NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Mengejutkan

Hari-hari berlalu di rumah keluarga Arkananta. Kehadiran Keira memang membawa tawa dan warna bagi rumah itu, namun kehangatan itu terasa semu. Amisha kerap tertangkap basah sedang melamun, pikirannya seolah melayang setiap kali diajak berbicara.

Darel hanya bisa menghela napas panjang, menyimpan kekhawatiran yang semakin menumpuk. Sejak insiden Ezra membawa Sienna untuk meminta restu menikah, pria itu tidak lagi menampakkan batang hidungnya, dan meninggalkan luka yang tidak kunjung kering di hati sang ibu.

Di ruang tamu, suasana terlihat lebih sibuk. Azizah tengah fokus membersihkan kaca jendela depan, sementara Dewi sedang mengelap permukaan meja dengan teliti.

Gerakan Azizah perlahan melambat. Rasa penasaran yang sejak tadi berkecamuk di dadanya akhirnya mengalahkan akal sehatnya. Ia meletakkan kain lapnya, lalu melangkah mendekati Dewi yang sedang berlutut di lantai. Ia menyentuh pundak bibinya itu, hingga membuat Dewi mendongak dengan tatapan bertanya.

Azizah mulai menggerakkan tangannya untuk menyampaikan keresahan yang selama ini ia pendam.

'Bi, apa keluarga ini akan terus-menerus seperti ini? Maksudku, meskipun terlihat hangat layaknya keluarga pada umumnya, entah kenapa rasanya tetap sangat dingin.’

Dewi menghela napas panjang, matanya menerawang menatap meja yang tengah ia bersihkan.

“Hal ini akan terus terjadi selama Tuan Ezra masih bersikap sesuka hatinya,” jawab Dewi lirih, “Sebenarnya, ini bukan kali pertama wanita menor itu datang ke rumah ini. Sudah berkali-kali Nyonya Amisha mengusirnya, tapi mereka selalu saja kembali. Hanya saja, kali ini mereka membawa berita pernikahan. Tentu saja itu sangat mengguncang keluarga ini, khususnya Nyonya Amisha.”

Dewi melanjutkan pekerjaannya, seolah ingin segera mengakhiri topik sensitif itu. Tatapan Azizah mengikuti gerakan tangan bibinya dengan helaan napas yang berat dan kasar.

Mendengar helaan napas itu, Dewi tersenyum tipis, “Untuk apa kita memikirkannya, Zah? Yang penting kita bekerja dengan baik dan digaji. Sudah, lanjutkan saja pekerjaanmu.”

Azizah hanya mengangguk samar. Ia kembali melangkah ke depan jendela, namun bayang-bayang wajah sedih Amisha masih terus menghantui pikirannya.

Setelah menyelesaikan tugas mereka di ruang tamu, Azizah dan Dewi berpindah ke ruang tengah untuk membersihkan debu di sofa serta merapikan bantal. Dewi kemudian menggunakan mesin penyedot debu untuk membersihkan area karpet dan kolong sofa.

Tiba-tiba, Amisha muncul dari lantai atas, “Azizah,” panggilnya lembut.

Mereka pun menghentikan pekerjaan dan menatap kedatangan sang Nyonya.

“Teh melatimu waktu itu sangat enak. Bisakah kau membuatkanku lagi?” tanya Amisha.

Azizah mengangguk mantap dengan senyum kecil.

“Baiklah, kirimkan ke balkon lantai atas ya, aku ingin menikmati langit sore,” perintahnya lalu kembali naik tangga.

Dewi segera menatap Azizah, “Biar aku lanjutkan pekerjaanmu, Zah. Sana, cepat buatkan.”

Azizah menunjukkan jempolnya sebagai tanda terima kasih dan ia langsung melipir ke dapur. Di sana, ia melihat Diah dan Lina yang sedang membersihkan dan menata isi kulkas.

“Mau minum, Zah?” tawar Diah sambil menunjukkan sebotol air dingin.

Azizah menggeleng, ia mengeluarkan buku catatannya dari saku roknya dan menulis dengan cepat.

‘Terima kasih, Mbak. Aku baru saja disuruh Nyonya besar untuk membuatkan teh.’

Lina yang membaca tulisan itu ikut menimpali, “Wah, tampaknya kau juga pandai membuat teh kesukaan Nyonya. Jarang lho ada yang bisa pas rasanya.”

“Benar, Zah,” sahut Diah, “Biasanya hanya Mbak Iyem yang paham selera keluarga ini. Kau hebat bisa langsung cocok begitu.”

Azizah kembali menulis dengan sedikit malu.

‘Kalian terlalu berlebihan.’

Diah dan Lina terkekeh rendah mendengar kerendahan hati Azizah. Mereka pun kembali melanjutkan aktivitasnya, sementara Azizah langsung menyeduh teh dengan takaran yang pas. Setelah selesai, ia mengangguk singkat pada kedua wanita itu untuk berpamitan dan membawa nampan itu ke lantai atas.

Azizah akhirnya sampai di balkon, ia bisa melihat Amisha yang sedang duduk di sofa santai.

“Eh, Azizah,” sapa Amisha sambil menegakkan tubuhnya ketika melihat Azizah mendekat.

Azizah tersenyum lalu meletakkan cangkir teh di meja kecil yang diapit dua sofa di sana.

“Duduklah sebentar di sini. Tidak perlu terburu-buru untuk turun,” pinta Amisha.

Azizah tampak ragu, statusnya tetaplah seorang pembantu, apalagi teman-temannya juga masih bekerja di lantai bawah.

“Kubilang duduk,” tegas Amisha.

Azizah pun duduk di sofa satunya, ia ikut menatap langit sore di atas sana.

“Langitnya indah kan, Zah?” tanya Amisha.

Azizah menoleh, lalu mengeluarkan buku catatannya.

‘Di desa bahkan lebih cerah lagi karena tidak ada polusi.’

Amisha tersenyum, ia cukup penasaran dengan desa Azizah dan Dewi. Ia bahkan sudah melihat foto-foto di ponsel Dewi, dan pemandangan di sana memang sangat indah.

Azizah kembali menulis.

‘Nyonya kapan-kapan harus datang berkunjung, nenek saya pasti akan menyambut dengan berbagai makanan khas desa yang sangat lezat.’

Amisha mengangguk, menjawab dengan nada sedih, “Semoga ada waktu untukku.”

Mendengar itu, perasaan Azizah menjadi tidak karuan. Ia kembali menulis.

‘Apa Nyonya baik-baik saja?’

Amisha meluruhkan bahunya, “Kalau dibilang baik-baik saja juga tidak benar, Zah. Aku masih memikirkan tentang putraku. Aku hafal betul sikap keras Ezra, wataknya itu sama dengan mendiang suamiku. Apa pun bisa dilakukan jika itu memang kemauannya. Aku hanya takut, mereka menikah diam-diam, dan setelah itu, Ezra benar-benar memutuskan hubungannya denganku.”

Azizah menunduk lesu. Ia berusaha menyusun kata yang pas untuk menghibur Amisha, hingga tangannya kembali menorehkan pena di atas buku.

‘Nyonya tenang saja, saya yakin Tuan Ezra pasti akan sangat menyesal dengan perbuatannya. Seorang ibu tetaplah seorang ibu. Seorang anak tetaplah seorang anak. Tidak ada mantan ibu ataupun mantan anak. Walaupun kalian jauh, hati kalian sebenarnya dekat. Hanya saja sifat keras, gengsi, dan harga diri selalu menjadi penghalang yang membuat hubungan menjadi tidak akur. Saya berdoa kepada Allah, agar Nyonya bisa berdamai dengan Tuan Ezra dan keluarga ini selalu dilindungi oleh Allah SWT.’

Amisha membaca tulisan itu dengan hati yang tersentuh. Ia berkaca-kaca, “Aamiin, aamiin. Semoga Allah mendengar doamu.”

Azizah kembali menulis.

‘Allah selalu mendengar kita, Nyonya. Walaupun kita bersembunyi di goa gelap gulita pun, Allah akan tetap mendengar suara hati kita. Sekarang, Nyonya berpasrah dan mendekatkan diri pada Allah. Kadang, dengan menumpahkan isi hati pada Allah, bisa membuat perasaan menjadi lebih tenang.’

“Masya Allah, kau sangat sholehah, Zah. Orang tuamu di surga pasti sangat beruntung memiliki putri sepertimu,” ucap Amisha sambil menyentuh kepala Azizah, “Dan suamimu di masa depan juga akan beruntung karena memiliki istri sesempurna dirimu.”

Amisha kemudian menurunkan tangannya, dan kembali menatap langit sore, “Seandainya Ezra memilih wanita sepertimu, mungkin keadaanku tidak akan seperti ini.”

Amisha terpaku sejenak, seolah sedang menemukan garis merah dari masalah yang terjadi. Ia kemudian menatap Azizah dengan serius.

“Azizah, bagaimana kalau kau yang menikah dengan Ezra?”

1
Lilik Juhariah
bagus banget ceritanya
Lilik Juhariah
suka ceritanya
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!