"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
"Lepas dulu tangan kamu, Calla. Sungkan kalau dilihat anggota di koridor."
Alaric berbisik kaku tanpa menoleh, mencoba menarik jemarinya dari genggaman erat Calla. Langkah tegap seragam PDH-nya terasa mendadak berat karena genggaman tangan mungil itu sama sekali tidak melonggar sepanjang lima puluh meter mereka berjalan menuju rumah dinas.
"Nggak mau! Tangan Paksu kan gede, anget, pas banget buat digandeng," sahut Calla riang, malah sengaja mengayun-ayunkan tautan tangan mereka ke depan dan ke belakang. "Biarin aja semua tentara di sini lihat kalau Komandan mereka udah ada yang punya. Kenapa sih? Paksu malu ya gandengan sama cewek secantik Calla?"
"Bukan malu," potong Alaric cepat, dadanya bergemuruh kecil saat mereka akhirnya menginjak teras rumah dinas dan terhindar dari pandangan publik. "Ini pangkalan militer, Calla. Ada hierarki, ada wibawa yang harus saya jaga di depan anak buah."
"Halah, wibawa terus yang dipikirin," cibir Calla, melepaskan gandengannya lalu langsung menerobos masuk ke dalam ruang tamu yang masih menyisakan aroma parfum Alaric. "Padahal semalem pas meluk Ismut sambil nahan keringet, wibawanya udah lari ke selokan pangkalan."
Alaric menutup pintu kayu rumah dinas dengan rapat, menguncinya, lalu bersandar di sana sambil menatap Calla yang sudah mengempaskan tubuhnya dengan manja ke sofa kulit. "Calla, kejadian semalam jangan dibahas lagi. Saya sedang menjalankan kewajiban saya sebagai suami untuk melindungimu."
"Melindungi dari apa? Dari kedinginan apa dari ketegangan Paksu?" Calla menopang dagunya dengan tangan kiri, mata kucingnya berkedip-kedip nakal menatap wajah Alaric yang mulai memanas lagi. "Padahal kalau semalem Paksu khilaf sedikit aja, Ismut ikhlas lahir batin, lho."
Alaric memejamkan mata sesaat, merutuki mulut frontal istrinya yang berusia 21 tahun itu. "Cukup, Callanta. Sekarang, mari kita urus koper-kopermu yang masih ada di bagasi mobil. Saya akan ambilkan dulu."
"Nggak usah buru-buru, Paksu. Ismut lapar," keluh Calla sambil mengelus perutnya yang rata di balik blus satin sage-nya. "Katanya mau makan siang bareng? Mana makanannya? Jangan bilang di dapur cuma ada beras mentah lagi kayak kemarin?"
"Saya sudah meminta Kopral Bagas untuk mengantarkan rantang makan siang dari dapur transit perwira," ujar Alaric, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul satu siang lewat tiga puluh menit. "Sebentar lagi sampai."
TOK! TOK! TOK!
"Siap, permisi! Komandan!"
Suara lantang dari luar pintu membuat Alaric langsung menegakkan posisinya. Ia membuka pintu, menampilkan Kopral Dua Bagas yang berdiri tegap membawa sebuah rantang susun berbahan seng hijau tua.
"Siap, mengantarkan logistik makan siang untuk Komandan dan Ibu Komandan!" seru Bagas dengan pandangan lurus ke depan, mencoba tidak melirik ke dalam ruangan.
"Terima kasih, Kopral. Letakkan di sini," kata Alaric, menerima rantang tersebut.
"Wah, Mas Kopral! Makasih ya!" Calla mendadak menjulurkan kepalanya dari balik bahu lebar Alaric, melambaikan tangannya dengan ceria. "Lauknya enak nggak, Mas? Ada kerupuknya banyak nggak?"
Bagas spontan menegang, matanya berkedip panik menghadapi keramahan Ibu Komandan yang terlampau santai. "Siap! Ada ayam goreng mentega dan kerupuk putih, Ibu!"
"Mantap! Makasih ya, Mas Kopral ganteng!" seru Calla lagi, cengengesan.
Alaric langsung menggeser tubuh kekarnya, menutup total pandangan Bagas terhadap Calla. Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat dingin. "Kembali ke posmu, Kopral."
"Siap! Laksanakan, Komandan!" Bagas langsung balik kanan dengan gerakan patah-patah, berlari secepat kilat menjauhi rumah dinas sang harimau pangkalan yang tampaknya sedang menyalakan mode protektif.
Alaric menutup pintu dengan sedikit hentakan, lalu berbalik menatap Calla dengan dahi berkerut dalam. "Jangan memuji prajurit lain di depan saya, Calla."
"Lho? Memangnya kenapa?" Calla berjalan mendekati meja makan kecil di dekat dapur, mengikuti Alaric yang sedang menaruh rantang. "Kan Mas Kopralnya emang rajin nganterin makan. Calla cuma bilang ganteng sebagai bonus terima kasih."
"Tidak perlu ada bonus seperti itu," jawab Alaric datar, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. Tangannya yang besar bergerak membuka susunan rantang satu per satu dengan gerakan yang agak kasar. "Ganteng itu relatif. Dan di pangkalan ini, kamu hanya boleh fokus pada satu suami."
Calla menghentikan gerakannya yang hendak mengambil sendok. Ia mengerjapkan matanya, lalu sedetik kemudian wajahnya melembut penuh kemenangan. Ia menyelinap ke samping Alaric, menyenggol lengan kekar itu dengan bahunya. "Cieee... Paksu cemburu lagi ya? Tadi di lapangan cemburu sama Mas Sersan, sekarang cemburu sama Mas Kopral. Wah, ternyata Komandan Pasukan Khusus kita ini posesif banget kalau urusan Ismut!"
Alaric menaruh tutup rantang terakhir di meja dengan ketukan keras. Ia berbalik, mengurung tubuh mungil Calla di antara meja makan dan tubuh kekarnya, membuat Calla mendongak kaget.
"Saya tidak cemburu, Calla. Saya hanya menegaskan kepemilikan," bisik Alaric, suaranya sangat dalam, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Calla dengan sorot pekat yang membuat bulu kuduk Calla mendadak meremang indah. "Kamu istri saya. Sah secara hukum, sah secara agama, dan sedang dalam proses dinas. Mengerti?"
Calla menelan ludahnya, jantungnya mendadak berdegup kencang mendapat serangan intensitas dari pria dewasa di depannya. Namun, dasar jiwa cegil-nya tidak mau kalah, ia justru memajukan wajahnya hingga hidung mungilnya hampir bersentuhan dengan hidung tegas Alaric.
"Kalau emang Ismut punya Paksu seutuhnya... kenapa dari kemarin Paksu cuma berani meluk doang? Kapan dong status kepemilikannya di-cap pakai... 'itu'?" bisik Calla terlampau berani, melirik sekilas ke arah bibir tipis Alaric.
Alaric mengepalkan tangannya di sisi meja, menahan gejolak hasrat yang kembali menuntut untuk dilepaskan. Semburat merah kembali menguasai pipi dan telinganya, meruntuhkan sebagian wajah sangarnya.
"Makan siangmu, Callanta. Sebelum saya benar-benar kehilangan kendali di dapur ini," ujar Alaric dengan suara serak, lalu buru-buru menarik tubuhnya menjauh, mengambil posisi duduk di kursi seberang dengan napas yang sedikit memburu.
Calla langsung tertawa terbahak-bahak melihat suaminya yang kembali kalah telak dalam perang urat saraf buatannya. "Hahaha! Iya, iya, Paksu sayang! Ismut makan sekarang. Tapi nanti sore temenin Ismut berburu nyamuk lagi ya di halaman?"
Alaric hanya bisa menghela napas panjang, mengambil sendoknya dengan pasrah. "Iya, nanti saya temani. Sekarang, habiskan makananmu."
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨