Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Mafia melanjutkan langkah yang diikuti oleh Vair serta dua anak buahnya. Mereka berjalan menggunakan lift untuk sampai dilantai paling atas. Didalam lift yang sempit itu mereka berempat tidak ada yang bersuara. Hanya dentingan lift yang perlahan naik yang terdengar.
Ting !
Lift behenti dilantai paling atas, terbuka, dan Mafia lebih dulu keluar dari sana. Disana sepi, tidak ada siapapun yang terlihat. Membuat Vair, Kasim, serta Haru penasaran.
"Tuan, apa kita mau ketemu seseorang?" tanya Kasim, lagi lagi dia tidak bisa menahan rasa penasarannya, mewakili Haru dan juga Vair.
Langkah kaki panjang Mafia berhenti didepan pintu ruangan yang tertutup, Mafia melirik Kasim yang ada di belakangnya sebentar. Tanpa sepatah kata, Mafia membuka pintu itu, dengan debar yang tersamarkan oleh raut tenang wajahnya.
Begitu pintu itu terbuka, Vair pun masuk, mengekor di belakang Mafia. Tapi tidak dengan Haru dan Kasim. Saat mereka ingin ikut masuk, tangan Mafia terangkat, sebuah isyarat jika mereka cukup mengikuti sampai di sina.
Haru dan Kasim berhenti di depan pintu, tidak berani masuk. Mereka saling menatap, rasa penasaran mereka semakin besar.
"Tuan Mafia, apa kita...?" Kasim mencoba bertanya lagi, tapi Mafia sudah masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu itu.
Haru dan Kasim saling menatap lagi, lalu berdiri didepan pintu. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi didalam ruangan itu, tapi mereka tahu bahwa ada sesuatu yang penting dan privasi.
Vair lebih masuk ke dalam ruangan, dan apa yang dia lihat membuatnya terkejut. Di depan sana, ada seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang dan mata biru yang tajam. Wanita itu duduk di belakang meja, dengan ekspresi yang tersenyum tenang.
Vair menutup mulutnya, dia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang. Mungkinkah ini hanya mimpi? Tapi semoga saja bukan mimpi. Vair mencubit lengannya.
"Aw!" dan ternyata sakit, berarti ini nyata, bukan mimpi.
"Aku rindu kamu Kak," berdiri dan berhambur memeluk sang kakak.
Vair mematung merasakan hangatnya pelukan ini. Pelukan yang sudah lama dia rindukan. Pelukan yang sudah lama tidak dia rasakan. "Vari," gumamnya, mulai membalas pelukan sang adik. "Ini beneran kamu kan? Kakak nggak lagi mimpi kan?"
Vari tersenyum di balik punggung sang kakak. "Aku akan tampar kamu kak. Kalau sakit, berarti ini nyata,"
"Ish..."
"Hahahaaa..."
Mafia berdiri di sebelah Vair, dengan ekspresi yang serius. "Ehem!"
Vair dan Vari melepas pelukan, menatap Mafia dengan heran.
"Aku sudah mempertemukan kamu dengan adik mu sesuai janji ku. Jadi...kasih aku hadiah,"
"Hadiah apa?" tanya Vair.
Mafia mengedikan kedua bahu.
Vair terdiam lalu...
Cup
Seluruh tubuh Mafia menegang mendapat ciuman tiba tiba dipipinya.
"Itu hadiah dari aku, My first kiss," Vair tersenyum malu, lirih diujung kalimat.
Vari yang melihat adegan romantis itu menutup wajahnya, tidak menyangka akan melihat sang kakak mencium seseorang didepan matanya, secara live.
Kakak bikin aku iri
"Ehem!"
"Eee....kalian disini saja dulu. Aku pergi dulu, ada urusan mendadak," Mafia tersenyum kikuk, dia melirik arah Vair, salah tingkah, lalu keluar dari ruangan itu terburu buru dengan perasaan yang bercampur aduk. Bahkan untuk memegang handle pintu saja tangannya terasa gemetar.
"Tuan,"
Begitu melihat tuannya keluar dari pintu, Haru dan Kasim reflek menyapa, menunduk hormat seperti biasanya. Tapi sapaan itu selalu tidak ada balasan dan mereka berdua sudah terbiasa.
Mafia pergi dari sana, entah akan pergi kemana, yang terpenting dia ingin menyendiri dulu. Ingin menormalkan perasaan yang tidak biasa ini. Perasaan yang baru pertama kali dia rasakan.
"Perasaan macam apa ini? Kenapa aneh banget?" lirihnya, sambil terus berjalan, tanpa sadar dia menuju toilet wanita dan masuk ke dalamnya, untungnya tidak ada orang didalamnya.
Dan Vair yang sejak tadi menetap kepergian Mafia, tiba tiba hatinya merasa berdesir mengingat apa yang baru dia lakukan.
Oh my good aku barusan mencium Mafia?
Didepan adikku?
Wah
Memalukan
Rasa malu dan juga desiran aneh membaur menjadi satu. Vair kewalahan mengatasinya. Vair menyentuh dadanya, membuang napas berkali kali.
Kedua mata Vari tidak lepas dari tingkah kakaknya. Dia merasa lucu, dia merasa sedang menonton drama secara live. Uhuhuhuuu...seru sekaliiii...
"Ehem!"
"Kak,"
"Kakak suka sama Kak Mafia ya?" tanya yang sebenernya tidak perlu dia lontarkan karena dari gelagatnya saja, Vari sudah tahu jika diantara mereka berdua diam diam sudah ada bumbu bumbu cinta, hanya saja... mereka belum menyadarinya, mungkin.
Wajah Vair memanas mendapat pertanyaan dari adiknya sendiri. Pertanyaan yang membuatnya merasa linglung. "Aku nggak tahu."
"Jangan bohong Kak. Dari tatapanmu, kakak kelihatan suka sama dia. Hayo ngaku, hayo ngakuuu...."
"Ish...lama nggak ketemu, kamu kok jadi aneh begitu? Tahu gini nggak usah ketemu deh," Vair cemberut, tapi tidak bisa menyembunyikan senyum yang dia tahan, kentara sekali jika dia tidak sepenuhnya kesal.
Aku juga nggak tahu
Nggak tahu sama perasaanku ini.
Suka?
Ah, nggak mungkin
"Eh kak. Sini sini, aku mau cerita sama Kakak selama kita nggak ketemu." Vari terlihat antusias. Menarik tangan kakaknya untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangan.
"Ceritakan sekarang. Kakak penasaran, Kakak juga khawatir sama kamu,"
Vair menatap dan meneliti Vari, takut adiknya kenapa napa. Tapi dari yang Vair lihat, Vari kelihatan baik baik saja. Justru terlihat enjoy dan bahagia, berbanding terbalik dengannya yang selalu kepikiran, cemas, akan keselamatan Vari. Bahkan kepikiran Vari makan apa sehari harinya.
"Aku diperlakukan dengan baik di sini Kak. Aku sudah bekerja sekarang. Aku punya banyak uang. Dan lihat wajah ku," Vari menunjuk kedua pipinya yang terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Kamu jadi tembem banget. Wajah kamu juga berubah semakin bersih dan glowing." ucap Vair, seketika merasa iri. Vair menatap dirinya sendiri yang kelihatan lusuh, kusam dan kotor. Jelas membuktikan jika dia tidak merawat dirinya sendiri. Dia hanya kepikiran adiknya.
Vari terkekeh. "Nah iya, kak. Aku jadi makin cantik kan? Secara.. aku bisa beli skincare mahal lho.. Hihihi..." dengan bangganya Vari menceritakan semuanya tanpa menyadari raut wajah Vair yang mendadak suram.
"Vari..." lirih seperti bisikan. Vair menggenggam kedua lengan adiknya, menatapnya serius.
"Ya?" senyum Vari terlihat sangat manis dan cantik, dari senyum itu, jelas tidak menunjukan tanda tanda selama ini jika dia tertekan, menahan rindu, atau cemas dan khawatir sekalipun. Yang tanpa disadarinya membuat hati Vair berdenyut sakit.
"Kenapa Kak?" Vari menyadari jika raut wajah kakaknya berbeda, terlihat sedih.
"Selama kita terpisah... apa pernah sekali saja kamu mengkhawatirkan, Kakak?"