Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Saat bangun pagi ranjang di sebelah Laras sudah kosong bearti suaminya sudah pergi. Atau pulang kerumah istri pertamanya bisa juga dia pindah ke kamar lain, Laras tak mau ambil pusing.
Dengan berbalut selimut Laras perlahan turun dari ranjang tapi saat melangkah area sensitifnya terasa begitu perih. Kembali air mata Laras mengalir membasahi pipinya.
"Aduh ya Allah kok sakit banget ya." lirih Laras.
Dengan langkah tertatih Laras menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Cukup lama ia berendam di bak mandi yang berisi air panas hingga rasa perih di bagian intinya agak berkurang baru ia keluar dari bak mandi dan menyelesaikan ritual mandinya.
Entah siapa yang menyiapkan baju ganti untuk dirinya yang jelas saat keluar dari kamar mandi, baju ganti sudah tersedia di ranjang. Padahal tadi ia sempat binggung harus memakai apa setelah selesai mandi. Tak mungkin ia kembali ke kamarnya hanya memakai jubah mandi. Apa kata pekerja di rumah ini meliaht ia seperti itu.
Laras memakai pakainya dan bergegas hendak keluar kamar karna perutnya terasa kerongkongan minta diisi tapi saat hendak membuka pintu, Pintu kamar terbuka dari arah luar. Rupanya ada bu Ester yang berdiri di depan pintu.
"Ayo ikut saya." perintah wanita itu. Laras mengangguk dan mengikuti langkah kaki Ester menuju ruang kerja nyonya Veronica.
"Siang ini kamu akan pindah dari sini?" ujar Veronica lantang tanpa basa basi menanyakan keadaan Laras saat ini.
"Pindah, jadi saya tak tingal di sini, nya?" Laras memberanikan diri bertanya.
"Iya, kamu akan tinggal di rumah yang sudah di beli Dafa di kawasan lain. Saya mau kamu cepat hamil." ujar wanita itu dengan ekpresi dingin.
"Baik, nya. Saya permisi dulu. Saya mau berbenah barang - barang saya dulu." pamit Laras sopan.
Laras membereskan barang - barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Perut Laras berbunyi karna memang ia belum sarapan apapun sedari pagi. Lalu Laras pergi kedapur membuat segelas susu dan mengoleskan selembar roti dan langsung memakanya. Untung tak ada seorang pun di dapur sehingga Laras bisa makan dengan tenang.
"Laras." panggil Ester membuat Laras kaget dan langung menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. Untung makanan dan susunya sudah habis saat bu Ester memanggilnya.
"Bu Ester, ada apa?" tanya Laras.
"Tuan muda sudah menunggu di depan."lapor bu Ester hormat karna Laras sekarang adalah majikanya juga.
"Baik bu, saya mau ambil tas saya dulu ke kamar." Laras bergegas mengambil tasnya dan secepatnya menuju ke depan di mana suami sirinya menunggu. Ternyata di sana juga ada istri pertama suaminya yang bergelayut manja di lengan Dafa.
"Ayo naik." perintah Dafa.
Laras patuh naik di bangku depan sebelah sopir karna di tengah Dafa dan istrinya yang duduk di sana. Istri Dafa sengaja mengumbar kemesraanya di depan Laras tapi Laras tak peduli. Mungkin istrinya Dafa berharap Laras akan cemburu tapi Laras memilih tak peduli. Buat apa cemburu, toh pernikahan ini hanya saling memberi satu sama lain.
Laras di buat takjub dengan pemandangan saat memasuki sebuah komplek perumahan. Walau tak semegah rumah nyonya Veronica tapi bagi Laras ini sudah sangat bagus. Apalagi saat mobil berhenti di sebuah rumah minimalis bercat putih.
"Ayo turun, kamu mau duduk di situ terus." bentak Dafa dengan wajah dingin.
Laras tersadar dari lamunananya dan segera turun sambil membawa tas berisikan barang - barangnya mengikuti Dafa dan istrinya.
"Selamat datang tuan muda." Sapa seorang wanita paruh baya dengan hormat.
"Bik Siti, ini majikan kamu yang mesti kamu layani dengan baik mulai saat ini." Dafa memperkenalkan Laras pada ART yang bertugas di rumah ini.
"Saya Laras, bik." Laras memperkenalkan dirinya.
"Mari saya anter Nons ke kamar." bik Siti mengambil tas yang di bawa Laras dan menuntun Laras menuju kamar utama.
"Silahkan nona, ini kamarnya." bik Siti membuka pintu lebar - lebar dan mempersilakan Laras untuk segera masuk.
Laras di buat takjub dengan betapa luas kamar tersebut. Sangat jauh berbeda dengan kamar yang ia tempati di rumah nyonya Veronica. Apalagi ukuran ranjangnya super besar dan pasti empuk tidak seperti kasurnya yang keras.
"Nona mau mandi?" tanya bi Siti setelah meletakan barang Laras di samping lemari.
"Nanti aja, bik. Kayanya aku mau rebahan dulu sebentar."
"Baiklah kalau begitu, saya tinggal dulu. Nanti kalau nona butuh apa - apa panggil saja saya melalui telpon itu." tunjuk bik Siti pada benda yang tergantung di sudut pintu masuk.
"Baik, bik. Makasih." Laras berjalan menuju ranjang dan menghempaskan tubuhnya. Laras memejamkan matanya menikmati betapa empuknya kasur barunya hingga tak sadar tertidur dan meluapkan suami dan maduny.
...****************...
Assalamualaikum kk, thor kembali up ya.
Jangan lupa like dan komenya serta vote yang banyak kk👍😘🙏