NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahar yang diinginkan

POV ARSYAD

"Dia Zara Ayleen, seorang pustakawan di SMA cendikia" ucapku menunduk, papa sudah tau kejadian malam itu. Bahwa anak laki-lakinya ini sudah menodai seorang wanita, papa ternyata memang memiliki akses cctv pada ruang kerjaku. Namun aman, tubuh wanita itu tidak terlihat sedikitpun karena terhalang oleh tubuhku. Sebelum cctv itu menyebar papa sudah memblock semua aksesnya.

Aku dengan wajah kusut menyaksikan papa yang marah besar dihadapanku, aku belum pernah melihat papa semarah itu. Sampai dia mengancam akan mengeluarkan aku di perusahaannya.

Keadaan sudah mulai tenang, emosi papa sepertinya sudah mulai stabil.

"Ko bisa sampai gitu si ar, apakah ada yang sengaja naruh obat itu di minuman kamu ?" mama sudah menekuk wajahnya sedari tadi. Sementara papa sedang memijat pelipisnya.

Aku menggeleng.

"Bukan kesengajaan ma, minuman ku tertukar dengan milik salah satu karyawan disini", ucapku setelah menelusuri dari mana minuman tersebut.

Papa menghela nafas kasar.

"Sudah, sekarang apa yang akan kamu lakukan ar. Yang pasti papa akan minta kamu untuk bertanggung jawab pada wanita malang itu, pilihan ada ditanganmu. Jika kamu menolak silahkan pergi dari perusahaan papa, papa tidak mau bekerja sama dengan seorang yang tidak bertanggung jawab, sekalipun itu adalah anak sendiri" ucap papah menatapku tegas, sorot matanya tajam. Pria berwibawa itu pergi meninggalkan ruang keluarga.

Aku menghela nafas berat, jika aku bertanggung jawab. Apakah aku bisa hidup dengan dia, ah mengenalnya pun tidak.

"Aku akan bertanggung jawab" ucapku mantap, untuk sementara. Jika dia mengandung anaku nantinya. Jika tidak aku akan segera menceraikannya. Dan segera pergi dari kehidupannya.

"Loh kok gitu, terus sabrine gimana. Mama gamau tau kamu harus menikah dengan sabrine titik" aku liat raut wajah mama merah padam, mama yang terus mendesaku untuk menikahi sabrine tahun ini. Raut wajahnya terlihat sangat kesal sekali.

"Nanti sore kita datangi rumah wanita itu." ucap papa sambil berlalu pergi dari hadapanku dan mama.

Tinggalah kini menyisakan aku dan mama berdua, mama yang sudah siap dengan dandanan mewahnya karena hari ini katanya sudah buat janji dengan sabrine akan pergi ke salon rutinan. Entahlah aku tidak tau, akupun jarang memperhatikannya. Mendekati tidak pernah.

"Ar, mama mohon setelah menikahi wanita itu. Kamu cepat ceraikan dan nikahi sabrine, kalau sampe wanita itu hamil, ah mama tidak bisa membayangkannya. Hati mama hancur ar" aku tidak menjawab, ah pening sekali kepalaku.

Perkataan mama membuatku kembali mengingat malam itu, takut kalau sampe wanita itu hamil. Ingat sekali aku beberapa kali mengeluarkannya di dalam.

"Awas aja ya ar, kalau bukan karena papamu. Mama tidak akan setuju kamu menikah dengan wanita itu, heh pasti dia kampungan sekali, berbeda dengan sabrine" mama sedari tadi sudah menangis tidak setuju, namun apa daya jika papa yang sudah turun tangan. Mama tidak bisa menolak pada donaturnya itu.

Aku tidak menjawab semua perkataan mama membuat kepalaku makin berat, aku menghela nafas menyandarkan kepala pada sandaran sofa, memejamkan mata mencoba menetralkan emosi. Aku tak habis fikir dengan kejadian malam itu, kenapa aku terlalu agresif pada wanita itu. Ah mungkin karena dosis yang dilarutkan pada minuman itu terlalu tinggi, yang membuat aku hilang kendali.

"Mama akan telpon sabrine, sabrine harus tau hal ini" ucap mama disampingku.

Sontak aku membuka mata, melihat mama yang tengah membuka ponselnya. Aku menghela nafas berat, masalahnya akan tambah rumit kalau sabrine tau. Bisa bisa dia tantrum dan mendatangi apartemenku sambil menangis. Ah aku tidak sanggup membayangkannya.

"Ma, Arsyad mohon jangan memperkeruh suasana. Kalau sabrine tau, ah.... gawat ma, dia mulutnya ember. Nanti berita ini bisa menyebar" ucapku ada benarnya, apalagi sabrine ini adalah selebgram dengan 12 juta follower, jadi kapan saja dia bisa membongkar aib memalukan ini.

Mamah menatapku tajam, ponselnya yang tadi dia pegang, kembali ia lepaskan, mungkin omonganku ada benarnya. Dia juga nanti yang malu, jika berita aib anaknya tersebar.

"Yaudah mama udah ga mood ngapa-ngapain, nanti sore mama gamau ikut, kamu aja berdua dengan papa mu" ucap mama sambil berlalu pergi meninggalkanku seorang diri.

***

Setelah melakukan perdebatan kecil kemarin sore dengan perempuan itu, kini aku dan papa telah sampai di halaman rumahnya.

Aku yang telah memaksanya untuk menerima tawaran menikah dariku, setidaknya sampai anak yang dikandung lahir, kalau memang dia hamil ucapku kemarin pada wanita itu.

Dia menggeleng kuat, sorot matanya tajam seolah dia membenciku. Sorot matanya tajam namun ada kesedihan yang tersimpan di dalamnya sebelum air matanya luluh keluar, serta mengatakan.

Aku tidak siap jika kedua orangtua ku harus mendengar berita ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi ayah dan ibu setelah mendengar pernyataan dari mu. Tapi, bagaimanapun kau harus bertanggung jawab. Jelaskan semuanya pada kedua orangtuaku besok sore.

Rumah wanita itu terlihat sepi dari luar, hanya ada suara gemericik air dari kolam ikan hias. Aku dan papa berapa kali mengetuk pintu dan akhirnya pintu terbuka menampilkan seorang wanita, yang usianya tidak jauh seperti mama. Sorot mata wanita itu teduh dan tersenyum ramah pada kami.

Ibu itu menatap kami dengan bingung, lalu setelahnya mempersilahkan kami untuk masuk.

Kini keluarga dari wanita itu telah berkumpul di ruang keluarga, hanya ada ibunya, wanita itu, serta ayahnya.

Aku menarik nafas, menetralkan degup jantung yang tiba-tiba berdetak cepat. Panik?, itulah yang kurasakan sekarang. Wanita itu terus menunduk tidak menatap siapapun, aku melihat ada tasbih digital tersemat di jari telunjuknya.

Setelah ku menjelaskan semuanya, aku mendapati respon yang tidak terduga. Ayahnya menatapku dengan sorot mata yang tenang namun menyimpan kesedihan yang mendalam, aku bisa melihatnya. Ada genangan air mata di pelupuknya.

"Anak saya sudah menjelaskan sebelum kalian datang kemari" ucapnya terjeda. Menyeka matanya yang mulai berair.

"Bagaimana keadaan saya saat itu?, hancur pak. Anak yang saya jaga dengan penuh kehati-hatian tiba-tiba saja diperlakukan seperti itu. Anak saya yang kehidupannya jarang sekali melakukan kesalahan, namun tiba-tiba kesuciannya harus direnggut paksa oleh orang yang sama sekali tidak mengenalnya". Ucapnya tubuh gempalnya bergetar karena Isak tangis.

"Saya ayah dari Arsyad, memohon maaf atas sebesar-besarnya pada keluarga bapak, insyaAllah anak saya akan bertanggung jawab dan akan menikahi putri bapak" ucap papa disampingku.

Ibu dan wanita yang duduk di sebrangku tampak saling berpegangan tangan, air mata wanita itu sudah luruh sedari tadi begitupun dengan ibunya.

"Minggu ini, akad segera dilaksakan. Tidak usah menunda waktu. Dilaksakan secara sederhana saja, hanya keluarga yang diundang"

Aku berdehem, memecah suasana yang hening. Setelah meminta maaf yang besar besarnya, dan keadaan mulai stabil tidak lagi mencekam seperti tadi.

"Maaf adakah mahar yang di inginkan?" aku menatap pada wanita itu yang perlahan manaikan wajahnya. Ia membalas tatapanku, di pelupuk matanya terdapat sisa air mata, rasa bersalah menyelimutiku. Aku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar, menodai seorang wanita yang terkihat sangat baik.

“Cincin sebagai pengikat.” Ucapnya datar, dengan tatapan kosong.

*

*

Jangan lupa like, komen dan vote ya teman-teman. Dukungan kecil dari kalian sangat berarti untuku.

1
Aniza
lanjut thooor
roses: siap kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Suren
mantappp👍 Arsyad butuh org ada disampingnya tapi egonya tinggi
roses: berul ka, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Ineu
baru mulai baca
roses: makasih kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
ceritanya menarik,tp agak bingung pas percakapan.atau dialog nyaga ada tanda nya.
Sri Jumiati
cantik .cocok thor
roses: Makasi yah kak, dukung terus author💗
total 1 replies
roses
iya kak, selamat membaca dan siap-siap diobrak abrik perasaan
Sri Jumiati
bagus ceritanya
Buku Matcha
Typo nya banyak ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!