Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Jam Tidur
Malam di Sektor Tujuh tidak pernah benar-benar gelap. Cahaya dari papan reklame hologram raksasa memantul di gumpalan awan rendah, menciptakan rona ungu kebiruan yang aneh di langit. Di apartemen nomor 402, suasana jauh lebih tenang. Suara dengkur halus Clara terdengar dari kamar sebelah, ritme yang menandakan bahwa pengasuhnya itu telah terlelap setelah hari yang melelahkan.
Arthur berbaring telentang di tempat tidurnya yang sempit. Matanya yang jernih menatap stiker bintang glow in the dark di langit-langit kamar. Dalam kegelapan, stiker-stiker murahan itu tampak sangat redup, namun bagi indra Arthur, setiap stiker itu memancarkan aura termal yang jelas.
Ia tidak bergerak selama hampir satu jam. Ia sedang menunggu. Menunggu detak jantung Clara mencapai frekuensi terdalam dari tidur REM, dan menunggu patroli drone keamanan GDC melewati blok apartemennya. Baginya, waktu bukan sekadar detik yang berdetak, melainkan aliran sungai energi yang bisa ia rasakan tekanannya.
Perlahan, Arthur menyibakkan selimutnya. Gerakannya sangat halus, bahkan tidak membuat kain seprai itu berdesir. Ia turun dari tempat tidur, kakinya yang mungil menyentuh lantai parket yang dingin. Ia tidak mengenakan kostum pahlawan. Ia hanya mengenakan piyama biru bergambar pesawat terbang dan sepasang kaos kaki anti slip agar tidak terpeleset.
"Pencurian," gumam Arthur sangat pelan, hampir tidak lebih keras dari embusan angin. "Istilah yang sangat kasar untuk sekadar mengambil kembali properti alam semesta."
Ia berjalan menuju meja belajarnya yang berantakan dengan buku tulis dan krayon. Ia mengambil sebuah tas pinggang kecil hadiah ulang tahun dari Clara tahun lalu dan mengaitkannya di pinggang. Di dalamnya, ia memasak beberapa butir kelereng cadangan dan satu kotak susu stroberi kemasan mini. Persiapan yang cukup untuk seorang penguasa semesta yang sedang berada dalam wujud bocah.
Arthur melangkah menuju jendela kamarnya. Ia tidak membukanya secara manual. Ia hanya menempelkan telapak tangannya ke kaca. Dalam sekejap, molekul pada kaca tersebut bergetar, menciptakan celah mikroskopis yang memungkinkan Arthur melewatinya seolah olah ia adalah hantu, sebelum kaca itu merapat kembali tanpa meninggalkan goresan sedikit pun.
Kini ia berdiri di atas balkon, lima puluh lantai di atas permukaan jalan. Angin malam yang kencang menerpa rambut hitamnya yang berantakan. Ia menghirup udara malam yang kaya akan aroma listrik dan uap air. Di kejauhan, ia bisa melihat garis pantai Sektor Empat yang masih berpendar karena lampu-lampu konstruksi.
Arthur tidak melompat. Ia hanya melangkah maju ke udara kosong. Gravitasi, hukum alam yang mengikat setiap materi di planet ini, seolah olah kehilangan wibawanya di hadapan Arthur. Ia berjalan di udara, setiap langkahnya menciptakan riak transparan kecil yang berfungsi sebagai pijakan tak kasat mata.
Ia bergerak menuju Sektor Empat dengan kecepatan yang stabil. Ia sengaja tidak melesat secepat peluru agar tidak menciptakan ledakan sonik yang bisa membangunkan seluruh kota. Sambil berjalan di ketinggian ribuan kaki, Arthur menatap ke bawah. Ia melihat kehidupan manusia yang begitu rapuh, lampu-lampu jalan yang berkedip, mobil-mobil otomatis yang bergerak seperti semut di jalur magnetik, dan beberapa pahlawan peringkat rendah yang sedang berpatroli di atap gedung.
Mereka sangat bangga dengan teknologi ini, pikir Arthur sambil menatap menara komunikasi GDC yang memancarkan sinyal pengawas. Mereka merasa aman di balik dinding plasma dan algoritma, tanpa menyadari bahwa pondasi dunia mereka sedang digerogoti oleh sesuatu yang jauh melampaui logika mereka.
Arthur merasakan denyutan Jembatan itu lagi. Semakin dekat ia dengan Sektor Empat, denyutan itu semakin terasa seperti pukulan palu di ulu hati. Para Architects sedang mencoba menstabilkan frekuensi nuklir di dasar laut. Jika Heart of Gaia tetap berada di dalam museum sebagai pajangan, kristal itu akan bereaksi terhadap energi Jembatan dan meledak, menghancurkan seluruh Sektor Empat dalam satu reaksi berantai.
Butuh waktu sekitar dua puluh menit bagi Arthur untuk mencapai wilayah udara Sektor Empat. Museum Sejarah GDC berdiri megah di pusat distrik, sebuah bangunan berbentuk kubah kristal yang dikelilingi oleh parit laser dan menara pengawas otomatis. Di dalamnya, terdapat ribuan artefak yang dikumpulkan GDC dari berbagai reruntuhan kuno di seluruh dunia.
Arthur mendarat di atap museum dengan sangat ringan. Ia bisa merasakan sistem keamanan di bawah kakinya sensor tekanan, detektor panas, dan pemindai biometrik yang mampu mengenali struktur DNA siapa pun dalam radius sepuluh meter.
"Terlalu banyak mainan," gerutu Arthur.
Ia menutup matanya, melepaskan gelombang kesadaran yang sangat halus ke seluruh sistem elektronik bangunan tersebut. Baginya, kode-kode keamanan yang rumit itu hanyalah deretan angka yang berisik. Ia menyuntikkan keheningan ke dalam sistem saraf pusat museum. Kamera pengintai tetap menyala, namun mereka hanya akan menampilkan rekaman statis dari lorong yang kosong. Sensor berat akan tetap aktif, namun mereka akan mencatat berat Arthur sebagai nol gram.
Arthur merembes masuk melalui atap, melewati lapisan logam dan beton seolah olah itu adalah air. Ia mendarat di koridor utama yang gelap gulita. Hanya cahaya bulan yang menembus kubah kristal yang memberikan sedikit penerangan. Suasana di dalam museum itu terasa sangat mistis, dipenuhi dengan patung-patung pahlawan masa lalu dan fragmen-fragmen senjata kuno yang sudah tidak berfungsi.
Ia berjalan melewati barisan etalase kaca dengan santai. Sepatunya tidak mengeluarkan suara di atas lantai marmer yang mengilat. Di ujung aula, di dalam sebuah ruangan khusus yang dilapisi kaca anti peluru setebal tiga puluh sentimeter, ia melihatnya.
The Heart of Gaia.
Kristal itu berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa, berbentuk oval sempurna dengan warna hijau zamrud yang sangat pekat. Di dalamnya, ada sebuah cahaya redup yang berdenyut selaras dengan detak jantung bumi. Kristal ini bukan sekadar batu mulia, ini adalah sisa-sisa organ penstabil dari peradaban yang ada jauh sebelum manusia mengenal tulisan.
Saat Arthur mendekati ruangan itu, kristal tersebut mulai bersinar lebih terang. Seolah olah benda mati itu mengenali keberadaan sang Sovereign. Cahaya hijau itu mulai bergetar, menciptakan dengungan frekuensi tinggi yang bisa memicu alarm ultrasonik.
"Diam lah," perintah Arthur pelan. Ia menyentuh permukaan kaca arti peluru tersebut.
Seketika, dengungan itu berhenti. Arthur tidak menghancurkan kacanya. Ia memanipulasi ruang di dalam kotak pajangan tersebut, membuat kristal itu berpindah secara instan ke telapak tangannya melalui proses quantum tunneling yang sempurna.
Ia memegang kristal itu. Rasanya hangat dan bergetar, memberikan energi yang menenangkan. Arthur bisa merasakan bagaimana kristal ini mencoba menjahit kembali luka-luka dimensi di sekitarnya.
"Dengan ini, aku bisa menunda Jembatan itu sedikit lebih lama," bisik Arthur. Ia memasukkan kristal hijau itu ke dalam tas pinggangnya, tepat di samping kotak susu stroberinya.
Namun, tepat saat ia hendak berbalik untuk pergi, sebuah lampu sorot besar tiba-tiba menyala dari arah balkon lantai dua museum. Cahaya putih yang menyilaukan itu mengunci posisi Arthur di tengah aula.
"Aku tidak menyangka pencurinya akan mengenakan piyama biru," sebuah suara yang sangat dikenal Arthur menggema di ruangan luas itu.
Arthur menyipitkan matanya. Di atas sana, berdiri Silas. Sang investigator itu mengenakan jaket kulit hitam, tangannya memegang sebuah perangkat pemindai manual yang tidak terhubung ke jaringan museum. Di sampingnya, Valerius berdiri dengan tangan ber sedekap, wajahnya tampak sangat lelah dan penuh kecemasan.
"Paman, kau mengganggu jam tidurku lagi," ujar Arthur dengan nada suara yang sangat datar, tidak ada sedikit pun rasa takut meski tertangkap basah.
Valerius melompat turun dari balkon, mendarat dengan dentuman pelan di depan Arthur. "Arthur, apa yang kau lakukan? Mencuri artefak nasional? Jika dewan tahu, aku tidak bisa lagi melindungi mu. Ini adalah tindakan kriminal tingkat tinggi."
Arthur menatap Valerius dengan pandangan meremehkan. "Kriminal? Benda ini sedang mencoba meledak karena serangan dari Pasifik semalam. Jika aku tidak mengambilnya, besok pagi museum ini akan menjadi kawah sedalam lima ratus meter. Kau lebih peduli pada hukum manusia atau keberadaan sektor ini, Valerius?"
Silas ikut turun menggunakan tangga darurat, langkah kakinya bergema. "Dia benar, Komandan. Sensor manual ku mendeteksi lonjakan radiasi gamma dari kristal itu sejak satu jam yang lalu. Tapi... bagaimana kau bisa masuk ke sini tanpa memicu satu pun alarm digital kami?"
"Sistem kalian dibuat oleh manusia," jawab Arthur sambil mulai berjalan menuju pintu keluar. "Dan manusia selalu membuat kesalahan dalam memahami apa yang sebenarnya mereka lindungi."
Valerius menghalangi jalan Arthur. "Berikan padaku, Arthur. Aku akan membawanya ke laboratorium pusat GDC. Mereka punya fasilitas penstabil energi yang lebih baik daripada tas pinggang dinosaurus mu."
Arthur berhenti melangkah. Ia menengadah, menatap langsung ke mata Valerius. Tekanan di dalam museum itu tiba-tiba naik secara drastis. Valerius merasa oksigen di paru-parunya seolah olah menghilang. Suhu ruangan turun hingga titik beku, menciptakan lapisan es tipis di atas lantai marmer.
"Fasilitas kalian akan hancur dalam hitungan detik jika menyentuh inti energi kristal ini," ucap Arthur dengan suara yang terdengar seperti ribuan badai yang bersatu. "Jangan mencoba mengaturku, Valerius. Kau hanyalah wajah yang kupilih untuk menenangkan orang-orang. Jangan pernah berpikir kau adalah atasanku."
Valerius mundur satu langkah, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari kesalahannya. Ia telah melupakan bahwa di balik piyama biru itu, ada entitas yang bisa menghapus keberadaannya hanya dengan satu pikiran.
Silas segera menengahi. "Komandan, biarkan dia membawanya. Jika dia bilang itu aman bersamanya, maka itu adalah tempat teraman di bumi. Kita hanya perlu memalsukan laporan bahwa ada gangguan teknis pada sistem tampilan dan kristal itu sedang dibawa untuk perawatan rutin."
Arthur menurunkan tekanan auranya. Suhu ruangan perlahan kembali normal. "Pilihan yang cerdas, Silas. Pastikan laporan itu terlihat sangat membosankan agar tidak ada yang curiga."
Arthur kemudian menatap Valerius yang masih tampak terguncang. "Valerius, Jembatan itu akan mencapai fase puncaknya dalam tiga hari. Persiapkan armada mu bukan untuk bertempur, tapi untuk evakuasi. Aku yang akan menghadapi apa yang keluar dari sana. Dan pastikan stok susuku minggu ini tidak terlambat."
Tanpa menunggu jawaban, Arthur melompat ke arah kubah kaca di atas. Ia menembus material padat itu seolah olah itu hanya bayangan, lalu menghilang ke dalam kegelapan langit malam Sektor Empat.
Valerius dan Silas berdiri diam di tengah aula museum yang sunyi. Mereka menatap langit-langit tempat Arthur menghilang.
"Kita baru saja membiarkan seorang anak kecil mencuri jantung bumi," bisik Valerius dengan tangan gemetar.
"Tidak, Komandan," Silas memperbaiki letak kacamatanya. "Kita baru saja melihat pemilik aslinya mengambil kembali barang miliknya. Sekarang, kita punya pekerjaan berat. Kita harus membohongi seluruh dunia tentang hilangnya kristal ini sebelum fajar menyingsing."
Arthur melayang kembali menuju apartemennya dengan kecepatan tinggi. Di dalam tas pinggangnya, Heart of Gaia berdenyut hangat, seolah olah merasa nyaman berada di dekat sang Sovereign. Arthur melihat jam tangannya.
03.15 pagi.
"Aku masih punya waktu empat jam untuk tidur sebelum sekolah dimulai," gumam Arthur. "Dan aku belum mengerjakan PR bahasa Inggris tentang cita-citaku di masa depan."
Ia tersenyum kecut. Bagaimana ia bisa menulis bahwa cita citanya adalah menjadi anak kecil biasa yang tidak perlu mencuri artefak kuno di tengah malam? Dunia benar-benar tempat yang sangat rumit bagi seorang Sovereign.
Arthur sampai di balkon apartemennya, menyelinap masuk melalui kaca, dan merangkak kembali ke bawah selimutnya yang hangat. Kristal hijau itu ia letakkan di bawah bantalnya, membiarkan energinya meresap ke dalam lantai apartemen untuk menciptakan perisai pelindung bagi Clara dan dirinya sendiri. Dalam hitungan detik, napasnya kembali teratur, dan sang Bocil Kematian itu kembali terlelap sebagai bocah biasa.