Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.
Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Merasa diawasi
Beberapa bulan telah berlalu sejak itu.
Yun Zhu melesat membelah cakrawala, tubuhnya yang tegap tampak tenang meski terpaan angin kencang mencoba menghambat lajunya.
Jubahnya yang koyak berkibar liar, memperlihatkan beberapa luka sayatan yang cukup parah dan masih mengeluarkan rembesan darah. Namun, ia tidak memperlambat kecepatannya sedikit pun.
'Sial, lautan monster itu benar-benar menyebalkan.'
Lautan Monster, sebuah wilayah terkutuk yang menjadi momok bagi para kultivator.
Hamparan air di bawah sana berwarna merah pekat seperti darah, dihuni oleh ribuan monster laut tingkat tinggi yang haus akan nyawa.
Tempat itu dulunya hanyalah lautan biasa, namun sejak dikuasai oleh kawanan monster purba, bahkan seorang kultivator tingkat Nascent Soul pun harus berpikir dua kali sebelum berani melintasinya.
'Untung saja punya teknik perlindungan api dari Nona Yan. Kalau tidak sungguh akan sulit melewatinya.'
Yun Zhu memacu energi spiritualnya lebih dalam, menciptakan kilatan api tipis yang menyelimuti tubuhnya sebagai pelindung.
Ia membentuk garis cahaya keemasan di langit yang mendung, terbang jauh meninggalkan wilayah berbahaya itu.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, sebuah siluet kota raksasa mulai terlihat di balik kabut.
Kota Zhiyang.
Kemegahannya sungguh luar biasa, dua kali lipat lebih luas dari Kota Peiling.
Bangunan-bangunan batu yang kokoh menjulang tinggi dengan arsitektur mewah yang berlapis emas di beberapa sudutnya. Kota ini dikenal sebagai pusat berkumpulnya para kultivator hebat dari berbagai penjuru negeri.
Yun Zhu mulai menurunkan ketinggiannya secara perlahan. Kaki botnya akhirnya menyentuh tanah yang keras di depan gerbang utama.
Ia berdiri diam sejenak, mendongak untuk memperhatikan gerbang raksasa yang dijaga oleh barisan prajurit berbaju zirah lengkap.
"Tempat untuk para kultivator... ini memang bagus."
Yun Zhu mengibaskan tangannya dengan gerakan anggun yang singkat.
Seketika, cahaya hijau lembut menyelimuti tubuhnya, luka-luka yang menganga perlahan menutup tanpa bekas, dan pakaiannya yang kotor oleh debu serta darah kembali bersih mengilat seperti baru.
Dengan langkah mantap dan tatapan yang tajam, ia melangkah masuk ke dalam kota.
Suasana di dalam Kota Zhiyang benar-benar hidup. Jalanan yang terbuat dari batu granit besar tampak bersih dan luas.
Para pedagang berteriak menjajakan barang-barang langka, para kultivator saling berbincang di depan kedai teh, dan anak-anak kecil berlarian riang di antara kerumunan.
Yun Zhu berjalan dengan tenang, menyisir setiap sudut jalan dengan pandangannya yang waspada.
Tanpa ia sadari, di belakangnya terdapat sebuah tandu mewah yang dikawal ketat.
Seorang wanita muda dengan rambut putih panjang seputih salju tampak menyembul dari balik tirai sutra. Ia adalah Han Ping'er, putri dari keluarga Han yang sangat berpengaruh di Kota Zhiyang.
Han Ping'er menopang dagunya yang tirus dengan tangan mungilnya, matanya yang berbinar menatap punggung Yun Zhu yang baru saja berpapasan dengannya.
Sebuah senyum tipis yang penuh ketertarikan muncul di bibirnya yang kemerahan.
"Dia pria yang sangat tampan."
Ucapan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Meski hanya melihat profil samping wajah Yun Zhu sekilas, aura misterius dan ketampanan pemuda itu seolah langsung terpahat di dalam ingatannya.
Han Ping'er memiringkan kepalanya, terus memperhatikan Yun Zhu sampai sosok pemuda itu menghilang di persimpangan jalan.
"Tuan putri, kita tidak punya banyak waktu. Makam Abadi akan segera terbuka, ini sudah saatnya untuk pulang," ucap salah satu pengawal dengan nada yang mendesak namun tetap hormat.
Mendengar itu, ekspresi Han Ping'er langsung berubah. Ia memajukan bibir bawahnya, tampak cemberut dan sedikit kesal karena kesenangannya terganggu.
"Iya, iya. Aku tau."
Ia menarik kembali kepalanya ke dalam tandu dengan gerakan merajuk, namun bayangan pria misterius berambut hitam tadi tetap membekas di benaknya.