Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Special Target
Semua mata tertuju pada Nayra.
Tidak ada suara.
Tidak ada yang bergerak.
Hanya bunyi dengung listrik dari televisi dan napas panik orang-orang yang terdengar pelan di ruangan itu.
Tulisan merah di layar masih menyala jelas.
PLAYER 07 — SPECIAL TARGET
Nayra merasa tenggorokannya mendadak kering.
“Apa maksudnya itu…” bisiknya.
Tidak ada yang menjawab.
Karena semua orang terlihat sama bingungnya.
Atau mungkin…
mulai takut padanya.
Pria tua yang tadi paling vokal langsung mundur dua langkah.
“Kenapa cuma dia yang ditampilin?”
“Iya…” sahut yang lain pelan.
“Jangan-jangan dia memang bagian dari permainan.”
Nayra langsung menggeleng cepat.
“Bukan! Aku juga nggak tahu apa-apa!”
Namun suasana sudah berubah.
Curiga itu seperti racun.
Sekali muncul, sulit hilang.
Perempuan yang tadi terluka kini duduk bersandar lemah di dekat rak minuman sambil menekan luka di perutnya dengan kain.
Tatapannya ke Nayra penuh ketakutan.
“Jangan dekat-dekat dia…”
Nayra menatap mereka tak percaya.
“Kalian serius?”
“Kenapa cuma kamu yang dikasih label begitu?” tanya pria besar dengan suara berat.
“Aku mana tahu!”
“Bisa aja itu kode kalau kamu orang mereka.”
“Aku hampir mati barusan!” bentak Nayra.
Dadanya naik turun cepat.
Rasanya sakit.
Takut.
Marah.
Semua bercampur jadi satu.
Lalu—
Tangan seseorang menarik Nayra pelan.
Zavian.
“Ke sini.”
Cowok itu membawa Nayra menjauh dari kerumunan.
Begitu mereka sampai di dekat lorong freezer, Nayra langsung melepaskan tangannya.
“Aku bukan bagian dari ini.”
“Aku tahu.”
Nayra menatapnya cepat.
“Kamu percaya?”
“Belum tentu.”
Jawaban itu langsung bikin Nayra kesal.
“Serius?”
Zavian menyender santai ke freezer.
“Aku nggak percaya siapa pun di sini.”
“Termasuk aku?”
“Terutama kamu.”
Nayra melotot.
“Kalau kamu mau bikin aku tenang, cara ngomongmu gagal total.”
“Aku nggak berusaha bikin kamu tenang.”
Cowok itu menjawab datar.
Menyebalkan.
Tapi anehnya… justru itu yang membuat Nayra merasa Zavian tidak sedang berpura-pura.
Ia terlalu jujur untuk ukuran orang manipulatif.
Mungkin.
Atau justru itu topengnya.
Sial.
Nayra jadi ikut paranoid.
Layar televisi kembali berkedip.
Suara Game Master terdengar lagi.
“Para pemain dipersilakan keluar dari area permainan.”
Klik.
Kunci pintu minimarket terbuka sendiri.
Orang-orang langsung bereaksi.
“Akhirnya!”
“Ayo keluar!”
Sebagian langsung berlari ke pintu seperti takut bakal terjebak lagi.
Nayra ikut bergerak, tapi langkahnya terhenti saat suara itu kembali berbicara.
“Oh ya…”
Semua diam lagi.
“Special Target tidak boleh mati terlalu cepat.”
Darah Nayra langsung dingin.
“Apa maksudnya?!” teriaknya.
Tidak ada jawaban.
Listrik mendadak menyala normal.
Televisi mati.
Dan semuanya kembali sunyi.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Kecuali dua mayat berdarah di lantai.
Nayra merasa kepalanya mau pecah.
Pria tua langsung buru-buru keluar minimarket.
Yang lain mengikuti.
Tidak ada yang peduli lagi satu sama lain.
Mereka cuma ingin kabur.
Pergi sejauh mungkin.
Perempuan yang terluka tadi bahkan sampai hampir jatuh karena terlalu panik.
Nayra berdiri mematung.
“Harusnya kita lapor polisi,” katanya pelan.
“Dan bilang apa?” sahut Zavian.
“Ada permainan misterius terus kepala orang meledak?”
Nayra terdiam.
Ya.
Kedengarannya memang gila.
“Tapi kita nggak bisa diem aja!”
Zavian menatap dua mayat di lantai.
“Mereka pasti udah ngatur semuanya.”
“Apa?”
“Kalau orang sekuat itu bisa ngakses data pribadi kita, ngunci tempat ini, bahkan masang bom di tubuh pemain…”
Tatapan Zavian naik pelan ke arah CCTV.
“…mereka bukan orang biasa.”
Nayra menggigit bibir.
Ia benci mengakui kalau cowok itu benar.
Tiba-tiba suara sirene polisi terdengar dari kejauhan.
Nayra langsung menoleh.
“Polisi?”
Beberapa detik kemudian dua mobil patroli berhenti di depan minimarket.
Petugas turun cepat.
“Ada laporan keributan!”
Nayra langsung merasa lega.
“Syukurlah…”
Ia buru-buru berjalan keluar.
Tapi saat polisi masuk ke minimarket…
ekspresi mereka berubah bingung.
“Mana mayatnya?”
Langkah Nayra langsung berhenti.
“Hah?”
Ia menoleh ke belakang.
Dan tubuhnya membeku.
Mayat-mayat itu hilang.
Darah di lantai juga tidak ada.
Bahkan rak yang rusak tadi kembali rapi.
Seolah semua yang terjadi hanyalah mimpi.
“A-apa…”
Nayra mundur pelan.
Ini tidak mungkin.
Polisi mulai menatap mereka curiga.
“Siapa yang nelpon?”
Pria besar tadi langsung menunjuk Nayra.
“Dia!”
“Bukan aku—”
“Kalian mabuk?” tanya salah satu polisi kesal.
“Kami nggak bohong!” bentak Nayra panik. “Ada orang mati di sini!”
“Mana?”
Nayra membuka mulut…
tapi tidak ada jawaban.
Karena memang tidak ada apa pun sekarang.
Kasir minimarket bahkan terlihat hidup dan sehat di meja kasir.
Nayra langsung pucat.
“Tidak mungkin…”
Cowok kasir itu melirik Nayra bingung.
“Mbak nggak apa-apa?”
Napas Nayra tercekat.
Itu dia.
Kasir yang kepalanya meledak tadi.
Masih hidup.
Masih berdiri.
Masih bernapas.
Zavian langsung menarik tangan Nayra.
“Kita pergi.”
“Tapi—”
“Sekarang.”
Nada suaranya serius.
Nayra akhirnya mengikuti.
Mereka berjalan menjauh dari minimarket sementara polisi masih memeriksa keadaan di sana.
Hujan sudah berhenti.
Udara malam terasa dingin menusuk kulit.
Nayra terus menoleh ke belakang.
“Aku nggak ngerti…”
“Tenang.”
“Gimana aku bisa tenang?! Orang mati hidup lagi!”
“Entah.”
Jawaban singkat itu malah bikin Nayra frustrasi.
“Masa kamu nggak kaget sih?!”
“Aku kaget.”
“Mukamu nggak nunjukin!”
“Itu masalahmu?”
Nayra mendesis kesal.
Cowok ini benar-benar bikin emosi.
Mereka berhenti di bawah lampu jalan yang berkedip redup.
Jalanan mulai sepi.
Hanya suara air menetes dari atap toko yang terdengar pelan.
Nayra memeluk dirinya sendiri.
“Aku takut…”
Untuk pertama kalinya suaranya terdengar rapuh.
Zavian memperhatikannya sebentar.
Lalu mengeluarkan sesuatu dari saku hoodie-nya.
Sebuah kartu hitam kecil.
“Aku nemu ini di dekat mayat pertama.”
Nayra mengambilnya pelan.
Di kartu itu hanya ada simbol topeng hitam dan tulisan:
LEVEL 2 — COMING SOON
Di bagian belakang terdapat alamat.
Sebuah gedung tua di pusat kota.
Nayra langsung merinding.
“Mereka ngajak kita ke sana?”
“Mungkin.”
“Aku nggak mau ikut lagi.”
Zavian menatapnya datar.
“Kalau kita bisa nolak, dari tadi permainan ini nggak bakal jalan.”
Nayra terdiam.
Benar juga.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Ia refleks membukanya.
Pesan baru masuk dari aplikasi
The Game Master.
Selamat bertahan hidup, Player 07.
Lalu pesan kedua muncul.
Karena statusmu sebagai Special Target, hadiah kemenanganmu akan dilipatgandakan.
Nayra langsung muak.
“Aku nggak peduli sama uangnya!”
Pesan berikutnya muncul.
Benarkah?
Layar berubah.
Foto ayahnya muncul lagi.
Kali ini dengan tagihan rumah sakit.
Rp178.450.000
Tubuh Nayra langsung melemas.
“Mereka… ngawasin terus…”
Zavian ikut melihat layar itu.
Tatapannya berubah sedikit lebih tajam.
“Jangan tunjukkin rasa takutmu ke mereka.”
“Gimana caranya?!”
“Mereka suka itu.”
Nayra menatap Zavian.
Cowok itu bicara seperti seseorang yang sudah memahami permainan ini jauh lebih dalam.
“Kamu sebenarnya siapa?”
Zavian diam.
Lampu jalan berkedip lagi.
Beberapa detik kemudian ia menjawab pelan.
“Orang yang pernah kehilangan seseorang karena permainan ini.”
Nayra membeku.
“Hah?”
Tatapan Zavian kosong saat menatap jalan basah di depan mereka.
“Dua tahun lalu kakakku ikut permainan yang sama.”
Jantung Nayra langsung berdegup.
“Permainan ini udah ada dari dulu?”
“Iya.”
“Terus?”
“Dia mati.”
Suasana langsung terasa lebih dingin.
Nayra tidak tahu harus merespons apa.
Untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu di mata Zavian.
Bukan dingin.
Bukan sinis.
Tapi… luka.
“Aku pikir semuanya selesai setelah itu,” lanjutnya pelan. “Sampai undangan ini datang lagi.”
Nayra menelan ludah.
“Kenapa kamu nggak lapor polisi dari dulu?”
“Aku pernah.”
“Terus?”
Zavian tertawa kecil tanpa humor.
“Mereka bilang aku stres karena kehilangan keluarga.”
Nayra langsung diam.
Masuk akal.
Tak ada yang akan percaya cerita seperti ini.
Ponsel Zavian tiba-tiba berbunyi juga.
Cowok itu membuka pesan lalu ekspresinya berubah tipis.
“Ada apa?”
Zavian menunjukkan layar ponselnya.
LINDUNGI SPECIAL TARGET.
Nayra mengernyit.
“Hah?”
“Sepertinya sekarang aku punya misi baru.”
“Lindungi aku?”
“Sayangnya begitu.”
Nayra malah makin curiga.
“Itu bisa aja jebakan.”
“Bisa.”
“Kamu tetap bakal ngelakuin?”
Zavian memasukkan kembali ponselnya ke saku.
“Aku belum memutuskan.”
Jawaban itu entah kenapa membuat Nayra sedikit kecewa.
Padahal mereka baru kenal beberapa jam.
Aneh.
Tiba-tiba suara motor terdengar mendekat cepat.
Nayra refleks menoleh.
DUARR!
Sebuah mobil hitam melaju kencang dari tikungan.
Terlalu kencang.
Dan arahnya lurus ke mereka.
“NAYRA!”
Zavian langsung menarik tubuh Nayra keras.
BRAKKK!
Mobil itu menghantam tiang lampu tepat di belakang mereka.
Kaca pecah berhamburan.
Nayra jatuh terduduk di trotoar dengan napas kacau.
Jantungnya hampir copot.
“Astaga…”
Zavian berdiri cepat sambil melindungi Nayra di belakangnya.
Mobil hitam itu diam beberapa detik.
Mesinnya masih menyala.
Lalu perlahan jendelanya turun.
Seorang pria memakai topeng hitam duduk di kursi pengemudi.
Nayra langsung membeku.
Pria itu mengangkat sesuatu.
Pistol.
“Lari!” bentak Zavian.
DUAK!
Tembakan pertama meledak.
Kaca toko pecah.
Nayra menjerit refleks.
Zavian menarik tangannya dan mereka langsung berlari masuk ke gang sempit.
Suara langkah kaki menggema.
Tembakan kedua terdengar lagi.
DUAK!
Peluru menghantam dinding dekat kepala Nayra.
“Aaaa!”
“Jangan berhenti!” teriak Zavian.
Napas Nayra sudah hampir habis.
Kakinya gemetar.
Gang sempit itu gelap dan licin.
Mereka terus berlari sementara suara langkah pengejar makin dekat.
“Kenapa dia mau bunuh aku?!” Nayra panik.
“Karena kamu Special Target!”
“ITU BUKAN JAWABAN YANG MENENANGKAN!”
Zavian tiba-tiba menarik Nayra masuk ke sebuah pintu besi tua.
Mereka masuk ke bangunan kosong gelap.
Pintu langsung ditutup.
Napas keduanya memburu.
Sunyi.
Hanya suara hujan sisa dan detak jantung Nayra yang terdengar keras.
Zavian mengintip dari celah pintu.
Beberapa detik berlalu.
Lalu suara mobil menjauh perlahan.
Nayra langsung terduduk lemas di lantai.
Tangannya gemetar hebat.
“Aku hampir ditembak…”
Zavian masih memperhatikan luar.
“Dia profesional.”
“Hah?”
“Cara pegang pistolnya bukan amatiran.”
Nayra memeluk lututnya.
Kepalanya makin kacau.
Game ini ternyata jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
Bukan sekadar aplikasi aneh.
Ada orang sungguhan di balik semua ini.
Orang-orang berbahaya.
Dan sekarang…
mereka mengincarnya.
Zavian akhirnya duduk di depan Nayra.
Tatapannya serius.
“Dengerin aku baik-baik.”
Nayra mengangkat kepala pelan.
“Mulai sekarang jangan pernah sendirian.”
“Kenapa?”
“Karena mereka bakal terus datang.”
Nayra menahan napas.
“Siapa sebenarnya ‘mereka’?”
Zavian diam cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Orang-orang yang mengendalikan permainan.”
“Tapi kenapa?”
“Entah.”
“Ini buat uang? Hiburan? Eksperimen?”
“Mungkin semuanya.”
Nayra merasa mual lagi.
Ia menatap layar ponselnya yang masih menyala.
Tiba-tiba notifikasi baru muncul.
SPECIAL MISSION FOR PLAYER 07
Tangannya langsung dingin.
Perlahan ia membuka pesan itu.
Dan wajahnya langsung pucat total.
Karena di layar muncul foto—
ibunya.
Sedang berjalan sendirian di depan rumah sakit.
Di bawah foto itu tertulis:
Jika ingin ibumu tetap hidup, datanglah ke alamat Level 2 besok pukul 23.00.
Nayra langsung gemetar.
“Mereka… mereka ngincar keluargaku…”
Zavian mengambil ponsel itu cepat.
Tatapannya mengeras.
Untuk pertama kalinya Nayra melihat kemarahan nyata di wajah cowok itu.
Dan itu jauh lebih menyeramkan daripada ekspresi dinginnya selama ini.
“Aku bakal bunuh mereka,” gumamnya pelan.
Nayra menatapnya.
Entah kenapa…
untuk pertama kalinya malam itu—
ia merasa Zavian mungkin benar-benar berada di pihaknya.