Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN
Arsa menulis di sore hari, ketika cahaya dari jendela sudah miring ke warna emas dan bayangan di lantai memanjang ke arah yang salah dari pagi.
Bukan untuk proyek Bu Hartini. Bukan untuk apapun yang ada di daftarnya. Ia menulis karena ada hal-hal yang mulai menumpuk di tempat yang sudah tidak nyaman lagi, dan menumpuk terlalu lama di tempat yang sama akhirnya selalu mencari jalan keluar.
Ia menulis tentang Raka.
Bukan rekonstruksi — bukan format profesionalnya, bukan cara ia menyusun kisah orang lain untuk keluarga mereka. Ini lebih personal dari itu. Lebih tidak terstruktur, lebih bergerak ke mana tangannya membawa tanpa terlalu banyak disaring.
Ia menulis tentang soto dan satu jam dalam diam yang lebih bermakna dari banyak percakapan. Tentang cara Raka selalu menyusun sepatunya dengan ujung rata ke dinding — detail yang diceritakan ibunya di Bandung dan yang entah kenapa membuat ia menangis di toilet galeri setelah sesi bersama ibu itu, sendirian, cukup lama.
Tentang mendengar suara Raka melalui suara Wren. Tentang betapa anehnya perasaan itu — mendengar kata-kata yang akrab dengan nada yang belum pernah dikenal, dan entah kenapa hasilnya bukan asing tapi lebih seperti menemukan sesuatu yang seharusnya selalu ada di sana tapi kamu tidak tahu ke mana harus mencarinya.
Tentang kotak kayu. Tentang dua belas amplop. Tentang satu amplop dari Dito yang tidak pernah terkirim tapi yang akhirnya terdengar.
Tentang malam di teras hotel Bandung dan tangan yang diletakkan di atas tangan di meja warung soto.
Ia menulis sampai matahari sudah turun sepenuhnya dan ruangan mulai gelap dan ia baru sadar ia lupa menyalakan lampu.
Ia simpan dokumen itu. Bukan untuk dibagikan. Bukan untuk dipublikasikan. Hanya untuk ada — untuk menjadi bukti bahwa semua ini sungguh terjadi dan bukan hanya terasa seperti terjadi.
Lalu ia mengirim satu pesan:
"Saya baru menulis sesuatu. Bukan untuk siapapun. Tapi saya ingin Anda yang pertama membacanya kalau suatu hari saya siap."
Balas datang cepat:
"Saya akan menunggu. Tidak ada batas waktunya."
Arsa meletakkan ponselnya.
Menyalakan lampu meja.
Di luar, Jakarta mulai masuk ke mode malam — lampu-lampu yang menyala satu per satu di gedung-gedung, suara yang tidak pernah benar-benar berhenti tapi berubah karakter.
Ia menatap dokumen yang baru ia tutup di layar.
Suara yang kamu tinggalkan. Judul yang datang tanpa direncanakan, yang muncul di kepala ketika ia pertama membaca surat Raka tentang mengkoleksi suara di kepala — cara seseorang tidak ingin melupakan sesuatu yang tahu akan sulit diingat.
Raka meninggalkan suara — di kertas, di kotak kayu, dalam cara dua belas surat akhirnya menemukan telinga yang bisa merasakan beratnya.
Pak Wahyu meninggalkan suara — di jurnal tiga hari, dalam pot-pot kaktus kecil di meja kantor, dalam satu kalimat kepada pemuda di depan pintu kamar rumah sakit yang kosong: Dito tahu kamu ada.
Dito meninggalkan suara — dalam tujuh belas foto langit, dalam satu surat untuk Tanah, dalam nama yang ia berikan kepada seseorang yang kemudian menggunakannya dua belas kali dalam tulisan yang penuh dengan rasa yang tidak punya label yang cukup besar.
Dan suara-suara itu tidak pergi. Mereka menemukan jalan — melalui kotak antik, melalui mikrofon kecil di studio di atas toko buku bekas, melalui speaker tersembunyi di galeri Cikini, melalui ribuan surat yang ditulis di ruang Akhirnya dan dimasukkan ke kotak pos merah.
Suara yang ditinggalkan selalu menemukan cara untuk sampai. Hanya butuh seseorang yang mau membawanya.
Arsa memikirkan suaranya sendiri — yang akan ia tinggalkan, suatu hari nanti, dalam kisah-kisah yang ia rekonstruksi dan dalam kata-kata yang mulai ia tulis untuk dirinya sendiri. Dan ia memikirkan Wren — suara yang sudah sangat ia kenal, yang membacakan kata-kata Raka dengan cara yang membuat Raka terasa hidup, yang sekarang mulai membawa suaranya sendiri ke dunia dengan nama yang bukan lagi anonim.
Dua suara yang menemukan cara untuk ada bersama.
Akhirnya.