Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Kalau Menangis, Panggil Aku
Arkana masih berdiri di ruang tengah mansion saat suara lirih Agam menggantung di udara.
“Kakak nangis daritadi.” Kalimat polos itu membuat seluruh mansion terasa semakin sunyi. Dan perlahan, tatapan Arkana berubah gelap.
Lampu ruang tengah yang remang membuat aura pria itu terasa jauh lebih dingin. Rahangnya mengeras tanpa sadar. Sedangkan dadanya terasa sesak oleh emosi yang sulit dijelaskan. Seseorang membuat Kemuning menangis lagi.
Dan anehnya, hal itu jauh lebih mengganggunya dibanding masalah bisnis mana pun. Bahkan dibanding ancaman perusahaan rival yang biasa ia hadapi setiap hari. Arkana tidak suka melihat Kemuning sedih. Lebih tepatnya—ia mulai tidak tahan melihatnya terluka.
Tatapan Arkana perlahan turun pada Agam kecil yang masih mengantuk di sofa. Mata anak itu sembab seperti habis ikut menangis lama. Boneka dinosaurus kecil masih dipeluk erat di dadanya. Dan pemandangan itu membuat emosi Arkana semakin berat.
Tanpa banyak bicara, Arkana membungkuk lalu menggendong Agam perlahan. Anak kecil itu refleks melingkarkan tangan di leher pria tersebut. Sesaat kemudian, Agam bersandar nyaman di pundaknya seperti sudah terbiasa. Dan Arkana membiarkan sentuhan itu begitu natural.
“Bawa Agam ke kamar.” Suara Arkana terdengar rendah pada salah satu pelayan. Namun fokus pria itu tetap berada di tempat lain. Pada satu orang yang belum ia temukan malam ini.
Setelah memastikan Agam dibawa dengan hati-hati, Arkana mulai menaiki tangga mansion perlahan. Langkahnya tenang, tetapi ada ketegangan dingin dalam setiap gerakannya. Seolah emosinya sedang ditahan tipis-tipis.
Lorong mansion terasa terlalu sunyi malam itu. Hanya suara hujan kecil dari luar jendela yang terdengar samar. Dan untuk pertama kalinya, Arkana merasa rumah besar itu kosong tanpa suara Kemuning. Pikiran itu terasa aneh sekaligus mengganggu.
Saat Arkana membuka pintu kamar, ia langsung menemukan Kemuning duduk sendirian di balkon. Tubuh kecil gadis itu tampak sangat rapuh di kursi besar dekat pagar balkon. Sedangkan rambut panjangnya berantakan tertiup angin malam.
Mata Kemuning merah karena menangis terlalu lama. Bahkan pipinya masih basah oleh sisa air mata. Dan pemandangan itu membuat langkah Arkana terhenti sesaat. Ada sesuatu yang menusuk dadanya pelan.
Kemuning buru-buru menghapus air mata begitu sadar Arkana datang. Ia langsung menunduk panik seperti anak kecil ketahuan melakukan kesalahan. Namun semuanya sudah terlambat. Arkana sudah melihat wajahnya yang hancur.
“Ibu mengatakan apa padamu?” Suara pria itu rendah dan dingin. Kemuning langsung menggeleng cepat tanpa berani menatapnya. “Tidak apa-apa.”
Namun Arkana mulai kehilangan kesabaran. Karena Kemuning selalu seperti ini. Selalu menyimpan semuanya sendirian sambil berpura-pura baik-baik saja. Dan pria itu semakin membenci kebiasaan tersebut.
Arkana berjalan mendekat perlahan. Tubuh tingginya otomatis menghalangi angin malam yang dingin. Kemuning langsung menegang gugup meski baru saja menangis. Karena kedekatan Arkana selalu membuat jantungnya kacau.
Tatapan pria itu terlalu dekat sekarang. Terlalu intens untuk dihindari. Sedangkan Kemuning hanya bisa menunduk sambil menggenggam ujung cardigan tipisnya erat. Ia terlihat kecil dan rapuh di depan Arkana.
“Aku cuma sadar diri.” Akhirnya Kemuning berkata lirih. Suaranya pelan dan terdengar pecah. Namun kalimat sederhana itu terasa sangat menyakitkan.
Kemuning mulai bicara perlahan sambil menahan tangis. Ia mengaku dirinya memang tidak pantas berada di sisi Arkana. Tidak punya pendidikan tinggi. Tidak mengerti dunia bisnis dan kehidupan elite pria itu.
“Bahkan teknologi saja aku masih sering salah.” Kemuning tertawa kecil pahit sambil menunduk. “Aku selalu bikin malu.” Dan setiap kata itu terasa seperti pisau kecil di dada Arkana.
Arkana mulai marah. Bukan pada Kemuning. Tetapi pada semua orang yang membuat gadis itu berpikir dirinya tidak berharga. Pada Miranti. Pada Ratih. Pada dunia yang terus merendahkannya.
Untuk pertama kalinya, emosi Arkana terlihat begitu jelas. Pria itu menatap Kemuning dengan rahang menegang. Lalu berkata rendah namun tegas, “Berhenti bicara seolah kau tidak layak dicintai.”
Kemuning langsung membeku. Jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat. Karena tidak pernah ada orang yang mengatakan hal seperti itu padanya. Tidak pernah.
Arkana perlahan mengangkat wajah Kemuning dengan jemarinya. Sentuhan hangat itu membuat tubuh Kemuning gemetar kecil. Sedangkan mata pria itu terlihat jauh lebih gelap malam ini. Terlalu dalam. Terlalu serius.
Napas mereka mulai tidak stabil. Kemuning bisa merasakan hangat napas Arkana dari jarak sedekat ini. Dan semakin lama pria itu menatapnya, semakin sulit dirinya menjaga jarak emosional.
Tatapan Arkana perlahan turun ke bibir Kemuning beberapa detik. Membuat gadis itu refleks menahan napas. Jantungnya berdetak terlalu keras. Dan suasana berubah semakin intimate dan berbahaya.
Namun tepat ketika ketegangan itu hampir menghancurkan pertahanan mereka, ponsel Arkana tiba-tiba berbunyi. Suara notifikasi itu terasa mengganggu di tengah suasana sunyi balkon. Kemuning langsung tersentak kecil.
Nama di layar ponsel menyala jelas. “Selvina Adriani.” Dan hanya karena satu nama itu, Kemuning langsung refleks menunduk dan sedikit menjauh.
Ketakutan dan rasa rendah dirinya muncul lagi seketika. Selvina selalu terasa jauh lebih cocok untuk Arkana dibanding dirinya. Cantik. Elegan. Berpendidikan. Sedangkan dirinya hanya gadis desa yang sering salah memakai microwave.
Namun kali ini sesuatu yang berbeda terjadi. Arkana bahkan tidak melihat layar itu lama-lama. Pria tersebut langsung mematikan telepon tanpa mengangkatnya. Begitu saja.
Kemuning langsung menatap Arkana kaget. Karena selama ini Arkana selalu profesional soal pekerjaan. Tetapi sekarang pria itu memilih mengabaikan Selvina. Dan hal itu membuat jantung Kemuning semakin tidak tenang.
Untuk pertama kalinya, Arkana tidak ingin siapa pun mengganggu momen mereka. Termasuk Selvina. Termasuk dunia luar. Yang ia lihat sekarang hanya Kemuning.
“Jangan menangis karena ucapan orang lain.” Suara Arkana terdengar jauh lebih lembut sekarang. Rendah, tenang, tetapi terasa possessive. Seolah pria itu benar-benar ingin melindunginya dari semuanya.
Dan kalimat itu akhirnya menghancurkan pertahanan Kemuning. Air matanya jatuh pelan tanpa bisa ditahan lagi. Tubuh kecilnya mulai gemetar karena terlalu lelah menahan semuanya sendiri. Sedangkan Arkana langsung bergerak tanpa berpikir panjang.
Pria itu menarik Kemuning ke pelukannya erat. Satu tangan berada di belakang kepala gadis tersebut. Sedangkan tangan lain mengusap punggungnya perlahan. Dan untuk sesaat, dunia terasa berhenti.
Kemuning menangis kecil di dada Arkana. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu begitu jelas dari jarak sedekat ini. Hangat. Kuat. Menenangkan. Dan pelukan itu terasa terlalu aman baginya.
Untuk pertama kalinya sejak kedua orang tuanya meninggal, Kemuning merasa ada seseorang yang benar-benar melindunginya. Seseorang yang berdiri di sisinya tanpa meminta apa pun. Dan perasaan itu membuat dadanya sesak sekaligus hangat.
Namun dari ujung lorong kamar, Ratih Maharani berdiri memandangi mereka dalam diam. Tatapan wanita itu perlahan berubah dingin. Karena sekarang ia akhirnya sadar akan satu hal. Putranya sudah jatuh cinta.
Ratih menggenggam ponselnya erat. Rahangnya mengeras tipis sambil terus menatap Arkana yang memeluk Kemuning. Lalu wanita itu berkata sangat pelan, “Ini harus dihentikan sekarang.”
Di balkon, Kemuning perlahan mulai tenang dalam pelukan Arkana. Namun pria itu belum melepaskannya. Sebaliknya, Arkana justru menunduk sedikit ke dekat rambut Kemuning. Lalu berkata rendah, “Kalau menangis lagi, panggil aku.”
Kemuning langsung membeku. Jantungnya kembali berdetak kacau mendengar kalimat itu. Karena suara Arkana terdengar terlalu lembut dan terlalu tulus. Membuat dirinya semakin sulit menjauh.
Namun tepat setelah momen itu, ponsel Arkana kembali berbunyi. Kali ini bukan Selvina. Dan suasana langsung berubah dalam sekejap. Nama yang muncul di layar membuat wajah Arkana mengeras dingin.
“MIRANTI KUSUMA.”
Tubuh Kemuning langsung menegang ketakutan. Napasnya tercekat melihat nama bibinya sendiri muncul di ponsel Arkana. Sedangkan firasat buruk perlahan memenuhi ruangan. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Kemuning merasa sesuatu yang lebih buruk akan datang.