Tiga abad lalu, "The Eclipse Protocol" diaktifkan—sebuah proyek rahasia umat manusia untuk mematikan matahari demi menghentikan perang global. Rencananya berhasil, tapi efek sampingnya jauh lebih mengerikan: dunia jatuh ke dalam kiamat es abadi.
Kini, sisa peradaban manusia hidup di sembilan "Sovereign Spires"—menara kota raksasa yang ditopang energi geotermal dan dikelilingi kubah pelindung. Di luar sana, "The Drowned Lands" menjadi kuburan bagi siapa pun yang berani keluar.
Kian Veyr adalah produk gagal dari sistem ini. Seorang jenius taktis yang dipecat dari pasukan elit karena menolak menjalankan perintah yang akan mengorbankan ribuan warga sipil demi "kebaikan yang lebih besar".
Dia kini hidup sebagai pemulung informasi, menjual data rute aman ke para pedagang gurun hitam. Hingga suatu hari, dia menemukan peta usang yang menunjukkan adanya "Koordinat Kesebelas"—wilayah yang tidak tercatat di peta resmi Dewan Menara.
Peta itu menyebut tempat itu sebagai "Titik Nol",
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARGA SEBUAH PENGLIHATAN
Aroma pelumas panas, ozon yang terbakar, dan karat basah menyengat hidung begitu palka bawah kapal induk terbang itu tertutup rapat. Di dalam laboratorium Dr. Sharon, ribuan kabel tembaga menggelantung dari langit-langit baja seperti akar pohon mati, menghubungkan ratusan monitor tabung katoda yang berkedip menampilkan grafik gelombang energi sembilan menara di luar.
Kian duduk di atas kursi operasi besi yang dingin. Lengan kirinya diikat oleh sabuk kulit tebal, sementara Dr. Sharon sedang sibuk mempersiapkan perangkat las mikro dan sebuah tabung silinder berisi cairan neon biru terang. Di dalam cairan itu, sebuah kristal berbentuk heksagonal memancarkan pendaran cahaya yang konstan—Aetherite murni.
"Kristal ini adalah sisa dari inti reaktor kapal penjelajah militer yang kujarah sepuluh tahun lalu," kata Sharon, lengan mekanis perunggunya berdesis halus saat dia menjepit kristal tersebut dengan pinset raksasa. Mata tajamnya menatap mata kiri Kian yang kelabu dan retak. "Untuk memasangnya, aku harus membongkar seluruh kompartemen The Probability Lens di dalam tengkorakmu tanpa obat bius. Jika sistem sarafmu menolak sinkronisasi energinya, otakmu akan hangus dalam waktu tiga detik."
"Lakukan saja," sahut Kian, suaranya datar tanpa ada riak ketakutan.
Viona berdiri di sudut ruangan, jemarinya meremas tali tas kulitnya dengan cemas. "Tunggu... Sharon, apa maksudmu dengan 'variabel paling berharga' yang harus diserahkan Kian sebagai bayarannya?"
Sharon tertawa kecil, suara seraknya bergema di ruang besi yang sempit itu. Dia menurunkan lampu operasi merkuri tepat di atas wajah Kian, membuat mata kanan organik Kian menyipit silau.
"Lensa probabilitas milik kaptenmu ini bekerja dengan mengubah memori jangka panjang manusia menjadi bahan bakar kalkulasi," Sharon menjelaskan sembari menyalakan alat las plasma mikronya yang memercikkan api biru kehijauan. "Untuk mengaktifkan kristal Aetherite ini, aku butuh mengosongkan satu kompartemen ingatan besarnya agar sistem matanya bisa melakukan reboot. Kian... kau harus memilih satu bagian dari masa lalumu untuk dihapus secara permanen dari otakmu."
Viona terengah kaget. "Menghapus ingatan? Kian, jangan! Itu berarti kau akan melupakan siapa dirimu!"
"Aku tidak butuh masa lalu untuk bertahan hidup di masa depan, Viona," potong Kian dingin. Mata kanannya menatap Sharon dengan ketegasan yang mutlak. "Hapus ingatan tentang masa kecilku di Distrik Bawah. Semua hal sebelum aku memasang lensa ini... aku tidak membutuhkannya lagi."
Sharon tersenyum tipis, kilat kekaguman muncul di matanya melihat dinginnya karakter anti-hero di depannya. "Pilihan yang sangat efisien. Mari kita mulai."
BZZZZZTTT!
Rasa sakit yang teramat sangat langsung meledak di dalam kepala Kian saat ujung alat las Sharon menyentuh sirkuit di pelipis kirinya. Tubuh Kian menegang hebat, urat-urat di leher dan dahinya menonjol keluar menahan siksaan yang membakar sistem saraf pusatnya.
Di dalam kegelapan pikirannya, Kian bisa melihat potongan gambar masa lalunya: sebuah rumah kumuh di parit bawah menara, suara tawa seorang wanita paruh baya yang samar, dan pelukan hangat yang pernah dia rasakan saat kecil—semuanya perlahan memudar, hancur menjadi serpihan digital warna biru, lalu terisap masuk ke dalam kristal Aetherite yang mulai ditanam di balik rongga matanya.
Kian mengunci rahangnya begitu rapat hingga darah segar merembes dari sela-sela giginya. Dia menolak untuk berteriak.
[Proses Penghapusan Memori Sektor A-1: 100% Selesai.]
[Sinkronisasi Kristal Aetherite Berhasil.]
[Memulai Boot Ulang Sistem: The Probability Lens V2.0.]
HUMMMMMM!
Seketika itu juga, bola mata kiri Kian yang semula kelabu mati mendadak menyala dengan cahaya biru neon yang jauh lebih pekat dan terang dari sebelumnya. Roda gigi perunggu di dalamnya berputar dengan kecepatan tinggi tanpa suara, memproyeksikan barisan data geometris baru yang langsung memenuhi dinding laboratorium.
Kian menarik napas dalam-dalam saat sabuk kulit di lengannya dilepaskan oleh Sharon. Dia berdiri, memutar tombak titaniumnya dengan tangan kanan yang kini kembali dialiri energi Internal Kinetic Resonance yang jauh lebih stabil.
Mata kirinya berputar, memindai seluruh ruangan dengan fungsionalitas yang telah ditingkatkan.
[Analisis Lingkungan: Laboratorium Kapal Induk Kuno.]
[Kondisi Tubuh Pengguna: Pemulihan Energi Kinetik 65%.]
[Deteksi Sinyal Eksternal: Ancaman Masuk dalam Radius 2 Mil.]
"Matamu sudah kembali, Kian," Viona melangkah mendekat dengan wajah lega, namun ada guratan sedih di matanya karena tahu sebagian dari jiwa Kian telah hilang.
"Aku bisa melihat segalanya sekarang," kata Kian, suaranya terdengar lebih mekanis dari biasanya. Dia menatap tangannya sendiri, tidak lagi merasakan sisa emosi dari masa lalunya. Baginya sekarang, hidup hanyalah rangkaian angka dan probabilitas bertahan hidup.
Namun, kedamaian darurat itu tidak berlangsung lama. Salah satu monitor tabung katoda di dinding laboratorium Sharon mendadak mengeluarkan suara alarm berdengung tinggi. Grafik gelombang energi di layar berubah menjadi warna merah menyala.
BZZZZZT—CRASH!
Layar monitor itu pecah. Di detik yang sama, seluruh kapal induk terbang raksasa yang mereka tempati bergetar hebat akibat hantaman energi dari luar. Suara hantaman besi seberat puluhan ton terdengar meremukkan palka luar kapal.
"Sialan! Sistem pertahanan radar pembuanganku ditembus!" Sharon menyambar senapan uap berlaras ganda dari bawah mejanya.
Mata kiri Kian berputar cepat, menembus dinding baja laboratorium untuk memetakan serangan di luar.
[PERINGATAN MAUT: Gelombang Kinetik Emas Terdeteksi.]
[Identifikasi Target: Inkuisitor Gideon (Jarak: 50 Meter dan Terus Memangkas).]
[Tingkat Kerusakan Lensa Emas Musuh: 30% (Sistem Prediksi Masa Depan Telah Distabilkan Kembali).]
Gideon telah menemukan mereka. Sang Arsitek Taktik Tertinggi menggunakan kendaraan komando militernya untuk menabrak langsung lambung kapal induk tua tempat mereka bersembunyi.
Dari pengeras suara internal laboratorium yang rusak, suara Gideon terdengar halus namun dingin, memotong suara desis uap hidrolik.
"Kau mengorbankan ingatanmu hanya untuk sepasang mata mainan, Kian? Tindakan yang sangat tragis," suara Gideon bergema, disertai suara langkah kaki sepatunya yang berat di koridor luar laboratorium. "Lensa emas milikku telah diperbaiki. Aku sudah melihat tiga belas rute pelarian yang akan kau coba gunakan di dalam kapal rongsokan ini... dan di semua rute itu, aku sudah menunggumu dengan pedang terhunus."
Sharon mengokang senapannya, matanya menatap Kian. "Aku sudah memberikan apa yang kau minta, Anak Muda. Sekarang, selesaikan urusanmu dengan anjing menara itu sebelum dia meledakkan seluruh laboratoriumku!"
Kian meraih jubah hitamnya, memakainya kembali dengan satu sentakan cepat. Mata kirinya yang bercahaya biru pekat mengunci ke arah pintu besi laboratorium yang mulai membara merah akibat potongan las plasma dari luar.
"Viona, tetap di belakangku," perintah Kian. Tombak titaniumnya mulai bergetar hebat, melepaskan gelombang ultrasonik yang meretakkan lantai besi di bawah kakinya. "Gideon mengira dia sudah mengunci semua rute pelarian kita."
Kian menatap pintu yang siap jebol itu dengan senyuman tipis yang dingin.
"Tapi dia lupa... sistem mataku yang baru tidak lagi mencari jalan untuk kabur."
Pintu besi itu bergetar semakin keras.
"Sistem ini... mencari cara untuk menghancurkannya."