NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Atmosfer tegang menyelimuti sebuah ruangan tempat Alex dan Mira akan melakukan pernikahan siri.

Di sudut ruangan, Ibu Narti tak henti-hentinya mendesak mereka agar lekas menikah dan memberikan momongan.

"Ayo cepat, jangan ditunda-tunda lagi. Ibu sudah tidak sabar ingin menimang cucu asli dari darah dagingmu sendiri, Lex!" seru Ibu Narti dengan mata berbinar penuh ambisi.

Di tengah kesibukan persiapan itu, Mira melihat calon suaminya yang menatap foto pernikahan bersama Lani.

Alex berdiri mematung di dekat lemari, memandangi bingkai foto berdebu yang belum sempat ia singkirkan.

Gurat keraguan dan sisa rasa bersalah mendadak membayangi wajahnya.

Menyadari arah pandangan Alex, rahang Mira mengeras.

Ia melangkah maju dengan cepat lalu merebut bingkai itu secara kasar.

"Mas, lupakan dia. Sekarang kita akan menikah," ucap Mira membuang foto pernikahan Alex dan Lani ke dalam kotak sampah di pojok ruangan tanpa perasaan.

Ibu Narti yang melihat hal itu langsung menimpali dengan nada sengit, "Iya Alex, lupakan wanita mandul itu dan fokus ke Mira! Dia yang jelas-jelas bisa memberimu keturunan, bukan pembawa sial seperti mantan istrimu!"

Hantaman kata-kata ibunya seketika membuyarkan sisa-sisa keraguan di benak Alex.

Ego kelaki-lakiannya kembali menguasai akal sehatnya. Alex menarik napas panjang, mencoba mengubur dalam-dalam bayangan Lani yang ia usir di bawah guyuran hujan kemarin, dan segera mereka duduk di ruang tamu menghadapi penghulu serta dua orang saksi yang sudah siap.

Pernikahan dimulai dengan khidmat namun terasa dingin.

Tangan Alex menjabat erat tangan wali hakim. Ketika kalimat ijab diucapkan, dengan sekali tarikan napas, Alex melafalkan ijab kabul dengan lantang dan tegas.

"Sah!" seru para saksi serempak.

Alex dan Mira sah menjadi suami istri secara siri. Mira tersenyum penuh kemenangan sembari mencium punggung tangan Alex, sementara Alex mencoba meyakinkan hatinya sendiri bahwa keputusan yang ia ambil hari ini adalah hal yang benar, tanpa pernah tahu bahwa badai pembalasan atas air mata Lani baru saja dimulai.

Mira dengan penuh percaya diri mengirimkan foto ke ponsel Lani.

Di atas ranjang pernikahan siri mereka, Mira sengaja mengambil foto selfie berdua dengan Alex yang tengah memamerkan buku nikah siri dan senyum lebar mereka, lengkap dengan pesan singkat yang memprovokasi:

“Kami sudah sah. Sekarang kamu benar-benar bukan siapa-siapa lagi di hidup Mas Alex.”

Di sisi lain, Lani yang sedang makan di ruang rawat rumah sakit, mendengar ponselnya bergetar.

Dengan gerakan tenang yang tidak lagi dipenuhi kepanikan seperti malam sebelumnya, ia mengambil ponselnya dan membuka pesan tersebut.

Lani tersenyum tipis. Tidak ada lagi air mata histeris atau dadanya yang sesak hingga ingin mengakhiri hidup.

Senyuman itu adalah senyum keikhlasan sekaligus awal dari matinya rasa cinta untuk Alex.

"Mereka menikah, Mas," ucap Lani lirih, membalikkan layar ponselnya ke arah Afrain yang duduk setia di samping ranjangnya.

Afrain melirik sekilas ke arah layar ponsel tersebut, lalu tatapannya kembali tertuju pada wajah pucat Lani.

Dengan gerakan lembut namun sarat akan ketegasan, Afrain menggenggam tangan Lani, menyalurkan kehangatan dan kekuatan yang ia punya.

"Biarkan dan lupakan mereka, Lani," ujar Afrain, suaranya yang bariton terdengar begitu menenangkan di dalam ruangan.

"Sekarang kamu harus fokus ke kesehatan kamu. Tubuhmu baru saja tumbang, dan masa depanmu jauh lebih berharga daripada memikirkan orang-orang yang sudah membuangmu."

Afrain menatap lekat-lekat manik mata Lani, memastikan wanita itu meresapi setiap kalimatnya.

"Kalau kamu terus-menerus meratapi seperti ini, mereka yang akan bahagia di atas penderitaanmu. Tunjukkan pada mereka bahwa kamu bisa berdiri lebih tinggi tanpa mereka."

Lani menatap Afrain yang sedang menasihatinya. Ada ketulusan yang begitu murni di mata pria itu, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Alex selama beberapa tahun terakhir ini.

Kata-kata Afrain bagai tamparan pelan yang membangunkan harga dirinya yang sempat runtuh ke titik nadir.

Lani menarik napas panjang. Ia menghapus sisa air matanya yang sempat menggenang di sudut mata, lalu mengangguk mantap.

Ia meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah—sebuah simbol bahwa ia tidak akan lagi menengok ke belakang.

Lani kembali makan, menyuap sendok demi sendok bubur hangatnya dengan tekad baru yang mulai mengakar di dalam dada.

Di bawah tatapan protektif Afrain, Lani berjanji pada dirinya sendiri bahwa ini adalah hari terakhir ia menangisi masa lalunya.

Tok tok tok!

Suara ketukan pintu memecah keheningan ruang rawat, disusul dengan kedatangan dokter untuk memeriksa keadaan Lani.

Dokter paruh baya itu tersenyum ramah, lalu mulai memeriksa denyut nadi dan tensi darah Lani dengan telaten.

"Semuanya bagus. Nanti sore boleh pulang, tapi masih harus istirahat di rumah dan makan yang banyak ya, Bu Lani," ucap dokter setelah menyelesaikan pemeriksaannya.

Lani menganggukkan kepalanya dengan patuh. "Baik, Dok. Terima kasih banyak."

Setelah dokter berpamitan dan melangkah keluar dari ruangan, keheningan kembali merayap.

Lani menunduk, memainkan jemarinya yang masih tertancap selang infus.

Pikirannya mendadak melayang memikirkan nasibnya setelah keluar dari rumah sakit ini.

Ia tidak mungkin kembali ke rumah kontrakan Alex, dan ia juga tidak punya tempat bernaung di kota besar ini.

Lani memberanikan diri menatap pria tegap di sampingnya.

"Mas, apa Mas tahu rumah kontrakan atau kost-kosan yang murah?"

"Untuk siapa?" tanya Afrain, alisnya bertaut tajam, menatap Lani dengan pandangan menyelidik.

"Untuk aku, Mas. Aku..." Lani menggantung kalimatnya, merasa tidak enak hati jika harus terus menyusahkan pria itu.

"Lani, stop dan dengarkan aku," potong Afrain dengan nada suara yang berat dan tidak menerima penolakan.

"Nanti sore kamu tinggal di rumahku dan jangan membantahku."

Lani tersentak, matanya membelalak terkejut. "Tapi, Mas. Aku tidak enak. Kita bukan lagi—"

"Tidak ada tapi-tapian, ok?" tegas Afrain lagi. Sorot matanya yang tajam namun penuh kilat perlindungan mengunci pandangan Lani, membuat bantahan yang sudah di ujung lidah wanita itu mendadak surut.

Afrain tidak akan membiarkan wanita yang baru saja terguling di ambang maut ini telantar di luaran sana tanpa arah tujuan.

Tanpa menunggu jawaban Lani lagi, Afrain mengambil ponselnya dari saku celana.

Ia segera mencari sebuah kontak dan menghubungi Mbok Mar, kepala asisten rumah tangga di kediamannya.

Begitu panggilan tersambung, Afrain langsung berbicara dengan nada berwibawa, "Halo, Mbok Mar? Tolong siapkan kamar tamu yang paling nyaman sekarang. Bersihkan dengan teliti, ganti sepreinya dengan yang baru, dan pastikan semuanya rapi sebelum sore ini. Saya akan membawa tamu penting ke rumah."

"Mas, apa ini tidak berlebihan?" tanya Lani dengan suara cicitan pelan.

Ia merasa dadanya bergemuruh, antara rasa sungkan yang teramat besar dan rasa tidak percaya bahwa ada seseorang yang begitu peduli pada nasibnya di saat ia baru saja dibuang seperti sampah.

"Tidak ada yang berlebihan, Lani," sahut Afrain cepat, memotong keraguan wanita di depannya dengan ketegasan yang tak terbantahkan.

Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas setelah menyelesaikan panggilan dengan Mbok Mar.

Afrain melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka lalu menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata Lani yang masih sembap.

"Aku tidak mau kamu di jalanan seperti kemarin," lanjut Afrain, suaranya melembut namun menyiratkan kilat protektif yang begitu kuat.

"Melihatmu ambruk di bawah hujan deras dengan koper rusak, itu sudah cukup membuatku bersumpah tidak akan membiarkanmu telantar lagi. Jadi, turuti kata-kataku kali ini, ya?"

Lani tertegun. Kalimat Afrain menghantam hatinya dengan kehangatan yang asing.

Setelah sekian lama terbiasa disalahkan, dihina, dan dianggap sebagai beban oleh Alex dan keluarganya, perlakuan Afrain seolah menjadi oase di tengah gersangnya hidup Lani.

Ia tidak mampu lagi mendebat. Akhirnya, Lani hanya bisa menundukkan kepala samar, menyembunyikan senyum getir sekaligus haru yang terbit di bibirnya, dan mengangguk pelan menerima perlindungan dari pria masa lalunya itu.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!