanya, ia sangat mengenal Vanya bahkan melebihi Nana.

1
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
gempi
b
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!