Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Pematik Api
"Kamu itu Yasmin, kan?" tanya Ray saat mereka sudah berada di koridor yang lebih ramai.
"Kok Kak Ray tahu?" Yasmin heran, matanya mengerjap polos.
"Kamu terkenal karena cantik dan... bodoh. Ternyata gosip itu benar," gumam Ray.
Yasmin tertawa kecil, namun tawanya terdengar hambar. Ia menyadari orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik melihat tangannya yang digandeng erat oleh sang bintang basket sekolah. Yasmin mencoba melepaskan tangannya, tapi genggaman Ray justru menguat.
Ray berhenti di depan sekumpulan siswi yang sedang bergosip. "Ngapain lihat-lihat?" tantang Ray. "Tadi kalian bicara apa? Ngomong yang jelas, jangan cuma berani bisik-bisik!"
Mereka langsung bungkam dan salah tingkah.
"Kenapa diam?!" bentak Ray lagi.
"Maaf ya... maaf..." bisik Yasmin pada siswi-siswi itu saat Ray menariknya pergi lagi. Ray mendengus kesal mendengar permintaan maaf Yasmin yang tidak pada tempatnya itu.
Ray membawa Yasmin ke kedai es serut di pinggir lapangan tenis. Ia membeli dua porsi besar, lalu mengajak Yasmin duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang.
"Esnya... terima kasih ya!" ucap Yasmin sambil menghisap es serutnya dengan semangat. Matanya kemudian tertuju pada rambut Ray. "Rambutmu lucu..."
Ray menoleh, menatap Yasmin dari jarak dekat. Untuk pertama kalinya, Ray benar-benar mengamati wajah gadis itu tanpa gangguan. Mata bening, kulit seputih porselen, dan ekspresi tulus yang sangat langka ditemukan di sekolah ini. Ray terpaku.
"Kenapa, Kak Ray?"
"Cantik..." gumam Ray tanpa sadar.
"Apa?"
"Eh...?" Ray tersadar, wajahnya memerah seketika.
Wajah Yasmin pun ikut memerah karena menyangka Ray sedang memanggil namanya. "Maaf, aku kira Kak Ray memanggil. Boleh aku pegang rambutnya?"
Ray hanya bisa mengangguk kaku. Yasmin mengulurkan tangannya, menyentuh rambut gimbal Ray yang tertata unik. Yasmin tersenyum lebar. "Ternyata memang lucu..."
Mereka berdua terdiam dalam momen yang aneh, tidak menyadari es serut di tangan mereka mulai meleleh dan menetes ke jemari.
"Yasmin, kamu juga... bisa jatuh cinta?" tanya Ray tiba-tiba, suaranya parau.
"Apa?" Yasmin menatap mata Ray.
Ray mengulurkan tangan kirinya, hendak menyentuh pipi Yasmin yang kemerahan, namun Yasmin mendadak berseru, "Kak Ray, menunduk! Ada sesuatu di kepalamu!"
Yasmin menekan kepala Ray hingga menunduk, lalu mengambil selembar daun kecil yang tersangkut di sana. Saat Ray menunduk itulah, matanya menangkap sesuatu yang ganjil di rok sekolah Yasmin. Ada lubang kecil yang pinggirannya tampak hangus kecokelatan.
Ray teringat kejadian di laboratorium tadi. Larutan asam.
"Apa ini?!" Ray refleks menarik bagian rok Yasmin yang berlubang untuk memeriksa apakah kulit gadis itu terluka.
"Eh...!!!" Yasmin terkejut bukan main. Secara refleks, ia memukul kepala Ray dengan cup es serutnya.
"Ehem...! Rupanya atlet kita lebih suka menggoda cewek daripada latihan di lapangan!"
Suara dingin itu membuat keduanya tersentak. Vyan berdiri tidak jauh dari sana, menatap mereka dengan pandangan meremehkan yang tajam.
"Kak Vyan!" seru Yasmin, buru-buru merapikan roknya.
"Cantik, hati-hati kalau memilih teman," sindir Vyan.
"Memang. Bisa-bisa kamu malah bertemu ular berkepala dua," balas Ray sengit sambil berdiri.
"Aku tidak mau banyak bicara, Ray. Aku hanya ingin mengingatkan kalau hari ini adalah hari pertama kamu kerja paruh waktu. Aku sudah menemukan tempatnya. Jadi, pulang sekolah nanti kita ke sana," ucap Vyan datar.
Ray tersenyum kecut. "Hahaha... terima kasih, Vyan. Kamu memang baik sekali!"
Agil muncul dari balik koridor, menghampiri Vyan yang sudah bersiap pergi.
"Eh, Kak Vyan...!" seru Yasmin, merasa sedih karena Vyan sama sekali tidak menyapanya dengan ramah.
Vyan berhenti sejenak, lalu menoleh tanpa senyum. "Cantik, sore atau malam ini aku akan menjemputmu. Kita belajar di rumah ibuku. Oke?"
Ray tersentak. Yasmin ke rumah Vyan? Belajar dengan ibunya? "Vyan, tunggu!" teriak Ray. Vyan berhenti. "Jangan dekati Yasmin lagi."
"Oh, agar kamu bisa seenaknya mendekati dia?"
"Kamu tidak tahu apa yang dilakukan teman sekelasmu tadi pada Yasmin! Lihat roknya sampai berlubang begitu! Bayangkan kalau cairan kimia itu mengenai kulitnya!" bentak Ray.
Vyan tampak terkejut. Matanya beralih ke rok Yasmin, menatap lubang kecil di sana dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Kedekatanmu dengan Yasmin membuat cewek-cewek di kelasmu menggila, Vyan! Kamu membahayakan dia!" lanjut Ray.
"Eh, tidak kok, Kak Vyan. Bukan begitu..." Yasmin mencoba menengahi.
Vyan tersenyum hambar, namun matanya memancarkan rasa bersalah yang disembunyikan dengan rapi. "Begitu ya? Aku jamin kejadian ini tidak akan terulang lagi." Vyan segera berbalik, mengajak Agil pergi tanpa kata-kata lagi.
"Kak Vyan...!" Yasmin menatap punggung Vyan dengan lesu. "Kenapa Kak Ray bilang begitu? Bagaimana kalau Kak Vyan tidak mau bermain denganku lagi?"
Ray tertegun melihat kecemasan di wajah Yasmin. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya.
"Cuma Kak Vyan yang mau berteman denganku..." bisik Yasmin lirih.
"Aku juga mau, Yasmin...!" sahut Ray cepat.
Yasmin menoleh padanya. "Kak Ray juga mau berteman denganku?"
"Iya. Panggil saja aku Ray, jangan pakai Kak," ucap Ray, mencoba memberikan senyum terbaiknya meski hatinya terasa perih melihat kesedihan di mata gadis yang baru saja ia sadari begitu berharga itu.
...****************...
Vyan tidak banyak bicara selama perjalanan menuju kelas, namun derap langkahnya yang cepat dan rahangnya yang terkatup rapat sudah cukup menjadi sinyal bahaya bagi siapa pun yang berpapasan dengannya. Agil harus sedikit berlari kecil untuk menyeimbangi langkah sahabatnya itu.
"Lu pasti tahu, Gil," suara Vyan memecah keheningan, rendah namun tajam seperti sembilu. "Siapa orang yang terakhir keluar dari lab kimia. Yang pasti, mereka yang bertugas mengunci lab dan menyerahkan kuncinya ke guru."
Agil terdiam sejenak, otaknya memutar kembali memori jam pelajaran praktikum tadi.
Sebenarnya itu jatah piketnya si Toto, pikir Agil dalam hati. Tapi tadi dia lihat Sandra, Mia, sama Resi masih kasak-kusuk di sana waktu yang lain sudah bubar.
"Jangan bilang nggak tahu. Gue tahu lu tahu segalanya yang terjadi di koridor itu, Gil. Lu waktu itu keluar dari lab terakhir-terakhir, kan?" cecar Vyan, matanya melirik Agil dengan tatapan yang seolah bisa menembus pikiran.
Agil menghela napas panjang, menyerah. "Sandra, Mia, sama Resi. Emang lu mau apain mereka, Yan? Mereka itu teman sekelas kita sendiri."
"Cih, mereka," Vyan mendengus sinis, senyum miring yang mengerikan tersungging di bibirnya. "Gue udah nyangka sih. Memang cuma mereka yang punya nyali sebesar itu sekaligus otak sesempit itu."
Langkah Vyan melambat saat mereka hampir sampai di depan pintu kelas XI IPA 3. Ia berhenti, menyandarkan bahunya di tembok, lalu menatap Agil dengan mata yang berapi-api—jenis api yang dingin, yang tidak membakar tapi membekukan.
"Kita buat mereka kapok, Gil. Berani-beraninya mereka melangkahi gue," desis Vyan. "Mereka pikir, hanya karena mereka teman sekelas gue, mereka bisa menyentuh Yasmin sesuka hati?"
Agil merasakan tengkuknya meremang. Vyan bukan tipe orang yang akan membalas dengan tamparan atau teriakan. Dia adalah tipe orang yang akan menghukum tanpa mengotori tangan sendiri atau membuat musuh masuk perangkap yang dia pasang, yang pasti mereka tidak akan melupakan pengalaman itu di kemudian hari.
"Gue nggak suka ada orang yang bikin kekacauan di wilayah gue, apalagi menggunakan cara-cara rendahan seperti cairan kimia," lanjut Vyan sambil merapikan kerah seragamnya yang sebenarnya sudah sangat rapi. "Hmm, sepertinya cairan kimia emang seru sih."
Vyan tersenyum. Agil terhenyak. Hal yang membuat Vyan tersenyum, pastilah hal yang membuat korbannya menangis. Agil hanya bisa mengangguk, mengingat apa yang dilakukan Sandra emang berlebihan.
Vyan kemudian melangkah masuk ke dalam kelas dengan wajah yang mendadak kembali tenang, seolah kemarahan besar tadi hanyalah ilusi.