NovelToon NovelToon
Setelah Lima Tahun Berlalu

Setelah Lima Tahun Berlalu

Status: tamat
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Single Mom / Tamat
Popularitas:289.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.

Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.

Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.

" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

“Ih, om! Itu ikannya besar banget!” seru Aldian dengan wajah sumringah.

Saat ini mereka berada di kolam ikan hias di samping rumah besar keluarga Bagas. Air kolam yang jernih memperlihatkan belasan ikan koi

“Kamu suka?” tanya Revan sambil berjongkok di samping bocah kecil itu.

Aldian mengangguk cepat. “Suka banget, Om! Boleh Aldian bawa satu ke rumah?” tanyanya polos, mata besarnya berbinar penuh harapan sambil mengangkat satu jari telunjuk.

Revan terkekeh, tak bisa menahan senyumnya. “Kalau ikannya dibawa ke rumah Aldian, ikannya mau ditaruh di mana? Aldian punya kolam ikan atau akuarium?”

Aldian langsung menggeleng lemah, bahunya turun. “Nggak ada sih, Om… Tapi kan di kamar mandi ada ember.” Ia menunjuk ke arah luar seakan ember itu ada di depan mata. “Dulu bunda beli ikan cupang, trus taruh di ember. Kata bunda bisa… tapi ikannya udah mati.”

Revan menahan tawa. “Kasihan ikannya"

Aldian memajukan bibirnya, pura-pura merajuk. “Iya, Om. Makanya Aldian mau ikan yang gede aja. Biar nggak mati.”

Revan menahan diri untuk tidak tertawa lebih keras. “Justru karena dia besar, Aldian. Dia butuh rumah yang lebih besar daripada ember.”

Aldian mengangguk kecewa. Ia duduk di tepi kolam, kakinya bergoyang-goyang, menatap ikan-ikan yang berenang seperti sedang berpikir keras.

Revan memperhatikan bocah itu sejenak, lalu berkata,

“Kalo Aldian mau, nanti Om buatin akuarium yang bagus. Yang ada lampunya, ada gelembung-gelembungnya, dan ada batu-batu warna-warni. Gimana?”

Aldian menoleh cepat, matanya membulat. “Beneran, Om?! Yang besar… yang gede banget?”

“Gede banget,” jawab Revan sambil mengacungkan jempol.

Aldian langsung memeluk pinggang Revan, membuat pria itu sedikit terkejut namun tersenyum hangat.

“Om Revan baik banget!”

Revan mengacak rambutnya. “Iya dong siapa lagi ini. Om mu yang paling ganteng SE jagat raya"

Disisi lain Bu Widya, Bagas dan juga kyra sedang berada diruang makan.

Widya akhirnya mendesah pelan.

“Bagas, kamu tolong panggil Revan dan Aldian. Makanannya sudah siap. Jangan sampai keburu dingin.”

Kyra menegakkan tubuh, bersiap untuk berdiri. “Biar saya saja yang panggil, Bu. Aldian biasanya—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimat, Bagas mencondongkan badan dan berkata,

“Tidak usah, Kyra. Biar aku yang panggil mereka.”

Widya mengangkat alis. “Memangnya kenapa? Atau Kyra nggak mau ketemu Revan?”

Kyra langsung menggeleng cepat. “Bukan begitu, Bu. Aldian suka lari-lari kalau lihat aku, jadi—”

“Justru itu,” potong Bagas dengan senyum kecil di sudut bibirnya. “Kalau kamu yang panggil, bisa-bisa mereka ngobrol di luar sampai besok pagi.”

Kyra memelototinya. “Bagas…” desisnya dengan nada peringatan.

“Kenapa?” tanya Bagas polos, meski jelas nada suaranya penuh gangguan.

Widya menghela napas seolah sedang menahan gelombang komentar yang ingin keluar. “Sudahlah. Siapa pun yang memanggil, cepatkan saja.”

Bagas mengangkat tangan, seolah menerima instruksi resmi. “Baik, Ma.”

Ia berdiri dari kursinya, merapikan kemeja, kemudian menoleh sekilas pada Kyra yang masih memandanginya setengah kesal, setengah malu.

“Sebentar,” ucapnya, sebelum melangkah keluar.

Saat pintu menuju taman samping menutup pelan, Widya menoleh pada Kyra.

“Kyra,” panggilnya.

Kyra menegap, otomatis duduk lebih tegak. “I… iya, Tante?”

Widya mengusap syalnya pelan. Tatapannya tidak setajam sebelumnya, tapi tetap membuat Kyra merasa seperti anak kecil yang diawasi guru killer.

“Bagaimana pun,” katanya pelan tapi jelas, “Aldian itu cucu Mama. Jadi… terima kasih sudah menjaganya.”

Kyra membeku. Itu bukan pujian sepenuhnya—lebih seperti pengakuan setengah hati—tapi tetap membuat dadanya terasa sesak.

Sama-sama, Tante…” jawabnya lirih

Di luar, angin malam membuat permukaan kolam koi bergetar lembut. Revan masih jongkok di tepi kolam, sementara Aldian duduk di sampingnya sambil menceritakan ukuran ember di kamar mandi mereka.

Bagas berjalan mendekat, tangannya masuk ke saku celana.

“Revan… Aldian…” panggilnya.

Aldian langsung menoleh. “Om Bagas!!”

Revan menoleh sambil tersenyum tipis. “Udah siap ngobrolnya kak"

“Udah. Mama nyuruh panggil kalian buat makan malam"

Aldian langsung berdiri dengan semangat. “Ayo Om! Aku laper! Tadi waktu jalan kesini Aldian cium aroma masakan yang enak"

Begitu bocah itu berlari ke arah Bagas, pria itu otomatis mengangkatnya.

Dan begitu mereka masuk ke ruang makan—dengan Aldian memeluk leher Bagas dan Revan mengikuti di belakang—Kyra yang tadi canggung menunduk, kini mendongak.

Widya yang tadi kaku, kini tampak melunak melihat cucunya hadir sambil tersenyum lebar.

Dan Bagas…

tanpa berkata apa pun, menghampiri tempat duduknya dan meletakkan Aldian di kursi kecil di samping Kyra.

Widya menatap ke arah Aldian yang duduk di kursi kecilnya, wajah bocah itu tampak lugu matanya terus bergerak mengikuti berbagai hidangan di atas meja.

Aldian hanya memandang semuanya dengan mulut sedikit terbuka.

Widya memperhatikan reaksi cucunya itu cukup lama sebelum akhirnya bertanya,

“Aldian… kamu ingin makan apa, Nak?” suaranya lembut jauh lebih lembut dari sebelumnya.

Aldian tercekat. Ia menatap kiri, lalu kanan, lalu ke depan. Tangannya terangkat sedikit, lalu turun lagi. Ia terlihat kebingungan tingkat dewa.

“Umm…”

Dia mengusap kepala kecilnya. “Aldian… nggak tahu, Oma.”

Kyra spontan tersedak air liur kecilnya. “O-oma?” gumamnya pelan, kaget sekaligus bingung.

Bagas menahan senyum, sementara Revan sampai hampir tertawa meledak.

Widya tidak bereaksi berlebihan meski wajahnya sempat kaget setengah detik. Ia memfokuskan diri pada cucu di depannya.

“Kamu nggak tahu karena apa, sayang?” tanya Widya pelan, seolah benar-benar ingin mengerti.

Aldian menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab jujur,

“Soalnya… makanannya banyaaak banget, Oma…”

Ia memiringkan kepala.

“Dan Aldian… belum pernah makan ini semua…”

Hening sesaat.

Kyra menatap piring kosong, merasa malu sekaligus sedih. Bagas meliriknya sekilas, rahangnya mengeras, seolah tahu tepat apa yang Kyra rasakan.

Widya membeku beberapa detik. Tatapannya turun ke meja yang penuh makanan. Baru ia sadar untuk anak seumur Aldian yang hidup sederhana bersama Kyra, makanan sebanyak ini memang bisa terasa asing.

“Kalau begitu…” Widya tersenyum kecil. “Boleh Oma ambilkan Aldian makanan yang enak menurut Oma?”

Aldian mengangguk cepat, tersenyum lebar. “Boleh Oma!”

Widya mengambil piring kecil, lalu mulai mengambilkan makanan dengan penuh perhatian. Ia memilih potongan ayam bagian lembut tanpa tulang, menyendok sedikit nasi hangat, menambahkan sup sayur, dan menaruh potongan buah kecil-kecil.

Ia kembali ke kursinya dan meletakkan piring itu di depan Aldian.

“Nah. Coba ini dulu, ya.”

Aldian mengangguk patuh. “Makasih, Oma.”

Dan semua itu disaksikan oleh kyra yang duduk disampingnya.

Widya menatap bocah itu makan dengan lahap, lalu bertanya pelan, penuh rasa ingin tahu yang tulus,

“Aldian biasanya makan apa di rumah?”

Aldian berhenti mengunyah sebentar, lalu berkata polos,

“Nasi… sama telor. Kadang mi. Kadang nugget.”

Widya menahan napas.

Bagas menundukkan wajah, mengusap tengkuknya—merasakan sedikit penyesalan di dada.

Kyra menunduk makin dalam.

Tiba-tiba, Widya berkata tanpa menatap siapa pun,

“Nanti… mulai sekarang, kalau Aldian mau sesuatu, bilang saja ke Oma.”

Aldian tersenyum paling lebar. “Beneran, Oma?!”

" Beneran sayang, nanti kamu bilang aja sama Bagas atau om Revan biar mereka yang bilangin sama oma"

"makasih omaa"

1
Lilik Juhariah
miris
ayu cantik
gantung
Lisa
Terimakasih y Kak utk karyanya..kita tunggu karya² selanjutnya y..👍😊
Atmita Gajiwi
/Heart//Heart//Rose/
Lisa
Wah sekarang rumahnya Bagas & Kyra selalu ramai tuh 😊
Nuri 73749473729
lanjut
Eno Pahlevi
LANJUTT.... DITUNGGU TRIPLE UPDATENYA THOR 🥰🥰🥰🥰
Muji Lestari
🤣🤣🤣lucu rewan
Nuri 73749473729
lanjut
Mazree Gati
SORRY THORR KLO AKHIRNYA BALIKAN SAMA BAGAS,,,END, UNSUB,,
Hari Saktiawan
lama banget update nya
Lisa
Happy wedding Revan & Dira..bahagia selalu & labggeng ya 🙏
Erna Riyanto
cerita Damian dan Dewi lanjutin dong thorrr....lama bgt lho...digantung
Uthie
Mampir untuk genre cerita seperti ini 👍👍👍
Boby The Blind Massage Entertaiment AND Freelance (BOBY_freelance)
Kalau sudah begini jalan ceritanya, kayaknya ini Prepare to ending.
Hari Saktiawan
dinovel nama arka kok banget Thor lu suka ya
ig: denaa_127: nama gebetan, jujurr🤭
total 1 replies
Arwondo Arni
jujur aja kl kamu mencintai Dira lgsg nikah aja biar ngak sepi
Lisa
😊 Kalau lagi sakit Revan baru inget tuh sama Dira 🤭
Lisa
Sehat selalu y Kyra, debaynya juga..
Maria Anyela Rosa
kok jadi melow begini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!