NovelToon NovelToon
TIRAKAT 3

TIRAKAT 3

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.

Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 LELAH TUBUHKU

Masih berdiri di depan kamarku yang sudah terbuka, ku buka tas kecilku, dan mengeluarkan HP. Berniat untuk menelepon Ustadz Furqon.

Tak butuh waktu lama, segera di angkat teleponku olehnya.

"Assalamu'alaikum, Ustadz, saya udah sampe di pondok." ucapku.

"Wa'alaikumsalam... Oh udah sampe ya? Alhamdulillah kalo gitu... Aman kan selama di jalan?"

"Alhamdulillah aman dan lancar Ustadz. Em... Ustadz ada di mana? Kok sepi banget pondoknya?" tanyaku segera.

"Saya di pondok putra Nis..."

"Oh gitu... Pantesan sepi banget di pondok putrinya ini..."

"Iya Nis, Insya Alloh nanti habis isya' saya balik lagi ke pondok putri, sama Ibu."

"Oh gitu ya Ustadz... Emang pondok putranya di mana Ustadz? Jauh dari sini?"

"Ya gak jauh-jauh banget sih, tapi lumayan butuh waktu juga. Sekitar 20 menit kalo naik motor jaraknya."

"Oooh..." responku sambil mengangguk.

"Emang di sana gak ada siapa-siapa Nis? Ayu kemana?" segera Ustadz Furqon bertanya lagi, sambil menyebut satu nama yang bahkan aku sendiri pun belum kenal orangnya.

"Enggak ada siapa-siapa Ustadz, sepi banget. Oh ya, Ayu itu siapa ya Ustadz?" tanyaku.

"Eh iya ya, saya belum kasih tau kamu. Ayu itu yang nanti jadi pembina asrama juga kayak kamu di sana Nis." jelasnya.

"Oh gitu..."

"Iya gitu Nisa. Mungkin dia lagi pulang dulu ke rumahnya. Rumahnya gak jauh kok dari pondok, ada di desa sebelah atas. Kalo kamu tadi perhatikan pas lagi di mobil, ada desa kan di sisi lebih atas? Nah di sana rumahnya Ayu." jelasnya lebih banyak.

"Oh iya Ustadz, saya tadi liat kok ada desa juga deket dari sini."

"Iya... Oh iya, Pak Nardi langsung pulang kah habis jemput kamu?"

"Iya Ustadz, dia langsung pulang barusan."

"Kamu udah tau di mana kamarmu?"

"Udah Ustadz, barusan langsung di tunjukkin kamar saya. Ini sekarang udah di depan kamar."

"Oh, Alhamdulillah kalo gitu. Ya udah, kamu istirahat dulu aja. Pasti capek banget kan habis perjalanan jarak jauh dari Bogor."

"Iya Ustadz, lumayan capek rasanya... Hehehe..."

"Ya udah istirahat dulu. Nanti kalo udah gak capek, kamu boleh keliling sekitar pondok putri ya. Anggap aja jadi rumah baru kamu."

"Iya Ustadz, terima kasih sebelumnya, maaf saya jadi ganggu Ustadz di pondok putranya."

"Ah, gak apa-apa kok Nis. Ya sudah, saya lanjut di sini dulu ya. Assalamu'alaikum..."

"Iya Ustadz, wa'alaikumsalam..." Dan telepon pun dimatikan.

Setelah obrolan dengan Ustadz Furqon, aku jadi cukup merasa lega. Sudah terjawab sebagian pertanyaanku ketika sampai di pondok putri ini.

Tapi, ada satu pertanyaan baru yang muncul dalam kepalaku, yaitu di mana letak pondok putranya?

"Ah, nanti aja deh ngobrol lagi kalo Ustadz sama Bu Fatimah udah di sini." gumamku dalam hati, mencoba untuk tak terlalu banyak pikiran di awal kedatanganku ini.

Sebelum masuk ke dalam kamar, sejenak aku mencoba menikmati suasana sekitar pondok putri ini melalui lantai atas depan kamarku.

Sekali lagi aku menoleh ke sisi kanan area pondok. Tampak area hutan pohon jati yang begitu asri dengan kontur tanah yang lebih tinggi. Dan aku tahu, jalan yang kulihat di tengah jajaran pohon jati itu menuju ke desa sebelah yang barusan dimaksud oleh Ustadz Furqon, dan di sanalah rumah Ayu berada.

Lalu aku menengok ke sisi kiri area pondok. Dengan kontur tanah yang lebih rendah, dan juga masih di kelilingi pepohonan jati yang begitu sejuk di pandang.

Lalu tepat ke arah depan sana, dengan sedikit terhalang oleh kubah masjid di tengah area pondok, terpampang lah dengan sangat indah dan luasnya area perkebunan tebu yang tadi ku lewati bersama Pak Nardi.

Sejenak, ku pejamkan ke dua mataku. Sambil ke dua tangan yang bertumpu pada pagar pembatas lantai dua ini, ku hirup udara segar pelan-pelan, dalam-dalam. Lalu kuhembuskan dengan bebasnya.

Lalu masih dalam keadaan terpejam, telingaku bisa mendengar segala macam suara di area sekitar pondok putri ini.

Suara hewan seperti tonggeret di tengah hutan jati...

Suara sayup-sayup hewan ternak warga dari arah desa sebelah atas...

Dan juga suara gesekan daun-daun yang tertiup angin pelan...

"Masya Alloh..." ucapku sambil kembali membuka ke dua mataku.

"Kayaknya aku bisa betah berada di sini... Semoga..." tambahku.

 

 

Aku segera menutup pintu kamar saat sudah masuk. Dan ku perhatikan seisi ruangan ini.

Tak terlalu luas memang, mungkin hanya berukuran 4 x 4 meter per segi saja. Dengan cat dinding berwarna putih bersih. Ada dua buah jendela tepat di sisi pintu, dengan gordennya yang tertutup berwarna putih. Tampak sedikit tembus pandang ke arah luar, tapi tak tembus pandang ke dalam saat aku melihat dari luar jendela.

Ada sebuah lemari yang berukuran cukup besar, tampak juga terbuat dari kayu jati. Dan ada sebuah meja lengkap dengan kursi kayu, dan tentu tak lupa juga sebuah kasur yang hanya cukup untuk satu orang saja, tertata rapi dengan seprei putih polos, dan juga guling serta bantal yang berwarna dominan putih juga.

Akan tetapi, yang sedikit membuatku agak heran adalah... Bantal dan gulingnya memiliki motif bunga-bunga berwarna merah dan putih.

"Kok kebetulan ya? Ah... Perasaan aku aja kali, pasti di kamar-kamar lain juga sama kayak gitu..." gumamku sambil menatap pada bantal dan guling itu.

Segera aku berjalan menghampiri kasur, aku belai sebentar sepreinya. Terasa begitu lembut dan dingin. Karena mungkin jika di daerah kaki gunung seperti ini, pasti benda-benda apapun akan terbawa hawa dingin.

Aku pun duduk di atas kasur, dan terasa jauh lebih empuk dari pada kasurku yang ada dirumah, Bogor sana.

"Wah, empuk banget... Kalo kayak gini, bisa-bisa aku tidur melulu nih... Mana hawa dan suasananya juga pasti selalu terasa dingin. Apalagi kalo malem-malem, pasti juga jadi lebih dingin nih..." ucapku sendirian.

Sedetik kemudian, HP ku kembali berdering. Aku segera membukanya, dan ternyata Ningrum yang meneleponku. Segera ku angkat, dan mengobrol bersamanya. Sambil menanyakan kabar Bapakku di sana, yang baik-baik saja. Dan aku bersyukur atas kabar itu.

Setelahnya aku mengobrol dengan Ningrum panjang lebar tentang perjalananku menuju ke sini. Dan kuceritakan saja padanya.

Akan tetapi, aku tak menceritakan tentang pertemuanku dengan Mas Zaki padanya. Aku bercerita seolah sendirian saja selama di kereta.

Bukan bermaksud apa-apa, hanya saja aku sangat tahu akan bagaimana respon Ningrum jika sampai kuceritakan tentang lelaki manis dan tampan itu padanya.

Singkat waktu, setelah selesai mengobrol dengan Ningrum, aku segera merebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk dan dingin ini.

"Yaaa Alloooh... Uuughhh..." suaraku sambil meregangkan seluruh tubuh yang terasa pegal ini.

Dan sambil menatap ke langit-langit kamar, aku diam sejenak. Mencoba sekali lagi merasakan suasana kamarku. Sambil ke dua telingaku mendengar suara-suara di alam sekitar, seolah menembus dinding kamar pendengaranku.

Dan... Langsung terasa kantuk pun datang... Seolah membisikkan sebuah tanda bahwa memang tubuhku sudah sangat lelah menempuh perjalanan panjang.

Tak terasa, perlahan-lahan, ke dua mataku menyambut bisikan itu...

Dan tak terasa, pandanganku mulai memudar... Semakin tak kuasa menahan kantuk...

Dan akhirnya... Aku berpindah alam... Menuju alam tidur yang sangat terasa damai dan nyaman...

😴😴😴😴😴

1
Yeni Yeni
penasaran aku mbak🤭
SecretS
Lanjut kak👍👍👍😊😊
SecretS
👍👍👍lanjut kak, berarti sekar mayang bisa liat masa depan kayak Dayang Putri ah, menurut ku sekar mayang terlalu jahil ngak seperti Dayang Putri 😁
SecretS
Lanjut kak, 👍👍👍😁😁😁 ternyata wanita dekat toilet itu sekar mayang toh aku kira kuntilanak penunggu 😅
SecretS
Ooh, jadi ya buat tiket Nisa hilang itu sekar mayang toh. Buat yang punya kebingungan nyari tiket nya untung tuanya mau mbalikin dan kejadian nya sebelum Dayang Putri datang kalau ngak.... 😅😅 buat tuanya malu aja sekar mayang, pasti karena sekar mayang Zaki bayarin makanan nisa😁sedikit merasa bersalah akibat perewangannya. Lanjut kak 👍👍👍👍
Yeni Yeni: kodam zaki usil
total 1 replies
SecretS
Cover nya kok buat yang baca merinding ya kak 😅😅, tapi lanjutanya bagus 👍👍👍semangat 😀
Deni Komarullah: Hehehe... Terima kasih Kak atas dukungan dan komentarnya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!