NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memulai Kembali Dari Awal

Sudah berlalu dua minggu lamanya sejak pertemuan yang penuh gejolak itu berlangsung di rumah orangtua Aldo. Dua minggu yang terasa berjalan lambat bagaikan dua bulan penuh—waktu yang kami habiskan untuk merenungi segala kejadian, saling menguatkan hati, dan mengumpulkan kepingan‑kepingan kehidupan yang sempat terpecah belah, lalu menyatukannya kembali menjadi utuh.

Kabar bahagia sekaligus harapan datang dari Clarissa dan Reza. Keduanya kini resmi bertunangan. Bukan karena benih cinta yang tumbuh sejak awal, melainkan karena tanggung jawab yang harus dipikul bersama—Clarissa sedang mengandung anak Reza, dan seluruh keluarga sepakat bahwa jalan menuju pernikahan adalah langkah yang paling tepat dan terhormat untuk ditempuh. Jujur saja, aku tak bisa menjamin kehidupan rumah tangga mereka kelak akan senantiasa bahagia tanpa masalah. Namun jauh di dalam hati, aku selalu mendoakan yang terbaik—untuk Clarissa, untuk Reza, dan juga bagi jiwa kecil yang belum lahir itu.

Mengenai perubahan sikap Reza, memang belum terlihat sepenuhnya. Menurut cerita Aldo, kakaknya itu masih sering meledak marah karena hal‑hal sepele, mudah tersinggung, dan belum sepenuhnya sanggup menerima nasihat maupun kritik dari orang lain. Namun setidaknya, ada titik terang yang mulai tampak: ia kini mau berusaha. Ia mulai rutin mengantar Clarissa memeriksakan kandungan ke dokter. Ia juga mulai belajar banyak hal tentang masa kehamilan dari buku‑buku tebal yang dipinjamkan Aldo dari perpustakaan kampusnya. Aku tahu, perubahan watak tidak bisa terjadi dalam semalam. Namun segala sesuatu pasti bermula dari langkah kecil yang berani diambil—dan Reza baru saja melangkah.

***

Pagi itu, tepat pukul sembilan di kamar kosku yang tenang.

Aku baru saja selesai mandi dan sedang menyeduh teh chamomile kesukaanku di meja kecil dekat jendela, ketika ponselku bergetar halus di atas meja kayu. Di layar tertulis jelas: Panggilan Video dari: Aldo.

Segera aku mengangkat panggilan itu.

"Halo, Tari," sapanya dengan nada ceria, wajahnya tampak bersinar di balik layar dengan senyum yang lebar dan hangat. Di belakangnya terlihat rak buku kayu yang penuh berisi buku‑buku tebal bertuliskan huruf emas—tentang psikologi forensik dan ilmu kriminologi. Belum lama ini ia bercerita sedang menyusun bahan penelitian untuk kuliah lanjutannya.

"Halo juga," jawabku sambil tersenyum menyambutnya. "Kamu sudah sarapan pagi ini?"

"Belum sama sekali. Aku baru saja bangun tidur," jawabnya sambil mengusap sisa kantung matanya.

"Jam sembilan pagi baru bangun? Apa saja yang kamu lakukan semalam sampai begini?" candaku.

"Kemarin malam aku begadang hingga larut. Harus menyelesaikan penelitian yang sudah mendekati batas waktu penyerahan," jelasnya sambil menguap kecil.

"Wah, dosen pun bisa begadang juga rupanya ya?" godaku lagi.

"Dosen itu juga manusia biasa, Tari. Punya mata yang lelah dan punya waktu yang kadang kurang cukup," jawabnya sambil tertawa renyah. Lalu tatapannya berubah menjadi lebih lembut. "Ngomong‑ngomong, kamu ada rencana ke mana hari ini? Atau… bolehkah aku mengajakmu bertemu sebentar?"

"Boleh saja. Kita mau ke mana?"

"Bagaimana kalau ke kafe Senjakala? Aku rindu suasana di sana, dan tentu saja… aku rindu rasa teh chamomile buatan Rendra," katanya dengan nada penuh kerinduan.

"Aku juga rindu sekali tempat itu. Tapi tunggu dulu ya, Aldo… aku masih mengenakan pakaian santai saja, belum berpakaian rapi," kataku sambil menunjuk pakaianku sendiri di depan layar.

Aldo tertawa renyah mendengarnya. "Tak apa, aku tunggu saja. Kamu bersiaplah perlahan, jangan terburu‑buru."

"Baiklah, baiklah. Nanti aku ke sana ya," jawabku sambil menutup sambungan telepon.

Aku segera berjalan menuju lemari pakaian, memilihkan sesuatu yang sederhana namun nyaman dipakai: celana jeans berwarna hitam, kemeja flanel berwarna merah marun yang agak longgar, serta sepatu kets berwarna putih. Pakaian yang membuatku merasa tenang dan menjadi diriku sendiri.

***

Tepat pukul sebelas pagi, aku sudah sampai di kafe Senjakala.

Rendra menyambut kami di depan pintu dengan senyum lebar yang sama seperti dulu, senyum yang selalu membuat siapa saja yang datang merasa disambut hangat. Suasana kafe pagi itu terasa damai dan tidak terlalu ramai—hanya ada beberapa orang tamu yang duduk sendirian, sibuk mengetik di atas laptop masing‑masing. Alunan musik jazz mengalir perlahan dari pengeras suara di langit‑langit, mengisi ruangan dengan ketenangan yang akrab di hati.

"Meja pojok seperti biasa?" tanya Rendra seketika.

"Ya, meja pojok dekat jendela," jawab Aldo mantap.

Kami pun duduk di tempat yang sama—tempat di mana kami sering berbagi cerita, tempat di mana kami pertama kali membicarakan masa lalu, tempat yang kini menjadi saksi bisu perjalanan kasih kami. Dari sana aku bisa melihat halaman kecil di samping bangunan, di mana tanaman‑tanaman hijau menjuntai indah dari gantungan‑gantungan kayu. Sinar matahari pagi yang lembut menembus kaca jendela, membentuk bayangan‑bayangan halus di atas lantai kayu yang tua.

"Untuk Tari: segelas teh chamomile hangat. Dan untukku: kopi Americano tanpa gula," ucap Aldo kepada Rendra yang sudah siap dengan buku catatan kecilnya. "Dan tambah satu lagi… sepiring roti panggang dengan selai stroberi untuk Tari."

Aku menatapnya dengan sedikit takjub. "Kamu masih ingat betul pesanan kesukaanku ya?"

Aldo hanya tersenyum tipis namun penuh makna. "Bukan hanya pesananmu saja yang aku ingat, Tari. Segala hal kecil tentangmu selalu tersimpan rapi di ingatanku."

Rendra hanya menggeleng‑gelengkan kepala sambil tersenyum melihat kami, lalu berjalan pergi menuju meja kasir untuk menyiapkan pesanan.

"Aldo…" panggilku perlahan sambil menundukkan pandangan.

"Iya? Ada apa?"

"Ada hal yang ingin aku ceritakan padamu. Sesuatu yang sudah lama berkecamuk di kepalaku," kataku pelan, sementara jari‑jariku tanpa sadar mulai memainkan ujung kain taplak meja—kebiasaan lama yang selalu muncul saat aku merasa gugup atau ragu.

"Ceritakan saja. Aku siap mendengarkan," jawabnya lembut.

"Aku… aku mulai mencoba menulis sesuatu."

Aldo sedikit mengangkat alisnya, tampak tertarik. "Menulis? Apakah cerita pendek?"

"Bukan… aku berencana menulis sebuah novel," jawabku pelan namun mantap.

Aldo terdiam sejenak, matanya sedikit membelalak karena kaget namun tetap menatapku penuh perhatian. "Novel? Itu luar biasa, Tari."

"Aku tahu mungkin kedengarannya gila. Aku belum pernah menerbitkan tulisan apa pun seumur hidupku. Belum ada yang tahu karya tulisku. Tapi… ada satu ide yang terus berputar di kepalaku, dan rasanya aku tak tenang jika belum menuliskannya," jelasku dengan jujur.

"Dan ide apa yang membuatmu begitu bersemangat ini?" tanyanya lembut.

Aku menggigit bibir bawahku sejenak sebelum menjawab. "Cerita itu… bercerita tentang kita berdua."

Kali ini Aldo terdiam lebih lama. Namun tatapannya tak pernah lepas dariku—matanya yang berwarna coklat gelap itu tampak teduh, namun bersinar terang oleh rasa bahagia yang tak bisa ia sembunyikan.

"Aku ingin menuliskan bagaimana awalnya kita saling bertemu," lanjutku berani. "Bagaimana kita dulu dijodohkan keadaan, bagaimana perlahan benih cinta tumbuh di antara kita, hingga bagaimana kita berjuang bersama melewati segala badai dan kesalahpahaman yang sempat mengancam hubungan kita."

Aldo masih diam, namun tangannya perlahan terulur menyentuh tanganku di atas meja.

"Jujur saja… aku sempat bingung harus berkata apa saat pertama kali mendengarnya," ucapnya akhirnya dengan suara lembut namun dalam. "Tapi percayalah, Tari… rasanya hatiku dipenuhi rasa bangga yang meluap‑luap."

"Kamu… kamu tidak keberatan kan?" tanyaku ragu. "Cerita ini menyangkut hidup kita berdua. Banyak hal yang selama ini kita rahasiakan dari orang lain. Bagaimana jika ada yang tidak suka? Bagaimana jika ada yang salah mengerti?"

Aldo segera menggenggam tanganku lebih erat, seolah ingin menanamkan kekuatan lewat sentuhannya. "Kenapa aku harus keberatan? Kamu menulis kisah tentang perjalanan cinta kita. Dan cinta… tidak ada yang perlu disembunyikan dari dunia ini."

"Aldo…"

"Aku sangat bangga padamu, Tari. Dan ingatlah satu hal: aku akan menjadi orang pertama yang akan membaca tulisanmu, dari halaman pertama hingga halaman terakhir," janjinya sungguh‑sungguh.

Aku tersenyum—senyum yang paling tulus, yang keluar dari sudut hati yang paling dalam dan bahagia.

"Janji ya?"

"Janji. Aku tidak akan mengingkarinya."

***

Setelah selesai menikmati hidangan makan siang kami, kami berjalan beriringan keluar dari kafe.

Siang itu matahari bersinar terik dan cerah, langit biru bersih tanpa setitik awan pun terlihat. Aldo menggandeng tanganku, jemarinya saling menyatu dengan jemariku—terasa hangat, akrab, dan menjadi kebiasaan yang sulit dipisahkan.

"Aldo…" panggilku pelan di tengah jalan.

"Iya?"

"Kamu… kamu sama sekali tidak merasa takut?"

"Takut soal apa?" tanyanya heran.

"Takut jika nanti tulisanku ini tidak disukai orang, atau dianggap gagal. Takut jika semua orang tahu bahwa kisah ini adalah kisah nyata kita berdua. Takut jika… jika hal ini membawa masalah baru bagi kita," ungkapkan segala kekhawatiranku yang sempat tersembunyi.

Aldo tiba‑tiba menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatapku—menatap lama dan dalam, seolah ingin membaca segala isi hati yang tersembunyi di balik mataku.

"Dengarkan aku baik‑baik, Tari," ucapnya dengan suara yang tenang namun tegas. "Selama ini kamu sudah melewati begitu banyak hal berat. Kamu sudah membuktikan betapa kuatnya hatimu. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu sanggup menghadapi apa saja yang datang menghadang."

"Tapi tetap saja… aku khawatir," potongku pelan.

"Tak ada kata 'tapi' kali ini," potongnya lembut namun mantap. "Kamu menulis karena kamu punya cerita yang berharga untuk disampaikan. Cerita itu milikmu, milik kita berdua. Dan nilainya tak akan berubah, tak peduli apa pun kata orang lain kelak."

Ia tersenyum kecil, lalu melanjutkan, "Dan ingatlah, aku akan selalu ada di sisimu. Bukan sekadar sebagai pelindung yang menjauhkan bahaya, bukan pula sebagai penjaga yang mengatur hidupmu. Melainkan sebagai pendamping setia—orang yang selalu percaya pada impian‑impianmu, apa pun yang terjadi."

Tanpa sadar, air mataku menetes jatuh membasahi pipi. "Aduh, Aldo… kamu jangan bicara begitu, aku malah jadi menangis begini."

"Aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu menangis. Aku hanya bicara apa adanya, sesuai apa yang ada di hatiku," jawabnya lembut sambil mengusap air mataku dengan punggung tangannya.

Aku tertawa kecil sambil menyeka air mata yang masih tersisa. "Memang kamu selalu begitu—selalu bicara jujur dan apa adanya."

"Bukan selalu, sih. Tapi kepadamu… aku berjanji akan selalu berusaha jujur dan terbuka sepenuhnya," jawabnya tulus.

Kami pun saling berpelukan erat di pinggir jalan raya, di bawah terik cahaya matahari Jakarta, di tengah hiruk‑pikuk lalu lintas dan suara klakson kendaraan yang berlalu‑lalang. Namun untuk sejenak itu, dunia terasa berhenti berputar—terasa indah dan sempurna adanya.

***

Malam harinya, aku datang ke apartemen Aldo dengan membawa laptop di dalam tas. Aku ingin mencoba menulis bab pertama novelku di tempat yang berbeda, berharap suasana baru dapat membantuku merangkai kata‑kata dengan lebih indah dan mengalir.

Aldo menyambutku dengan segelas jus jeruk buatan tangannya sendiri—kali ini ia sudah berusaha membuang seluruh bijinya, meski masih ada beberapa butir yang luput dan tertinggal di dasar gelas.

"Kamu sungguh berniat menulis di sini sampai selesai ya?" tanyanya sambil duduk di sebelahku.

"Sungguh. Aku butuh ketenangan dan suasana yang berbeda dari kamar kosku," jawabku sambil membuka layar laptop.

Aldo tersenyum mengerti. "Baiklah kalau begitu. Aku akan diam saja di sudut sana, takkan bergerak sedikit pun jika itu membuatmu nyaman."

Ia pun duduk di kursi santai di ujung ruangan, mengambil kembali buku tebal tentang psikologi forensik yang sedang ia baca, lalu tenggelam dalam bacaan itu agar tidak menggangguku.

Aku menarik napas panjang, membuka dokumen kosong di layar, lalu perlahan mulai mengetikkan kata‑kata pertama:

Bab 1: Rintik Hujan Dan Keputusan Di Ujung Senja

Aku tak ingat sejak kapan air mataku mulai menetes. Yang pasti, tangisan itu sudah berlangsung selama setengah jam belakangan ini, dan entah mengapa, rasanya tak mau berhenti. Aku duduk bersandar di sudut kamar kos yang sempit—hanya berukuran tiga kali empat meter—sambil memeluk kedua lutut rapat ke dada. Daguku kusandarkan di atas lutut, dan mataku—yang pasti sudah bengkak serta kemerahan—terkunci menatap layar ponsel yang bersinar redup di tanganku.

Jam dinding menunjukkan pukul 21.47.

Di luar, hujan masih mengguyur kota Depok tanpa ampun. Aku bisa mendengar suara air yang jatuh deras dari ujung genting ke selokan di bawah, bunyi yang seharusnya membawa ketenangan, namun malam ini terdengar lolongan panjang yang terasa menyayat hati. Angin bertiup kencang hingga membuat jendela kamarku—yang sudah tidak pas lagi bingkainya—bergetar pelan, mengeluarkan bunyi berirama: krek… krek… krek… persis seperti tulang-tulang yang saling bergesekan.

Aku berusaha menarik napas panjang, namun udara yang masuk terasa berat dan sesak. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam dada, tepat di sebelah kiri tulang rusukku, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku perlahan namun terus-menerus, hingga terasa perih yang dalam.

Ponselku masih menyala.

Di layarnya terpampang pesan singkat yang sudah kubaca berulang kali selama dua jam terakhir. Pesan itu datang dari Mas Reza—atau lebih tepatnya, dari lelaki yang baru saja kulepas sebagai kekasihku dua jam yang lalu.

Sekali lagi aku membaca tulisan itu, untuk kesekian kalinya:

“Kamu egois, Tari. Selalu begitu.”

Aku menelan ludah, namun terasa ada rasa pahit yang menggenang di tenggorokan.

“Setelah segala hal yang sudah kulakukan untukmu, begini caramu membalasnya? Kamu kira aku tak merasa sakit hati?”

Bibir bawahku gigit pelan hingga nyaris berdarah. Sakit hati? Apakah dia mengira hanya dia yang merasakan rasa sakit itu?

“Tapi sudahlah. Terserah keinginanmu saja. Aku tak mau memperpanjang pertengkaran. Jika itu memang maumu, ya sudah.”

Kalimat terakhirnya—“ya sudah”—terasa seolah aku ditusuk dengan pisau yang tumpul. Tidak langsung menusuk sampai tembus, namun rasa sakitnya terasa luar biasa, menyebar ke seluruh dada.

Aku berhenti sejenak mengetikkan huruf terakhir itu, lalu membaca ulang tulisan itu dalam hati. Rasanya ada kelegaan tersendiri saat kenangan lama itu akhirnya tertulis rapi di layar.

"Aldo…" panggilku pelan.

Aldo segera mengangkat wajahnya dari buku yang sedang dibacanya. "Iya? Ada yang kurang pas?"

"Tolong bacalah sedikit tulisanku ini. Aku ingin mendengar pendapatmu," pintaku.

Aldo segera bangkit berdiri, berjalan mendekatiku, lalu duduk bersila di lantai tepat di sebelahku. Aku memutar sedikit layar laptop agar ia bisa membaca tulisan itu dengan jelas.

Ia membaca dalam diam. Matanya bergerak perlahan dari kiri ke kanan, sesekali berhenti sejenak pada satu kalimat, sesekali mengerutkan kening seolah meresapi makna yang tersirat.

"Aku sangat menyukainya," katanya akhirnya dengan nada yakin dan lembut.

"Benarkah? Jangan‑jangan kamu hanya bicara manis supaya aku senang saja ya?" tanyaku masih sedikit ragu.

Aldo menatapku lekat. "Kepadamu aku takkan pernah bicara bohong, Tari. Tulisan ini jujur, menyentuh hati, dan… tulisan ini benar‑benar cerminan dirimu sendiri."

Hatiku terasa tenang mendengarnya. "Terima kasih banyak, Aldo. Terima kasih sudah percaya padaku."

"Aku tak sabar ingin segera membaca kelanjutannya," tambahnya sambil tersenyum penuh harap.

"Kamu harus bersabar dulu ya. Ini baru permulaan, baru bab pertama saja," candaku.

"Aku akan bersabar seberapa pun lamanya waktu yang dibutuhkan. Aku akan selalu menunggu tulisan‑tulisan indahmu selesai satu demi satu," janjinya.

Kami berdua tertawa bersama di bawah cahaya lampu ruangan yang hangat itu. Dan untuk sejenak itu juga, aku merasa dunia kembali terasa indah, lengkap, dan sempurna—karena ada Aldo yang selalu ada di sampingku, mendukung setiap langkahku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!