NovelToon NovelToon
Setelah Lima Tahun Berlalu

Setelah Lima Tahun Berlalu

Status: tamat
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Single Mom / Tamat
Popularitas:293.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.

Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.

Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.

" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Pagi itu sinar matahari masuk melalui jendela besar kamar rumah sakit. Bagas sudah siap dengan stelan kerjanya. Pandangannya langsung jatuh pada ibunya yang kini sudah tampak lebih baik.

Tak lama, pintu terbuka. “Kak… Mama gimana?” tanya Revan.

Bagas tersenyum tipis. “Udah lebih baik. Kata dokter tinggal pemulihan aja.”

Revan menghampiri ranjang, menggenggam tangan sang mama. “Syukurlah…”

Di sisi lain, Dika yang sejak semalam ikut berjaga masih duduk di kursi dekat pintu, wajahnya lesu. Ia hanya mengangguk ketika Bagas memberi kode untuk ikut. “Siap, Pak.”

Bagas masih memikirkan ucapan mamanya sebelum Revan datang tadi.

“Ma…” Bagas duduk di sisi ranjang, suaranya lembut tapi sarat beban. “Sebenarnya apa sih yang Mama pikirin sampai sakit begini? Jangan bilang cuma soal kerjaan aku. Aku tahu, pasti ada hal lain.”

Wanita paruh baya itu menatap putranya dengan mata teduh. Jemarinya mengelus tangan Bagas perlahan. “ Mama cuma kepikiran kamu. Usia Mama makin tua, Mas. Yang Mama harap sekarang cuma satu lihat kamu bahagia, berkeluarga. Mama pengen ada yang nemenin kamu kalau Mama udah nggak ada.”

Bagas terdiam, hatinya tercekat. “Ma…”

Sang mama menarik napas, lalu tersenyum samar meski matanya berkaca-kaca. “Dan ada satu hal lagi. Mama ini sering mimpi Di mimpi itu, ada seorang anak laki-laki kecil… lincah, ceria, manggil-manggil mama Rasanya nyata sekali. Sampai sekarang mimpi itu sering datang. Mama jadi kepikiran, mungkin itu tandanya Mama pengen punya cucu"

.........

Pagi ini kyra di buat repot oleh putranya sendiri, lantaran Aldian tidak mau makan dan yang paling membuatnya khawatir adalah suhu badan Aldian yang hangat. Mungkin efek ke taman semalam Aldian yang main panas-panas.

“Aldian, ayo makan dulu. Biar cepat sembuh,” bujuk Kyra dengan nada lembut.

Tapi bocah itu menggeleng keras. “Nggak mau, Bun. Aldian nggak lapar.”

Kyra meletakkan mangkuk bubur di meja, lalu menunduk menatap wajah putranya. Wajahnya terlihat sedikit pucat, dan saat ia kembali menyentuh dahi anaknya, suhu hangat masih terasa.

“Kalau Aldian nggak makan, nanti tambah lemes. Bunda khawatir.”

Aldian menatap bundanya dengan mata sayu. “Tapi mulut Aldian pahit, Bun…”

Kyra tersenyum getir, lalu mengusap rambut hitam anaknya dengan penuh kasih. “Ya sudah, coba sedikit aja ya. Satu sendok dulu. Kalau nggak bisa habis, nggak apa-apa. Yang penting masuk perut.”

Dengan penuh kesabaran, Kyra menyuapkan sendok kecil ke mulut Aldian. Bocah itu meringis, tapi akhirnya membuka mulut dan menelan perlahan.

“Pintar…” bisik Kyra sambil mengecup keningnya. “Aldian anak kuat. Nanti kalau udah sembuh, kita bisa main lagi.”

Setelah beberapa sendok, Aldian mulai menyerah. “Bunda, cukup ya…”

Kyra mengangguk. “Oke, cukup. Sekarang minum obat ya.” Ia segera mengambil sirup penurun panas yang sudah ia beli semalam untuk persiapan.

Bocah itu sempat menolak, tapi akhirnya menuruti setelah Kyra berjanji akan mengajaknya jalan-jalan jika sudah sembuh.

Setelah obat diminum, Kyra menggendong Aldian ke kamar. Ia membaringkan anaknya di ranjang kecil, menutup tubuh mungil itu dengan selimut tipis. Duduk di tepi ranjang, Kyra menatap wajah putranya yang mulai memejamkan mata.

Selesai menidurkan Aldian, Kyra duduk sebentar di tepi ranjang. Ia menatap wajah anaknya yang tertidur dengan napas teratur, meski suhu tubuhnya masih agak hangat. Hatinya terasa berat sekali.

"Bu Lasmi,” panggil Kyra pelan.

Perempuan paruh baya itu menoleh, tersenyum ramah. “Iya, Kyra. Mau berangkat kerja ya?”

Kyra menghela napas, lalu mendekat. “Iya, Bu. Tapi… Aldian lagi kurang enak badan. Dari tadi agak hangat badannya. Saya sudah kasih obat dan sekarang dia tidur. Kalau nanti tiba-tiba bangun atau ada apa-apa, bisa tolong lihatkan sebentar, Bu?”

Wajah Bu Lasmi langsung berubah iba. “Ya Allah… anak sekecil itu sakit. Iya, Nak Kyra. Jangan khawatir. Nanti kalau ada apa-apa, saya langsung ke sini. Kalau perlu, saya kabarin kamu juga.”

“Terima kasih banyak ya, Bu. Saya benar-benar titip Aldian. Saya harus berangkat"

......

Kyra sampai di kantor dengan langkah sedikit terburu. Seragam office girl yang ia kenakan sudah rapi, rambut dikuncir sederhana, tapi wajahnya masih menyimpan cemas. Semalam Aldian agak rewel, dan pagi tadi anak itu demam ringan.

Begitu masuk, Kyra langsung menuju pantry untuk menaruh tasnya. Di sana sudah ada Amel yang sedang menyiapkan teh untuk atasan, serta Arya yang sibuk menyusun minuman di rak.

“Pagi, Kyra,” sapa Amel sambil melirik sekilas. “Kamu kok kelihatan pucat gitu? Belum sarapan, ya?”

Kyra tersenyum tipis, berusaha menutupi keresahannya. “Pagi, Mel. Iya, tadi buru-buru soalnya.”

Kyra mencoba menata wajahnya agar terlihat biasa saja. Setelah menaruh tas, ia segera mengambil lap dan mulai mengelap kaca di area utama kantor.

Di sisi lain, Amel tengah sibuk menyapu lantai dengan gerakan cepat, sementara Arya merapikan rak minuman dan mengecek stok kopi serta teh yang akan dibutuhkan karyawan nanti. Sesekali mereka saling melempar obrolan ringan agar suasana tidak terlalu sepi.

“Ky, nanti kamu bagian ngecek ruang meeting ya. Abis jam sepuluh bakal dipakai sama Pak Bagas,” kata Arya sambil membetulkan posisi dispenser.

Kyra menoleh singkat. “Iya, Ra. Aku yang urus.”

Amel menatap Kyra sebentar, lalu bertanya dengan nada cemas. “Kamu beneran nggak apa-apa, Ky? Dari tadi kelihatan pucat banget, lho. Jangan-jangan sakit?”

Kyra memaksakan senyum sambil terus mengelap kaca. “Aku baik-baik aja, Mel. Cuma… mungkin agak kecapekan.”

Amel menghela napas, tapi akhirnya tidak menekan lebih jauh. “Ya udah, jangan dipaksa kalau capek.”

Saat mereka masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing, langkah seseorang terdengar mendekat. Dika muncul menghampiri mereka.

Tatapannya langsung tertuju pada Kyra. “Kyra.”

Kyra menghentikan gerakan tangannya. “I-iya, Pak Dika?”

“Pak Bagas minta kamu ke ruangannya sekarang.”

Sekejap, ruangan jadi senyap. Amel dan Arya saling melirik penuh penasaran. Kyra merasa jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mulai muncul di telapak tangannya.

“Baik, Pak…” jawabnya lirih, buru-buru menaruh kain lap di meja.

Dika hanya memberi isyarat singkat dengan kepalanya. “Ikut saya.”

Kyra menarik napas panjang, lalu berjalan mengikuti Dika menuju ruang Bagas.

Sesampainya di depan pintu besar berpelitur cokelat itu, Dika mengetuk pelan.

“ masuk,” terdengar suara berat Bagas dari dalam.

Dika mendorong pintu, lalu memberi jalan untuk Kyra. “Ini, Pak.”

Bagas mengangguk singkat. “Terima kasih, Dika. Kamu tunggu di luar saja.”

“Baik, Pak.” Dika menutup pintu, meninggalkan Kyra berdua dengan bagas.

Ruangan itu luas, dinding kaca besar memperlihatkan pemandangan kota. Bagas duduk di kursi kulit hitam di balik meja kerjanya.

Kyra berdiri kaku di dekat pintu, menundukkan kepala. Tangannya meremas ujung seragamnya. “Pak… ada yang bisa saya bantu?” suaranya pelan, nyaris tak

terdengar.

“Ya,” suara Bagas dalam, namun kali ini tak sekeras biasanya. Ia menunjuk ke arah rak buku tinggi di sisi kanan ruangannya. “Tolong bersihkan rak buku itu. Sudah lama tidak tersentuh, debunya menumpuk. Pastikan rapi.”

Kyra mengangguk cepat. “B-baik, Pak.”

Ia segera berjalan ke arah rak, meletakkan lap kecil dan cairan pembersih yang sudah di sediakan disana. Tangannya sedikit gemetar saat mulai menyeka permukaan kayu, mencoba fokus agar tak salah gerak.

Bagas bersandar di kursinya, matanya mengikuti tiap gerakan Kyra. “Kamu bisa mulai dari bagian paling atas. Kalau kesulitan, bilang saja, nanti saya carikan tangga kecil.”

Kyra menoleh sebentar, lalu buru-buru menunduk lagi. “Saya bisa, Pak.”

Keheningan kembali melingkupi ruangan, hanya suara kain lap yang bergesekan dengan permukaan rak.

“Sudah berapa lama kamu kerja di sini?” tanyanya tiba-tiba. Ah, Bagas bahkan sejak hari pertama kyra disini kamu sudah mengetahuinya.

Kyra melirik singkat sebelum menjawab lirih, “Baru… beberapa minggu, Pak.”

Bagas tersenyum tipis tanpa sadar. Ia tahu, alasan meminta Kyra membersihkan rak hanyalah cara sederhana untuk bisa bicara lagi dengannya tanpa menimbulkan kecurigaan siapa pun.

Kyra berdiri di depan rak, menjinjit sedikit untuk meraih deretan buku di bagian paling atas. Tangannya terulur, tapi ujung jarinya tak sampai. Ia mencoba lagi, kali ini sampai sedikit berjinjit dengan kedua kaki.

“Hmm…” gumamnya lirih, nyaris frustasi.

Tanpa ia sadari, Bagas sudah berdiri dari kursinya. Langkahnya pelan tapi mantap mendekat. Hingga ia berada tepat berada di belakang kyra mungkin hanya berjarak beberapa centimeter.

“Biar saya,” suara berat itu terdengar tepat di belakangnya.

Kyra menoleh kaget, tubuhnya hampir bersentuhan dengan Bagas yang berdiri terlalu dekat. Aroma maskulin yang khas membuat napasnya sedikit tercekat. Ia buru-buru mundur setengah langkah.

“Ma—maaf, Pak. Saya bisa sendiri kok…lagian ini sudah menjadi tugas saya” suaranya gugup.

Bagas tidak menjawab langsung. Ia hanya mengangkat tangan, meraih buku di rak paling atas dengan mudah. Lengan kekarnya bergerak begitu dekat dengan wajah Kyra, membuat jantung wanita itu berdetak tak karuan.

Setelah menurunkan buku itu, Bagas menaruhnya di meja kecil di samping rak. “Kamu nggak usah maksain diri. Kalau susah, bilang saja. Saya bisa bantu.”

Kyra menggenggam lap erat-erat, mencoba menenangkan dirinya. “I-iya, Pak. Terima kasih.”

Bagas memperhatikannya beberapa detik, lalu tersenyum samar—senyum yang jarang sekali ia tunjukkan pada orang lain. “Kamu nggak berubah…” ucapnya lirih, nyaris seperti bicara pada diri sendiri.

" hah, kenapa pak"

Bagas cepat menggeleng. “Nggak, bukan apa-apa. Lanjutkan saja bersih-bersihnya.” Ia mundur setapak, kembali memberi ruang, dan kembali ke kursinya tapi ekor matanya tidak lepas dari wanita itu.

1
Lilik Juhariah
miris
ayu cantik
gantung
Lisa
Terimakasih y Kak utk karyanya..kita tunggu karya² selanjutnya y..👍😊
Atmita Gajiwi
/Heart//Heart//Rose/
Lisa
Wah sekarang rumahnya Bagas & Kyra selalu ramai tuh 😊
Nuri 73749473729
lanjut
Eno Pahlevi
LANJUTT.... DITUNGGU TRIPLE UPDATENYA THOR 🥰🥰🥰🥰
Muji Lestari
🤣🤣🤣lucu rewan
Nuri 73749473729
lanjut
Mazree Gati
SORRY THORR KLO AKHIRNYA BALIKAN SAMA BAGAS,,,END, UNSUB,,
Hari Saktiawan
lama banget update nya
Lisa
Happy wedding Revan & Dira..bahagia selalu & labggeng ya 🙏
Erna Riyanto
cerita Damian dan Dewi lanjutin dong thorrr....lama bgt lho...digantung
Uthie
Mampir untuk genre cerita seperti ini 👍👍👍
Boby The Blind Massage Entertaiment AND Freelance (BOBY_freelance)
Kalau sudah begini jalan ceritanya, kayaknya ini Prepare to ending.
Hari Saktiawan
dinovel nama arka kok banget Thor lu suka ya
ig: denaa_127: nama gebetan, jujurr🤭
total 1 replies
Arwondo Arni
jujur aja kl kamu mencintai Dira lgsg nikah aja biar ngak sepi
Lisa
😊 Kalau lagi sakit Revan baru inget tuh sama Dira 🤭
Lisa
Sehat selalu y Kyra, debaynya juga..
Maria Anyela Rosa
kok jadi melow begini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!