NovelToon NovelToon
Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Terjebak Duda Dan Tiga Pewaris Nakalnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:66k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.

Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.

Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?

"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"

Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.

"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Arabelle melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya menyapu ketiga anak yang berdiri di hadapannya. Yang satu basah kuyup, yang satu putih penuh tepung. Dan yang satu lagi berdiri dengan wajah paling tidak bersahabat.

Theo yang masih meneteskan air dari rambutnya mendadak membelalak. Kini otaknya akhirnya memproses wajah wanita di depannya.

"Tunggu!" Theo menunjuk Ara, "kamu!"

Ara mengangkat sebelah alis, "Aku?"

"Kamu wanita warung itu!" Theo langsung kesal.

"Wanita yang minta ganti rugi sampai uang kas motorku habis!"

Ara mengangguk pelan. "Oh, jadi kamu masih ingat."

"Tentu saja aku ingat!" Theo hampir melompat. "Itu uang satu bulan!"

Ara tampak tidak merasa bersalah sedikit pun. "Itu namanya tanggung jawab."

Theo ingin membantah. Namun, tidak menemukan kalimat yang tepat.

Sementara di sisi lain, Alya yang wajahnya masih dipenuhi tepung mendadak pucat. Matanya membesar menatap Arabelle. Wanita yang kemarin menolongnya di swalayan. Wanita yang menendang Reno, dan yang lebih parah wanita yang tahu dirinya diam-diam pacaran.

Alya langsung menundukkan kepala. Jangan sampai Kak Elang tahu, jangan sampai Kak Theo tahu apalagi Ayahnya, itu yang dia pikirkan saat ini, bisa tamat hidupnya.

Di tengah keheningan itu, Elang berdehem pelan.

"Ehem!"

Semua menoleh.

Elang memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Tatapannya lurus pada Arabelle.

"Ini rumah..."

Ara menunggu.

"Bukan pasar!"

Beberapa pelayan langsung menelan ludah. Mohan menutup mata, Theo masih diam dan Alya juga masih diam.

Elang melanjutkan. "Kamu baru datang sudah bikin keributan." Tatapannya turun menyorot ember yang terbalik. Lalu, genangan air dan tepung yang berserakan, Ara menatap Elang beberapa detik. Kemudian melangkah mendekat, hingga berhenti tepat di depannya.

Lalu mendongak, jauh mendongak.

'Sial! Kenapa dia begitu tinggi. Anak ini makan apa waktu kecil?'

Elang menatap balik tanpa bergeming. Tatapan mereka bertemu, tidak ada yang mau mengalah. Kemudian Ara tersenyum tipis.

"Kamu kira ini taman hiburan?"

Elang mengerutkan kening.

Ara menunjuk ke arah ember. "Kamu kira ini wahana bermain?" Lalu menunjuk Alya.

"Atau lomba lempar tepung?" Kemudian menunjuk Theo.

"Atau kolam renang dadakan?"

Theo langsung tersinggung.

"Itu bukan—"

Namun, sebelum Theo sempat menyelesaikan kalimatnya, Ara mengangkat tangan.

"Bereskan semuanya..."

Suasana langsung hening, Theo berkedip.

"Hah?!"

Ara menunjuk lantai.

"Bereskan,"

"Tapi—"

"Bereskan!"

Theo menunjuk dirinya sendiri.

"Aku?"

Ara tersenyum manis. "Iya."

"Loh kenapa aku?"

Ara menunjuk ember. "Itu embermu."

Lalu menunjuk tepung. "Itu rencana kalian."

Kemudian menunjuk lantai. "Dan itu rumah kalian..."

Theo membuka mulut, lalu menutupnya lagi dan membuka lagi. Lalu menoleh ke Elang meminta bantuan. Sayangnya Elang malah memalingkan wajah. Theo menoleh ke Alya. Tetapi, Alya justru pura-pura sibuk membersihkan tepung di bajunya.

Theo hampir menangis. "Kenapa semuanya jadi salahku?"

Ara mengangkat bahu. "Karena kamu yang kelihatan paling semangat."

Beberapa pelayan langsung menunduk menahan tawa. Sementara Mohan berdiri di belakang Ara sambil memijat pelipis.

Baru sepuluh menit, baru sepuluh menit Arabelle masuk ke rumah itu. Dan rencana besar tiga bersaudara Anderson sudah hancur berantakan. Entah kenapa Mohan mulai yakin, yang akan menyerah lebih dulu di rumah ini bukan Arabelle. Melainkan ketiga anak Anderson itu sendiri.

"Aku tidak mau!" Theo langsung menunjuk ke arah para pelayan.

"Kalian!"

Para pelayan refleks berdiri tegak.

"Bereskan semuanya!"

"Baik, Tuan Theo—"

Namun, sebelum satu langkah pun mereka bergerak suara Arabelle terdengar.

"Berhenti semua!"

Seketika, seluruh ruangan hening. Para pelayan membeku di tempat. Theo membeku dan Alya juga membeku. Bahkan, Mohan ikut menahan napas. Ara melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya menyapu ketiga anak di hadapannya.

Lalu menunjuk satu per satu.

"Kamu." Jarinya menunjuk Theo. "Kamu." Kini ke arah Alya. "Dan kamu."vTerakhir kepada Elang.

Ara tersenyum tipis. "Bereskan semuanya!"

Theo berkedip, Elang mengernyit dan Alya melotot tak percaya.

"Tanpa tersisa..." Tambah Ara santai.

Elang langsung maju selangkah.

"Tidak,"

Ara mengangkat alis. "Tidak?"

"Ini pekerjaan pelayan." Ujar Elang menolak

Ara mengangguk. "Lalu?"

"Lalu mereka yang bereskan." Kata Theo.

Ara tersenyum, senyum yang membuat Mohan langsung punya firasat buruk.

"Tidak?"

Elang menatapnya datar, Ara menatap balik dan Alya ikut menyela.

"Aku juga tidak mau!"

Theo langsung mengangguk cepat. "Setuju."

Ketiganya berdiri dalam satu kubu, melawan Arabelle. Beberapa pelayan mulai cemas. Mohan mulai memijat pelipis, dan Ara masih terlihat santai. Seolah tidak sedang menghadapi tiga anak keras kepala.

"Tidak ada yang boleh membantah." Ucapnya ringan.

Elang menyilangkan tangan.

"Aku membantah!"

Theo ikut mengangguk. "Aku juga!"

"Aku juga!" sahut Alya.

Ara menghela napas, lalu menoleh ke samping.

"Pak Mohan..."

Mendengar nama itu disebut, ketiga bersaudara Anderson langsung menegang.

Mohan sendiri langsung berdiri tegak.

"Iya, Nyonya Ara?"

Ara menunjuk mereka bertiga.

"Tolong—"

Belum sempat menyelesaikan kalimat, Elang langsung berseru.

"Iya, iya, iya!"

Ara berhenti bicara, Theo membelalak bahkan Alya juga.

Elang langsung memotong. "Kami bereskan."

Theo menatap kakaknya seolah dikhianati.

"Kak?"

Alya bahkan lebih tidak percaya. "Kakak!"

Elang mendekat lalu berbisik cepat.

"Diam,"

"Tapi—"

"Diam!"

"Tapi Kak—"

"Kamu mau Pak Mohan telepon Ayah?"

Seketika, Theo menutup mulut dan Alya ikut menutup mulut. Mereka semua tahu, kalau sampai Nathan mendapat laporan dalam satu jam pertama kedatangan istri barunya. Maka hidup mereka akan lebih menyedihkan.

Elang menarik napas panjang, lalu menatap Ara tajam. Tatapan yang jelas mengatakan perang belum selesai.

"Kami akan bereskan..."

Ara tersenyum puas. "Bagus! Belajar bertanggung jawab,"

Elang mengambil pel, Theo mengambil ember yang sudah penyok. Sedangkan Alya mulai memunguti sisa-sisa tepung. Para pelayan hanya bisa saling pandang. Tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

Selama bertahun-tahun, belum pernah ada orang yang berhasil menyuruh ketiga anak Anderson membersihkan kekacauan yang mereka buat sendiri. Dan Arabelle melakukannya, kurang dari lima belas menit setelah menginjakkan kaki di rumah itu.

Sementara Mohan diam-diam mengirim pesan kepada Nathan.

[Tuan, Nona Ara sudah tiba dengan selamat.]

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan satu kalimat lagi.

[Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, Tuan Elang sedang mengepel lantai.]

Beberapa detik kemudian balasan dari Nathan masuk, Mohan mengirim foto, Mohan langsung menahan tawa.

1
seribu nama
Ayolah biar Tahu Rena si pacar Alya itu dapat pelajaran dari mamah Ara dan si Alya ga deket lagi sama si Reno😠
Retno Palupi
oh Kenzo yg punya arena balap?
Ariany Sudjana
semoga Theo lekas mendapatkan penanganan yang terbaik, dan pasti Arabelle yang akan mengurusnya
Jaya Fandi
menegangkan,,mksh ka,,banyak " up nya,, semangat 💪🏽💪🏽
Jaya Fandi
terserah otornya lah yg menang siapa,,misal nnti theo kalah psti ada hikmahnya,,💪💪
T&K
Heeeeey Reno! kamu kira akan lolos dr Kenzo? tunggulah penyelidikannya
Lisa Halik
semoga saja nathan tidak akan menyalahkan arabelle.....lepas ini kamu sadarlah theo
Les Tary
jgn sampai nanti nathan menyalahkan ara
Ita rahmawati
bengek sih kamu elang malah mikir nti setelah sadar Theo bakal diamuk emak tiri 🤦🤣🤣🤣
yumna
reno licik ara pasti dapet bukti bwat jeblosin reno k pnjraa....bukti d lintasin cctv.....abis lah kau reno...dan kau theo d amuk m ara
Aditya hp/ bunda Lia: puas juga ntar sama si Alya dia nanti jadi tau kalo si Reno emang berengsek
total 2 replies
Fia Ayu
🤣🤔🤣🤣
Fia Ayu
Awalnya aku ragu mau baca nie novel, kaga taunya asik banget
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣
seribu nama
Kalau Thei tahu pacarnya Alya itu Reno musuhnya gimana ya pasti marah banget. Plis Theo hati" jangan sampai dengan kamu celaka rahasia ibu tirimu terbongkar
Ariany Sudjana
Theo kecelakaan, Arabelle yang akan turun tangan untuk merawatnya
Ita rahmawati
tuh kan Theo kuwalat udh ngelawan SM ibu tiri sih 😂😂
Ariany Sudjana
wah kakaknya Arabelle jadi pengelola lintasan balap 😄
Ita rahmawati
owalah Kenzo toh
Ita rahmawati
ikut sedih ih aku 😔
Les Tary
harus dikasih pelajaran itu si reno dari segalanya kelakuan buruk
Angga Gati
semoga theo bisa mengatasi jebakan yg dbuat reno & menangin pertandingan lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!