Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.
namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.
shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.
kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.
terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.
𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 12
Gibran mengepalkan tangannya saat melihat Hendro kini berdiri tepat di depannya. Napasnya tertahan, dadanya terasa sesak oleh amarah yang sulit dijelaskan. Ingin sekali ia meluapkan semuanya pada pria yang telah menghancurkan hidupnya.
“Sabar, Gib. Gue tahu pasti sekarang lo ingin melakukan sesuatu ke Om Hendro, tapi ini bukan waktu yang tepat,” ujar Shila pelan, berusaha menenangkan Gibran.
Anak mana yang tidak sakit hati melihat orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarganya masih bisa hidup dengan tenang, sementara dirinya harus terus membawa luka? Rasa itu begitu berat, seolah tak pernah benar-benar hilang.
“Sumpah, Shila… gue pengin banget membalas semuanya sekarang juga. Tapi lo benar… ini bukan waktu yang tepat…” ucap Gibran, berusaha mengendalikan dirinya.
“Coba lo perhatikan deh, Gibran… Tadi kan Aira memanggil orang tuanya, dan anehnya mereka langsung ke sini. Apa mereka masih punya rasa?” tanya Shila dengan penuh rasa penasaran.
“Kemungkinan mereka tidak sepenuhnya berubah, Shil. Bisa jadi masih ada sisi mereka yang tersisa,” balas Gibran pelan. Keduanya terus memperhatikan dari tempat mereka bersembunyi.
Mata Hendro terbelalak saat melihat kedua orang tua Aira berjalan ke arahnya. Tatapan mereka terasa berbeda—asing, namun seperti menyimpan sesuatu yang belum hilang sepenuhnya.
“Pah, kenapa mereka bisa mendengar panggilan Aira sih? Bukannya mereka sudah berubah?” bisik Mama Dewi dengan suara gemetar.
“Papa juga tidak tahu, Mah…” jawabnya pelan, terlihat cemas.
“Aduh, gimana ini? Om dan Tante sudah dekat, Mah…” Dewi ketakutan dan langsung bersembunyi di belakang mamanya.
Aira pun terdiam, tak menyangka
panggilannya benar-benar dijawab. Perasaan haru dan takut bercampur dalam dirinya saat melihat kedua orang tuanya berdiri di hadapannya.
“Akhirnya kita bertemu juga, Hendro… Kelihatannya hidupmu baik-baik saja, ya. Tidak ada rasa penyesalan setelah semua yang terjadi,” ucap Wanda dengan nada dingin.
“Kamu jangan salah paham, Wanda… Aku menyesal, kok,” jawab Hendro cepat.
“Sudahlah, Hendro. Mungkin orang lain bisa kamu yakinkan, tapi tidak denganku. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini sebelum keadaan jadi semakin rumit,” usir Wanda tegas.
Suasana berubah menjadi tegang dan sunyi.
Tidak ada yang berani bergerak sembarangan.
Hendro langsung menyuruh istrinya masuk ke dalam mobil Dewi. Sementara dirinya bergegas masuk ke mobilnya sendiri, ingin segera meninggalkan tempat itu.
Namun tanpa ia sadari, Wanda dan suaminya telah memberi isyarat kepada beberapa rekannya. Diam-diam, mereka ikut masuk ke dalam mobil Hendro, bersembunyi dengan tenang…
“Aira, boleh Ibu dan Ayah masuk? Ada yang ingin kami sampaikan.”
“Kamu jangan takut, sayang. Kami tidak akan menggigitmu, kok,” Hadi meyakinkan anaknya dengan suara lembut, berusaha menenangkan suasana yang tegang.
Aira pun membiarkan kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah. Meski begitu, ia tetap menjaga jarak dan waspada, takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi.
“Tante, Om… kalian kok bisa seperti manusia sekarang ini?” tanya Shila dengan penuh heran, matanya tak lepas mengamati perubahan mereka.
“Kalian silakan duduk. Kami akan ceritakan semua,” suruh Hadi sambil menunjuk sofa di ruang tamu.
Mereka semua pun duduk di ruang tamu dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi pikiran. Suasana terasa hening, namun penuh ketegangan. Meski duduk bersama, mereka tetap saling berjaga.
“Kami bisa berubah jadi manusia di waktu tertentu seperti sekarang ini, tapi cuma sebentar saja… Sebelum Tante dan Om berubah lagi… Kami harap kamu dan temanmu ini, kalau bisa, bakar pabrik mochi itu supaya mereka tidak memproduksinya lagi, Shila,” suruh Hadi dengan nada serius.
Ia menatap satu per satu wajah mereka, seolah memastikan pesan itu benar-benar dipahami.
“Betul itu. Cuma kalian yang bisa kami andalkan. Dan biarkan Kenan tinggal bersama Aira selama kalian pergi. Tidak usah khawatir, kami akan melindungi mereka berdua, meskipun dari jarak jauh,” tambah Wanda, suaranya terdengar penuh harap.
“Terima kasih telah datang ke sini. Dan Tante dan Om mohon, ke mana pun kalian pergi, bawa Aira, ya… Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi,” pesan Wanda dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Shila mengangguk dan berjanji tidak akan pernah meninggalkan Aira di sini seorang diri. Ia menggenggam tangan Aira pelan, memberi kekuatan.
“Maaf nih sebelumnya… Kenapa Om dan Tante membiarkan Om Hendro itu pergi dari sini? Padahal dia yang membuat kalian jadi seperti ini,” tanya Gibran dengan nada
penasaran, namun tetap berusaha sopan.
“Bukan kami membiarkan… Kami diam-diam menyuruh beberapa orang masuk ke dalam mobil Hendro… Kami tidak akan membiarkan hidup orang-orang itu tenang lagi,” cerita Hadi pelan, ada makna tersirat di balik ucapannya.
Suasana kembali hening. Semua saling berpandangan, menyadari bahwa apa yang akan mereka hadapi ke depan bukanlah hal yang mudah. Namun, mereka juga tahu—ini adalah awal dari usaha untuk menghentikan semuanya.
wanda dan hadi pun pergi dari rumah mereka karena sebentar lagi mereka akan kembali jadi zombie dan berjanji sama aira. mereka pasti menemui aira lagi kalau mereka berubah jadi manusia lahir lagi..
"seharusnya lo bersyukur ai, karena masih bisa melihat dan bertemu orang tua lo. sedangkan gue dan gibran tidak bisa.. mau ziarah ke kuburan mereka pun tidak bisa karena mayat orang tua kami di bakar" ungkap shila.
aira langsung memeluk shila.. tangis gadis itu pun pecah di pelukan aira.. gibran tidak tega melihat shila menangis. dia memilih balik ke kamar karena kenan lagi tidur.
"lo bisa bertahan sampai sekarang aja lo hebat shila.. om dan tante pasti tenang di atas sana" ujar aira.
"kalau bukan karena kenan, mungkin gue memilih ikut mereka ai.. kenan lah yang membuat gue bertahan sampai sekarang" cerita shila..
"lo tetap harus kuat shila demi adik lo dan pesan orang tua lo harus lo kabulkan".
kedua gadis itu saling menguatkan dan mengungkapkan isi hati masing-masing di ruang tamu.. dia luar kini kembali terdengar gereman para zombie.
sementara gibran sampai di kamar menatap kenan yang masih nyenyak dengan tidur nya. kadang dia tersenyum mungkin mimpi bertemu dengan orang tuanya.
" ya allah, anak sekecil ini harus kehilangan orang tuanya karena keserakahan orang-orang itu.. gue janji akan memberikan lo kasihh sayang seorang ayah dek" gibran memeluk kenan dan ikut tertidur.
shila menuju kamar yang di tempati adiknya dan gibran. membuka pintu shila tersenyum melihat pemandangan yang indah..
gibran memeluk kenan dan adiknya itu pun memeluk gibran. mereka seperti anak dan ayah.
"terimakasih Tuhan telah mengirimkan gibran ke kehidupan gue.. dengan kehadiran nya gue dan adek gue merasa aman. dia benar-benar melindungi kami berdua" batin shila.. gadis itu tidak akan pernah meninggalkan gibran juga. mereka berdua harus saling menguatkan.