Kisah seorang istri yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan oleh keluarga suami nya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang yang kaya.....Nasibnya begitu miris bahkan selalu dibandingkan dengan istri adik suaminya sendiri yang dianggap dari keluarga terhormat oleh sang mertua.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai berubah
****
Seperti biasa, di saat matahari masih malu-malu menunjukkan dirinya, dan setelah melaksanakan kewajiban nya kepada sang pencipta. Tania pergi ke dapur untuk memasak.
Tetapi ada yang berbeda, Tania yang dulunya selalu terburu-buru mengejar waktu agar semua makanan harus selesai dihidangkan sebelum semua orang terbangun. Kini sudah tidak ada lagi.
Pagi ini Tania terlihat begitu santai, ia hanya memasak nasi goreng kampung kesukaan suaminya, tidak lupa ia juga menggoreng telur untuk pelengkap nasi goreng yang ia buat.
"Selesai." Ucap nya dengan senyum terukir di bibirnya.
Penampilan Tania juga sedikit berbeda hari ini.
Tania yang dulu nya selalu memakai daster serta selalu berkeringat saking capek nya setelah memasak, sekarang sudah tidak lagi.
Tania sekarang lebih menghargai dirinya sendiri, dan mulai memperhatikan penampilannya.
Pagi ini, Tania memakai baju kaos lengan panjang berbahan rajut yang berwarna cream dipadukan dengan rok tutu skirt berbahan ringan.
Tania terlihat jauh lebih segar dan rapi, aura kecantikan nya kembali terpancar.
Rambut nya yang hitam legam ia ikat kebelakang membuat penampilan nya jadi lebih fresh dan bisa dengan leluasa beraktifitas.
"Sayang...."
Tania yang sedang memindahkan nasi goreng ke piring segera menoleh.
"Mas, kamu sudah siap?"
Raka menatap Tania tidak berkedip, bahkan senyuman Tania pagi ini terlihat begitu manis Dimata lelaki itu.
Raka merasa ada yang berbeda dari istrinya.
"Mas....Kok malah bengong sih?" Tegur Tania melihat Raka tidak menjawab ucapannya.
"Dek, kamu cantik sekali hari ini, Mas sampai pangling tadi." Puji Raka terdengar tulus, bahkan mata nya tidak berhenti menatap istri nya yang terlihat begitu berbeda.
Membuat yang ditatap grogi, bahkan wajah Tania sudah sedari tadi memerah seperti tomat saking malunya.
"Mas, udah ah....Malu tau." Ujar Tania malu, Raka tambah gemas di buatnya.
Tania membawa dua piring nasi goreng ke meja makan, untuk mereka sarapan pagi ini.
"Sayang, cuma dua?" Tanya Raka, tidak seperti biasanya Tania memasak begitu sedikit, bahkan hanya ada dua porsi nasi goreng. Yang artinya hanya untuk mereka berdua.
"Maaf ya Mas, aku hanya masak buat kita berdua dan ibu aja. Untuk Farah, Sindi serta Davin mereka bisa memasak sendiri kalau mereka lapar." Jawab Tania jujur.
"Mas...." Panggil Tania yang melihat Raka tiba-tiba diam aja, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Eeh, iya...Maaf sayang. Ya udah, yuk kita makan." Ajak nya mencoba tersenyum.
Tania mengangguk, dan ikut duduk disebelah suaminya.
Setelah selesai makan, Tania mengantar suaminya kedepan untuk berangkat kerja.
Raka pamit, dan mencium kening istrinya lembut.
"Hati-hati Mas."
Setelah mobil Raka tidak terlihat lagi, barulah Tania masuk kedalam.
"Loh, apa-apaan ini, kenapa tidak ada makanan di meja?" Pekik Dinda begitu melihat meja makan kosong melompong.
Tania yang baru saja melangkah masuk sempat kaget mendengar suara ibu mertua nya yang begitu nyaring.
"Heh, b4bu.....Mana sarapan kami? kenapa bisa kosong gini?" Teriak Sindi begitu melihat Tania datang.
Tania menahan diri nya untuk tidak menghiraukan kan ucapan adik iparnya yang menurut nya sudah benar-benar keterlaluan.
"Mbak, kamu nggak Masak?" Tanya Farah penuh selidik menatap Tania.
"Tania, apa kamu sudah tul1 hah....Mana sarapan nya? Ditanya kok malah diam aja kayak orang bod*h." Omel Dinda begitu kesal
"Udah bisu mungkin dia Tan...." Timpal Bella ikut memojokkan tania tidak tau diri kalau dia hanya lah tamu dirumah itu.
"Hhhhh....
Sontak semua tertawa mendengar perkataan Bella yang ikut memojokkan Tania.
Jangan tanyakan lagi Davin, lelaki itu sudah dua hari tidak terlihat batang hidung nya. Sedangkan Farah sudah terbiasa sama sikap Davin yang tidak beraturan. Baginya yang terpenting uang jajan selalu mengalir didalam rekening nya.
"Tania....Jawab ibu."
"Aku masak kok bu, sebentar biar ku ambilkan." Balas Tania masih dengan sikap nya yang tenang.
"Dari tadi kek," Gerutu Sindi.
"Tapi ngomong-ngomong, Mbak Tania kok beda ya hari ini? Biasa nya kucel, tapi ini terlihat bersih dan baju nya juga bagus." Ujar Farah sembari memperhatikan Tania yang sedang berjalan kebelakang.
Reflek semua mata melihat kearah Tania, mereka memang kurang terlalu memperhatikan penampilan Tania tadi.
"Bagus apanya, jelek gitu dibilang bagus. Apa kamu sudah buta Farah," Bella tidak suka ada yang memuji Tania.
"Tapi benar sih apa kata Mbak Farah...." Timpal Sindi, membuat Bella semakin kesal lagi.
"Ini untuk ibu..." Tania meletakkan sepiring nasi goreng di depan ibu mertuanya.
Bau rempah dari nasi goreng menyeruak keluar membuat perut mereka terasa semakin lapar.
"Kok cuma satu?" Tanya Sindi mengerutkan kening.
"Ya memang satu.....Untuk ibu." Jawab Tania tanpa rasa bersalah.
Memang nggak salah sih kan😅
"Maksud Mbak apa? Biasanya juga kamu masak buat kita semua. Lalu, kenapa sekarang kamu hanya masak buat ibu?Jangan bercanda deh Mbak." Ucap Farah mulai terlihat kesal.
"Aduh Mbak, buruan deh, aku laper. Nggak ada waktu buat bercanda, oh ya, sekalian buatkan jus jeruk juga." Titah Sindi membuang muka malas, dia masih mengira Tania hanya bercanda.
"Aku nggak bercanda, kalau nggak percaya ya sudah...." Tania menggedikkan bahu nya santai, lalu pergi begitu saja.
"Ibu....kok ibu malah makan sendiri sih? Lihat tuh Mbak Tania, dia semakin berani sama kita, bu...." Pekik Sindi yang melihat Dinda malah asyik menyantap nasi goreng sendirian.
"Ya, habis nya ibu udah sangat lapar Sindi, makanya ibu makan aja duluan, kalian kan tau kalau ibu nggak bisa nahan laper." Ucap Dinda beralasan.
"Terus, kami makan apa dong Bu?"Rengek Sindi.
"Mm...Gini aja deh, kalian masak aja dulu pagi ini. Nanti, biar ibu marahin si Tania. Enak aja dia mau numpang gratis disini." Ucap Dinda
"Masak? yang benar saja bu....Sindi mana bisa masak?" Protes Sindi
"Mbak Farah aja deh yang masak,"
"Apa? A-aku? Aduh....Tapi kayak nya, aku sudah harus buru-buru berangkat kerja deh. Ini aja sudah ditelpon. Suruh Bella aja, dia kan mau jadi menantu ibu, otomatis nanti dia yang akan menggantikan Mbak Tania di sini." Farah buru-buru meraih ponsel nya yang ia letakkan diatas meja, dan bergegas pergi.
"Maksud kamu apa hah...." Bella melotot, namun sayang nya Farah sudah lebih dulu pergi tanpa mau menoleh lagi.
"Kenapa pada liatin aku?" Gerutu Bella saat melihat Sindi dan Dinda melirik kearah nya.
"Jangan bilang kalian juga mau nyuruh aku buat masak,"
"Eh, e-enggak kok Mbak. Mana mungkin kamu suruh Mbak Bella yang masak. Udah, nggak usah dengerin Mbak Farah, dia memang suka mengelantur kalau bicara." Elak Sindi takut menatap Bella yang menatap nya dengan penuh selidik.
"Sindi benar, jangan dengerin omongan nya Farah, dia memang suka ngawur kalau bicara....Gini aja, mending kalian pesan aja makanan nya. Gimana? Dari pada capek-capek harus masak kan."Saran Dinda memberi ide.
"Terserah...." Ketus Bella dengan wajah nya yang di tekuk masam.
"Mbak mau makan apa? Biar aku pesan sekalian..." Tanya Tania antusias.
"Apa aja yang penting kenyang." Jawab Bella asal karena masih kesal.
"Pesan buat ibu juga sekalian ya, ibu masih lapar soalnya."
"Oke...." Balas Sindi mengangkat jempol nya.
"Sudah kamu pesan?" Tanya Bella
Sindi mengangguk," Sudah Mbak, nanti kalau makanan nya sudah datang, Mbak yang bayar ya."
"Apa? Kenapa harus aku yang bayar? Kan makanan nya bukan buat aku doang, kalian juga pesan tadi." Gerutu Bella tidak terima dengan mata mendelik menatap Sindi.
"Kok Mbak perhitungan sekali sih? Ingat Mbak, kalau Mbak pelit jangan harap kami mau bantu kamu buat dapetin Mas Raka." Ancam Sindi.
Bella mendengus pasrah, tidak ada pilihan lain.
"Iya deh, iya....Aku yang bayar," Jawab Bella malas, saat ini memang dia sangat membutuhkan dukungan dari orang terdekat Raka. Karena Raka memang sudah benar-benar sangat sulit buat di dekati.
"Nah, gitu dong. Ini baru calon kakak ipar yang baik." Puji sindi merasa menang, sangat mudah menaklukkan Bella.
"Awas saja kalian, kalau nanti aku sudah jadi istrinya Raka. Akan aku buat Raka mendepak kalian dari rumah ini." Batin Bella tersenyum sinis menatap kesal Sindi dan Dinda.
"Dasar benalu...."
*****