Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Akhir pekan yang seharusnya tenang berubah menjadi neraka saat Siham melangkahkan kakinya melewati pintu depan. Aroma rumah yang biasanya netral kini tercium seperti amarah yang membusuk. Belum sempat Siham meletakkan tasnya, sebuah suara dentuman keras menghantam dinding di sampingnya.
Prang!
Sebuah vas bunga kristal mahal hancur berkeping-keping, serpihannya berhamburan hingga ke ujung sepatu Siham. Siham terpaku, namun ia tidak berteriak. Ia mendongak dan melihat Dewangga berdiri di tengah ruang tamu dengan napas memburu. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini berantakan, kemejanya kusut, dan matanya merah padam penuh dengan kilatan murka yang belum pernah Siham lihat selama lima tahun ini.
"DARI MANA KAMU?!" suara Dewangga menggelegar, bergetar karena emosi yang meluap. "Ponsel mati, tidak ada kabar, menghilang seperti ditelan bumi saat ada urusan keluarga yang sangat penting! Kamu pikir kau siapa, Siham?!"
Siham tetap berdiri tegak, meski jantungnya berdegup kencang. "Aku di rumah Ayah, Mas. Aku butuh ketenangan."
"KETENANGAN?!" Dewangga tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan. Ia menyambar sebuah asbak kaca berat dari atas meja kopi dan melemparnya dengan membabi buta ke arah Siham.
Siham tidak sempat menghindar sepenuhnya. Asbak itu menghantam pinggiran lengan atasnya sebelum akhirnya jatuh hancur ke lantai. Rasa panas dan perih langsung menjalar. Siham meringis pelan, ia melirik lengannya. Darah segar mulai merembes keluar, memerahkan manset baju berwarna krem yang ia kenakan. Cairan merah itu menetes, jatuh satu demi satu ke atas lantai marmer yang dingin.
Dewangga diam mematung melihat darah itu. Ada jeda sesaat di mana amarahnya tertahan oleh keterkejutan atas perbuatannya sendiri. Namun, kesombongannya jauh lebih besar daripada rasa bersalahnya. Ia hanya menatap dingin tangan Siham yang terluka.
Bibik, asisten rumah tangga mereka, berlari keluar dari dapur dengan wajah pucat pasi. Ia menutup mulutnya dengan tangan saat melihat pemandangan di ruang tamu: barang-barang pecah berantakan, dan nyonyanya berdarah. "Ya Allah, Non Siham! Tuan!"
Siham mengatur napasnya, mencoba menguasai rasa sakit yang berdenyut di lengannya. Ia menoleh ke arah Bibik dengan tatapan yang sangat tenang ketenangan yang justru terasa janggal di tengah kekacauan itu.
"Bik," suara Siham lembut namun tegas. "Tolong bereskan semua pecahan ini. Jangan sampai ada yang tersisa. Aku tidak mau kaki siapapun terluka karena sampah ini."
"Tapi Non, tangan Non..." Bibik gemetar.
"Bereskan saja, Bik. Aku baik-baik saja," potong Siham.
Siham mengabaikan Dewangga yang masih berdiri seperti patung. Ia melangkah melewati suaminya, menaiki tangga dengan kepala tegak meski rasa perih di lengannya semakin menjadi. Namun, Dewangga tidak membiarkannya pergi begitu saja. Pria itu segera mengikuti Siham ke dalam kamar, menutup pintu dengan bantingan yang sangat keras hingga bingkai foto di dinding bergetar.
"Jangan berlagak seperti korban, Siham!" bentak Dewangga di dalam kamar. "Kamu yang memulai ini! Kamu sengaja mematikan ponsel agar aku terlihat seperti orang bodoh di depan pengacara semalam! Kamu pikir kamu sudah hebat karena sekarang memegang kendali atas penulis sialan itu?"
Siham tidak menjawab. Ia duduk di pinggir ranjang, membuka laci meja rias, dan mengeluarkan kotak P3K. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai membersihkan lukanya dengan alkohol. Ia tidak merintih saat cairan bening itu menyentuh luka robeknya.
"Jawab aku!" Dewangga berdiri di hadapannya, menutupi cahaya lampu.
Siham mendongak, menatap mata Dewangga dengan tajam. "Aku bertemu dengan Aksara Renjana, Mas. Seperti yang aku katakan di kantor, dia butuh aku. Dia sedang menulis bagian yang paling sulit dalam hidupnya: bagian tentang kehancuran seorang istri."
Dewangga mendengus, ia berkacak pinggang sembari berjalan mondar-mandir.
"Lagi-lagi penulis itu! Kamu mengabaikan suamimu hanya demi orang yang menjual drama murahan? Kamu benar-benar sudah tidak waras, Siham. Kamu sudah kehilangan akal sehat karena terlalu banyak bergaul dengan penderitaan fiktif."
"Fiktif?" Siham tersenyum getir sembari melilitkan perban di lengannya. "Mas, darah yang mengalir di lenganku ini bukan fiksi. Asbak yang kamu lempar tadi bukan imajinasi. Pecahan kaca di bawah sana adalah realita. Jika kamu bilang ini semua fiktif, maka kamu memang sudah buta."
Siham berdiri, kini posisinya sejajar dengan Dewangga. "Aksara Renjana memberitahuku satu hal kemarin. Dia bilang, pria yang suka menghancurkan barang sebenarnya adalah pria yang sedang ketakutan. Kamu takut, kan, Mas? Kamu takut kehilangan kendali atas diriku?"
Dewangga terdiam, wajahnya mengeras.
"Aku mematikan ponsel karena aku ingin tahu, apakah kamu mencariku karena cemas, atau kamu mencariku karena butuh saat ada urusan bisnismu. Dan jawabannya sudah jelas dari asbak yang melayang tadi," lanjut Siham dengan suara yang sangat dingin.
Siham mengambil tas kerjanya dan meletakkannya di atas meja. "Sekarang, biarkan aku istirahat. Aku harus mengedit naskah terbaru Aksara Renjana. Judulnya 'Belati di Meja Makan'. Kurasa kejadian hari ini akan menjadi pembuka bab yang sangat sempurna."
Dewangga menatap istrinya dengan perasaan yang campur aduk marah, benci, dan untuk pertama kalinya, ada sedikit rasa ngeri. Ia melihat Siham yang sekarang bukan lagi "Siham si penurut". Wanita di hadapannya adalah seorang editor yang sedang menyusun rencana pembalasan dengan sangat rapi.
Dewangga keluar dari kamar tanpa kata lagi, namun kali ini langkahnya tidak seangkuh biasanya. Sementara itu, di dalam kamar, Siham kembali duduk. Ia menyentuh perban di lengannya.
"Terima kasih untuk luka ini, Mas," batin Siham sembari membuka laptopnya.
"Kamu baru saja memberiku satu bab gratis yang akan membuat bukuku menjadi best-seller dunia. Dan darah ini... akan menjadi tinta paling mahal yang pernah kau bayar."
Malam itu, di tengah rasa perih, Siham tidak berhenti menulis. Setiap denyut di lengannya ia ubah menjadi kata-kata yang mematikan.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor