"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Kartu Truf di Meja Makan
"Kirimkan sekarang. Aku akan mengurus sisanya," balas Keysa dingin, lalu memutuskan sambungan telepon sepihak.
Keysa berjalan cepat menuju lemari pakaiannya. Di balik tumpukan kotak sepatu, ia menyimpan sebuah mesin cetak portabel berukuran kecil. Tak lama kemudian, b yukenda itu langsung berdengung pelan saat menerima kiriman berkas dari ponsel rahasianya. Dua lembar kertas putih keluar dari celah mesin.
Mata Keysa menyapu deretan kalimat hukum di kertas tersebut. Semuanya tersusun sangat rapi dan menjebak. Judul besarnya tertulis sebagai 'Persetujuan Evaluasi Kesehatan Rutin Eksekutif', namun di sudut kanan bawah terdapat logo kecil dari lembaga psikiatri rujukan Pengadilan Negeri Jakarta. Jika surat ini ditandatangani, Arga secara hukum mengakui dirinya sangat waras, stabil, dan siap digugat cerai tanpa halangan dari rekam medis kecelakaannya.
Keysa mengambil map biru tebal dari tas kerjanya. Ia menyisipkan dua lembar dokumen maut itu tepat di tengah-tengah tumpukan berkas persetujuan pengadaan barang dan laporan keuangan divisi pemasaran. Ini adalah taktik kamuflase dasar yang sangat brilian. Laki-laki itu pasti akan kelelahan membaca deretan angka triliunan rupiah dan menandatangani lembar sisanya secara otomatis tanpa banyak bertanya.
Setelah merapikan kemejanya dan memastikan wajahnya kembali datar tanpa ekspresi, Keysa melangkah keluar kamar.
Aroma roti panggang dan mentega langsung menyambut indra penciumannya. Arga sedang duduk santai di kursi meja makan kayu mereka. Laki-laki itu memakai kaus polo hitam, terlihat segar setelah mandi. Di atas meja sudah tersaji dua piring berisi roti panggang isi telur dan daging asap, lengkap dengan dua cangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul.
"Duduklah. Aku memesan sarapan ini dari restoran di lantai bawah apartemen. Tenang saja, rasanya sangat aman untuk perutmu," ucap Arga menyapa lebih dulu. Laki-laki itu menatap Keysa dengan tatapan lembut yang kembali membuat dada Keysa berdesir aneh.
Keysa menarik kursi tepat di seberang suaminya. Ia sama sekali tidak menyentuh piring sarapannya. Perempuan itu justru meletakkan map biru tebal yang ia bawa tepat di sebelah cangkir teh Arga.
"Makanlah nanti. Ada beberapa dokumen kantor yang harus kamu tanda tangani pagi ini juga," perintah Keysa datar. "Pihak vendor pengadaan material proyek butuh kepastian dana sebelum jam sepuluh."
Arga menghela napas pendek. Ia menyesap teh hangatnya perlahan, membiarkan aroma teh menenangkan urat sarafnya. "Kita sedang berada di rumah, Keysa. Kamu baru saja sembuh dari demam tinggi. Bisakah kita menunda urusan pekerjaan setidaknya sampai piring ini kosong? Berhenti bersikap seperti robot pekerja sebentar saja."
"Dunia bisnis tidak akan berhenti berputar hanya karena asisten CEO-nya sedang sakit demam," balas Keysa tajam. Tembok esnya sudah kembali utuh. "Tanda tangani sekarang, Arga. Kurir kantor sudah menunggunya di lobi bawah apartemen kita. Ini menyangkut pergerakan proyek bernilai ratusan miliar."
Melihat keras kepalanya sang istri, Arga akhirnya mengalah. Laki-laki itu meraih pulpen perak mahal dari saku celananya. Ia membuka map biru tersebut dan mulai membaca halaman pertama. Matanya bergerak cepat menyapu deretan angka pengeluaran dari divisi pemasaran. Insting bisnisnya masih sangat tajam. Setelah merasa tidak ada kejanggalan dalam hitungan anggaran, Arga membubuhkan tanda tangannya yang tegas di sudut kertas.
Keysa duduk diam memperhatikan setiap gerakan tangan suaminya. Wajahnya sedingin bongkahan es, matanya menatap lurus ke depan, namun jantungnya berdetak sangat kencang menabrak tulang rusuk.
Arga membalik halaman kedua, ketiga, dan keempat. Laki-laki itu menandatangani berkas-berkas tersebut dengan ritme yang stabil dan monoton. Kepercayaan Arga pada Keysa terkait urusan operasional perusahaan memang luar biasa besar. Ia tahu persis istrinya adalah tameng pelindung paling tangguh untuk urusan administrasi Alvandra Group.
Kertas kelima terbuka.
Itu dia. Dokumen evaluasi medis yang dirancang khusus oleh Harris.
Keysa menahan napasnya secara tidak sadar. Tangannya yang bertumpu di atas paha meremas kain celananya sendiri kuat-kuat. Sedikit lagi. Hanya butuh satu goresan tinta dari pulpen perak itu, dan jalan keluar menuju kebebasannya akan terbuka sangat lebar. Ia akan terbebas dari pernikahan beracun ini.
Arga melirik sekilas ke arah judul dokumen tersebut. 'Persetujuan Evaluasi Kesehatan Rutin Eksekutif'.
"Evaluasi kesehatan?" gumam Arga pelan, dahinya sedikit berkerut membaca deretan paragraf awal. "Sejak kapan divisi sumber daya manusia meminta persetujuan langsung dariku untuk jadwal pemeriksaan rutin? Biasanya pihak rumah sakit yang datang langsung ke kantor tanpa persetujuan formal seperti ini."
"Itu prosedur baru pasca kecelakaanmu," jawab Keysa cepat. Suaranya sangat tenang, mekanis, dan terkontrol tanpa nada gugup sama sekali. "Komisaris dewan direksi butuh jaminan hitam di atas putih bahwa kesehatan fisikmu akan terus dipantau oleh dokter perusahaan setiap bulan. Kamu hanya perlu menandatangani bagian bawahnya sebagai bentuk persetujuan."
Arga mengangguk pelan. Penjelasan istrinya terdengar sangat masuk akal dan rasional. Dewan direksi yang dipimpin oleh barisan paman-pamannya memang selalu mencari celah untuk meragukan kemampuannya memimpin setelah insiden kecelakaan lalu lintas tersebut.
Laki-laki itu menurunkan pulpen peraknya, bersiap menggoreskan tanda tangan di atas garis hitam yang sudah disediakan. Ujung pena itu bahkan sudah menyentuh permukaan kertas putih tersebut, bersiap membuat lengkungan huruf pertama.
Satu detik berlalu.
Tiba-tiba, gerakan tangan Arga berhenti total.
Insting pemangsa puncak yang bersemayam kuat di dalam darahnya mendadak berteriak memberikan peringatan bahaya tingkat tinggi. Ada sesuatu yang janggal dari susunan tata letak kalimat di kertas ini. Arga menarik kembali pulpennya dari atas kertas. Matanya yang tajam bak elang menyipit, menelusuri ulang seluruh isi dokumen itu dengan tingkat ketelitian yang luar biasa mengerikan.
Tatapan Arga tidak lagi fokus pada isi tulisan persetujuan, melainkan pada logo-logo kecil dan cap bayangan yang tercetak samar di kertas tersebut. Pandangannya bergerak turun ke sudut kanan bawah, bergeser tepat di sebelah kolom tanda tangannya.
Sebuah logo timbangan keadilan berukuran kecil beserta nama klinik psikiatri yang menjadi rujukan resmi pengadilan negeri tercetak samar namun sangat jelas di sana.
Keheningan yang mencekik leher seketika turun menyelimuti ruang makan apartemen mewah itu. Udara pagi yang hangat terasa membeku.
Arga mengangkat wajahnya perlahan. Rona hangat, senyum santai, dan tatapan lembut yang sejak semalam menghiasi wajahnya lenyap tak berbekas dalam hitungan detik. Semua itu digantikan oleh kilat kemarahan yang luar biasa gelap, buas, dan sangat berbahaya. Rahang laki-laki itu mengeras kaku hingga urat lehernya terlihat menonjol jelas menahan amarah yang meledak.
Keysa menelan ludah kasar. Tembok pertahanannya bergetar hebat melihat perubahan wujud suaminya secara langsung. Laki-laki di depannya ini bukan lagi Arga yang memasak bubur gagal atau mengompres dahinya semalaman suntuk. Ini adalah wujud asli CEO Alvandra Group yang sangat kejam, tiran, dan sama sekali tidak bisa ditipu oleh tipu daya murahan.
Arga menatap lurus menembus bola mata cokelat Keysa. Laki-laki itu mengangkat pulpen peraknya tinggi-tinggi di udara.
Brak!
Arga membanting pulpen perak tersebut ke atas piring keramik di depannya dengan kekuatan penuh. Piring berisi roti panggang itu retak terbelah menjadi dua bagian. Bunyi bantingan barang keras itu memekakkan telinga, menggema ke seluruh penjuru ruangan.
"Kau mencoba menjebakku untuk menyerahkan status kesehatan dan kewarasanku sendiri ke pengadilan agar kau bisa lari dariku?!"
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..