"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konspirasi Istri Kedua dan Sinyal bahaya
Guncangan halus pada roda pendaratan jet pribadi menandakan bahwa burung besi mewah milik keluarga Ravindra itu telah menyentuh landasan pacu pribadi. Di dalam kabin tidur utama yang remang-remang, keheningan yang pekat perlahan kembali setelah badai gairah yang merusak kewarasan berlalu. Udara di dalam ruangan masih terasa hangat, dipenuhi aroma maskulin wiski mahal bercampur dengan keharuman manis murni yang khas dari tubuh Arumi.
Arumi terbaring diam di atas seprai sutra yang kini berantakan. Napasnya sudah kembali teratur, namun sepasang matanya menatap langit-langit kabin dengan pandangan kosong sekaligus jengkel. Di sebelahnya, raga besar Zaviar masih tertidur bertelanjang dada, menampilkan pahatan otot perut yang sempurna. Wajah pria itu tampak jauh lebih rileks, sisa-sisa kegilaan dari alter egonya, Varian, telah memudar seiring kepuasan ekstrem yang didapatkannya dari rahasia tubuh Arumi.
"Sialan... benar-benar reog lepas kandalan," umpat Arumi dengan suara serak yang hampir habis.
Ia memaksakan tubuhnya yang lemas dan remuk untuk duduk. Setiap jengkal kulitnya terasa sensitif, terutama di bagian dadanya yang menderita kelainan galaktorea. Varian benar-benar memperlakukan rahasia tubuhnya seperti sebuah candu yang harus dihabiskan tanpa sisa semalam penuh. Kain pelapis dan kemeja sutra putihnya yang robek berserakan di lantai karpet beludru kabin.
Dengan sisa-sisa tenaga pesilatnya, Arumi merangkak turun dari kasur. Ia mengambil selembar jubah mandi sutra hitam tebal yang tergantung di dinding kabin, melilitkannya ke tubuh, lalu mengikat talinya dengan kencang di pinggang. Ia segera melangkah menuju wastafel kamar mandi jet untuk membersihkan diri dan membasuh wajahnya dengan air dingin.
"Gue harus cepat-cepat kabur dari pulau ini sebelum nih cowok bangun dan berubah jadi monster lagi," gumam Arumi, sifat bar-bar-nya kembali menyala setelah rasa syoknya mereda.
Saat ia keluar dari kamar mandi, lampu kabin jet pribadi telah menyala terang, menandakan pintu hidrolik pesawat telah terbuka penuh di luar. Arumi berjalan menuju meja rias kecil di sudut kabin untuk mengambil ponsel pintarnya yang sempat ia matikan selama penerbangan. Begitu menekan tombol daya, layar ponselnya bergetar konstan tanpa henti, menampilkan belasan panggilan tak terjawab dan satu pesan darurat dengan tanda seru merah dari Sekretaris Leo.
Arumi mengernyitkan dahi. Ia segera membuka pesan teks tersebut dengan perasaan waspada yang mendadak meningkat tajam. Insting pesilatnya mencium ada sesuatu yang tidak beres di tanah air.
[PESAN DARURAT - SEKRETARIS LEO]
"Nyonya Besar, mohon segera hubungi saya kembali begitu Anda membaca pesan ini! Situasi di Jakarta kritis. Sisa-sisa pengikut Danu Razeta yang berada di luar perusahaan mendadak bergerak secara terorganisir malam ini. Mereka melakukan sabotase massal di lokasi proyek pembangunan Razetha Tower di Jakarta Pusat. Mesin-mesin berat dihancurkan dan ada laporan pembakaran dokumen penting di kantor lapangan. Yang lebih mencurigakan, tim IT kami mendeteksi adanya aliran dana gelap dari perbankan dalam negeri yang membiayai gerakan sabotase ini. Jejak digitalnya mengarah pada rekening rahasia yang terhubung dengan kediaman Ravindra... Seseorang dari dalam mansion Anda sendiri yang mendanai aksi pembunuhan karakter bisnis Anda, Nyonya!"
Arumi membaca pesan itu dua kali, sepasang mata cokelat jernihnya menyipit tajam, memancarkan kilatan aura dingin yang berbahaya. Rahangnya mengetat. "Rekening yang terhubung dengan kediaman Ravindra? Danu sudah masuk sel, kagak mungkin dia punya akses ke sana."
Otak cerdas Arumi segera memproses ingatan dari pemilik tubuh asli dan plot drama yang pernah ia tonton. Hanya ada satu nama wanita yang memiliki otoritas keuangan di dalam mansion selain dirinya, seorang wanita yang selalu memasang wajah polos sewarna salju namun memiliki hati sebusuk bangkai ular.
"Calista..." Bisik Arumi, senyuman miring yang penuh kelicikan yang kejam terukir di bibirnya. "Si istri kedua bermuka dua itu akhirnya ngelepas topeng imutnya karena cemburu buta. Hebat banget, sekali mendayung dua tiga pengkhianat mau numpang lewat."
Arumi tahu, Calista sengaja memanfaatkan sisa pengikut Danu untuk menghancurkan stabilitas finansial Razetha Group yang baru saja ia bersihkan kemarin. Sabotase proyek terbesar di kota J itu bukan sekadar kerugian materi, tetapi sebuah serangan terencana untuk menjatuhkan nilai saham perusahaan ke titik terendah, sekaligus memancing Arumi untuk datang ke lokasi agar bisa diselesaikan secara fisik melalui kecelakaan kerja yang fatal.
"Lu salah nyari lawan, Dek Calista," gerutu
Arumi sambil mengganti pakaiannya menggunakan setelan celana jins hitam ketat dan jaket kulit sewarna malam yang ia temukan di lemari cadangan jet pribadi. Ia mengikat rambut panjangnya menjadi cepolan kencang di belakang kepala, bersiap untuk menghadapi badai fisik yang akan datang.
Arumi melangkah keluar dari kabin tidur dengan tergesa-gesa, berniat menuju pintu keluar jet pribadi tanpa memedulikan Zaviar yang masih tertidur. Namun, begitu tangannya baru saja menyentuh tirai pembatas kabin utama, sebuah suara bariton yang berat, dingin, dan memiliki vibrasi pekat terdengar menghentikan langkahnya dari arah belakang.
"Mau pergi ke mana dalam kondisi tubuh seperti itu, Istriku?"
Arumi tersentak kecil, ia membalikkan tubuhnya perlahan. Di ambang pintu kabin tidur, Zaviar Ravindra sudah berdiri tegak. Pria itu hanya mengenakan celana panjang hitamnya, memperlihatkan dada bidangnya yang dipenuhi guratan bekas kuku Arumi dari pertarungan semalam. Sepasang matanya tidak lagi gelap gulita seperti milik Varian, melainkan telah kembali menjadi manik mata obsidian yang dingin, jernih, namun menyimpan ketegangan posesif yang tidak kalah ekstrem. Zaviar yang asli telah kembali memegang kendali kesadaran raganya.
"Bukan urusan lu, kaku!" ketus Arumi ceplas-ceplos dengan wajah lempeng, mengabaikan fakta bahwa pria di depannya ini baru saja mengurungnya semalam penuh. "Gue ada urusan penting di Kota J. Perusahaan bokap gue lagi dibakar sama pengikut paman gue. Lu mending tetep di sini, nikmatin liburan lu sendirian!"
Zaviar melangkah mendekat, langkah kakinya yang tenang namun menekan atmosfer kabin jet menjadi sangat kaku. Mata indahnya melirik ke arah ponsel di genggaman Arumi, lalu turun ke arah leher Arumi yang tertutup kerah jaket kulit. Meskipun kesadaran berganti menjadi Zaviar, ingatan fisik dan emosi posesif dari alter egonya, Varian, tetap mengalir di dalam aliran darahnya. Gairah dan candu dari rahasia tubuh Arumi telah merusak sistem saraf dingin Zaviar secara permanen. Tubuh dan kejantanannya kini sepenuhnya terikat dan hanya akan merespons wanita di depannya ini.
"Leo mengirimkan laporan sabotase, benar?" tanya Zaviar dengan suara datar namun sarat akan otoritas mutlak yang tidak menerima bantahan. Pria itu merebut ponsel dari tangan Arumi dengan satu gerakan cepat yang tidak bisa dihindari oleh Arumi yang masih lelah.
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.