Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Belum Mau Berpisah”
Nayla langsung menatapnya, keningnya berkerut tajam.
“Ini bukan tentang uang, Kak Zain,” ucapnya tegas, tanpa mengalihkan pandangan.
Ia menarik napas pelan.
“Ini tentang seorang anak… yang butuh cinta dariku.”
“Dan itu bukan sesuatu yang bisa diganti dengan apa pun.”
Zain terdiam cukup lama.
“Nay… aku juga butuh cinta dari kamu.”
Nayla memutar bola matanya, sinis.
“Aku pernah dengar dari seseorang… cinta pria itu yang paling dangkal.”
Ia tersenyum tipis, tapi tanpa kehangatan.
“Cinta yang suatu saat nanti… akan memudar.”
“Tapi aku beda, Nay,” ucap Zain meyakinkan.
Nayla menggeleng pelan.
“Semua laki-laki juga bilang begitu, Kak Zain. Di awal.”
“Kata-kata manis, janji manis…”
Ia menatap ke depan, tatapannya dingin.
“Semua itu nggak bisa dipercaya.”
“Laki-laki cuma mau menenangkan… atau karena targetnya belum didapat.”
“Siapa sih yang pernah nyakitin kamu, Nay?”
Zain melirik sekilas, nada suaranya bercampur penasaran dan sedikit kesal.
“Aku jadi kena getahnya.”
“Banyak,” jawab Nayla singkat.
Zain mengernyit, kaget.
“Hah? Nay, seriusan?”
Ia sempat terdiam, lalu melanjutkan dengan nada tak percaya—
“Aku pikir kamu nggak punya mantan…”
Nayla menatapnya heran.
“Kak Zain tahu dari mana aku nggak punya mantan?” tanyanya penasaran.
Anjir… keceplosan, batin Zain.
Ia berdeham pelan, berusaha tetap terlihat santai.
“Yah… dari muka kamu lah,” ucapnya tenang.
“Hah? What?” Nayla melongo.
“Emang sekentara itu ya?”
Zain menahan senyum.
“Iya lah. Mukamu itu… muka-muka jomblo.”
“Enak saja!” balas Nayla cepat.
“Cuma di mata Kak Zain aku begini.”
Ia menyilangkan tangan, sedikit kesal.
“Di mata orang lain… dikira pacarku itu crazy rich tahu.”
“Hahaha, masa sih, Nay?”
“Kayaknya orang yang ngomong gitu… matanya juling,” lanjut Zain sambil cekikikan.
Nayla sempat menahan kesal, tapi itu tidak berlangsung lama.
Perlahan, ia ikut tertawa.
“Kenapa, Nay?” tanya Zain.
Jujur saja, ia sedikit terpesona melihat Nayla tertawa.
Karena selama ini, Nayla jarang sekali tersenyum—lebih sering bersikap datar.
“Kak Zain tahu nggak?” Nayla masih tersenyum.
“Salah satu orang yang ngira aku punya pacar crazy rich itu siapa?”
“Siapa?” tanya Zain penasaran.
“Udah… aku... sudah kasih tahu orangnya langsung,” jawab Nayla santai.
“Siapa, Nay?” Zain mulai berpikir keras.
Nayla masih cekikikan, tangannya sesekali menepuk Arkan dengan lembut.
“Oh… udah dibaca tuh,” ujarnya ringan, menahan tawa.
Zain mengernyit, masih belum mengerti.
Beberapa detik kemudian—
ponselnya berbunyi.
Drett...
🎵 “Jodohnya Nayla… angkat teleponnya dong….
Drett...
Zain membeku seketika.
Nayla tercengang mendengar nada dering ponselnya. Tatapannya langsung berubah—tidak suka.
Zain buru-buru merogoh ponselnya. Wajahnya memerah dalam sekejap.
“Ini… temenku yang ganti!” ucapnya cepat, panik.
Panggilan masuk: ❤️ Mama ❤️
Zain berdeham pelan.
“Halo, Mah…”
Di kursi belakang, Nayla sudah cekikikan, berusaha menahan tawanya. Namun tetap saja gagal.
Arkan yang tertidur di pangkuannya ikut terbangun, terganggu oleh getaran tawa itu.
“Aduh, sayang… kamu kebangun ya,” ucap Nayla lembut, sambil menarik kedua pipinya gemas.
Sementara itu, Zain hanya bisa diam mendengarkan—dimarahi habis-habisan oleh mamanya di seberang telepon.
“Makanya, Kak Zain… jangan sembarangan ngatain orang juling,” ucap Nayla, masih menahan senyum.
Ia sedikit menggeser posisi, lalu melanjutkan dengan santai—
“Dulu, Bibi Nela pernah bilang ke aku…”
Nayla menirukan nada bicara, sedikit dilebih-lebihkan—
“‘Nayla pasti pacarnya orang kaya ya…ci i o,
ci i o, itu. soalnya muka kamu itu muka-muka inceran orang kaya.’”
Nayla terkekeh kecil setelahnya.
Zain terdiam. Wajahnya masih menyisakan rona malu.
Belum lagi soal nada dering tadi…
Ardi sialan, batinnya menggerutu.
Ia benar-benar tidak menyangka—orang yang tadi tanpa sadar ia sebut “juling”… justru mamanya sendiri.
Hanya karena ia sedikit cemburu.
Namun, di sisi lain—
Nayla mulai merasa ada yang tidak beres. Langit di luar perlahan menggelap.
Ia melirik ponselnya—pukul 17.18.
Keningnya langsung berkerut.
Nayla mengedarkan pandangan ke luar jendela, memperhatikan jalan yang mereka lewati.
“Kak Zain…”
Suaranya pelan, tapi nadanya berubah.
“Kakak muter-muter, ya?” tanyanya tajam.
Arkan yang masih mengantuk ikut mengangkat kepala, menatap sekeliling dengan bingung.
Zain tersenyum simpul.
“Aku muter, Nay. Tadi aku lihat jalan di sana macet banget,” ucapnya meyakinkan.
Nayla menatapnya curiga.
“Sejak kapan jalan XXX macet?” balasnya sarkas.
Zain masih berusaha tenang.
“Ada kecelakaan, Nay. Jadi macet.”
Nayla belum mengalihkan pandangannya. Tatapannya semakin menyelidik.
“Kecelakaan apa… sampai Kak Zain harus pilih jalan lain?”
Jari-jarinya mengetuk pelan setir—gelisah yang ia sembunyikan.
“Lagian nggak selama itu kali ngurus orang kecelakaan. Paling lama lima belas menit… itu juga bukan jalan ramai,” lanjut Nayla, masih menatap curiga.
“Aku tanya temanku saja kalau gitu.”
Zain langsung panik.
“Oke, oke… aku nyerah, Nayla.”
Ia nyengir kuda.
“Hehe…”
“Kak Zain apaan sih? Aku pegel, tahu,” keluh Nayla kesal.
“Oh, maaf, Nay. Aku lupa. Serius.”
Zain terdiam sejenak.
“Soalnya…”
Ia ragu, tapi akhirnya tetap melanjutkan—
“Waktu terasa cepat banget, Nay.”
Zain menghela napas pelan.
“Aku… belum mau berpisah sama kamu.”
Nayla mengembuskan napas.
“Kak Zain aneh banget, sumpah…” gumamnya, sambil memijat pelipis pelan.
“Maaf, Nay. Soalnya kita jarang ketemu…”
Zain terdengar sedikit bersalah.
“Oh iya…”
Ia kembali melirik ke belakang lewat kaca spion tengah.
“Siapa laki-laki yang pernah nyakitin kamu?” tanyanya penasaran.
Nayla membalas tatapannya lewat spion—sinis.
Di sampingnya, Arkan tidak bersuara.
Ia sibuk memainkan tangan Nayla—menggoyang-goyangkannya, bahkan menggigit pelan.
“Aww… Arkan.”
Arkan hanya memperlihatkan giginya, polos.
“Banyak,” jawab Nayla malas.
“Kok bisa sebanyak itu sih, Nay? Perasaan kamu nggak pernah respon laki-laki deh…”
Nayla langsung menatap ke depan.
“Kak Zain tahu dari mana sih?”
Zain sempat gelagapan… tapi berusaha tetap tenang.
Ia menelan ludah, lalu tiba-tiba menemukan alasan.
“Dari mama kamu… dari keluarga besar kamu juga.”
Ia berdeham pelan, mulai lebih lancar.
“Lagian ya, Nay… satu kampung juga tahu kalau kamu jutek banget. Apalagi sama laki-laki.”
Zain melirik sekilas ke kaca spion.
“Banyak yang ngomong… kamu itu jutek, sombong, apa lah.”
Ia mengangkat bahu santai.
“Pokoknya… satu kampung udah tahu.”
Nayla mendengkus kesal.
“Kak Zain belum dijawab, ya…”
Zain menoleh sekilas, nadanya berubah sedikit menuntut.
“Tadi.”