NovelToon NovelToon
NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Abai Shaden

Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.

​Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Labirin Memori dan Jejak Sang Alkemis Bintang

Keheningan di dalam **Perpustakaan Dimensi** terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk berdarah di arena Rahim Besi. Saat gerbang baja raksasa setebal tiga meter itu tertutup di belakangnya, **Wang Jian** mendapati dirinya berada di sebuah ruang hampa yang luas. Alih-alih rak buku kayu, perpustakaan ini terdiri dari ribuan pilar cahaya vertikal yang berdenyut seirama dengan detak jantung kota. Setiap pilar berisi pecahan memori, catatan astronomi, dan koordinat dimensi yang diserap dari puing-puing yang jatuh dari langit.

Vaxen sang Arsitek tidak ikut masuk. "Hanya mereka yang memiliki *Qi* murni yang bisa menyentuh cahaya itu tanpa terbakar menjadi abu. Kau punya waktu enam jam sebelum sistem keamanan melakukan reset," suara Vaxen bergema melalui interkom perunggu di dinding.

Jian melangkah maju, kakinya yang masih terbalut energi plasma meninggalkan jejak hangus di lantai logam. Ia memegang liontin milik **Lin Meiling**. Benda itu kini bereaksi hebat, bergetar dan memancarkan cahaya ungu redup setiap kali Jian mendekati pilar cahaya tertentu.

### **Pencarian di Antara Jutaan Koordinat**

Jian mulai menyentuh satu per satu pilar cahaya tersebut menggunakan **Indra Angin**-nya yang telah berevolusi. Setiap kali tangannya bersentuhan dengan pilar, jutaan data membanjiri otaknya. Ia melihat kehancuran peradaban kuno, kelahiran bintang baru, dan retakan-retakan dimensi yang tak terhitung jumlahnya.

"Bukan ini... bukan yang ini juga..." gumam Jian, peluh mulai membasahi dahinya. Tekanan informasi itu begitu besar hingga membuat telinganya mulai berdenging.

Setelah hampir tiga jam mencari, Jian tiba di sebuah pilar cahaya yang terisolasi di sudut paling gelap perpustakaan. Pilar ini tidak berwarna putih atau biru, melainkan berwarna ungu tua dengan bintik-bintang keemasan—persis seperti aura **Star-Core** milik Meiling.

Saat Jian menyentuhnya, sebuah proyeksi holografik raksasa muncul di udara. Itu adalah rekaman kejadian dari ledakan dimensi di Puncak Es Abadi enam bulan lalu. Jian melihat dirinya terlempar ke arah Benua Pasir Merah, namun fokusnya tertuju pada sosok Meiling.

Ia melihat Meiling tersedot ke dalam retakan berwarna ungu yang sangat stabil. Alih-alih hancur oleh tekanan dimensi, tubuh Meiling tampak "dijemput" oleh seberkas cahaya keemasan yang muncul dari dalam retakan tersebut.

"Dia tidak terlempar secara acak..." bisik Jian, matanya membelalak. "Dia ditarik."

### **Fakta Mengejutkan: Benua Mistis dan Silsilah Terlarang**

Jian terus mendalami data di pilar tersebut. Informasi yang ia temukan selanjutnya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Berdasarkan analisis frekuensi energi, retakan ungu itu menuju ke **Benua Mistis (Mythic Continent)**—sebuah wilayah yang menurut legenda di Benua Tengah adalah tempat tinggal para dewa dan makhluk surgawi.

Namun, ada sebuah dokumen rahasia yang terenkripsi di dalam pilar tersebut, sebuah catatan dari seorang penjelajah dimensi kuno bernama **Aethelgard**.

> *"Bintang tidak jatuh secara kebetulan. Garis keturunan Alkemis Bintang bukanlah berasal dari manusia biasa. Mereka adalah fragmen dari **Sovereign of the Heavens** yang dibuang. Ketika seorang Alkemis Bintang mencapai Ranah Pemurnian Qi di tengah kehancuran dimensi, mereka tidak akan mati. Mereka akan dipanggil pulang oleh **Kuil Cahaya Abadi** di Benua Mistis sebagai persembahan atau sebagai wadah reinkarnasi."*

>

Tangan Jian bergetar hebat. "Wadah reinkarnasi? Meiling... dia dibawa ke sana bukan untuk diselamatkan, tapi untuk dikorbankan?"

Data tersebut juga menunjukkan sebuah fakta pahit: **Benua Mistis** bukan sekadar wilayah geografis yang jauh, melainkan sebuah dimensi dengan tingkat energi yang jauh lebih tinggi. Untuk mencapai tempat itu dari Benua Pasir Merah, seseorang harus melewati **Lautan Kekosongan**—sebuah ruang antar-dimensi yang dihuni oleh monster-monster tingkat tinggi yang bahkan mampu memangsa praktisi Ranah Nascent Soul.

### **Gema di Kegelapan: Suara yang Tak Terjangkau**

Di tengah keputusasaannya, Jian mencoba melakukan sesuatu yang gila. Ia menyuntikkan seluruh **Qi Badai Plasma**-nya ke dalam pilar cahaya tersebut, mencoba menggunakan perpustakaan sebagai pemancar sinyal antar-dimensi.

"Meiling! Kau mendengarku?!" teriak Jian, suaranya parau oleh emosi.

Ruangan itu bergetar. Energi plasma Jian yang panas bertabrakan dengan energi dingin pilar cahaya. Tiba-tiba, sebuah suara muncul di benak Jian. Itu sangat lemah, seperti bisikan di tengah badai.

*"Jian... jangan... datang... tempat ini... terlalu berbahaya..."*

Itu suara Meiling! Namun, suara itu tidak terdengar seperti Meiling yang penuh harapan. Ada ketakutan yang mendalam dan kesedihan yang luar biasa di sana.

"Meiling! Di mana kau?! Aku akan menjemputmu!"

*"Maafkan aku... mereka... mereka telah mengunci jiwaku... Jangan cari aku, Jian... hiduplah untuk dirimu sendiri..."*

Sinyal itu terputus. Pilar cahaya di depan Jian meledak, melemparkannya hingga menabrak dinding. Lampu merah di perpustakaan mulai berkedip-kedip. **Reset Keamanan Diaktifkan.**

### **Kebangkitan Sang Iblis: Sumpah di Atas Karat**

Vaxen masuk ke dalam ruangan dengan wajah cemas. "Apa yang kau lakukan?! Kau hampir menghancurkan seluruh sistem data kami!"

Jian berdiri perlahan. Auranya kini tidak lagi hanya panas, tapi dingin dan mematikan. Rambut putih peraknya berpendar dengan cahaya plasma yang tidak stabil. Ia tidak peduli dengan kemarahan Vaxen.

"Dia ada di Benua Mistis," ucap Jian dengan nada datar yang mengerikan. "Dan mereka mencoba menjadikannya wadah."

Vaxen terdiam. Ia tahu apa artinya itu. "Jika itu benar, maka kau tidak akan bisa menemukannya sekarang. Benua Mistis hanya bisa diakses melalui **Gerbang Transendensi** yang berada di pusat **Kota Kekaisaran Pasir**. Dan gerbang itu dijaga oleh **Empat Jenderal Langit**, yang masing-masing adalah praktisi Ranah Kristalisasi Inti puncak."

Jian menatap telapak tangannya. Ia baru berada di **Ranah Pemurnian Qi Bintang 6**. Jarak kekuatannya dengan para jenderal itu masih seperti bumi dan langit.

"Meiling memintaku untuk tidak mencarinya," Jian mengepalkan tangannya hingga berdarah. "Tapi dia lupa satu hal. Aku adalah Wang Jian. Aku telah merangkak keluar dari Jurang Arwah, aku telah menghancurkan klanku, dan aku telah menaklukkan kematian di arena ini."

Jian menatap Vaxen dengan mata yang penuh dengan api tekad. "Aku tidak butuh izin dari para jenderal itu. Aku akan menggilas mereka. Beritahu aku, Vaxen... di mana tempat tercepat bagiku untuk mencapai **Ranah Kristalisasi Inti** di benua terkutuk ini?"

Vaxen tertegun melihat intensitas di mata Jian. "Ada satu tempat... **Lembah Tulang Dewa**. Di sana terdapat sisa-sisa sumsum tulang dari dewa kuno yang jatuh. Jika kau bisa menahan tekanannya, kau bisa melakukan terobosan dalam hitungan minggu. Tapi tingkat kematian di sana adalah 99%."

"Satu persen sudah lebih dari cukup bagiku," jawab Jian.

### **Meninggalkan Kota Karat**

Malam itu, Wang Jian meninggalkan Kota Karat. Ia tidak membawa pasukan, tidak membawa harta. Ia hanya membawa tombak hitamnya dan liontin Meiling yang kini ia kalungkan erat di lehernya.

Ia berjalan menuju badai pasir yang menderu, menuju arah Lembah Tulang Dewa. Meiling belum bisa ditemukan secara fisik, namun keberadaannya kini telah menjadi koordinat tetap di dalam jiwa Jian.

Fakta bahwa Meiling mungkin sedang dipersiapkan untuk menjadi wadah reinkarnasi bagi entitas kuno di Benua Mistis tidak membuatnya gentar. Justru, itu menyulut api kemarahan yang akan membakar seluruh dimensi yang menghalanginya.

"Tunggu aku, Meiling," bisik Jian pada angin. "Jika mereka menginginkan seorang dewa, mereka akan mendapatkannya. Tapi bukan dewa dari surga mereka... melainkan dewa penghancur yang lahir dari pasir merah ini."

### **Status Kultivasi Akhir - Bab 22:**

* **Nama:** Wang Jian

* **Ranah Kultivasi:** **Pemurnian Qi Bintang 6** (Puncak).

* **Kondisi:** Stabil secara fisik, namun sangat tertekan secara emosional.

* **Informasi Baru:** Lokasi Lin Meiling (Benua Mistis - Kuil Cahaya Abadi).

* **Tujuan Selanjutnya:** **Lembah Tulang Dewa** untuk melakukan terobosan besar.

1
evelyn Syaquita
new saga
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.
evelyn Syaquita
Tahapan dari Qi Condensation hingga [Tahap Tertinggi] dijelaskan dengan detail yang memuaskan, membuat pembaca ikut merasakan jerih payah sang protagonis dalam bermeditasi dan menerjang kesengsaraan langit (Heavenly Tribulation).😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!