Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 PGS
Wita pun segera masuk kembali ke dalam rumah dan membangunkan suaminya. "Dad, bangun Dad," seru Mommy Wita menggoyangkan tubuhnya.
"Ada apa sih Mom?" seru Daddy Tri dengan suara seraknya.
"Bangun Dad, ada yang menyimpan sayuran, buah-buahan, dan beras di depan rumah," sahut Mommy Wita.
"Palingan itu ada orang yang nitip, sudahlah nanti juga bakalan ada yang ngambil," seru Daddy Tri sembari menarik selimutnya.
"Ih, gak mungkin orang lain nitip barang seperti itu? setidaknya mereka bakalan izin dong kalau memang dia mau nitip," kesal Mommy Wita.
Saking kesalnya, Wita pun menarik selimut Tri membuat Tri seketika membuka matanya. "Bangun tidak, kalau gak bangun nanti malam tidur di ruang tamu," ancam Mommy Wita.
Tri langsung terduduk walaupun pada kenyataannya dia masih sangat ngantuk. "Apa sih Mom, heboh banget perkara barang-barang itu juga," kesal Daddy Tri.
"Pokoknya sekarang Daddy harus lihat keluar, ini benar-benar aneh," paksa Mommy Wita.
Akhirnya Tri pun dengan terpaksa bangkit dan berjalan dengan langkah gontai menuju luar. "Lihat Dad, banyak banget," seru Mommy Wita.
Seketika Tri langsung membelalakkan matanya. Dia benar-benar kaget dengan barang-barang yang ada di halaman rumahnya itu. "Gila, banyak banget ini," seru Daddy Tri kaget.
"Tuh 'kan Mommy bilang juga apa, aneh banget tahu. Gak mungkin kalau ada orang yang nitip barang-barang seperti ini di halaman rumah kita," sahut Mommy Wita.
"Mungkin ini milik kita Mom," seru Daddy Tri.
"Milik kita dari siapa?" seru Mommy Wita.
Tri dan Wita kebingungan, tapi karena sampai menjelang pagi tidak ada yang merasa kehilangan sayur-mayur, buah-buahan, dan beras akhirnya mereka pun memutuskan untuk mengangkat barang-barang itu dan disimpan ke dalam kulkas. Sementara itu, dari kejauhan lagi-lagi Yosep tersenyum puas karena Wita mau menerima pemberian Bosnya itu.
Sementara itu di rumah Ariel, mereka sedang sarapan bersama. "Papa, tumben pagi ini rapih sekali, mau ke mana?" tanya Mama Ningsih.
"Ke mana lagi kalau bukan ke kebun," sahut Juragan Tama santai.
"Biasanya Papa tidak serapi ini kalau ke kebun? lagipula ini hari selasa loh Pa, biasanya Papa kalau ke kebun itu hari senin, rabu, dan sabtu," celetuk Ariel.
"Iya, tapi sepertinya mulai sekarang Papa akan setiap hari ke kebun supaya para pekerja lebih rajin lagi bekerjanya. Biasanya kalau gak ada Papa, mereka kerjanya leha-leha," dusta Juragan Tama.
Ariel dan Mamanya tidak curiga sama sekali, mereka bereaksi biasa saja. "Oh iya, Pa. Lusa Rosa pulang loh, berarti besok kita harus ke Jakarta untuk menjemput Rosa," ucap Mama Ningsih.
"Mama sama Ariel saja yang jemput Rosa, Papa sepertinya harus ngurus perkebunan mana masalah pupuk belum datang lagi. Takutnya pupuk datang saat Papa tidak ada," sahut Juragan Tama.
"Tapi kalau Papa gak ikut, Papa akan tinggal sendirian. Bagaimana dengan makan? Papa 'kan harus selalu makan masakan Mama," seru Mama Ningsih.
"Jangan khawatir, sepertinya dengan terpaksa Papa akan makan masakan si bibi dulu. Mau bagaimana lagi, masalah pupuk itu 'kan penting dan jika pupuk itu datang, harus ada Papa," sahut Juragan Tama dengan memperlihatkan wajah yang pura-pura sedih.
Ariel tampak mengerutkan keningnya tapi dia juga tidak mempunyai kecurigaan apa pun kepada Papanya. "Ya, sudah Papa hati-hati ya, nanti Mama biar pergi sama Ariel saja," sahut Mama Ningsih.
Tama menyunggingkan senyumannya, ternyata alasan dia tidak dicurigai oleh anak dan istrinya. Ariel berangkat ke sekolah untuk mengajar, sedangkan Tama pergi ke kebun seperti biasa ditemani oleh Yosep ajudannya. Sementara itu, Sherina pergi ke sekolah jalan kaki karena kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh.
"Ning, kamu tahu gak tadi subuh ada yang aneh di rumahku," seru Sherina disela-sela perjalanan menuju ke sekolah.
"Ada yang aneh? apaan?" tanya Nining penasaran.
"Tadi subuh pas Mommy keluar rumah, di halaman ada yang nyimpen sayur mayur, buah-buahan, dan juga beras banyak banget. Kalau ada orang yang mau nitip nyimpen, pasti orang itu izin dong sama kami tapi ini sama sekali gak ada orang yang minta izin kepada kami," sahut Sherina.
"Lah, kok aneh."
"Iya kan, aneh banget," seru Sherina.
"Jangan-jangan ada penggemar rahasia lagi," ucap Nining.
"Apaan, terlalu jauh pikiran kamu, Ning," sahut Sherina dengan kekehannya.
Selama berjalan keduanya bercanda satu sama lain, hingga Nining mendorong pelan tubuh Sherina membuat tubuh Sherina oleng dan bertepatan dengan motor Ariel lewat. "Awaaaaaaassssss!" teriak Ariel.
Bruakkkk.....
Beruntung Ariel tidak kencang mengendarai motornya. Dia hanya menyenggol tubuh Sherina sampai jatuh, begitu pun dengan dirinya dan motor miliknya yang ikut terjatuh. "Astaghfirullah, Sherina kamu gak apa-apa 'kan?" pekik Nining dengan segera menghampiri Sherina.
"Aku gak apa-apa kok Ning, hanya pantatku saja yang sakit," sahut Sherina.
Nining pun membantu Lili untuk berdiri. "Woi, bantuin!" teriak Ariel.
Keduanya menoleh dan ternyata Ariel jatuh masuk ke selokan yang besarnya pas dengan pantat Ariel membuat Ariel tidak bisa bangun. Nining dan Sherina kompak mengulurkan tangan, tapi Ariel hanya bisa menatap Sherina dengan tatapan kesal. Ariel hanya menerima uluran tangan Nining dan mengabaikan uluran tangan Sherina.
"Kamu itu bagaimana sih? jalan itu yang benar, bagaimana kalau aku sampai mati!" bentak Ariel.
"Bisa gak ngomongnya gak usah bentak-bentak?" Sherina tak mau kalah dengan Ariel.
"Gila ya, kamu yang salah bukanya minta maaf malah teriak-teriak," geram Ariel.
"Pak Guru, maaf ini semua bukan salah Sherina tapi salah aku. Tadi aku yang gak sengaja mendorong Sherina," ucap Nining merasa sangat bersalah.
"Kamu jangan membela dia, yang seharusnya minta maaf itu dia bukan kamu!" bentak Ariel sembari menunjuk wajah Sherina.
Sherina menepis tangan Ariel. "Jangan tunjuk-tunjuk, aku gak suka ditunjuk-tunjuk kaya gitu!" ucap Sherina emosi.
"Motor aku rusak, pokoknya aku gak mau tahu kamu harus perbaiki motor aku," seru Ariel.
"Rusak apaan? jatuhnya pun pelan," sahut Sherina.
Sherina pun hendak pergi tapi Ariel menahan lengan Sherina. "Perbaiki motor aku yang lecet, atau Papa dan adik kamu tidak akan aku gaji untuk bulan ini," ancam Ariel.
Sherina semakin benci kepada Ariel. Motor Ariel hanya lecet sedikit tapi Ariel bertindak seolah-olah motornya hancur. Sherina kembali menghempaskan tangannya lalu menghampiri motor Ariel yang tergeletak di jalan itu.
Dengan penuh emosi, Sherina menendang motor milik Ariel membuat Ariel semakin geram dan mendorong tubuh Sherina. "Kamu gila ya!" bentak Ariel.
"Bawa motor kamu ke bengkel, nanti aku bayar semua biayanya bahkan aku juga bisa mengganti motor kamu dengan sepuluh motor baru kalau kamu mau," seru Sherina.
Setelah bicara itu, Sherina pun segera pergi meninggalkan Ariel. "Sher, tunggu!" teriak Nining.
"Pak Guru, maaf aku duluan," pamit Nining.
Nining pun berlari menyusul Sherina. "Sombong banget dia, sok-sok'an mau ganti motor aku, dia sendiri aja gak punya motor lah ini dengan sombongnya mau ganti motor aku sama yang baru," geram Ariel.