Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Pertemuan yang Tak Terduga
Dua minggu berlalu sejak makan siang bersama di meja marmer itu menjadi rutinitas rahasia yang konstan. Bagi Andra, setiap hari terasa seperti berjalan di atas seutas tali yang direntangkan di atas jurang. Di satu sisi, ia berhasil mengirimkan separuh upah pertamanya ke desa untuk melunasi bon sembako dan membayar uang pangkal sekolah Sekar—sebuah pencapaian yang membuat ibunya menangis haru di seberang telepon genggam Mas Joko. Namun di sisi lain, kedekatannya dengan Nadia di dalam ruang kerja lantai 17 kian hari kian mengikis ketegasan prinsip yang ia bawa dari kampung.
Aroma parfum melati Nadia kini bukan lagi sesuatu yang asing, melainkan sebuah keharuman yang mulai Andra cari setiap pagi. Senyuman tipis dan tatapan mendalam dari wanita matang itu perlahan-lahan menetap di benak Andra, menemaninya sepanjang perjalanan pulang pergi Palmerah-Sudirman di atas motor bebek Mas Joko.
Sore itu, waktu menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit. Sebagian besar staf Apex Media sudah mulai berkemas untuk pulang. Hari ini berjalan cukup tenang bagi divisi administrasi proyek, dan Andra berniat untuk pulang lebih cepat agar bisa membantu Mas Joko membetulkan pompa air kontrakan yang sedang rusak.
"Andra, tolong ambilkan berkas cetak kontrak kerja sama dengan vendor percetakan di ruang arsip lantai 15," suara Nadia terdengar dari interkom meja depan, membuyarkan lamunan Andra.
"Baik, Mbak. Segera saya ambilkan," jawab Andra sigap. Ia meletakkan ransel hitamnya yang sudah tersampir di kursi, lalu melangkah menuju lift koridor.
Ruang arsip lantai 15 adalah area yang cukup sunyi dan jarang dilewati jika bukan karena urusan dokumen legalitas lama. Koridornya dilapisi dinding kayu mahoni yang memberikan kesan formal dan dingin. Andra melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi deretan lemari besi tinggi, mencari map nomor urut vendor dengan teliti menggunakan buku catatannya.
Setelah menemukan berkas yang dimaksud, Andra berjalan kembali menuju lobi lift lantai 15. Ketika ia sedang menunggu pintu lift terbuka, pintu lift di hadapannya berdentang dan terbuka lebih dulu dari arah bawah.
Dua orang pria melangkah keluar dari dalam lift. Pria pertama adalah salah satu Account Director senior Apex Media yang terkenal dengan gaya bicaranya yang perlente. Namun, pria kedua di sebelahnya seketika membuat seluruh otot di tubuh Andra menegang kaku.
Pria itu berbadan tegap, mengenakan setelan jas desainer berwarna abu-abu gelap potongan Italia yang sangat mahal. Jam tangan mewah bermerek internasional melingkar di pergelangan tangan kirinya, memancarkan kemewahan yang angkuh. Wajahnya yang tegas dan sedikit tirus tampak dingin tanpa ekspresi.
Dia adalah suami Nadia. Pria yang dua minggu lalu masuk ke ruang kerja Nadia dengan kasar, membentak di telepon, dan melempar dokumen urusan aset tanpa memandang istrinya sedikit pun.
Andra secara refleks langsung mundur satu langkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam dan memosisikan dirinya di sudut koridor dekat dinding, memeluk bundel berkas kontrak di dadanya untuk memberikan jalan yang luas bagi kedua pria terpandang tersebut. Ia berharap kehadirannya yang hanya seorang staf admin kelas bawah tidak menarik perhatian sama sekali.
Namun, langkah kaki berketuk konstan dari sepatu kulit mahal milik suami Nadia mendadak melambat, hingga akhirnya berhenti tepat di depan tempat Andra berdiri.
"Roni, ini staf baru di divisi istriku?" tanya suami Nadia, suaranya bariton, terdengar berat dan sarat akan nada menyelidik yang tajam. Pertanyaan itu diarahkan kepada *Account Director* di sebelahnya, namun matanya yang tajam menatap lurus ke arah Andra dari atas ke bawah.
Pria bernama Roni itu menoleh, menatap Andra sebentar sebelum menjawab dengan senyum canggung. "Ah, nggih, Pak Gunawan. Betul, ini Andra, asisten administrasi pribadi yang baru diangkat di divisi Ibu Nadia sekitar dua minggu yang lalu."
Pak Gunawan—pria yang memiliki kekuasaan dan kekayaan melimpah di bidang properti itu—tidak melepaskan pandangannya dari Andra. Ia melangkah setengah langkah lebih dekat, memperhatikan kemeja biru muda murah yang dikenakan Andra, rahang pemuda itu yang kokoh, serta postur tubuhnya yang tegap setinggi 180 sentimeter. Sebagai pria matang yang sudah lama melanglang buana di dunia bisnis dan pergaulan kelas atas Jakarta, Gunawan memiliki insting yang sangat peka. Ada sesuatu pada fisik dan pembawaan alami Andra yang entah mengapa memicu alarm kewaspadaan di dalam kepalanya. Ketampanan maskulin Andra yang bersih dan murni terlalu menonjol untuk ukuran seorang staf administrasi biasa yang duduk di depan ruangan istrinya setiap hari.
"Andra, ya?" tanya Gunawan dingin, nadanya seperti seorang majikan yang sedang menginterogasi pekerja kasarnya.
Andra mengangkat kepalanya perlahan, tetap menjaga pandangannya agar sedikit menunduk demi kesopanan, meskipun batinnya bergemuruh hebat karena rasa bersalah tak kasat mata yang mendadak menyerang dinding moralnya. "Nggih, betul, Pak. Saya Andra."
Gunawan tersenyum tipis, sebuah senyuman sinis yang tidak mencapai matanya. Ia merapikan lipatan jas mahalnya dengan gerakan lambat yang sengaja dilakukan untuk menunjukkan dominasi sosialnya yang mutlak atas pemuda desa di hadapannya.
"Kerja yang bener di sini. Istri saya itu orangnya perfeksionis dan tidak suka dengan pekerjaan yang lambat atau ceroboh," ucap Gunawan, nadanya terdengar seperti memberi nasihat, namun ada tekanan intimidasi yang sangat kentara di setiap suku katanya. "Dan satu lagi... sebagai asisten pribadi, tugasmu hanya mengurus kertas-kertas di atas meja. Jangan pernah mencampuri atau ikut campur urusan di luar dokumen kantor. Kamu paham maksud saya?"
Kata-kata 'di luar dokumen kantor' diucapkan Gunawan dengan penekanan yang tajam, seolah pria itu tahu ada batas-batas profesional yang mulai goyah di lantai atas, meskipun ia sendiri jarang pulang ke rumah untuk istrinya.
Andra merasakan tenggorokannya mendadak tercekat. Ia mengepalkan tangannya di balik bundel berkas contracts, merasakan hantaman realitas yang luar biasa keras. Pria di hadapannya ini adalah pemilik sah dari wanita yang setiap siang berbagi bekal dengannya, wanita yang saputangan putihnya masih tersimpan rapi di laci kontrakan Palmerah. Di hadapan kemegahan jas desainer dan otoritas seorang suami sah, Andra merasa dirinya seketika kembali menjadi pemuda miskin yang tidak memiliki hak apa-apa atas gemerlapnya kota ini.
"Paham, Pak Gunawan. Saya hanya bekerja sesuai dengan kewajiban saya," jawab Andra dengan nada suara yang rendah namun tetap tenang, berusaha mempertahankan sisa-sisa harga diri yang ia miliki sebagai anak desa yang jujur.
Gunawan menatap Andra selama dua detik terakhir dengan tatapan memperingatkan, sebelum akhirnya berbalik badan. "Ayo, Ron. Kita naik ke atas. Saya harus segera menyelesaikan tanda tangan dokumen proyek Serpong dengan Nadia sebelum makan malam bisnis."
Kedua pria itu melangkah masuk ke dalam lift khusus eksekutif yang baru saja terbuka, meninggalkan Andra yang masih berdiri kaku di koridor lantai 15 yang sunyi. Pintu lift tertutup dengan denting halus, namun gema dari kalimat peringatan suami Nadia seolah-olah terus berputar di udara, meninggalkan rasa sesak dan tamparan moral yang teramat dingin di dalam dada Andra. Batas yang sempat mengabur beberapa hari ini kini dipaksa tegak kembali oleh kenyataan yang tak bisa ia sangkal.