Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sinar bulan menyelinap masuk melalui jendela rumah baru Gayuh, menyinari jemari mungil yang masih bergerak lincah di atas papan ketik laptop.
Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi, namun kantuk seolah tak berani menyapa.
Gayuh menarik napas dalam, matanya yang memerah menatap tajam ke layar.
Ia sedang merangkai kata demi kata dengan kecepatan yang luar biasa.
Di kepalanya hanya ada satu tujuan: menyelesaikan novel terbarunya malam ini juga agar ia bisa segera mengajukan klaim kontrak premium dan mendapatkan uang muka yang besar.
"Tiga hari, aku hanya punya tiga hari untuk melunasi utang itu pada Tryas," bisiknya pada keheningan malam.
Rasa lelah di punggungnya diabaikan. Setiap kali konsentrasinya mulai goyah, ia melirik ke arah pot anggrek pemberian Jati yang sudah ia pindahkan ke wadah sementara.
Hati Gayuh kembali memanas jika mengingat hinaan Tryas semalam.
Baginya, setiap paragraf yang ia tulis adalah perjuangan untuk menjaga kehormatan Jati agar pria itu tidak perlu tahu betapa pahitnya dunia yang merendahkannya.
Di sisi lain kota, di dalam kamar apartemen yang mewah dan tenang, Jati mendadak terjaga.
Entah mengapa, tidurnya terasa tidak tenang. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas, hanya untuk memastikan sesuatu.
Mata Jati menyipit saat melihat status aplikasi pesan milik "Tryas Adiguna" alias Gayuh.
Online.
"Jam dua pagi? Dia belum tidur?" gumam Jati heran.
Jati bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota yang mulai sepi.
Ia menatap layar ponselnya lagi. Status itu tetap tidak berubah. Gayuh masih terjaga di jam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat.
Jati tidak tahu tentang kedatangan Tryas yang penuh amarah semalam.
Ia tidak tahu tentang ancaman penjara dan pecahan pot anggrek di teras rumah Gayuh.
Yang ia tahu, wanita sederhana itu sedang memaksakan diri melakukan sesuatu yang berat.
"Apa yang sedang kamu tulis di sana, Gadis Penulis? Apa yang membuatmu begitu gelisah sampai mengabaikan kesehatanmu?" Jati bertanya pada kegelapan.
Ia sempat terpikir untuk mengirim pesan, namun ia urungkan.
Ia takut akan mengganggu fokus wanita itu atau justru membuatnya semakin cemas.
Jati hanya berdiri diam, menatap status online itu dengan perasaan khawatir yang sangat dalam.
Di balik wibawanya sebagai CEO, malam itu Jati merasa tak berdaya hanya karena satu status di layar ponsel.
Tanpa sepengetahuan Gayuh, Jati segera menghubungi asistennya, Pak Gunawan, melalui pesan singkat meski hari masih sangat pagi.
"Pak Gun, pantau semua platform penerbitan novel digital. Jika ada naskah baru masuk atas nama Gayuh Leksananingtyas malam ini, pastikan kontraknya disetujui dengan nilai tertinggi secepat mungkin. Gunakan perusahaan investasi kita sebagai sponsor rahasia."
Jati mengunci ponselnya, ia kembali merebahkan diri namun matanya tetap terbuka.
Ia ingin membantu Gayuh, tapi ia juga ingin menghargai kerja keras wanita itu.
Air mata haru jatuh membasahi pipinya saat ia menekan tombol submit.
Ia menyandarkan punggungnya di kursi dengan lemas, tak menyadari bahwa di luar sana, seorang "pria ojek" sedang menyiapkan jaring pengaman agar jatuh bangunnya tidak akan pernah menyentuh tanah.
Jemari Gayuh mulai terasa kaku, namun ia terus memaksanya menari di atas keyboard.
Ruangan itu hanya diterangi cahaya biru dari layar laptop dan lampu meja yang temaram.
Sejak kepergian Tryas yang penuh makian malam itu, Gayuh seolah kerasukan.
Ia mengabaikan rasa lapar, mengabaikan tenggorokannya yang kering, dan yang paling parah, ia mengabaikan sinyal bahaya dari tubuhnya sendiri yang mulai menggigil.
Pukul empat pagi. Gayuh memijat pelipisnya yang berdenyut hebat.
Pandangannya mulai kabur, bayangan huruf-huruf di layar tampak ganda.
"Sedikit lagi, bab terakhir harus sempurna," rintihnya pelan.
Ia meraih gelas di sampingnya, namun hanya menemukan dasar yang kering.
Ia bahkan tidak punya kekuatan lagi untuk sekadar berjalan ke dapur.
Setiap kali ia merasa ingin menyerah, bayangan wajah sombong Tryas dan senyum tulus Jati muncul bergantian.
Ia tidak sudi Jati dipandang rendah, dan ia tidak sudi martabatnya diinjak-injak oleh uang Tryas.
Satu jam kemudian, saat fajar mulai mengintip di ufuk timur, sebuah bunyi klik yang memuaskan terdengar.
Naskah utuh setebal 300 halaman telah terunggah ke sistem penerbitan pusat.
Gayuh menyandarkan kepalanya di meja, napasnya pendek-pendek.
Tubuhnya terasa panas, namun ia merasa kedinginan yang luar biasa.
Dalam keadaan setengah sadar, ia terus menyegarkan halaman e-mail-nya. Ia butuh kepastian. Ia butuh uang itu sekarang.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk.
Subjek: Penawaran Kontrak Eksklusif & Pembelian Hak Cipta - Naskah "Permata di Balik Jaket Kusam"
Dengan tangan gemetar hebat, Gayuh membuka pesan itu.
Matanya membelalak melihat angka yang tertera di sana.
Nilai kontraknya sepuluh kali lipat dari biasanya. Nilai yang lebih dari cukup untuk melunasi utang pada Tryas dan bahkan membeli harga diri yang sempat terkoyak.
Perusahaan investasi kami, J-Corp International, telah meninjau naskah Anda dan memutuskan untuk mengakuisisi hak adaptasi film serta penerbitan premium dengan pembayaran di muka penuh
Gayuh tidak tahu. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa "J-Corp" adalah kependekan dari Jati Corporation.
Ia tidak tahu bahwa pria yang ia kira sedang menarik ojek di luar sana adalah orang yang sama yang baru saja memerintahkan asistennya untuk membeli naskahnya dengan harga tertinggi tanpa negosiasi.
"Alhamdulillah, terima kasih, Ya Allah..." bisik Gayuh dengan suara nyaris hilang.
Senyum lega tersungging di bibirnya yang pucat. Beban berat yang menghimpit dadanya selama tiga hari ini seolah terangkat. Namun, tepat saat rasa lega itu datang, pertahanan tubuhnya runtuh.
Kesadarannya ditarik paksa oleh kelelahan yang luar biasa.
Brugh!
Gayuh jatuh tergeletak di lantai dingin di samping meja kerjanya.
Laptopnya masih menyala, menampilkan pesan kemenangan yang tak sempat ia nikmati lebih lama.
Ia jatuh pingsan dalam kesendirian, tepat di saat ia merasa telah berhasil menyelamatkan dunia kecilnya.
Di tempat lain, di dalam mobil mewahnya, Jati menatap layar tabletnya.
Laporan dari Pak Gunawan masuk: Tuan, transaksi berhasil. Nona Gayuh sudah menerima kontraknya.
"Bagus," gumam Jati. Namun, hatinya tiba-tiba mencelos. Perasaannya tidak enak.
"Pak Gun, putar balik. Kita ke rumah Nona Gayuh sekarang. Perasaanku tidak tenang."
Mobil mewah itu berhenti dengan decit halus di depan pagar besi minimalis rumah Gayuh.
Jati tidak menunggu Pak Gunawan membukakan pintu; ia langsung melompat keluar dengan langkah seribu.
Firasatnya sejak melihat status online pada jam dua pagi tadi kini berubah menjadi kecemasan yang nyata.
Langit fajar yang abu-abu menyinari rumah itu. Jati menyadari lampu teras dan lampu ruang tamu masih menyala terang, kontras dengan suasana pagi yang mulai benderang.
Tok! Tok! Tok!
Jati mengetuk pintu kayu yang masih baru itu dengan keras.
"Tryas! Ini aku, Jati! Kamu di dalam?" suaranya kini naik satu oktavi.
Jati mulai merasa ada yang tidak beres. Ia bergeser ke arah jendela besar di samping pintu.
Ia menempelkan wajahnya ke kaca, mencoba menembus keremangan di dalam ruangan.
Awalnya ia hanya melihat meja kerja yang berantakan dengan cahaya laptop yang masih berpijar, namun saat matanya turun ke arah lantai...
" Tryas?" panggilnya, masih menggunakan nama samaran wanita itu.
Hening. Tidak ada sahutan, tidak ada suara langkah kaki.
Hanya suara kicauan burung pagi yang terdengar menyebalkan di telinga Jati yang sedang panik.
Jantung Jati seolah berhenti berdetak. Di sana, di antara kaki meja dan kursi, tubuh mungil itu tergeletak tak berdaya.
Gaun pink yang kemarin ia belikan tampak kontras dengan lantai dingin yang pucat.
Rambut Gayuh tergerai menutupi sebagian wajahnya yang seputih kertas.
"Gayuh!!" teriak Jati spontan, kali ini ia meneriakkan nama asli wanita itu tanpa sadar.
Panik menguasai akal sehatnya. Jati tidak lagi peduli dengan sopan santun atau menyembunyikan kekuatannya.
Ia mundur dua langkah, lalu dengan satu hentakan bahu yang kuat, ia menghantam pintu rumah itu.
BRAKK!
Engsel pintu yang baru dipasang itu tak kuasa menahan amukan sang CEO.
Pintu terbuka lebar. Jati langsung menghambur ke arah tubuh Gayuh.
Ia berlutut di lantai, merengkuh kepala Gayuh ke pangkuannya.
"Gayuh! Bangun! Hei, buka matamu!" tangannya yang gemetar menyentuh kening Gayuh.
"Astaga, panas sekali..."
Tubuh Gayuh membara seperti api, namun bibirnya membiru dan gemetar.
Jati melirik ke arah layar laptop yang masih menyala di atas meja, menampilkan draf novel dan e-mail dari perusahaannya.
Seketika, Jati mengerti. Wanita ini telah membunuh dirinya sendiri demi menyelesaikan pekerjaan itu.
"Bodoh... Kamu benar-benar penulis yang bodoh," bisik Jati dengan suara serak karena haru dan marah pada saat yang sama.
"Kenapa kamu harus sampai seperti ini?"
Tanpa membuang waktu, Jati mengangkat tubuh ringan itu ke dalam dekapan posesifnya. Ia berteriak ke arah luar, "Pak Gun! Siapkan mobil! Kita ke rumah sakit sekarang! Hubungi dokter terbaik, katakan ini keadaan darurat!"
Jati membawa Gayuh keluar dengan langkah besar, tidak membiarkan satu detik pun terbuang.
Di dalam dekapannya, ia bisa merasakan napas Gayuh yang lemah dan terputus-putus.
Jati bersumpah dalam hati, jika sesuatu terjadi pada wanita ini, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri—dan ia akan memastikan siapa pun yang menyebabkan Gayuh tertekan akan membayar harganya seribu kali lipat.